Mafia Cantik Kesayangan CEO

Mafia Cantik Kesayangan CEO
Ch 180 : Kebenaran yang sesungguhnya.


__ADS_3

Paman Tara kini sudah pergi. Tinggal lah Ayah Kevin dan Marvin di kamar itu. Marvin masih diam menatap kosong ke arah balkon kamarnya. Di sana ada kenangan nya bersama Killa. Bahkan disetiap sudut kamar itu, mengingatkan nya pada Killa. Hingga membuat suasananya semakin sesak. Air matanya kembali menetes tanpa ia sadari. Tapi tidak dia usap, malah dibiarkan nya menetes selimutnya. Selimut yang biasa dia dan Killa gunakan bersama.


"Aghh," ringis nya pelan memegangi dadanya. "Brengsek, brengsek, brengsek," makinya berkali-kali memukul dadanya.


"Apa kau menyesal?" tanya Ayah Kevin tiba-tiba. Tatapan nya begitu iba pada Marvin. Melihat anak nya yang dalam keadaan putus asa karena kehilangan istrinya. Juga membuatnya hatinya hancur. Dia juga pernah merasakan hal yang sama. Kehilangan istri yang sangat ia cintai, namun sangat berbeda dengan Marvin. Istri yang ia cintai sudah pergi jauh dan tidak akan pernah kembali. Sedangkan Marvin, ia masih belum kalah. Karena Ayah Kevin yakin, Marvin masih bisa bertemu dengan Killa lagi.


"Jawab! Apa kau menyesal? Telah memperlakukan Killa seperti itu? Kau bersikap seolah-olah dia bersalah atas kematian ibumu! Apa menurutmu ibumu akan senang, jika kau hidup dengan penuh dendam? Apakah ini yang dia harapkan dari putra yang ia perjuangkan untuk tetap hidup, meskipun nyawanya yang harus tiada? Kau malah membuatnya bersedih melihat anak nya yang hidup seperti ini," ucap Ayah Kevin.


Deg!


Seperti jantungnya yang di remass dan ditarik keluar dari tempatnya. Marvin mati sesaat, karena perkataan tajam Ayah Kevin barusan. Dia semakin merasa hancur. Karena semua itu benar.


Ibunya pasti sangat sedih melihat dia yang hidup seperti ini. Mengulum dendam yang tidak pernah ia telan atau ia ludahkan. Membuat dendam itu menyiksa hidupnya sendiri. Bukan itu yang diinginkan ibunya. Terlebih dendam itu juga membuatnya menjadi orang yang jahat. Memperlakukan Killa yang tidak bersalah dengan dingin. Kenapa baru sekarang dia sadar? Kenapa tidak dari awal? Jika tidak, semuanya tidak akan berantakan seperti ini. Killa tidak mungkin pergi meninggalkan nya.


"Apa kau percaya jika Ayahnya Killa juga terlibat dengan kecelakaan ayah dan ibumu?"


"Apa maksud Ayah?" Marvin mengerinyit heran, kenapa tiba-tiba ayahnya berkata seperti itu. "Apakah ... tidak mungkin, apa ayah tahu sesuatu?"


"Tentu ayah tahu! Apa kau pikir selama ini ayah tidak tahu apa-apa? Kau sangat bodoh Marvin, kenapa kau mengambil kesimpulan sendiri dan tidak bertanya padaku? Atau kau bisa bertanya sendiri pada orang yang sudah jelas terlibat."


"Apa maksdmu dia? Cih, aku tidak sudi! Jangan kan bertanya, bahkan menatap wajahnya saja aku sudah muak."


"Dasar keras kepala! Mau sampai kapan kau seperti ini? Kita semua adalah keluarga ... apa kau tahu Arsen juga hidup sengsara selama ini. Bayang-bayang kematian Mia terus menghantuinya, terlebih jika bertemu denganmu. Sikapmu yang tidak pernah menganggap dirinya ada, selalu membuatnya tersiksa. Dia sudah dihukum selama ini, apa kau pikir dia hidup bahagia? Kau salah, dia bahkan tidak bisa menjalani hidupnya dengan baik. Dia tidak bisa memiliki seorang anak, bukan karena mamah Anna mu sakit atau dia yang bermasalah pada kesuburan. Tapi itu karena rasa bersalahnya yang sangat-sangat mendalam pada ibumu Mia. Membuatnya tidak yakin dengan kehidupan nya, dia terus merasa tidak pantas hidup bahagia, tidak pantas merasakan kebahagiaan diatas derita hidup yang kau jalani."


