Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 177 : Brengsek, kau memang brengsek Marvin!


__ADS_3

Sebuket mawar biru yang cantik berserakan di lantai. Ketika Marvin meremas dan menghempaskan nya dengan kasar ke sembarang arah.


Ia berteriak keras memanggil Ken yang menunggu di ruang tamu. "KEN, CEPAT KEMARI!"


Ken tersentak kaget dengan sigap ia langsung berlari menghampiri Marvin di kamarnya. Di lihat nya buket mawar itu berserakan di lantai. Ken juga melihat baju-baju dari dalam lemari Marvin. Terhambur keluar semua.


"Ada apa Tuan?" tanya Ken dengan getir.


"Dimana Killa?" Marvin menatap Ken dengan raut wajah tak karuan. Ia juga mengacak-acak rambut dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Maaf Tuan, apa maksud anda? Nona Killa? Saya tidak ... Saya akan mengecek CCTV." Sempat terbata-bata namun Ken langsung mengerti apa yang terjadi. Ia langsung pergi meninggalkan Marvin. Ken berlari menuju ruang pemantau CCTV, untuk mencari jejak terakhir Killa dan Naya.


Marvin panik dan kebingungan harus berbuat apa. Kepalanya seakan mau pecah. Kemana Killa pergi membawa Naya dan semua pakaiannya? Apa Killa benar-benar pergi dan tidak akan pernah kembali lagi?


"KILLA ROSES!" teriak Marvin memanggil nama Killa. Tiba-tiba saja dia teringat pada seseorang yang mungkin tahu dimana Killa berada.


Marvin pun segera keluar dari kamar nya dan bergegas mengambil kunci mobilnya. Turun menggunakan lift khusus menuju parkiran mobil. Dengan langkah cepat dan hati yang sudah menggebu-gebu. Marvin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


"Killa kau dimana? Kenapa? Kenapa kau pergi?"


"Maafkan aku, aku yang salah. Seharusnya aku tidak memperlakukan mu sedingin itu. Aku menyesal, tolong maafkan aku."


"Sial," pekiknya sembari memukul-mukul setir kemudi dan mengusap wajahnya frustasi.


"BRENGSEK KAU MARVIN, KAU MEMANG BRENGSEK." Ia memaki dirinya sendiri berulang-ulang kali.


"Seharusnya kau sadar dari awal, dan tidak membuat nya menangis. Kau memang bodoh Marvin, bodoh, bodoh, bodoh." Lagi-lagi ia merutukki kebodohan yang sudah ia perbuat sendiri. Sekarang Killa pergi barulah ia menyesal.


Marvin merogoh ponsel di sakunya dan mencoba menghubungi nomor telpon Killa beberapa kali. Namun nomor tersebut sudah tidak aktif lagi. Begitu pun juga dengan nomor telpon Naya. Marvin semakin kalut dan frustasi.


Cittt!


Ban mobil Marvin berdecit saat dia mengerem dan memarkirkan nya di halaman rumah yang mewah dan besar. Dengan cepat Marvin keluar dari mobil dan menuju pintu utama rumah tersebut. Namun ia di tahan oleh beberapa orang pria kekar berpakaian serba hitam.


"Maaf Tuan, anda di larang masuk?" ucap salah satu pria kekar itu.

__ADS_1


Marvin menoleh dengan tajam. "Lepaskan tangan mu dari ku, jika tidak ingin tangan itu menjadi makanan anjing peliharaan ku."


Seketika bulu kuduk pria kekar itu berdiri. Ternyata pria di depan nya itu tidak kalah menyeramkan dari bos mereka. "Maaf," ucap pria kekar itu pelan. Seraya melepaskan tangan nya dari pundak Marvin.


"Saya ingin bertemu Justin, katakan padanya sekarang juga."


"Maaf tapi Tuan Justin sedang tidak ada."


"BOHONG," teriak Marvin secara tiba-tiba. Membuat mereka semua tersentak kaget.


Pintu pun terbuka. Nampak Justin yang di temani asisten pribadinya berdiri di ambang pintu menatap tajam ke arah Marvin.


"Ada apa kau mencari ku? Hingga membuat keributan seperti ini," ucap Justin ketus.


"Kita harus bicara," balas Marvin dingin. Ia pun hendak mendekat namun lagi-lagi di tahan oleh pria-pria kekar tadi. Membuat Marvin mendengus kesal dan menatap tajam pria-pria itu.


"Tidak apa-apa, biarkan dia masuk," ucap Justin. Marvin pun di perbolehkan masuk.

__ADS_1


__ADS_2