
Sepeninggal Hanna. Marvin mendekati Killa berusaha meraih tangan gadis itu yang sedang mengepal kuat. Tapi Killa malah menepis tangan Marvin.
Killa menatap tajam Marvin. "Bisa-bisanya kau membiarkan wanita ular itu pergi begitu saja! Padahal kau sudah mendengar kesaksianku! Dia sudah sengaja menjebak ku Marvin! Apa kau tak mempercayaiku!"
"Bukan seperti itu, aku percaya padamu! Hanya saja tidak ada yang bisa membuktikan jika Hanna bersalah!" Ucap Marvin, pria itu nampak merasa bersalah.
"Apa kurang cukup dengan pernyataan dariku?" Ucap Killa.
"Maafkan aku!" Lirih Marvin.
"Persetan denganmu!" Maki Killa. Gadis itu sangat marah. Dia pun meraih pisau emas yang dipajang Marvin disebuah bingkai yang tertempel dinding.
"Kau mau kemana?" Marvin berdiri dihadapan Killa.
"Aku sudah tidak tahan melihat wajahnya!" Ucap Killa dengan sorot mata membunuh.
"Jangan lakukan hal gegabah!"
__ADS_1
"Gegabah kau bilang? Hey, Marvin Louis kau lah yang gegabah! Kau sudah melepaskan tersangka utamanya! Jika kau adalah polisi dan aku mafia! Polisi tak bisa menangani dengan benar kasusnya dan membebaskan pelaku utama! Maka tugasku lah yang akan mencabut nyawa nya sendiri agar tidak ada korban selanjutnya!"
Marvin terdiam. Dia melihat sebuah amarah yang besar dari dalam netra milik Killa. Marvin percaya jika Killa tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dia pasti akan bertindak dengan nekat.
"Minggir! Sebelum aku melampiaskan nya padamu!" Killa mencodong kan pisau itu ke depan wajah Marvin.
"Aku tidak akan menyingkir! Sebelum kau meletakkan kembali pisau itu pada tempatnya!"
"Hahaha! Aku lupa, aku bukan lah siapa-siapa bagimu! Karena itu kau menahan ku untuk memberitahu wanita ular itu bahwa kita sudah menikah! Kau pria brengsek Marvin!"
"....kau bahkan tak mempercayaiku!" Lanjutnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan!" Killa meronta hendak melepaskan pelukan Marvin.
"Diamlah!" Marvin memberikan pisau tadi kepada Ken. Lalu Ken membawa pergi pisau itu keluar dari ruangan. Meninggalkan keduanya.
"Aku mempercayai mu! Bahkan sebelum kalian berdua berdebat tadi! Sejak semalam aku sudah mempercayaimu gadis bodoh! Hanya saja tidak ada bukti untuk menuduhnya bersalah! Aku harap kau bisa mengerti posisi ku sebagai pemimpin yang bijaksana!" Ucap Marvin.
__ADS_1
Killa terdiam. Apa yang dikatakan oleh Marvin juga ada benarnya. Sebagai pemimpin yang bijaksana. Sangat tidak etis jika Marvin main menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat.
"Dan mengenai kau ingin memberitahu nya tentang kita! Bukan berarti aku tak ingin mengakui mu, tapi ini bukanlah waktu yang tepat! Setelah kita bertemu ayahku, aku pasti akan mengumumkan tentang pernikahan kita! Aku harap kau juga bisa bersabar!" Lanjut Marvin seraya mengelus kepala Killa yang berada di dekapan nya.
"Baiklah aku mengerti! Tapi lepaskan aku!" Ucap Killa. Sontak Marvin tersadar dan langsung melepaskan pelukan nya.
Tangan kiri yang ia pakai untuk merampas pisau tadi. Ia sembunyikan dibelakang tubuhnya. Karena dia tak ingin Killa melihat tangan itu berdarah. Akibat gesekan dari mata pisau yang tajam itu.
"Ada apa dengan tanganmu?" Tanya Killa merasa ada yang aneh dengan Marvin. Kenapa dia menyembunyikan tangan kiri nya?
"Tidak ada apa-apa! Kembalilah bekerja!" Ucap Marvin.
"Dasar aneh! Baiklah aku akan kembali bekerja!" Killa menatap aneh Marvin lalu berbalik badan melangkah menuju pintu.
"Tapi ingat untuk tidak melakukan hal yang nekat! Atau aku akan segera memecat mu dan tidak membayar gajih mu!"
Killa menoleh kembali dengan wajah kecut. "Haissh! Iya aku tahu, dasar Tuan dingin dan kaku !" Gadis itu menggerutu sambil berlalu pergi.
__ADS_1
...🌹Jangan lupa like🌹...
...🌹Ditunggu kelanjutan nya🌹...