
"Sialan kau Killa!" makinya dengan suara lantang sambil memukul-mukul setir kemudi.
"Bisa-bisanya kau berpikiran aku seperti itu! Kenapa kau begitu tidak percaya padaku? Apakah sudah tidak ada cinta di hatimu? Hingga kau punya pemikiran serendah itu terhadapku?"
Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Jengah dengan sikap Killa memperlakukan nya. Seolah-olah dia punya niat lain datang ke Berlin, selain mengajak Killa untuk rujuk.
AGHHH!
Ia membelok kan setir kemudi ke tepi jalan. Lalu melepaskan sabuk pengaman dan kerah kemeja yang mencekiknya. Membuatnya susah untuk bernafas.
"Aku sangat mencintaimu Killa," lirihnya.
Dengan suara bergetar, ia menundukkan kepalanya di setir kemudi. Mulai menangisi semua yang sudah terjadi. Sejak saat itu, kejadian ledakan dan penembakan di mansion Kikan. Ia sering kali merasakan sakit di bagian dadanya sebelah kiri. Setiap kali merasa sedih, dadanya selalu berdenyut-denyut. Sama seperti sekarang ini, ia memegangi dadanya yang sakit.
"Tidak bisa kah aku memiliki mu lagi Killa? Aku sangat mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu. Aku ingin terus berada di sampingmu, menjagamu, dan membuatmu bahagia!" raungan nya terdengar begitu lirih.
Sakit sekali, semakin ia terisak. Semakin perih juga rasa dihatinya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dengan sangat berat ia menarik nafas, dan mengusap air matanya. Lalu menerima panggilan tersebut.
"Ya, ada apa Ken?" tanya nya.
"Maaf Tuan, tapi sepertinya anda harus segera kembali ke Seoul," jawab Ken diseberang panggilan.
"Apa yang terjadi Ken?" Raut wajahnya berubah cemas.
"Nyonya Anna pingsan, dan sekarang ini saya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit mengantarnya."
"Apa? Mamah Anna? Baiklah, sore ini aku akan kembali ke Seoul, tolong kamu jaga Mamah Anna sampai aku kembali."
__ADS_1
"Baik Tuan."
"Apa kau sudah mengabari Gavin dan Ayahku?"
"Sudah Tuan, Tuan Kevin dan Tuan Gavin berkata akan segera datang."
"Baguslah, tolong kau urus semuanya yah!"
"Baik Tuan."
"Tunggu Ken," cegah nya saat Ken hendak menutup panggilan. "Apa ada yang bisa saya bantu lagi Tuan?"
"Tidak Ken, aku hanya ingin mengucapkan ... terima kasih, kau sudah banyak membantuku selama ini."
Lama Ken diam take menjawab. Kemungkinan besar dia sangat terkejut, karena Tuan nya tiba-tiba mengucapkan terima kasih.
"Saya mendengar nya Tuan, terima kasih kembali karena sudah memberikan kepercayaan pada saya selama ini."
"Sama-sama Ken."
Panggilan pun terputus. Marvin menarik nafas panjang, menatap kearah depan. Pikiran nya kini dipenuhi banyak kecemasan. Disisi lain dia begitu mencemaskan Mamah Anna yang tiba-tiba pingsan. Marvin tahu Mamah Anna seperti itu, karena belum bisa melepaskan kepergian Papah Arsen. Marvin merasa sedikit bersalah karena disaat-saat seperti ini, seharusnya ada yang menemani Mamah Anna. Agar dia tidak merasa kesepian, karena rasa sepi itu akan membuatnya kembali teringat akan kenangan nya bersama Papah Arsen.
Sedangkan disisi lain. Marvin begitu berat untuk meninggalkan Killa dan Baby nya. Tapi dia juga frustasi karena penilaian Killa terhadap nya. Dia sudah memohon maaf dan berharap Killa akan memberikan nya kesempatan kedua. Namun ditolak mentah-mentah. Bahkan Killa sampai mengeluarkan kata-kata yang membuat hatinya sakit. Marvin bingung harus berbuat apa.
"Brengsek...brengsek...brengsek! Kenapa kau seperti itu Killa!"
Marvin teringat akan sesuatu. Dia pun meraih kembali ponselnya dan menghubungi seseorang. Justin, dia lah yang saat ini sedang di hubungi oleh Marvin.
__ADS_1
"Hmm, ada apa? Apa kau sudah mengantar Killa dan Naya?" tanya Justin di seberang panggilan.
"Kau tenang saja, aku sudah mengantar mereka pulang dengan selamat."
"Jadi?"
"Jadi apanya?"
"Dasar aneh, tentu saja maksudku, bagaimana perkembangan kau dan juga Killa? Apa kalian sudah berbaikan?"
"Hmm, entahlah! Aku menghubungi mu, karena ingin mengabari mu jika sore ini aku akan kembali ke Seoul!"
"Apa? Secepat ini? Tapi kenapa? Apa kalian sudah benar-benar berbaikan?"
Marvin diam tak menjawab.
"Hei, jawab aku?"
"Aku akan kembali ke Seoul karena ada urusan mendesak! Aku hanya ingin mengatakan tolong jaga dia! Buat dia bahagia walaupun tanpa diriku."
Tanpa sadar air mata Marvin menetes.
"Sepertinya tidak akan ada kesempatan lagi untuk ku, dia sudah benar-benar membenciku."
Kini ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan nya, menahan keras agar tidak terisak. Walaupun di dadanya sudah begitu sesak.
"Baiklah, jika memang ada urusan yang mendesak. Jaga dirimu, aku akan menjaga Killa dengan baik! Kau tidak perlu mengkhawatirkan nya."
__ADS_1
"Baguslah, kalau begitu aku tutup dulu! Bye," ucapnya dengan suara parau dan bergetar. Setelah panggilan terputus. Tangisan nya pecah. Marvin tidak sanggup lagi menahan diri. Kenapa takdir begitu mempermainkan perasaan nya.