
"Baiklah katakan padaku, tapi awas saja jika kau mengatakan hal-hal yang aneh. Aku benar-benar akan berhenti memberimu uang saku." Marvin menatap tajam dan mengancam Naya.
Dia setuju untuk mendengarkan perkataan Naya. Cara agar tidak menjadi pria yang menyebalkan bagi wanita.
Naya tersenyum penuh arti dengan pikiran nakal di kepalanya. Dia berniat untuk membuat kakak iparnya itu panas kembali seperti waktu itu.
"Jadi begini, dengarkan baik-baik kakak ipar."
"Iya aku mendengarkan, cepat katakan." Marvin sudah tidak sabar.
"Pertama, kau jangan suka marah-marah tidak jelas. Kedua, kau juga harus selalu ramah dan murah senyum pada kakak ku. Ketiga, kau harus selalu memberikannya kejutan setiap hari walaupun kejutan kecil itu sangat berarti untuk wanita. Keempat, jangan biarkan sekalipun kakak ku untuk berpikiran jika suami yang dia pilih salah. Jadi kau tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak dia sukai, apalagi sampai bermain dibelakang nya---"
"Hei, gadis nakal. Kau jangan sembarang bicara, aku bukan tipe pria yang suka bermain wanita." Marvin tidak terima.
"Apa-apaan sih kakak ipar kau jangan protes dulu, aku belum selesai bicara."
"Ok lanjutkan."
__ADS_1
"Yang kelima atau yang terakhir, jangan menelponnya dan bertanya dia dimana, dengan siapa, sedang apa, bahkan kapan dia pulang. Saat dia sedang tidak berada bersamamu."
"Mengapa? Apa salahnya jika aku ingin tahu dimana istriku, dengan siapa, bahkan kapan dia pulang? Sangat tidak masuk akal."
"Aku serius kakak ipar, berusaha lah untuk membuat dia berpikir jika kau sangat percaya padanya. Dia pasti tidak akan berpikiran jika kau adalah pria yang menyebalkan. Bahkan dia akan merasakan cinta yang begitu dalam karena suami tercintanya, memberikan sebuah kepercayaan yang harus dia jaga."
Marvin kembali mencerna ucapan Naya barusan. Ada benarnya perkataan gadis nakal itu. Namun apa dia benar-benar bisa melakukan semua hal itu.
"Apa kau yakin?" tanya Marvin lagi. Karena merasa kurang yakin.
Lagi-lagi ia terdiam pikiran jauh melayang memikirkan sosok Killa. Kemudian beralih memikirkan sosok Justin dan June. Dia harus bisa mengalahkan kedua pria itu.
"Baiklah, aku akan mencobanya," ucap Marvin.
"Jangan hanya mencoba, tapi lakukan seterusnya," sahut Naya.
"Iya aku tahu anak kecil, sana pergi tidur." Marvin menatap sinis gadis nakal itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengantuk. Selamat malam kakak ipar," timpal Naya kembali seraya mengucek mata dan menguap.
Lalu ia pergi masuk kedalam kamarnya meninggalkan Marvin sendirian di balkon.
***
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit. Marvin masih duduk disofa depan tv. Sedari tadi dia sudah menahan diri untuk tidak menelpon Killa.
Dia berbaring, duduk, berbaring, duduk, berkali-kali mengganti posisi duduknya. Karena merasa sangat bosan. Tidak ada yang bisa diajak bicara. Menonton tv juga tidak ada gunanya, karena tidak ada saluran tv yang pas untuk dia tonton.
"Aakhhh, sudah jam segini mengapa dia belum juga pulang? Apa dia lupa jika ada suaminya yang menunggu dirumah," gerutunya sambil mengacak-acak rambut.
Dipandanginya ponsel yang tergeletak diatas meja tepat dihadapannya. Lalu ia meraihnya dengan cepat.
"Apa ponselku rusak? Mengapa dia tidak berdering sama sekali. Sepertinya benar-benar rusak, aku harus membeli ponsel baru." Marvin berbicara dengan ponselnya. Membolak-balikkan nya dan sesekali mencatuk-catukan nya dimeja kaca itu.
Lima belas menit kemudian. Dia semakin frustasi karena terus menahan diri agar tidak melakukan hal bodoh. Jika dia menelpon Killa, gadis itu akan berpikir bahwa dirinya sangat menyebalkan. Seperti yang dikatakan oleh Naya. Marvin tidak mau itu terjadi.
__ADS_1