Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 200 : Harapan tidak sesuai keinginan.


__ADS_3

Di dalam ruangan. Killa mengerinyit heran melihat wajah Naya yang yang ditekuk. Pasti ada sesuatu yang membuatnya kesal, pikir Killa.


"Ada apa? Kenapa kau cemberut seperti itu?" tanya Killa.


"Tidak apa-apa," jawab Naya singkat.


"Dimana Justin? Apa dia masih dalam perjalanan?"


"Dia tidak jadi datang untuk menjemput kita."


"Apa?" Killa mengerutkan keningnya menatap Naya.


"Tenang saja ... Dia sudah meminta seseorang untuk menjemput kita."


"Siapa?" Killa semakin penasaran. Dadanya berdebar kencang, menerka-nerka jika yang ada di pikiran nya tidak mungkin terjadi. Karena dia sempat berpikir jika Justin akan meminta Marvin.


"Kakak ipar," jawab Naya seraya mengalihkan pandangan nya ke arah pintu yang baru saja dibuka.


"Marvin," lirih Killa. Dengan wajah terkejutnya, ia tak berhenti menatap seseorang yang baru saja terlintas dipikiran nya.


Keduanya saling menatap lama. Ada sesuatu yang berbinar di mata Marvin, yaitu harapan. Harapan yang besar untuk mendapat kesempatan kedua dari Killa.


"Kenapa kau repot-repot datang kemari? Aku akan menelpon Justin, dia tidak seharusnya merepotkan orang lain."

__ADS_1


Killa nampak sangat canggung dan gugup. Saat dia merogoh sakunya. Marvin mendekat dan menahan tangan nya. Killa terkejut dan menatap wajah Marvin.


"Aku tidak masalah, lagi pula kau dan Naya bukan orang lain bagiku. Kita adalah keluarga, kau adalah istriku! Kenapa aku merasa kau memperlakukan ku seperti orang asing."


Killa menepis tangan Marvin dan memalingkan wajahnya. "Aku tidak seperti itu, kau terlalu banyak berpikir, aku hanya butuh waktu saja," ucapnya.


Huft!


Mereka berdua ... selalu saja bersikap seperti ini! Aku muak sekali melihatnya!


Naya menghela nafas panjang dan memutar bola matanya malas. "Baiklah, aku akan pergi lebih dulu untuk menebus resep obat di bagian farmasi," ucap nya.


Naya pun berlalu pergi meninggalkan Killa dan Marvin berdua saja. Setelah kepergian Naya Marvin mendekat pada Killa.


Sedangkan Killa semakin tak karuan. Dadanya semakin berdebar, ketika merasakan sentuhan hangat tangan Marvin di perutnya.


Matanya terasa panas, ingin meneteskan air mata. Bahkan dia juga hampir kehabisan nafas. Karena menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan.


"Vin, lepaskan aku! Apa yang kau lakukan?" Killa mencoba melepaskan lingkaran tangan Marvin dari perut nya.


"Aku sangat merindukan mu Killa, tidak bisakah kau memberikanku kesempatan?" Marvin semakin mempererat pelukannya. Dia mencium punggung belakang Killa, menghirup aroma tubuh Killa.


"Maafkan aku Vin," lirih Killa.

__ADS_1


Seketika, Marvin langsung melepaskan pelukannya. Killa berbalik dan menatap sendu wajah Marvin yang pias.


"Maaf, untuk apa?" Marvin semakin lekat menatap kedua netra milik Killa. Mencari jawaban yang tidak akan menyakitkan hatinya.


Namun ternyata, harapan tidak sesuai keinginan. Ucapan yang keluar dari mulut Killa. Membuatnya tak bisa berkata-kata.


"Maaf, aku merasa aku tidak bisa ikut kembali bersama mu!"


"Tapi kenapa?"


"Aku tidak tahu, rasanya masih sangat berat." Killa memalingkan wajahnya.


"Baiklah, mungkin kau masih perlu waktu untuk berpikir. Sekarang bersiaplah, aku akan mengantarmu lebih dulu pulang kerumah. Setelah itu kita akan bicara lagi."


Marvin mencoba untuk tenang dan berpikir positif. Barusan dia menganggap hanya kesalahan. Dan akan mencoba bicara lagi nanti.


"Vin, dengarkan aku." Killa meraih tangan Marvin yang hendak berlalu keluar dari ruangan itu.


"Cukup Killa, kita bicara nanti." Marvin menoleh dan menekankan perkataan nya.


"Baiklah!"


Killa berjalan lebih dulu di depan Marvin. Dia tahu jika perkataan nya tadi pasti sangat menyakitkan hati Marvin. Menyesal, Killa telah berkata seperti itu. Tapi mau bagaimana? Dia bingung dengan perasaan nya.

__ADS_1


__ADS_2