
Sedari tadi Marvin tidak berhenti menatap arloji ditangan kirinya. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, masih ada waktu setengah jam lagi. Marvin tidak sabar untuk melakukan sesi wawancara ekslusif bersama Killa. Marvin berniat untuk memperkenalkan Killa pada dunia. Jika gadis itu adalah istrinya. Agar tidak ada yang berani untuk menyentuh Killa, apa lagi merebutnya dari Marvin.
"Kenapa lama sekali?"
"Dimana Ken? Kenapa dia begitu lama memanggil gadis bodoh itu?"
Dia terus menggerutu kesal. Tidak lama kemudian pintu diketuk dan masuklah Ken. Marvin celingak-celinguk mencoba melihat kearah belakang Ken. Namun yang sangat ingin dia lihat tidak ada.
Marvin menyipitkan matanya menatap Ken. "Dimana dia Ken?" Tanyanya kemudian.
"Maaf Tuan, Nona Killa sedang tidak ada ditempat!"
"Kemana dia? Apa kau tidak memberitahunya tentang wawancara ini?" Marvin menghela nafas dan mengusap wajahnya.
"Maaf Tuan! Tapi bukankah Tuan sendiri yang mencegah saya memberitahu Nona Killa! Untuk memberikannya kejutan!"
Marvin tersadar, Ken benar. Kenapa dia malah marah kepada Ken. Padahal dia sendiri lah yang mencegah Ken untuk bicara pada Killa.
Ada apa denganku? Kenapa semakin hari, aku rasa aku semakin merasa jadi orang bodoh! Batin Marvin.
__ADS_1
"Nona Killa sedang berada di departemen keuangan Tuan! Dia dan June sedang melakukan pertimbangan disana dengan klien." Jelas Ken sembari membungkuk.
"Pria itu lagi? Apakah dia sangat menyukai istriku? Sampai harus mengajak nya pergi?" Marvin mengepalkan tangan merasa sangat kesal terhadap June.
Anda benar-benar sudah dibutakan cinta Tuan! Nona Killa melakukan pekerjaannya, dan apa ada yang salah dengan itu? Saya tidak mengerti jalan pikiran anda! Batin Ken.
"Aku akan menyusul mereka, kau tetaplah disini!" Marvin beranjak dan merapikan jasnya.
"Tuan tidak perlu repot-repot! Biar saya yang akan pergi kesana menjemput Nona Killa!"
Marvin menatap tajam Ken seraya berjalan mendekatinya. "Ada apa denganmu? Aku atau kau yang suaminya?" Tangannya menunjuk dada Ken.
"Anda Tuan!" Ucap Ken menundukkan pandangannya.
"Huft! Karena aku adalah asisten pribadimu Tuan!" Ken menghela nafas panjang.
***
Sesampainya di lantai enam gedung, dimana departemen keuangan berada. Dengan gagahnya Marvin berjalan menyusuri lorong. Melewati para pegawainya. Tentu saja semua pandangan mata tertuju padanya. Mereka semua memberi hormat, dengan membungkuk sopan pada pria itu. Tak jarang juga ada yang menyapa, namun tidak dijawab oleh Marvin.
__ADS_1
Marvin berhenti di depan salah satu ruangan. Kepalanya menengadah membaca nama ruangan tersebut. 'Meeting Room' itu yang tertulis dipapan nama tersebut.
Dengan segera, Marvin masuk kedalam ruangan itu. Sontak semua pandangan orang didalam ruangan itu tertuju pada Marvin. Begitu juga dengan Killa dan June.
"Marvin?" Batin Killa.
"Tuan Marvin, apa kabar? Apa yang membuat anda datang langsung bertemu kami!" Ucap salah satu klien yang duduk disebelah Killa. Sedangkan June menatap heran Marvin.
"Maafkan saya Tuan Ryan, saya disini bukan untuk menemui anda!" Ucap Marvin tersenyum.
"Oh benarkah Tuan Marvin? Kalau begitu untuk apa anda berada disini?" Sahut Tuan Ryan sedikit ketus. Karena kecewa dengan perkataan Marvin.
Marvin menatap Killa. Begitu pun dengan Killa. Gadis itu melotot dan menggelengkan kepalanya. Berharap Marvin tidak melakukan hal aneh dan bodoh.
"Tuan Marvin, apa anda ingin menemui saya?" Tanya June sembari berdiri.
Marvin menyipitkan matanya. "Tidak, saya tidak ada urusan dengan anda ketua tim pemasaran!" Cetusnya kemudian.
"Saya disini, untuk menjemput istriku!" Tutur Marvin.
__ADS_1
Sambil mengukir senyuman diwajahnya, Marvin berjalan menghampiri Killa. Sontak semuanya terkejut dan bertanya-tanya. Istri? Ternyata istri Tuan Marvin Louis, berada diruangan itu bersama mereka.
"Istriku sayang, ayo ikut denganku! Ada wawancara penting yang harus kita hadiri sayang!" Ucap Marvin lembut seraya mengulurkan tangan pada Killa.