
Supir keluarga Louis melajukan mobil dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota Beijing. Marvin hendak membawa Killa ketempat yang memang sangat ia rindukan.
Diperjalanan suasana nampak hening. Tidak ada yang berbicara satu kata pun sebelum akhirnya Killa membuka percakapan dengan sebuah pertanyaan. Marvin yang sedari tadi diam menatap keluar jendela, memikirkan sesuatu mengenai sikap Papah Arsen yang sangat aneh.
"Vin!" Panggil Killa.
Marvin menoleh. "Ada apa?" Jawabnya singkat.
"Sebenarnya ada apa dengan kau dan Papah Arsen? Kalian nampak canggung satu sama lain! Terlebih, Mamah Anna dan Gavin? Masih banyak kisah tentang hidupmu yang aku sama sekali tidak tahu! Aku tahu mungkin pertanyaan ku ini terlalu lancang dan tidak sopan! Hanya saja aku sangat penasaran akan hal itu! Kau diam saja, itu berarti kau tidak ingin memberitahuku! Tapi bukankah kau sudah tahu seluruhnya mengenai keluarga dan kisah hidupku! Bagiku ini sungguh tidak adil Vin! Kau terlalu egois untuk menutupi semuanya dariku? Kau bilang kau menyukaiku? Mencintaiku? Tapi kau terlalu banyak misteri dan sangat membuatku penasaran!" Celoteh Killa yang terus berkata dan bertanya semaunya.
Marvin hanya diam dan menatap gadis itu datar. Mendengarkan celotehan nya yang begitu berisik. Sesekali tak jarang Marvin menghela nafas dan membuang muka ke arah lain. Selagi Killa berbicara panjang dan lebar itu.
Dia sudah seperti burung beo yang terus berkicau! Ingin sekali aku menyumpal bibirnya itu, dengan bibirku! Ckckck! Isi pikiran Marvin yang nakal.
"Sudah? Selesai berkicau nya?" Ucap Marvin ketika Killa baru saja selesai berbicara.
"Maksudmu?" Tanya Killa bingung.
"Bagaimana aku akan menjawab? Jika kau terus berkata tanpa henti seperti seekor burung beo yang terlatih! Ckckck!" Ucap Marvin yang disusul dengan gelak tawanya.
"Burung beo? Kau keterlaluan Marvin! Aku sangat membencimu!" Wajah Killa berubah masam, dia cemberut dan melipat tangan membuang muka ke arah jendela.
"Hahaha! Kau sangat menggemaskan! Lihat kemari!" Marvin meraih dagu Killa lalu mengarahkan wajah gadis itu menatap kearah nya.
"Apa kau sangat ingin tahu mengenai diriku? Killa Louis?" Ucap Marvin menatap lekat mata Killa.
"Killa Louis?" Killa mengerinyit kan dahinya. "Sejak kapan namaku jadi Killa Louis?" Ucapnya tak terima.
"Bukankah, kau sudah menjadi Nyonya Louis? Jangan lupakan jika kau adalah istriku?" Ucap Marvin dengan tersenyum nakal dan menyentuh pucuk kepala Killa.
"Hmm, terserah kau saja mau menyebutku apa! Tapi aku benar-benar penasaran dengan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ku tadi!" Ucap Killa memutar bola matanya malas meladeni ucapan Marvin yang tidak jelas tadi.
"Sabarlah! Aku akan memberitahumu, dihadapannya!" Ucap Marvin sembari tersenyum simpul dan memalingkan wajah ke jendela. Menatap indahnya pesisir pantai yang mereka lewati.
***
Tidak lama kemudian. Sekitar dua puluh menit. Sampailah mereka disebuah bukit yang banyak ditanami bunga-bunga matahari yang indah. Killa menatap kearah bukit yang lebih tinggi. Matanya menyipit karena sinar matahari yang menyilaukan. Tangannya pun terulur menutupi mata dan alisnya dari paparan sinar matahari itu.
__ADS_1
"Kita ada dima---" Perkataannya terhenti. Ketika sesuatu menyentuh kepalanya.
"Ini agar kepalamu tidak kepanasan!" Ucap Marvin seraya memakaikan sebuah topi pada Killa. Tadi ikat rambut sekarang topi. Hati Killa kembali dibuat berdebar oleh sikap manis Marvin.
Apa-apaan sih! Aku bisa terkena serangan jantung jika kau terus bersikap manis seperti ini pria dingin! Batin Killa menjerit.