Marvin menghela nafas panjang dan kembali menyandarkan kepalanya. Menutup matanya sejenak, mengingat bagaimana sikap Papah Arsen jika berada di dekatnya. Ia memang merasa seperti ada sesuatu yang sangat aneh selama ini. Tatapan yang dia pancarkan setiap kali menatap Marvin. Tapi karena kebencian nya, membuat Marvin menutup pintu hati nya untuk melihat hal-hal baik dari Papah Arsen. Melainkan kesalahan yang diperbuat Papah Arsen menjadi alasan nya untuk menanam kebencian semakin dalam pada dirinya.


"Coba lah untuk melawan ego mu itu, dan berdamai lah dengan kesalahan masa lalu yang Ayah perbuat."


Ayah Kevin pun berjalan keluar dari kamar Marvin. Sepeninggal Ayah Kevin, Marvin masih enggan untuk membuka matanya. Dia hanya mendengar suara langkah kaki berjalan mendekatinya. Dia berpikir jika itu adalah Ken.


"Tinggalkan aku sendiri Ken," ucapnya.


Hening sesaat, Marvin merasa ada yang aneh. Kenapa Ken tidak menjawab dan tidak ada juga tanda-tanda jika dia sudah pergi. Marvin pun membuka matanya.

__ADS_1


"Kau," ucapnya. Manik matanya menajam. Ia pun memalingkan wajahnya kearah lain. "Mau apa kau datang kemari?"


"Mungkin kehadiran ku disini memang tidak ada artinya untukmu Marvin. Tapi Papah disini untuk memberitahukan sesuatu yang penting padamu," ucap Papah Arsen sedikit merendah, karena tidak enak dengan sikap dingin Marvin.


Marvin mengerutkan kening dan menatap tajam Papah Arsen.


"Maaf," ucap Papah Arsen lirih. "Aku tahu aku tidak pantas menganggap diriku seorang Papah untuk mu."


"Katakan? Tidak usah basa-basi, langsung pada intinya saja! Apa yang mau kau katakan," sahut Marvin ketus.


Papah Arsen semakin gugup. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu berkata, "Gerry tidak ada kaitan nya dengan kecelakaan Bos Kevin dan Nyonya Bos Mia."


Deg!


Seperti sedang dipermainkan. Apa-apaan ini? Marvin menoleh tajam dan terkekeh. "Jangan bercanda, apa kau mengatakan ini dengan sengaja? Agar aku semakin merasa bersalah pada Killa?"


"Tidak, tidak, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku mengatakan yang sebenarnya Marvin. Rekaman yang Kikan perdengarkan pada Killa, yang juga di dengar oleh Justin, itu sudah di rekayasa olehnya. Itu tidak benar, Gerry tidak pernah membantuku. Dia menolak mentah-mentah ajakan ku untuk mengkhianati Bos Kevin saat itu. Dia adalah orang sangat setia, bahkan dia juga menasehati ku saat itu untuk tidak melakukan kesalahan. Yang akan aku sesali seumur hidupku. Tapi Kikan lah, wanita itu yang mendatangiku dan berkata siap untuk membantuku mencelakai Bos Kevin asalkan bayaran nya tinggi. Dia juga yang sengaja tidak memberitahuku jika di dalam mobil itu ada Nyonya Bos Mia, ibumu," ungkap Papah Arsen dengan penuh kejujuran.


"Apa kau serius? Apa ini adalah salah satu trik mu untuk membuat hatiku luluh?"


"Brengsek." Marvin menggenggam ujung selimut dengan begitu erat. Dia sangat geram pada Kikan.


"Maafkan aku," lirih Papah Arsen yang tiba-tiba saja membungkuk di lantai. Membuat Marvin sangat terkejut.


"Apa yang kau lakukan?"


