Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 195 : Seperti anak kecil.


__ADS_3

"Kakak," teriak Naya yang berdiri di ambang pintu. Dengan wajah merah padam, karena menahan amarah nya. Melihat Marvin ada di dalam ruangan itu bersama kakak nya.


"Naya," ucap Killa.


Sedangkan Marvin. Ia mengusap air matanya terlebih dulu, baru menoleh ke arah pintu. Tersenyum canggung pada Naya.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau mau menyakiti kakak ku lagi," serang Naya. Ia berjalan mendekat dan menarik Marvin menjauh dari Killa.


"Nay, kenapa kau bicara seperti itu." Killa menarik tangan Naya lalu berbisik pelan.


"Kenapa Kak? Apa kau lupa dia sudah membuat mu menangis waktu itu. Aku tidak akan pernah memaafkan nya." Naya menatap tajam Marvin.


"Naya," bentak Killa.


"Nay, aku tahu kau pasti sangat marah dan kecewa karena sikap ku pada kau dan Killa saat itu. Aku mengaku aku salah, aku sangat bersalah karena sudah menyakiti hati kalian berdua. Berikan aku kesempatan untuk menebusnya, aku janji aku tidak akan seperti itu lagi. Aku akan selalu membuat kalian bahagia," ucap Marvin memohon.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu seenaknya memperlakukan kakak ku. Kau harus tahu, bagaimana dia menjalani hari-hari nya dengan rasa bersalah yang amat dalam. Walaupun aku tidak pernah mengatakan nya, tapi sebenarnya aku selalu mendengar dia menangis setiap malam. Sakit hatiku sangat sakit melihat dia seperti itu."


Deg!


Mata Killa membulat, dia tidak percaya jika Naya juga mendengar tangisan nya selama ini. Tanpa sadar air mata Killa menetes. Genggaman tangan nya pada Naya semakin erat. Ternyata selama ini Naya juga memperhatikan nya, Killa merasa begitu terharu.


"Sekarang kau datang kembali, dengan membawa pernyataan bahwa ayahku tidak bersalah. Seharusnya meskipun ayah ku bersalah atau tidak, jika kau sangat mencintai kakak ku kau tidak mungkin bersikap dingin seperti itu."


"Iya aku tahu aku salah. Tapi, kau tahu bagaimana rasanya? Saat itu aku juga begitu kecewa dengan kebenaran tersebut. Bayangkan jika kalian juga ada di posisi ku."


Killa terdiam begitu pun dengan Naya. Killa juga memikirkan hal yang sama. Karena itu sebenarnya dia tidak terlalu marah pada Marvin. Baginya wajar saja Marvin seperti itu dia juga pasti merasa sedih karena kematian ibunya.


"Aku tidak perduli, sekarang kau pergi." Naya menunjuk pintu dengan kasar mengusir Marvin.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana, Killa adalah istriku. Dan sekarang dia sedang mengandung anakku. Kau tidak bisa seenaknya menyuruhku pergi." Marvin sedikit tegas pada Naya.

__ADS_1


"Apa kau bilang? Istri? Kau sudah bukan kakak ipar ku atau pun suami kakak ku lagi. Jadi kau tidak berhak mempertegas diriku ataupun kakak." Naya berkacak pinggang semakin menantang.


"Nay, apa-apaan kau ini. Jangan bersikap seperti anak kecil," ucap Killa menarik lengan baju Naya agar mundur.


"Siapa yang seperti anak kecil? Jangan mengajariku tentang kedewasaan diri. Tapi kalian lah yang mestinya belajar untuk dewasa, sikap kalian berdua lah yang seperti anak kecil." Naya membentak keduanya.


Mereka terdiam mendengar ucapan Naya.


"Lari dari masalah." Naya menatap ke arah Killa.


"Bertindak gegabah dan tidak memikirkan perasaan orang lain." Naya berbalik menatap Marvin.


"Itu adalah sikap yang kekanak-kanakan. Kalian berdua sama-sama salah, sama-sama egois. Sama-sama tidak ada yang mau mengalah. Aku benci sifat kalian yang seperti itu," ucap Naya seraya melangkah pergi dari ruangan itu.


"Naya, kau mau kemana?" teriak Killa. Tak sadar dia hendak beranjak turun dari tempat tidur. Namun kepala nya masih pusing dan tubuhnya juga lemas. Dia pun sempat terhuyung. Namun sebelum terjatuh, Marvin terlebih dulu menangkap tubuhnya.

__ADS_1


"Kau mau kemana? Tubuhmu masih lemah," ucap Marvin perlahan menaikan kembali Killa ke atas tempat tidur.


"Aku mau mengejar Naya," ucap Killa. Dia sangat cemas dengan Naya.


__ADS_2