
Mmmhh!
"Vin, berhenti!" Killa melepaskan bibirnya dari bibir Marvin.
"Kenapa?" Marvin kembali mendekatkan bibirnya, namun kembali ditahan oleh Killa.
"Ini dikantor Vin, bagaimana jika ada seseorang yang masuk?"
"Tidak akan ada sayang?" Marvin mengecup bibir Killa.
"Vin, sadarlah! Kenapa kau seperti ini?"
Killa menatap lekat wajah Marvin. Tatapan mata pria itu nampak sendu dan sayu. Nafasnya juga sudah tidak beraturan. Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti ini?
"Killa, aku mencintaimu gadis bodoh! Dapatkah kau berjanji untuk selalu berada di sisiku?" Ucap Marvin tiba-tiba serius.
Killa terkejut dan bingung harus menjawab apa. Sebenarnya dia juga berharap yang sama. Dia tidak mau Marvin jauh darinya. Apalagi harus meninggalkannya. Karena dia juga sudah jatuh cinta pada pria dingin itu. Dengan wajah yang merah tersipu malu, Killa mengangguk pelan.
Marvin tersenyum puas. Karena secara tidak langsung Killa sudah menerima dirinya. Menerima cinta dan membalas perasaannya. Marvin pun kembali mencium bibir Killa.
Suasana didalam ruangan itu seketika menghangat. Kini ciumannya tak lagi hanya dibibir. Melainkan mulai turun ke leher. Terdengar desahan kecil dari mulut Killa, saat merasakan bibir Marvin mengecup kecup lehernya. Tak jarang dia juga menggigit kecil leher Killa hingga meninggalkan tanda kepemilikan disana.
"Bolehkah?" Lirih Marvin dengan wajah yang saling berdekatan. Nafas keduanya saling beradu. Killa mengerti dengan apa yang dimaksud Marvin. Killa mengangguk karena dia juga merasakan hal yang sama. Sesuatu yang bergetar didalam tubuhnya. Seakan memberontak ingin keluar.
__ADS_1
Hasratnya sudah hampir tidak bisa tertahan. Marvin semakin terbuai dengan permainannya sendiri. Tubuh Killa sungguh sangat memabukkan.
Eeugghh!" Killa meremas bahu Marvin ketika pria itu kembali menciumi lehernya. Dan tangannya bermain di kedua gunung kembar itu.
Akhirnya siang itu. Tepat disofa ruang kerjanya. Marvin dan Killa kembali melakukan hubungan suami istri yang semestinya. Ruangan itu menjadi saksi bisu aktivitas panas kedua insan itu. Namun rasanya berbeda dari yang sebelumnya. Karena kali ini tidak ada yang namanya paksaan. Real kemauan dari kedua belah pihak.
***
Huft huft hutf!
Setengah jam sudah berlalu. Marvin terjatuh lemas menindih tubuh sang istri. Dada keduanya bersentuhan, dengan gerakan naik turun. Karena nafas mereka yang masih tersengal.
"I Love You Killa!" Bisik Marvin ditelinga Killa, lalu mengecup kening gadis itu.
Killa tak menjawab, dia hanya tersenyum dan mengangguk. Tenaganya terkuras habis akibat aktivitas panas mereka. Dia hanya bisa terbaring lemas dibawah sang suami.
"Kau haus? Sebentar aku ambilkan kau minum!"
Marvin pun beranjak dari atas tubuh sang istri. Lalu mengambilkan segelas air untuk sang istri. Sekaligus dia juga mengambil sebuah selimut dari dalam lemari pakaian yang memang ada didalam ruang kerjanya. Untuk berjaga-jaga jika dia tidak pulang dan tertidur saat bekerja. Didalam lemari itu terdapat beberapa pasang setelan kerja miliknya dan juga ada sebuah selimut.
"Ini, minumlah!" Marvin memberikan gelas berisi air pada Killa dan menyelimuti tubuh polos gadis itu dengan selimut.
"Aku sudah meminta seseorang untuk membelikan pakaian wanita! Mungkin sebentar lagi datang!" Ucap Marvin.
__ADS_1
"Kapan kau memintanya? Aku rasa sejak tadi kau tidak memegang ponselmu? Apalagi menghubungi seseorang! Katakan sejak kapan kau menyuruh orang itu?" Tanya Killa dengan tatapan menyelidik.
Pria dingin itu tertawa licik sambil memalingkan wajah kearah lain. "Jawab aku Vin? Kenapa kau malah tertawa?"
Killa meraih dagu Marvin lalu mengarahkan wajah pria itu kepadanya. Tatapan mereka bertemu. Killa menelan salivanya sedangkan Marvin kembali terpana dengan kecantikan istrinya itu. Mata yang tajam dan bibir yang bervolume.
Cups!
Lagi, Marvin mengecup bibir Killa namun hanya sekilas. Wajah Killa memerah. Dia memegangi bibirnya yang habis dikecup.
"Sejak sebelum kamu sampai disini!" Marvin tersenyum simpul sambil mengelus pipi Killa.
"Kau ini!" Killa memukul dada Marvin. "Jadi kau sudah merencanakan ini sejak tadi! Dasar kau mesum!" Lanjutnya tak terima.
"Mesum dari mana? Jangan sembarang bicara, apa aku terlihat seperti orang yang mesum?" Marvin lebih tak terima dikatai mesum oleh Killa.
"Kau ingat, kau juga menginginkannya tadi!"
Ditengah-tengah perdebatan aneh itu. Tiba-tiba saja pintu diketuk dari luar. Seseorang yang sudah ia perintahkan membeli pakaian wanita sudah datang. Dengan segera Marvin mengenakan kembali celananya tapi tidak dengan bajunya. Marvin membiarkan bagian dadanya terekspos.
"Terima kasih, ini tips untukmu karena suasana hatiku sedang baik!" Ucap Marvin memberikan uang tips kepada Bell boy yang berada dihadapannya itu.
Bell boy itu terkejut dengan penampilan Marvin yang hanya mengenakan celana dan bertelanjang dada. Pikirannya sudah pasti jika Marvin sedang bercinta dengan seorang wanita didalam ruangan kerja. Sungguh gila pikirnya. Tuan Marvin yang terlihat tertutup dan dingin. Ternyata memiliki seorang wanita disampingnya. Terlebih nekat bercinta didalam ruangan kerja. Kenapa tidak membawa wanita itu kedalam salah satu kamar hotel. Menurut pemikiran nakal Marvin, baginya ruang kerja lebih menantang dari pada kamar hotel. Experience nya tidak akan pernah terlupakan.
__ADS_1
"Terima kasih kembali Tuan! Saya permisi dulu!" Ucap Bell boy itu lalu bergegas pergi.
Marvin menutup pintu dan menguncinya kembali. Lalu ia menaruh totebag berisikan pakaian wanita itu diatas meja. Kemudian menghampiri Killa. Menggendong gadis itu menuju kamar mandi. Mereka berdua memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri bersama. Bisa dibayangkan, ternyata Marvin kembali melakukan nya saat mereka tengah mandi diguyuran air hangat shower.