Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 198 : Sangat munafik!


__ADS_3

Deg deg deg!


Melihat Naya tersenyum dan memuji perubahan dirinya. Jantung Justin berdetak sangat cepat. Sejak kapan gadis kecil yang sudah hampir tujuh tahun ia kenal. Semenjak dirinya masih pacaran dengan Killa. Naya adalah gadis kecil yang ia jaga seperti adiknya sendiri. Kini ia sudah besar, memiliki wajah cantik dan senyum yang indah.


"Hei, kau sedang memikirkan apa? Kau sedang memikirkan yang tidak-tidak yah tentangku," pekik Naya membuyarkan lamunan Justin.


Tapi dia juga sangat cerewet, pemarah, dan sangat ketus jika berbicara. Itulah yang dipikirkan Justin kemudian lalu beranjak dari duduk nya.


"Aku pergi dulu," ucap Justin kemudian berlalu pergi.


"Hei, kau mau kemana? Tunggu aku," teriak Naya.


"Aku mau kerja, kau pulang saja sendiri." Justin mempercepat langkah nya. "Sepertinya karena terlalu berat melupakan Killa, aku sampai memikirkan hal yang tidak wajar. Sial!"


Naya merasa aneh melihat tingkah Justin, yang tiba-tiba gelagapan seperti itu. Ia pun tidak mau berlama-lama, Naya berniat kembali ke dalam ruangan Killa. Tidak ingin membuat kakak nya semakin cemas.


Sesampainya diluar pintu ruangan tersebut. Dari kaca yang menempel di pintu itu, dia melihat kakak nya yang sedang melamun. Menatap cahaya matahari yang menyeruak dari jendela.


Perlahan dia membuka pintu. Membuat Killa sontak menoleh ke arah nya. "Naya, kau kemana saja? Kau tahu kakak sangat mengkhawatirkan mu," serangnya dengan raut cemas.


"Aku hanya pergi ke toilet, memangnya aku tidak boleh buang air?" sahut Naya.


Killa bisa merasakan ketenangan di dalam diri Naya. Setelah mendengar cara bicaranya. Tak menyangka Justin berhasil membuat seorang Naya gadis yang begitu keras kepala. Bisa tenang dan bahkan seperti tidak terjadi apa-apa sebelum nya.


"Bisakah kau membantuku?" ucap Killa.

__ADS_1


"Apa?" Naya berjalan mendekat.


"Kupas kan aku buah apel, sepertinya Baby menginginkan nya." Killa menunjuk keranjang buah yang ada di atas nakas, sambil tersenyum dengan wajah pucat nya.


Hampir ia meneteskan air matanya, melihat sang kakak yang berusaha tegar. Meskipun Naya tahu pasti banyak sekali beban yang sedang Killa pikul. Harus jauh dari suami saat hamil, pasti membuat mental dan jiwanya tertekan.


"Baiklah," ucap Naya tersenyum dan duduk dikursi sebelah tempat tidur. Sambil mengupas kan apel.


"Hmm, rasanya sangat manis." Killa menyuap satu potongan apel ke dalam mulutnya. Setelah memuji rasanya, Killa terdiam. Dia teringat pada Marvin. Saat pria dingin itu mengupas kan nya apel, waktu nonton tv bersama.


"Kak, kau baik-baik saja?" Naya memberikan lagi satu potong apel di tangan Killa.


"A-aku baik baik saja."


Naya tersenyum getir dan kembali menelan apel tersebut. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Rasanya begitu manis, tapi tidak semanis kehidupan kita. Maafkan kakak yang belum bisa membuatmu bahagia," lirih Killa sembari menggenggam tangan Naya.


Akhirnya air mata Killa menetes, ketika mendengar perkataan Naya. Terlebih ketika adiknya itu menangis haru seperti itu. Ia pun langsung memeluk erat tubuh Naya.


"Pergilah kak," ucap Naya sembari melepaskan pelukan nya.


Killa mengerinyit mengusap lembut air mata sang adik. "Apa maksudmu Nay?" tanya nya bingung.


"Aku tahu kebahagiaan mu terletak pada kakak ipar. Kau dan Baby ini sangat membutuhkan nya." Naya mengusap perut Killa yang masih rata.


"Aku akan memberikan kakak ipar kesempatan, kali ini dia harus membuat mu merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini."

__ADS_1


"Tapi Nay --"


"Percayalah, aku akan baik-baik saja disini. Kau bisa pergi bersama nya kembali ke Seoul."


"Bukan itu maksudku, tapi --"


"Apa lagi yang kau tunggu kak, kebahagiaan mu ada di depan mata? Jangan menyia-nyiakan nya! Aku janji aku pasti akan menyusul mu, tapi saat ini kurasa aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan Paman Lion, jika dia masih belum pulih."


"Nay, dengarkan kakak!" Nada bicara Killa tiba-tiba meninggi. Naya tersentak dan mengerinyit.


"Bukan itu masalahnya, tapi ... masalahnya adalah hatiku," lirih Killa memalingkan wajahnya menatap sendu keluar jendela.


"Hatimu?"


"Benar! Aku rasa hatiku masih berat untuk menerimanya kembali, aku takut."


"Apa yang kau takutkan kak? Kau yang paling mengenal bagaimana sifat kakak ipar. Dia sangat mencintaimu, aku yakin dia pasti akan membuatmu bahagia."


"Entahlah, aku tidak ingin memikirkan itu untuk sekarang ini."


"Baiklah, tapi tolong pikirkan Baby ini. Dia pasti sangat membutuhkan seorang ayah kelak saat lahir."


"Hmm, pergilah! Tinggalkan aku sendiri, kau juga harus menemani Paman Lion bukan."


Naya menatap kakak nya yang tersenyum paksa. Sangat munafik pikirnya. Benar yang dikatakan Justin, dia tidak akan mengerti jalan pikiran orang dewasa.

__ADS_1


"Aku pergi," pamitnya dengan ketus. Lalu beranjak dan pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Killa dengan keegoisan yang ia miliki.


...🌹 Jangan lupa like 🌹...


__ADS_2