
"Kau memang bersalah," godanya dengan tersenyum miring. Membuat Killa semakin tertunduk dan menangis.
"Hei, kenapa kau semakin menangis?" Marvin mencoba menegakkan kembali wajah Killa. Namun, lagi-lagi wajah Killa kembali dibanjiri air mata.
"Aku minta maaf karena sudah mengata-ngatai kau dengan sangat buruk! Aku memang egois, aku yang pergi meninggalkan mu, aku juga yang merasa begitu kehilangan! Hiks hiks," ucap Killa sambil terisak.
Marvin hanya diam menatap Killa. "Berhentilah menangis, aku tidak apa-apa."
Meskipun dia begitu penasaran, dengan apa yang membuat Killa merubah pikiran nya. Namun Marvin tidak ingin bertanya, dia lebih memilih untuk membuat Killa merasa nyaman. Karena jika dia terus menangis hingga susah untuk bernafas, kasihan terhadap Baby yang ada dikandungan nya.
"Tidak, kau pasti sangat terluka dengan perkataan ku! Aku memang sangat brengsek, aku pantas untuk di benci!"
"Jangan berkata seperti itu! Aku benar-benar baik-baik saja, jadi berhentilah menangis!"
Killa menggeleng-gelengkan kepalanya, tangan nya menggenggam erat tangan Marvin. "Aku sangat merindukan mu, aku juga begitu tersiksa jauh darimu, aku selalu ingin mendengar kabar mu, aku rindu suara mu, aku rindu sentuhan mu, aku rindu tatapan teduh mu, aku rindu senyuman mu, bahkan aku rindu ciuman selamat pagi yang selalu kita lakukan ... aku tersiksa dengan semua rindu-rindu itu, maafkan aku ... Marvin, hiks hiks!"
"Kemari lah!"
Marvin menarik Killa kembali ke dalam dekapannya. Sudut bibir pria itu tertarik sedikit, menciptakan senyuman tipis. Saat mendengar ucapan Killa. Bahagia, ia sangat bahagia saat ini. Ia bersyukur karena tiket pesawatnya yang tiba-tiba hilang. Mengharuskan nya mengambil penerbangan berikutnya.
__ADS_1
Jika tidak dia tidak akan, mendengar kata-kata manis itu. Yang keluar dari mulut Killa. Tidak pernah ia melihat Killa yang begitu melow seperti sekarang ini. Ternyata waktu sebulan yang sudah terlewat ini, sudah mengubah Killa. Ia tidak lagi terlihat seperti gadis dingin yang pernah hidup di dunia gelap. Sekarang ia terlihat begitu cerah dengan tatapan hangat penuh kasih dimatanya. Membuat Marvin semakin jatuh cinta padanya.
"Aku sangat mencintaimu Killa, aku juga sangat merindukan mu," ucap Marvin.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, karena diantara kita tidak ada yang salah. Tapi, takdir lah yang sudah menguji cinta kita ..."
"... menguji kekuatan cinta kita, disaat kita berada jauh satu sama lain, mengajarkan kita untuk tahu rasa sakit nya merindukan seseorang, sakitnya kehilangan, dan sakit nya lari dari kenyataan pahit ..."
"... walaupun akhirnya kenyataan pahit itu adalah kesalahpahaman, yang membuat kita semakin menyesal karena sudah berpisah!"
Killa menengadahkan kepalanya menatap mata Marvin dengan begitu lekat. Teduh dan penuh kasih, rasa yang dia dapatkan dari tatapan mata pria yang begitu ia cintai itu.
Marvin tersenyum dan mengangguk. "Maafkan aku juga yang pergi begitu saja tadi."
"Aku bersedia," Killa mengangguk, "Memberikan mu kesempatan dan kembali ke Seoul bersamamu, Marvin."
"Benarkah? Kau yakin?"
"Hmm, aku yakin. Karena aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi tanpamu, Marvin."
__ADS_1
Deg deg deg!
Dada Marvin berdebar sangat kencang. Ingin rasanya ia berteriak dan melompat saat itu juga. Namun ditahan nya, karena berada di tempat umum. Jadi untuk menggantikan nya, mengekspresikan rasa bahagia nya. Marvin mengecup penuh kasih dan sayang kening Killa dan memeluk nya erat.
"Aku mencintaimu, Killa," ucap Marvin.
"Aku mencintaimu, Marvin," balas Killa.
Mereka terlihat sangat bahagia. Sedangkan disisi lain. Dari kejauhan. Seorang pria tengah meneteskan air matanya, tanpa ia sadari. Melihat Killa dan Marvin, sudah bisa melewati cobaan cinta mereka bersama. Dan memilih memaafkan diri masing-masing, memberikan kesempatan untuk hubungan mereka lagi.
"Aku bahagia untuk mu, Killa," lirih Justin.
Dengan cepat ia mengusap air mata yang membuat nya tidak gentleman. Justin pun mengeluarkan kaca mata hitam dari dalam saku jas , lalu memakainya. Untuk menutupi air mata yang sangat memalukan itu. Ia pun menatap ke arah dinding steinless yang memantulkan bayangan nya sendiri.
"Kau siapa? Apa kau adalah diriku? Hahaha, aku sampai tidak mengenalinya," ucapnya sambil tertawa.
"Karena jika kau adalah diriku, kau tidak mungkin menangis! Sangat memalukan!"
Ia pun segera pergi dari tempat itu. Tapi sebelumnya ia menatap ke arah Killa dan Marvin lagi. Lalu berbalik badan berjalan ke arah yang berlawanan.
__ADS_1
...🌹 Jangan lupa VOTE, biar aku semangat lagi nulisnya. Maaf yah, kemarin-kemarin tidak up karena banyak banget urusan mendadak🙏🏻😊 🌹...