
Setelah selesai basah-basahan. Killa dan Marvin ganti baju bersama dikamar. Marvin ganti baju dikamar mandi dan Killa tetap didalam kamar.
Killa menghela nafas panjang ketika ia sadar piyama tidurnya semuanya sudah kotor. Dan yang tadi adalah terakhir. Killa menggaruk-garuk kepalanya sembari menatap gaun malam yang berwarna merah maroon. Itu adalah gaun malam pemberian Reghata sebagai hadiah pernikahan nya.
Tidak mungkin, Killa tidak mungkin mengenakan gaun malam itu. Karena sangat seksi pikirnya. Gaun malam yang hanya terikat tali saja. Killa bergidik ngeri membayangkan tubuhnya yang dibalut oleh gaun malam itu.
Tapi mau bagaimana lagi. Sedari tadi Marvin sudah mengetuk pintu kamar mandi dari dalam. Dan berteriak apakah Killa sudah selesai ganti baju.
Akhirnya gadis itu mau tidak mau mengenakan gaun malam merah maroon itu. Meskipun tidak nyaman tapi terpaksa.
"Sudah keluarlah!" Ucap Killa dengan nada pelan.
Marvin pun segera melangkah keluar dari dalam kamar mandi. Ia terkejut melihat Killa yang mengenakan gaun malam. Tidak seperti biasanya.
"Bisakah kau membantuku mengikat ini!" Ucap Killa dengan wajah yang bersemu.
"Berbalik lah!" Sambut Marvin seraya membalikan tubuh Killa.
Pria dingin itu pun mengikatkan tali gaun malam Killa dengan perlahan. Dihirupnya aroma rambut gadis itu yang begitu wangi. Seutas senyuman pun terukir diwajah tampannya.
"Apa sudah selesai?" Tanya Killa.
"Belum!" Jawabnya singkat dengan tersenyum miring. Padahal sudah selesai sedari tadi. Tapi dengan otak nakalnya. Marvin sangat nyaman diposisi sekarang.
"Mengikat begitu saja kau lama sekali!" Gerutu Killa.
__ADS_1
Setelah selesai Killa dan Marvin pun keluar kamar bersama. Killa menuju ruang santai dan Marvin kearah dapur.
Mau apa lagi dia ke dapur? Batin Killa. Ketika melihat Marvin berjalan menuju dapur.
Killa pun ikut bergabung dengan Naya yang sudah stay sedari tadi di depan tv. "Sudah mulai gak?" Tanyanya seraya duduk disebelah sang adik.
"Baru aja kak! Kakak ipar dimana?" Tanya Naya kembali.
"Bentar ya kak!" Naya pun beranjak dari duduknya.
"Mau kemana?" Killa menarik tangan sang adik.
"Sebentar saja kak!" Naya tertawa kecil lalu segera berlari menuju dapur.
Naya pun tidak mau dengar. Dia tetap berlari menghampiri sang kakak ipar. Yang tengah meminum sebotol air dingin dari dalam lemari es.
"Ada apa?" Tanya Marvin ketus ketika melihat Naya sudah menyeringai disampingnya.
"Cih, dasar pemarahan! Aku kesini hanya ingin bilang kalau kak Killa, mau makan buah apel!" Ucap Naya.
"Terus?" Marvin mengerinyit. "Bawakan ini padanya!" Marvin meraih keranjang buah yang ada di dalam lemari es lalu memberikannya pada Naya.
"Huft!" Naya menghela nafas sembari memutar bola matanya. "Kau itu sungguh tidak peka yah kakak ipar," sambungnya setengah berbisik.
Marvin menyipitkan matanya menatap Naya dengan lekat. "Pergilah, aku sedang lelah Nay! Jangan mengajak ribut diriku!"
__ADS_1
"Siapa juga yang mau ajak ribut dirimu! Maksudku itu, kau harus mengupas kan buah itu! Lalu membawanya kesana, pasti kak Killa akan merasa kau adalah pria yang sangat perhatian! Percaya denganku!" Tutur Naya.
"Benarkah? Kau tidak sedang mengerjai ku kan?"
"Untuk apa aku mengerjai mu kakak ipar? Aku tidak akan berani," Naya tersenyum paksa, karena memang dari awal dia berniat untuk mengerjai Marvin.
Namun tiba-tiba saja, terdengar suara Killa yang berteriak dari arah ruang santai. Memanggil-manggil nama Naya.
"Naya!"
"Nay!"
"Kakak ipar aku pergi dulu! Kakak sudah memanggilku! Lakukan saja yang tadi aku bilang, ok!" Ucap Naya seraya berlari meninggalkan Marvin.
Sepeninggal Naya, Marvin menatap keranjang buah itu. Berkali-kali ia menghela nafas dan berpikir panjang. Ia pun langsung mengambil sebilah pisau buah dan mengupaskan nya pada beberapa buah apel. Menyusunnya di piring lengkap dengan garpu kecil.
"Mengapa aku merasa seperti orang bodoh! Gadis nakal itu mungkin sedang mengerjai ku! Awas saja jika aku tahu dia benar-benar mengerjai ku!"
"Aku rasa aku begitu lelah! Hari ini aku sudah menjadi budak si gadis bodoh! Kenapa aku begitu susah payah hanya agar dia berhenti marah! Seharusnya dia yang berusaha menangkan amarahku! Karena penyebab aku marah adalah dia! Huft!"
Marvin terus menggerutui dirinya sendiri. Kebodohan yang ia lakukan sepanjang hari ini. Sampai-sampai otot-otot lehernya menegang. Lelah sangat lelah rasanya. Marvin hampir terjatuh karena kepalanya yang begitu pusing.
...🌹 Jangan lupa like 🌹...
...Note : Pertama-tama author mau minta maaf yang sebesar-besarnya 🙏🏻. Karena adanya keterhambatan dalam Update, dikarenakan Author dalam keadaan yang tidak sehat. Sudah hampir dua hari author drop banget, susah bangun, pusing, dan gak bisa fokus nulis😭. Tapi sudah berusaha nulis buat kalian, jadi mohon pengertiannya yah🙏🏻😭😭...
__ADS_1