
Namun, sial kakinya malah salah berpijak. Hingga akhirnya tubuhnya terhuyung dan jatuh menabrak bahu kanan Justin. Sedangkan Justin yang terkejut, tidak sempat melakukan sesuatu.
BRUK!
Keduanya terjatuh dilantai. Justin tengkurap dan Naya terlentang diatasnya. Dengan disusul beberapa buku yang terjatuh mengenai wajah Naya.
"Awwh," jerit Naya pelan. Hampir saja, untung dia sempat melindungi wajah nya menggunakan tangan nya. Jika tidak wajahnya akan terluka.
"Kau baik-baik saja?" tanya Justin cemas dengan suara tertahan. Akibat menahan berat tubuh Naya, yang berada di atasnya.
"Aku baik-baik saja," jawab Naya sembari bangun dan berdiri.
"Bagaimana denganmu?" Naya membantu Justin untuk bangun.
"Aku baik-baik saja," jawab Justin menepis tangan Naya dari pundak nya. Dia tidak terbiasa di sentuh oleh orang lain. Apalagi terhadap Naya, yang selalu membuatnya resah dalam beberapa hari terakhir.
Dia memang terluka, tapi tidak diluar. Melainkan didalam, luka yang sangat susah untuk diobati. Butuh waktu yang lama untuk membuat luka itu mengering, agar tidak meninggalkan bekas lagi. Itulah yang diharapkan Justin, agar dia bisa benar-benar melupakan Killa. Dan tidak berharap lagi dengan hal yang sudah pasti mustahil, untuk dia dapatkan.
"Kau yakin baik-baik saja?" tanya Naya kembali, karena merasa bersalah.
Justin mengangguk, sambil merapikan jas nya. Ia tak sengaja melihat luka di lengan Naya, akibat buku-buku yang berjatuhan itu.
"Kau terluka!"
Justin meraih lengan Naya, dan memutar tubuhnya. Untuk melihat dengan benar luka tersebut. Naya yang merasa risih, langsung menjauhkan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja!" ucap Naya menutupi lengan nya yang luka.
"Maaf!"
"Tidak apa-apa, jadi ada apa dengan kakak ku?"
Justin tersadar, kembali mengingat niat awalnya bertemu dengan Naya.
"Kau harus bersiap, kakak mu mungkin akan pergi!" ucap nya.
"Pergi? Kemana?" Naya mengerinyit.
Seketika pikiran nya langsung menangkap kemungkinan. "Apakah? Mereka berdua sudah berbaikan?"
"Hmm," Justin mengangguk.
Justin mengerinyit. "Kau tidak marah?"
"Tentu saja tidak! Aku sangat senang mendengar mereka bisa kembali bersama, meskipun aku masih sedikit marah pada kakak ipar. Tapi perkataan mu waktu itu sudah mengubah sudut pandang ku padanya! Aku yakin kakak ku akan mendapatkan kebahagiaan nya bersama kakak ipar.," tutur Naya.
"Hmm, bagaimana dengan mu?" Naya menatap tidak enak kepada Justin.
Justin pun tersenyum, walaupun berat. Ia tak mau Naya melihat kesedihan nya. "Ada apa dengan ku? Tentu saja aku juga ikut bahagia untuk mereka!"
Justin memalingkan tubuhnya membelakangi Naya. Ia mengusap cepat air mata yang mulai muncul disudut pelupuk matanya.
__ADS_1
Entah kenapa Naya tergerak untuk mendekati Justin. Tangan nya terulur hendak menyentuh punggung tegap pria dingin itu. Namun, gerakan nya terhenti. Ketika suara sang kakak terdengar memanggil namanya.
Naya tersentak, dan langsung menoleh ke arah pintu ruang baca. Dilihatnya sang kakak yang sudah berdiri bersama dengan Marvin dibelakangnya.
Justin juga menoleh. Keduanya saling bertatapan. Justin menganggukkan kepalanya pada Naya. Entah apa maksud dari isyarat itu.
"Kakak?"
"Naya!"
Killa langsung menghambur ke arah Naya. Memeluk nya dengan begitu erat. "Ada apa kak?" tanya Naya yang berpura-pura tidak tahu.
"Baiklah, aku akan pergi. Kalian bicaralah!" ucap Justin hendak melangkah pergi. Karena dia merasa bukan siapa-siapa. Namun ditahan oleh Killa.
"Tetaplah disini," ucap Killa. Justin terkejut ia menatap Killa dan Marvin secara bergantian. Marvin tersenyum dan mengangguk. Ia berjalan mendekati ketiganya.
"Nay, kakak mau bicara sesuatu padamu." Killa menatap lekat mata sang adik.
"Hmm, ada apa? Kakak mau kembali ke Seoul bersama kakak ipar?" Naya berusaha tersenyum.
"Nay," lirih Killa ia tak percaya jika Naya tahu apa yang ingin ia katakan. "Maafkan kakak, mungkin kau menganggap kakak terlalu egois dan tidak memikirkan dirimu."
"Hei, untuk apa minta maaf? Kakak tidak salah, pergilah untuk mengejar kebahagiaan kakak. Aku baik-baik saja, aku ikut bahagia untuk mu dan kakak ipar."
"Benarkah? Apa kau tidak marah?" Killa hampir meneteskan air matanya.
__ADS_1
Naya mengangguk. " Selamat untuk kalian berdua, tapi maaf aku tak bisa ikut kembali kesana!"
"Tidak apa-apa Nay, jika kau masih ingin berada disini untuk menjaga Paman Lion." Killa mengelus lembut pipi Naya.