"Bagaimana denganmu?" Tanya Killa. Karena melihat Marvin tidak menggunakan topi. Kepalanya juga akan kepanasan bukan.
"Tuan ini payungnya!" Supir tadi memberikan sebuah payung hitam pada Marvin. Pria dingin itu pun meraihnya dari tangan sang supir.
"Aku pakai ini!" Ucapnya tersenyum miring meledek.
"Jika ada itu! Untuk apa kau memberikanku sebuah topi!" Killa menggerutu seraya hendak melepaskan topi itu. Namun Marvin menahannya, dan memakaikan kembali topi tadi.
"Kau mau tahu kenapa?" Marvin mendekatkan wajahnya pada Killa. Killa merasa gugup dan memalingkan wajahnya yang semerah tomat.
"Kenapa?" Tanya nya lirih dan pelan.
"Karena kau itu liar! Bisa saja kau lari menjauh atau berjalan lebih cepat dariku!" Ucap Marvin enteng tanpa merasa beban mengatakan kata itu kepada Killa.
"Apa kau bilang? Liar? Apa kau tidak bisa mengatakan hal yang baik sekali saja! Kau selalu berkata kasar dan ketus! Menyebalkan!" Killa menggerutu sembari berjalan mendahului Marvin.
"Hei, gadis bodoh! Kau mau kemana?" Teriak Marvin pada Killa yang sudah sangat jauh didepan sana. Gadis itu pun menoleh.
"Lewat sini!" Ucap Marvin melambai memanggil Killa.
"Kenapa tidak bilang dari tadi sih?" Gerutu gadis itu seraya berlari kembali pada Marvin.
Marvin lagi-lagi tergelak melihat tingkah Killa. Mereka pun berjalan berdampingan melewati jalanan bukit yang ditunjuk oleh Marvin. Tidak lama kemudian sampailah mereka disebuah tundukan bukit kecil selebar sekitar tiga meter. Dengan sebuah pusara putih berlapis keramik marmer dan sebuah bingkai foto. Disana tertulis nama seorang wanita. Tak lain adalah Mia Louis, ibunda Marvin.
Killa tertegun melihat pusara tersebut. Dia langsung menatap kearah Marvin. "Ini---."
"Benar, ini adalah makam ibuku, ibu mertuamu!" Ucap Marvin dengan tersenyum hambar. Menatap pusara cantik itu.
"Aku membawamu kemari! Karena aku ingin memperkenalkanmu padanya!" Lanjutnya sembari berjongkok dan mengusap pusara itu dengan lembut. Tanpa sadar air matanya menetes, tapi dengan cepat ia usap kembali.
Killa mengedarkan pandangannya, membaca tulisan dipusara itu. Betapa terkejutnya ia melihat tanggal kematiannya. Sama dengan tanggal lahir Marvin, yang sempat ia lihat dibingkai foto didalam kamar apartemen Marvin.
__ADS_1
Marvin menyadari keterkejutan Killa melihat tanggal kematian ibunya. Marvin pun menghela nafas untuk berbicara. Berat dan sesak rasanya.
"Kau tak perlu heran gadis bodoh! Sekarang kau sudah tahu bukan! Ibuku meninggal saat dihari kelahiran ku, atau lebih tepatnya saat melahirkan ku!" Tutur Marvin yang masih berjongkok didepan pusara sang ibu.
"Maafkan aku!" Lirih Killa yang merasa tidak enak pada Marvin.
"Untuk apa dasar gadis bodoh! Aku bosan mendengar permintaan maaf mu itu!" Ucap Marvin tersenyum paksa. Karena saat ini dia sangat ingin menangis namun dengan keras ditahanya.
"Kau mau tahu semuanya bukan, aku akan menceritakannya padamu!" Ucap Marvin sebelum akhirnya dia menceritakan kisah hidupnya dimulai dari kisah orang tuanya. Bagaimana Mamah Anna terkait dengan kehidupannya, dan hubungan persaudaraan nya dengan Gavin.
Bodohnya Killa, awalnya dia sempat berpikiran jika Ayah Kevin atau Ayah mertuanya itu. Adalah seorang pria brengsek, yang menghamili dua wanita sekaligus. Tapi ternyata setelah tahu kenyataannya, Killa menarik kembali perkataanya itu. Dan semakin bangga akan kesetiaan seorang Ayah Kevin atau Ayah mertuanya itu.
