
Beralih di lorong menuju ruangan VIP tempat Killa dirawat. Justin berjalan perlahan sambil menatap ponsel dan membawa empat cup kopi untuk mereka berempat di tangan kirinya. Namun dari kejauhan dia melihat Naya yang berlari sambil menangis. Ia pun memasuk kan ponselnya ke dalam saku.
"Kau mau kemana? Apa yang terjadi?" tanya nya sembari menangkap tangan Naya. Membuat Naya mendongak menatap orang yang sudah menarik tangan nya.
"Lepaskan aku," ucap Naya seraya mencoba melepaskan tangan Justin.
Justin pun melepaskan tangan Naya. Membiarkan Naya kembali melanjutkan langkahnya. Ia menatap kepergian Naya yang menghilang dari balik lorong.
"Dia pasti sudah bertemu Marvin," gumam Justin sembari menghela nafas. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan Killa.
Sesampainya di ambang pintu. Justin melihat Marvin yang tengah memeluk Killa yang sedang menangis. Wajah nya terpaling dengan sendirinya. Ia memegangi dadanya yang terasa perih. Namun ia tetap berusaha untuk kuat.
"Tenanglah, aku yang akan bicara pada Naya," ucap Marvin.
Seketika Killa langsung mendorong tubuh Marvin. "Kau mau bicara apa padanya? Yang ada kalian akan bertengkar," ucap Killa.
"Percayalah, aku akan bicara padanya."
"Tidak perlu, biarkan saja dia. Sebaiknya kau pergi saja, aku mau menenangkan diri."
"Apa? Apa kau mengusirku?" Marvin mengerutkan dahinya.
"Aku tidak mengusir mu, aku hanya butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran ku Vin."
"Tapi Killa-- "
__ADS_1
"Plis, pergilah."
Marvin terdiam. Mau marah tapi tidak bisa. Akhirnya ia pun memilih menuruti permintaan Killa. Berbalik badan dan melangkah pergi.
Namun tidak sengaja di ambang pintu dia bertemu dengan Justin. Saling menatap sebentar, lalu Marvin kembali melanjutkan langkahnya.
"Hiks hiks." Killa menangis tersedu-sedu.
Justin pun berjalan mendekatinya. "Hei," sapa Justin.
Killa mendongak, "Justin, hiks hiks."
"Tenanglah, aku akan bicara pada Naya. Kau berhentilah menangis, apa kau tidak kasihan dengan Baby nya?"
"Minumlah ini, aku akan pergi menemui Naya." Justin memberikan satu cup kopi kepada Killa lalu pergi dari sana secepat mungkin. Karena dia juga hendak mengejar Marvin. Ada sesuatu yang ingin dia katakan.
Sebelum pintu lift tertutup. Terlihat Marvin berdiri berpegangan di dinding steinless lift. Kepalanya terasa pusing.
"Aaghhh!" teriaknya seraya memukul dinding steinless itu dengan kuat. Hingga tangan nya terluka.
Marvin mengusap wajahnya dengan frustasi. Dia bingung harus berbuat apa. Hatinya seperti sedang dipukul-pukul, ada rasa perih dan sesaknya. Di usir oleh orang yang sangat ia cintai. Bayangkan bagaimana rasanya.
Beberapa detik kemudian. Justin berlari masuk ke dalam lift tersebut. Memencet tombol Lobby. Pintu pun tertutup.
"Apa kau sudah bicara pada Killa?" tanya Justin.
__ADS_1
"Entahlah, aku rasa ini sangat berat," jawab Marvin sembari mensejajarkan tubuhnya. Berdiri tegak di sebelah Justin.
"Jika kau menyerah saat ini, aku yang akan memperjuangkan nya."
Seketika Marvin mengerutkan kening dan menatap tajam Justin. Sedangkan Justin malah tersenyum.
"Sejak kapan aku secepat ini untuk menyerah! Aku tidak akan pernah melepaskan Killa lagi, aku akan membawanya pulang bersama ku ke Seoul," ucap Marvin dengan percaya diri.
"Hmm, baguslah jika kau tidak patah semangat."
"Kau sendiri? Apakah kau sudah sadar diri dan menyerah, jika tidak ada cinta lagi di mata Killa untuk mu?" Marvin tersenyum miring.
"Hahaha, aku tidak butuh cinta. Jika aku mau, aku bisa saja tidak memberitahumu keadaan nya. Menikahinya dan menerima anak nya seperti anak ku sendiri," sahut Justin santai dengan tawa mengejek nya.
"Kau, jika kau berani awas saja." Marvin menatap tajam Justin. Saling menatap sengit, lalu mereka pun tertawa. Entah apa yang sudah membuat mereka tertawa.
"Sebaiknya berikan Killa waktu, masalah Naya biar aku yang akan bicara padanya." Justin menepuk-nepuk punggung belakang Marvin, menyemangatinya.
Marvin mengangguk bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. "Ini minumlah," ucap Justin seraya memberikan satu cup kopi pada Marvin.
Lalu ia lebih dulu keluar dari lift.
"Ternyata dia benar-benar sudah berubah," gumam Marvin. Menatap cup kopi itu dan beralih menatap kepergian Justin.
...🌹Jangan lupa like🌹...
__ADS_1