Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 156 : Kau bukan lah Killa.


__ADS_3

Baru saja masuk kedalam apartemen. Killa langsung berlalu masuk kedalam kamar. Sedangkan Marvin hanya menatap sendu kepergian Killa yang tanpa berkata satu kata pun padanya.


"Kakak ipar." Naya menepuk bahu Marvin.


"Pergilah ganti pakaian mu, kau bisa demam. Jangan khawatir, aku akan mengurus kakak mu," ucap Marvin dengan senyum yang dipaksakan. Agar Naya berhenti mencemaskan keadaan kakak nya.


"Baiklah," jawab Naya dengan nada lirih. Marvin pun bergegas mengikuti langkah Killa masuk ke dalam kamar. Begitu pun juga dengan Naya, ia masuk kedalam kamar tidurnya.


***


Di dalam kamar. Marvin melihat Killa yang tengah duduk melamun di atas tempat tidur. Ia pun berjalan menghampiri Killa. Dan ikut duduk disebelahnya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Marvin sembari meraih tangan Killa dan menggenggam nya erat.


Killa pun menoleh ke arah Marvin. "Bagaimana bisa kau setenang ini Marvin?" tanya nya balik dengan dahi yang mengkerut.


"Memang nya aku harus seperti apa? Apakah aku harus berlari dan menangis ditengah hujan seperti yang kau lakukan?" jawab Marvin tersenyum dan mengerinyit.


"Cih, apa kau sedang mengejek ku? Siapa bilang aku menangis," ucap Killa kesal. Tidak terima dikatai menangis oleh Marvin.


"Lalu apa namanya? Keluar air mata? Hahaha, itu sama saja bukan?" Marvin tergelak.

__ADS_1


"Dasar aneh, tidak ada yang lucu kenapa kau tertawa?" Killa melirik sinis Marvin.


Marvin yang tadinya tertawa kini dalam sekejap menjadi datar. Ia mengerinyit dan berkata, "Kau siapa?"


Killa ikut mengerinyit tidak mengerti. " Maksudnya? Dasar aneh. Tentu saja aku Killa."


"Kau bukan Killa."


"Cih, berhentilah bercanda. Aku sedang tidak ingin bercanda Marvin."


Merasa ucapan Marvin sangat tidak masuk akal. Killa pun memilih untuk segera mandi dan mengganti pakaian nya yang basah. Ia beranjak dari duduknya dan hendak berjalan menuju kamar mandi. Namun tiba-tiba saja Marvin mengatakan hal yang membuatnya tertegun, dan terdiam. Bahkan langkah kakinya terhenti.


"Aku tidak bercanda, kau bukanlah Killa. Kau adalah orang lain."


"Kau bukan lah Killa istriku. Karena Killa yang aku kenal tidak akan lari dari masalah. Dia juga tidak akan menangis seorang diri dipinggir jalan seperti itu. Paling tidak, dia tidak akan merasa putus asa meskipun begitu berat masalahnya. Memang nya apa yang bisa membuatnya menangis?"


Marvin beranjak dari duduk nya dan berjalan menghampiri Killa. Dipeluknya Killa dari belakang. Membuat Killa tersentak kaget. Ia hendak melepaskan namun Marvin semakin mengeratkan pelukan nya.


"Dia adalah wanita yang kuat dan pantang untuk putus asa. Dia adalah wanita ku, wanita yang sangat aku cintai," lanjutnya sembari mengecup pucuk kepala Killa.


Tanpa Marvin lihat. Air mata Killa menetes, dadanya bergemuruh, dengan cepat ia mengusap air mata itu. Ia tak ingin Marvin melihatnya menangis.

__ADS_1


Kau, kau lah alasan aku menangis Marvin. Maafkan aku sudah membuatmu sangat cemas! Batin Killa.


Marvin pun memegang kedua bahu Killa dan membalikan badannya. Mereka berdua saling menatap dengan lekat. Marvin mengelus dengan lembut pipi Killa. Masih terdapat bercak-kan kecil air mata yang tertinggal disana. Marvin tahu jika Killa baru saja meneteskan air mata.


"Kau tidak menangis?"


Killa mengangguk dan tersenyum.


"Berarti kau adalah Killa-ku, istriku, wanita yang sangat aku cintai."


Lagi-lagi Killa mengangguk dan tersenyum. Meskipun kelopak matanya memanas, ia tetap menahan sekuat mungkin. Agar air mata itu tidak menetes.


Marvin kembali menarik Killa ke dalam dekapan nya. Kemudian mengelus-elus kepalanya. Sedangkan Killa merasa sangat nyaman berada dalam dekapan Marvin. Sentuhan nya bukan hanya membuat tubuhnya hangat. Namun hatinya juga merasa sangat hangat, sampai-sampai kehangatan itu, selalu membuatnya candu dan merasa tidak rela. Jika harus melepaskan kehangatan ini.


"Ayo mandi bersama," ucap Marvin.


Killa melepaskan pelukan nya dan menatap tidak percaya wajah Marvin.


"Ada apa? Aku tidak sedang bercanda Nyonya Louis. Ini adalah perintah dan kau tidak boleh menolak nya. Kau harus mengikuti semua ucapan ku," ucapnya lagi.


Belum sempat Killa menjawab, Marvin pun langsung menggendong Killa. Ia berlari membawa Killa masuk ke dalam kamar mandi. Meskipun Killa memberontak minta dilepaskan. Marvin tetap tidak mau tahu.

__ADS_1


"Aaaa, Marvin Louis lepaskan aku. Awas kau yah! Dasar pria keras kepala yang tidak mau di kalah, lepaskan aku! Ini namanya pemaksaan, awwh."


Killa terus berteriak-teriak sambil menggelinjang. Di pukul-pukul nya dada Marvin. Sedangkan Marvin malah tersenyum dan tertawa penuh kemenangan.


__ADS_2