"Penyebab terjadinya kecelakaan itu adalah Papah Arsen! Karena dendamnya terhadap ayahku, dia tega membayar seseorang untuk mencelakai ayahku! Tapi dia tidak tahu, yang malah menjadi korban adalah ibuku! Bahkan nyawaku pun sempat terancam!" Jelas Marvin dengan suara bergetar dan tertahan. Dadanya tiba-tiba sesak, tak kuat melanjutkan perkataannya.
Tidak salah jika dia bersikap seperti itu oleh Papah Arsen! Aku sangat mengerti rasanya kehilangan seorang yang sangat kita sayangi! Selama ini dia pasti merasa sangat kesepian! Yang membuatnya menjadi seorang introvert, dingin dan kaku seperti sekarang! Batin Killa merasa iba dan kasihan pada Marvin. Tanpa sadar air mata Killa ikut menetes. Kesedihan yang dirasakan Marvin, seolah-olah ikut merasukinya.
"Kenapa dia sangat tega berbuat seperti itu pada orang tuaku? Meskipun dia sudah mengakui kesalahan, dan menebusnya dengan mengabdikan diri pada keluarga ku! Tetap saja rasa sakit tidak memiliki seorang ibu sejak lahir yang aku rasakan! Membuatku susah untuk melupakan pengkhianatan nya itu! Brengsek!" Maki Marvin dengan sangat kasar. Dia tertunduk memegangi pusara sang ibu.
Killa tak sanggup lagi, air matanya semakin deras mengalir.
"Meskipun Mamah Anna memberikanku kasih sayang tulus layaknya seorang ibu! Tetap saja tidak bisa menyamakan dengan kasih sayang nya seorang ibu kandung! Lelaki itu sudah membuatku tidak bisa melihat ibuku sejak aku lahir! Rasa sakit ini tidak bisa tergantikan, meskipun dengan nyawa bayarannya! Hatiku sudah membeku, tidak akan mencair untuknya! Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkannya!"
"Membayangkan rasa sakit yang dia rasakan waktu itu! Bertahun-tahun dia mendambakan hadir nya sosok buah hati! Tapi setelah mendapat mukjizat dari tuhan, bahwa dia telah mengandung aku! Dia sangat-sangat bahagia, tapi apa? Kenyataan begitu pahit! Sebelum melihat sang anak lahir kedunia, dia terlebih dulu pergi meninggalkan luka yang akan dijalani anak itu selama hidupnya! Hiks hiks!"
Akhirnya tangisan Marvin pecah. Seluruh amarahnya ia tumpahkan. Beban yang ada didalam kepalanya keluar. Air matanya deras mengalir diwajah tampannya. Pria dingin itu menangis memeluk pusara sang ibu.
Begitu miris dan menyedihkan. Seorang Marvin Louis yang terlihat pendiam dengan penuh misteri. Bahkan sangat jarang menampakan raut wajah kepada semua orang. Kini tengah menangis menjadi-jadi didepan pusara sang ibu dan didepan istrinya. Istri kontrak yang sekarang telah menjadi wanita yang sangat ia cintai.
Killa yang melihatnya saja, merasa begitu sesak didada. Apalagi dengan Marvin yang merasakannya. Segala kesakitan dan kepedihan yang ia sembunyikan didalam dirinya. Kini ia keluarkan dengan tangisan dan makiannya itu.
Killa ikut berjongkok dan langsung memeluk Marvin dari belakang. Killa juga mengusap-usap punggung tegap pria dingin itu agar membuatnya merasa sedikit tenang.
"Menangis lah, menangis lah sepuas mu! Keluarkan semua itu, agar kau bisa merasa lebih baik! Menangis adalah obat dari rasa sakit itu, jangan menahannya terlalu dalam!" Ucap Killa dengan terisak-isak. Perih melihat Marvin menangis seperti itu.
Marvin membalikan tubuhnya, kini dia berada didalam dekapan Killa. Begitu nyaman dan hangat. Marvin bersyukur karena telah bertemu dengan gadis seperti Killa. Entah apa yang ada didalam diri gadis itu yang membuatnya semakin hari, semakin jatuh cinta.
Sesak yang ia rasakan karena kepedihan hidup itu. Kini berangsur hilang. Dekapan dan kata-kata penyemangat dari Killa. Membuat Marvin merasa tenang dan nyaman. Nafasnya juga sudah mulai teratur tidak lagi tersengal dan terisak.
__ADS_1
...🌹Berambung🌹...