
🌹Keesokan paginya🌹
"Kakak, aku ingin kembali bersekolah! Sebentar lagi ujian kelulusan! Jika aku terus tak masuk sekolah, mereka tidak akan meluluskan ku!" decak Naya kepada Killa yang tengah duduk di ruang santai bersama Marvin dan juga Ken.
"Nanti saja!" jawab Killa singkat.
"Kenapa?" tanya Naya.
"Aku harus memastikan terlebih dulu dalam beberapa hari ini! Takutnya masih ada yang mau mencelakai mu! Turuti saja dan jangan membantahku!" Killa berucap tegas kepada sang adik.
Huft!
Naya mendengus kesal. Lalu berlalu masuk kembali kedalam kamarnya. Aku sangat membenci sikap otoriter mu kak!
Killa menoleh kesamping, menaikan alis sebelah menatap Marvin. "Kenapa? Apa ada yang tidak suka dengan caraku mengatur adik ku sendiri?" matanya menyipit.
Marvin menatap nya datar, sedangkan Ken tersenyum cerah sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak Nona, tidak ada yang keberatan dengan itu!"
Dia bahkan bisa bersikap keras kepada adiknya sendiri! Sebenarnya apa yang terjadi pada masa lalunya? Hingga dia tumbuh menjadi wanita keras seperti ini? gumam Marvin.
"Ken, hari ini temani dia untuk menjelaskan apa saja pekerjaan nya! Jangan sampai ria tidak mengerti!" ucap Marvin memberi perintah Ken.
"Baik Tuan!" jawab Ken sigap.
"Mari Nona saya akan mengantarkan anda ke tempat kerja!" ucap Ken seraya berdiri.
"Sekarang?" Killa kebingungan.
"Tunggu apa lagi? Bukan kah kau mau bekerja? Ikutlah dengan Ken" ucap Marvin ketus.
__ADS_1
"Tapi? Kau?" Killa menatap Marvin heran.
"Aku kenapa? Apa harus aku mengantarmu juga?" Marvin tersenyum miring lalu kembali datar.
"Bukan, bukan itu maksudku!" Killa tergagap.
"Jadi apa?"
"Kau tidak ikut bersama kami untuk pergi bekerja?"
"Tidak, aku akan bekerja dari rumah saja! Ken cepat antar kan dia"
"Baik Tuan, mari Nona" ucap Ken sembari mempersilahkan Killa berjalan didepan nya.
Mau tidak mau Killa pun mengikuti perintah Marvin. Dengan ditemani Ken, Killa pergi menuju dimana dia akan ditempatkan bekerja.
Entah kenapa Killa merasa sangat ragu-ragu. Akan lebih membuat hatinya tenang jika Marvin lah sendiri, yang mengantarkan nya bekerja. Terkadang Killa suka heran mengapa dia mulai ketergantungan dengan pria dingin dan kaku itu. Padahal mereka tidak pernah akur sekalipun.
Glek glek glek!
Marvin meneguk habis sebotol air mineral dari dalam lemari es. Lalu meremas botol tersebut dan membuangnya kedalam tempat sampah.
"Semoga saja dia tidak melakukan hal bodoh dan mempermalukan dirinya sendiri"
Marvin melamunkan sesuatu yang tak lain adalah Killa. Dia tak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Karena itu dia meminum air dingin untuk mendinginkan kepala nya. Yang panas karena terus menerus memikirkan Killa.
Ingin menelpon tapi malu. Ingin menemui tapi gengsi. Marvin serba salah jadinya. Padahal dia sangat ingin melihat kerjaan Killa. Apa gadis itu betah dan tidak merasa kesulitan sama sekali.
"Apa kau sedang memikirkan kakak ku?"
__ADS_1
Suara Naya membuyarkan lamunan Marvin. Pria itu terhentak kaget dan langsung berpura-pura sedang membaca kertas yang ada ditangan nya.
"Tidak, aku sedang memikirkan masalah pekerjaan!" jawab Marvin mengelak.
"Kenapa? Bukan kah wajar jika seorang suami sedang memikirkan istrinya?" ucap Naya yang sudah berada di belakang Marvin. Gadis itu membuka lemari es.
Marvin terhenyak sejenak, merasa ada yang aneh dari nada perkataan Naya. Gadis itu seperti sedang menyindir dirinya.
"Apa maksud dari ucapan mu itu?" tanya Marvin.
"Aku tahu jika kalian menikah bukan karena alasan saling mencintai!" ucap Naya.
Deg!
Marvin terkejut dengan perkataan Naya. Marvin tidak boleh mengatakan yang sebenarnya, karena dia sudah berjanji kepada Killa. Jika akan menutup mulutnya.
"Aku tidak mengerti ucapan mu!"
"Jujur saja! Aku tidak melihat adanya cinta di mata kalian berdua! Sorot mata kalian menggambarkan adanya permusuhan yang mutlak!" ucap Naya.
Marvin menarik nafas dalam-dalam. Dia pun berbalik badan menatap Naya sambil tersenyum tipis. "Kau tau apa tentang cinta? Kau masih kecil, dan yang harus kau pikirkan hanyalah pelajaran! Cukup dengarkan apa kata kakak mu, jangan membantah nya!"
Marvin mengusap kepala Naya sebelum dia berlalu pergi.
"BOHONG, kalian pasti berbohong padaku!" teriak Naya.
Langkah Marvin terhenti diambang pintu. "Jadilah adik yang penurut dan banggakan kakakmu dengan nilai sekolah mu! Aku harus bekerja, jika ada yang kau perlukan, cari aku diruang kerja"
Marvin pun melanjutkan langkah nya yang terhenti. Lalu menghilang dari balik lorong. Meninggalkan Naya sendirian di dapur.
__ADS_1
Gadis itu sama liciknya dengan kakaknya! Keras kepala dan tidak mau mendengar perkataan orang lain! gumam Marvin.
...🌹 Note : Jangan lupa like dan vote, besok Author libur yah 🌹...