"Maafkan aku, maafkan atas segala kesalahan ku ini. Aku memang tidak pantas untuk dipanggil Papah olehmu, oleh Gavin, bahkan oleh anak-anak yang lain. Aku adalah monster yang sangat rendah dan menjijikan. Aku adalah pembunuh. Meskipun kau tidak mau memaafkan aku, tapi paling tidak kata maaf ini sudah berhasil aku lepaskan. Tapi tolong pertimbangkan lagi, aku berjanji akan menghukum diriku seberat mungkin. Di sisa akhir hidupku yang sudah tidak lama lagi. Izinkan aku untuk menerima maaf darimu Marvin. Aku mohon, maafkan orang sangat berdosa ini."


Papah Arsen menunduk dengan suara nya yang bergetar. Menandakan dia sedang menahan tangis. Lelaki paruh baya itu terlihat sangat miris. Dia mengemis permintaan maaf dari Marvin. Orang yang ibunya sudah meninggal akibat kesalahan fatal yang ia perbuat. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah pantas untuk berdiri bersanding dengan Anna dan keluarga Louis yang begitu baik. Terutama Kevin dan Marvin. Perasaan bersalahnya selama ini, sudah membuatnya menerima penyakit yang sangat serius. Tanpa diketahui oleh siapa pun, kecuali Mamah Anna istrinya. Papah Arsen sebenarnya tengah mengidap penyakit kanker hati akut, dan dokter sudah mengatakan jika hidupnya tidak lama lagi.


"Berdirilah," ucap Marvin. "Kau tidak perlu mengemis seperti itu. Aku akan memaafkan semua kesalahan mu, padaku maupun pada Ibuku."


Papah Arsen mendongak dengan deraian air mata yang sudah membasahi kulit wajahnya yang sedikit keriput. Dia tersenyum bahagia, karena permintaan maaf nya sudah terjawab kan. Hatinya begitu lega, ia berdiri dan berjalan mendekati Marvin. Dipeluknya pria dingin yang sudah dia anggap anak nya sendiri itu. Dari Marvin kecil dia sudah mendambakan untuk bisa memeluknya seperti ini.

__ADS_1


Marvin pun tak bisa menahan air matanya ia menepuk-nepuk punggung Papah Arsen. Tapi ada sesuatu yang aneh dia rasakan. Kenapa tiba-tiba tubuh Papah Arsen menjadi kaku dan memberat ke arahnya.


"Papah Arsen," panggil Marvin beberapa kali. Namun tidak ada jawaban. Marvin melepaskan pelukan nya. Matanya membulat ia terkejut, melihat wajah Papah Arsen yang pucat.


Marvin mengguncang-guncangkan tubuh Papah Arsen dan memanggil-manggil namanya kembali.


"Papah Arsen!"


"Papah Arsen, bangun sadarlah!"


"Papah Arsen!" Marvin semakin panik.


"Ayah, Paman Tara, Ken, siapa saja kemari!" Marvin berteriak memanggil seseorang yang mungkin saja mendengar dari luar. Beberapa detik kemudian. Benar saja, Ayah Kevin, Paman Tara, dan Ken. Berlari masuk kedalam kamar Marvin.


"Arsen," teriak Kevin.


"Tuan Arsen," teriak Ken.


"Arsen, apa yang terjadi?" teriak Paman Tara.


"Ken, cepat siapkan mobil. Bawa Papah Arsen ke rumah sakit," perintah Marvin seraya menarik selang infus di tangannya hingga terlepas.


"Baik Tuan," jawab Ken sigap.


"Apa yang terjadi Marvin? Kenapa Arsen seperti ini?" tanya Ayah Kevin panik.


"Entahlah, aku juga bingung. Dia tiba-tiba tidak sadarkan diri seperti ini."


Bersama-sama mereka mengangkat tubuh Papah Arsen. Membawanya ke rumah sakit Group Louis. Paman Tara langsung menyiapkan ruang operasi untuk Papah Arsen.


"Ayah, cepat kabari Mamah Anna," ucap Marvin kepada Ayah nya.


"Kau juga hubungi Gavin dan Reghata. Minta mereka mendampingi Mamah Anna kemari."

__ADS_1


Marvin mengangguk dan melakukan perintah sang ayah. Dia menghubungi Gavin dan Reghata. Mengabari mereka tentang ke adaan Papah Arsen. Begitu pun juga dengan Ayah Kevin yang menghubungi Mamah Anna. Mamah Anna nampak sangat terkejut dan panik.


...🌹Jangan lupa Vote, insyaallah kalau banyak yang Vote. Aku up lagi sore🎉🎉🌹...


__ADS_2