
Dua hari setelah Killa mengalami mual-mual dan muntah di depan Justin. Hampir setiap pagi Justin menemani Killa melewati Morning Sickness nya. Yang seharusnya ia lalui bersama Marvin suaminya.
Semakin hari tubuh Killa semakin lemas. Di pagi hari dia akan mengalami mual-mual dan muntah yang membuatnya tidak karuan makan. Dan saat malam tiba, dia akan menangis sendiri. Entah apa karena hormon ibu hamil yang membuatnya begitu emosional. Ia tertidur saat subuh menjelang dan terbangun sekitar jam delapan pagi. Hingga waktu istirahatnya begitu terkuras.
Huek huek huek!
Di dalam kamar mandi, Killa yang sudah tidak sanggup berdiri. Duduk dilantai dan memuntahkan isi perutnya dilantai. Justin pun masuk ke dalam kamar mandi, ia sangat terkejut melihat Killa yang duduk dilantai dengan lemas.
"Killa," teriaknya. Ia langsung mengangkat tubuh Killa kembali ke kamar dan merebahkan nya di tempat tidur. Di usapnya kening Killa, suhunya begitu tinggi.
"Kau demam, kita harus ke rumah sakit." Justin hendak menghubungi asisten nya. Namun tangan nya ditahan oleh Killa.
"Tidak perlu, aku baik-baik saja," ucap Killa dengan nada lemah.
Justin menghela nafas dan mengusap wajahnya kasar. Begitu frustasi menghadapi Killa yang sangat keras kepala.
"Sudah dua hari Killa, kau semakin hari semakin drop seperti ini. Kau selalu bilang baik-baik saja, baik-baik saja, tapi aku tidak baik-baik saja melihatmu seperti ini. Apa kau pikir aku tega, jangan keras kepala. Paling tidak telpon dia dan beritahu dia tentang kehamilan mu. Aku tahu kau stres memikirkan tentang bayi ini dan juga tentang Marvin." Justin mengeluarkan semua uneg-uneg nya yang tersimpan dalam dua hari ini.
__ADS_1
"Aku tidak mau, jangan beritahu Marvin. Pliss, aku baik-baik saja. Kau lihat kan aku baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat sebentar pasti akan segera pulih."
Justin tidak tega melihat Killa yang memohon seperti itu. "Baiklah, tapi lain kali jika kau semakin lemah dan pingsan. Aku tidak akan menahan diri, aku pasti akan menelpon Marvin. Dan memberitahu nya kau ada disini."
Killa mengangguk, "Aku akan baik-baik saja."
"Killa kumohon jangan siksa dirimu sendiri, pikirkan juga kesehatan bayimu. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu."
"Terima kasih Justin, kau sangat berjasa untuk ku."
Justin pun pergi. Tidak ingin berlama-lama melihat Killa yang dalam keadaan lemah seperti itu. Karena dia tidak tega, lebih baik dia pergi bekerja pikirnya. Tapi sebelum nya, dia berpesan kepada Naya dan Ayah nya untuk mengawasi Killa. Dia takut Killa akan lebih parah nantinya.
Sore harinya. Justin pulang dari kerjanya. Sesampainya dirumah dia langsung menuju kamar Killa. Karena Naya membawa sang ayah pergi menemui dokter. Untuk memeriksakan penyakit yang di derita ayahnya itu.
"Killa," panggilnya saat membuka pintu. Mata Justin membulat, sontak dia langsung berlari ke arah Killa. Saat melihat Killa yang menggeliat di lantai. Memegangi perut nya.
"Killa, ada apa dengan mu? Kau baik-baik saja? Killa, jawablah."
__ADS_1
Justin sangat panik dia mendekap Killa dengan erat. Sedangkan Killa wajahnya sudah memucat, keringat membasahi tubuhnya, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Justin. Karena rasa sakit diperutnya yang berusaha dia tahan.
"Zean, Zean, kemari cepat!" teriak Justin memanggil Zean.
Justin semakin panik ketika ada darah yang mengalir di kaki Killa. Sesaat kemudian Killa pingsan tidak sadarkan diri. Justin langsung menggendongnya turun kelantai bawah.
"Tuan mobilnya sudah siap," ucap Zean.
"Cepat antar kan kami ke rumah sakit terbaik," ucap Justin membawa masuk Killa ke dalam mobil.
"Baik Tuan," sahut Zean dengan sigap. Ia pun langsung menancap gas menuju rumah sakit.
"Killa bertahan lah, jangan sampai terjadi apa-apa padamu. Aku mohon bertahan lah," lirih Justin yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
Sesampainya dirumah sakit. Killa langsung diberi pertolongan oleh Dokter dan Perawat-perawat disana. Justin tak berhenti memijit tengkuk leher dan mengusap wajahnya. Takut terjadi apa-apa terhadap Killa.
Setelah selesai di tolong dan di periksa. Killa dipindahkan ke ruangan rawat inap VIP. "Tuan Justin, mari ikut saya keruangan. Ada yang ingin saya sampaikan," ucap Dokter menghampiri Justin.
__ADS_1
Justin mengangguk, "Baik."