Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 197 : Keegoisan orang dewasa.


__ADS_3

Kini Justin tengah berada di taman rumah sakit tempat Killa di rawat. Dengan membawa dua cup kopi di tangannya, ia mengitari taman tersebut. Mencari-cari keberadaan Naya. Kemana gadis itu pergi sambil menangis.


"Huft, sangat menyusahkan sekali," gerutunya seraya mengusap peluh di kening.


"Hiks hiks, aku benci semua orang ... hiks hiks."


Justin mendengar suara isak tangis seorang gadis. Ia pun mendengarkan dengan seksama. Mengikuti arah dari suara tersebut. Benar saja dugaan nya, itu adalah suara isak tangis Naya.


Naya tengah duduk di pinggiran danau kecil di tengah taman tersebut. Segera ia menghampiri nya.


"Minumlah," ucap nya sambil memberikan cup kopi itu ditangan Naya.


Naya mendongak menatap pemilik kaki jenjang yang berdiri di depan nya. Rambut acak-acakan, mata bengkak, hidung merah, dan air mata yang berlinang-an. Sungguh berantakan pikir Justin.


"Dasar cengeng," ucapnya pelan. Ia pun ikut duduk di rerumputan sebelah Naya.


"Apa kau bilang? Jika kau kesini untuk mengajak ku bertengkar, sebaiknya kau pergi sana," sahut Naya ketus.


"Cih, aku kesini bukan untuk menemui mu. Memang nya taman ini milik mu saja? Ini milik rumah sakit, siapa pun bisa kesini." Justin menoleh ke arah Naya yang sedang menatap nya tajam.


Deg!


Naya terkejut melihat senyuman Justin, meskipun sekilas. Naya tidak bisa berbohong jika Justin memang sangat tampan. Sedetik kemudian ia tersentak dan langsung geleng-geleng kepala.


"Sepertinya aku sudah gila, apa yang sedang aku pikirkan! Sangat menjijikan," gumam nya pelan.

__ADS_1


Justin mengerinyit. "Ada apa? Apa kepala mu sakit?" Tangan nya terulur hendak meraih kening Naya.


"Aku tidak apa-apa, jangan menyentuhku." Naya menepis tangan Justin.


Justin mengangkat kedua pundak nya. Aneh sekali tingkah gadis itu, pikirnya. "Apa kau sangat membencinya?" tanya nya.


Naya kembali menoleh menatap Justin dengan mata menyipit. "Marvin, maksudku kakak ipar mu," lanjut Justin.


"Huft, aku sedang tidak ingin membicarakan nya." Naya menghela nafas dan memalingkan wajah. Menatap danau kecil itu.


"Apakah kau tidak merasa bahwa kau sangat keterlaluan?" ucap Justin sambil tersenyum tipis. Masih dengan sikap songong nya.


"Siapa yang keterlaluan?" Naya mulai tersulut emosi, namun masih mencoba untuk sabar.


"Kau," tunjuk Justin padanya.


"Terkadang kalian juga sangat egois, tidak ada yang mau mengakui kesalahan masing-masing," lanjutnya sambil meremas rerumputan yang ia duduki.


"Tentu saja kami egois!"


Seketika Naya menoleh sambil mengerinyit. Pria itu sudah gila pikirnya.


"Kau anak kecil tidak akan mengerti jalan pikiran kami. Terkadang untuk mempertahankan sesuatu yang berharga, sifat egois itu datang tanpa di undang."


Tatapan Naya seketika berubah. Entah kenapa dia merasa Justin terlalu menyedihkan. Melihatnya tersenyum pasif dan menatap sendu ke arah danau seperti itu. Membuat Naya merasa bukan hanya dirinya yang merasa hampa sekarang ini. Tapi Justin juga merasakan nya.

__ADS_1


"Namun, kau tahu!" Justin menatap ke arah Naya, gadis itu tersentak dan langsung menundukkan wajahnya yang memerah.


"Yang lebih tidak bisa di mengerti lagi adalah, terkadang rasa egois itu berubah perlahan menjadi merelakan. Meskipun rasanya sakit namun itu lebih ringan, dari beratnya keegoisan."


Naya merasakan ada sesuatu yang menggelitik hati nya. Ia selalu berdebar di beberapa waktu jika dia sedang bersama dengan Justin.


"Apa kau mengerti sekarang?" Justin mendongak kan kepala Naya yang menunduk. Tatapan mereka bertemu dalam beberapa detik.


Naya mengangguk dan langsung memutuskan pandangan mereka yang menyatu. "A-aku mengerti maksudmu," ucapnya terbata dan gugup.


"Baguslah."


"Jadi apa kau bisa memberikan mereka berdua kesempatan untuk bisa bersama?"


"Entahlah, susah untuk ku mempercayai kakak ipar lagi," ucap Naya murung.


"Bukan kah dia sudah berjanji tidak akan menyakiti kakak mu lagi?"


"Kau tahu, sifat seseorang bisa saja berubah-ubah kapan saja. Bagaimana jika dia akan menyakiti kakak ku lagi?"


"Aku yakin Marvin akan membuat Killa bahagia, apalagi sekarang mereka akan segera memiliki Baby, yang akan melengkapi kebahagiaan mereka."


Tersenyum walaupun sakit. Itulah yang Naya lihat. Meskipun bibir Justin tersenyum, namun matanya yang berkaca-kaca menampakan jelas kesedihan yabg mendalam. "Aku rasa kau sudah banyak berubah," ucap nya pelan.


"Hah? Apa kau bilang? Siapa yang berubah?" tanya Justin samar-samar mendengar perkataan Naya.

__ADS_1


"Kau!" Naya menunjuk Justin dengan dagunya. "Kau sudah banyak berubah," lanjutnya tersenyum.


__ADS_2