
Sebulan berlalu, kini usia kandungan Gisya sudah memasuki usia 9 bulan. Dia juga sudah merasakan kontraksi palsu. Bunda Syifa sudah tinggal disana selama sebulan ini, dia ingin mendampingi Gisya saat melahirkan.
"Bun, perut Caca mules banget! Ini udah lima menit sekali. Caca minta tolong hubungin Abang ya, Bun." ucap Gisya sambil merintih kesakitan.
"Yaa Allah tunggu sebentar, Nak! Cucu Oma, tahan sebentar yaa sayang!" ucap Bunda Syifa sambil mengelus perut Gisya.
Berkali-kali Bunda Syifa menghubungi menantunya itu, tapi Fahri belum juga mengangkat telponnya. Karena saat ini Fahri sedang bertugas, dia sedang bekerja sama dengan Polisi untuk mengepung salah satu kasus penyelundupan senjata didaerah Gunung Kidul. Akhirnya Bunda Syifa menyerah, dia menghubungi Febri yang sedang berada di Toko. Tapi Febri tidak juga mengangkat telponnya.
Akhirnya Bunda Syifa meminta bantuan pada salah satu anggota Fahri yang bernama Hagum. Dan sang anggota yang panik ikut memanggil Bu Sarah yang dia tau seorang dokter. Bu Sarah yang panik segera datang ke rumah Bu Danki nya tersebut.
"Bu Danki, tarik nafas pelan dan teratur ya! Jangan dulu ngeden!" pinta Bu Sarah.
"Kenapa gak langsung ngeden aja Bu? Kasian Bu Danki." ucap Hagum.
"Om Hagum! Saya dokter anak, bukan dokter kandungan! Cepat siapkan mobil Om Hagum! Lalu hubungi suami saya, katakan padanya untuk menghubungi Danki agar segera menyusul!" ucap Bu Sarah.
"Siap! Laksakanan!" ucap Hagum lalu menyiapkan mobil.
Febri yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya melihat pesan dari Bunda Syifa. Tanpa pikir panjang dia mengambil kunci mobil dan membawa anak-anak untuk pergi ke rumah sakit. Tak lupa dia juga mengabari Yuliana tentang Gisya yang akan melahirkan.
✉️ Udangku 🦐
Lil, cepet ke Indo! Caca mau brojol!
Yuliana yang sedang bersantai bersama anak-anak dan suaminya terperanjat kaget.
"Baa! Balik Endonesa! Si Chacha mau lahiran!" panik Yuliana.
"Slow Mi! Jangan panik! Baba gak mau ya sampe anak-anak ketinggalan!" ucap Jafran mewanti-wanti istrinya itu.
"Emangnya Baba! Ummi mah gak gitu ya!" elak Yuliana.
"Yaudah siap-siap! Baju anak-anak jangan lupa Mi!" ucap Jafran. "Si Caca tau aja ane lagi libur panjang! Lahiran diwaktu yang tepat." gumam Jafran.
Sementara kepanikan terjadi dijalan, mobil yang dikendarai oleh Febri dihadang oleh orang-orang yang tidak dikenal. Hingga Febri banting stir dan menabrak pohon. Anak-anak sudah menangis histeris didalam mobil. Elmira terus mendekap tubuh kedua adiknya. Untung saja warga menemukan mereka disaat yang tepat. Febri jatuh pingsan dan tak sadarkan diri, dan anak-anak diamankan oleh warga sekitar. Mereka membawa Febri ke klinik terdekat, lalu menghubungi kontak yang terakhir dihubungi oleh Febri. Dan itu adalah nomor suaminya.
Zaydan dan Fahri baru saja menyelesaikan tugas mereka. Ponsel Zaydan bergetar, dia mengangkat telpon dari istri tercintanya.
"Hallo, Pak maaf Ibu pemilik ponsel ini sekarang di Klinik Pemuda. Tadi mobilnya dihadang orang dan menabrak pohon, tiga anak-anaknya menangis terus disini. Tolong segera kesini!" ucap penelepon itu membuat Zaydan tersentak kaget.
"Tolong amankan ketiga anak-anak itu! Jangan sampai ada orang yang akan membawa mereka! Saya akan segera kesana!" ucap Zaydan.
Fahri pun terkejut ketika mendengar ucapan Zaydan, dengan segera dia membuka ponselnya. Matanya membulat ketika mendapatkan banyaknya pesan dan panggilan tak terjawab dari istri dan mertuanya.
"Istriku mau melahirkan Idan! Tugas kita sudah selesai, laporan akan saya kerjakan nanti! Sekarang kita kembali!" ucap Fahri dengan panik.
"Siap! Cepet Danki! Istriku juga di Klinik, tadi dia dihadang oleh orang-orang tak dikenal! Anak-anak bersama Febri." ucap Zaydan yang tak kalah panik.
Mereka meminjam motor salah satu tim Kepolisian, Zaydan dan Fahri melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Hingga tidak disadari, ada orang-orang yang mengikuti mereka. Sehingga perkelahian tak terelakkan.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Sialan! Apa mau kalian?!" teriak Fahri sambil memukuli mereka.
"Serahkan anak Abrafo! Atau kalian akan mati!" ucap salah satu dari mereka.
"Quera sudah mati!! Katakan pada orang yang menyuruh kalian! Jika kalian tidak percaya akan aku bawa kalian ke makam putriku!! Dan akan aku tunjukan foto jenazah terakhir putriku!!" geram Fahri lalu memukuli mereka.
Tak lama kemudian datanglah anggota Kepolisian termasuk Bayu.
"Pergilah, Bang! Biar mereka menjadi urusan kami! Utamakanlah keselamatan anak-anak!" ucap Bayu pada Zaydan.
"Terimakasih, Bayu!" ucap Zaydan lalu memapah tubuh Fahri.
Akhirnya mereka memutuskan untuk diantarkan oleh mobil Polisi.
__ADS_1
Gisya yang sudah sampai dirumah sakit terus berdzikir melantunkan lafadz Allah. Dokter mengatakan jika Gisya baru pembukaan 7. Bunda Syifa terus berada disamping putrinya itu untuk menguatkannya.
"Yang kuat sayang, Bunda tau Caca anak yang kuat! Ingat Allah, Nak." ucap Bunda Syifa.
"Abang belum datang ya, Bun?" tanya Gisya pada Bundanya.
"Caca tau konsekuensi apa yang harus Caca ambil ketika menjadi istri seorang prajurit? Dan inilah konsekuensinya, Nak. Istighfar, Bunda akan selalu ada disamping Caca." ucap Bunda Syifa menenangkan putrinya itu.
Tiga jam kemudian datanglah Syaina dan Farida. Sedangkan Syauqi tidak bisa menemani karena harus bertugas, makanya dia meminta Farida untuk menemani istrinya ke Jogja.
"Gimana Bun? Udah naik belum pembukaannya?" tanya Syaina.
"Belum Ina, tolong hubungi Teh Ebiw ya! Daritadi dia belum bisa dihubungi, Caca terus nanyain kabar anak-anak." ucap Bunda Syifa.
Syaina pun menghubungi Febri, namun tidak ada yang mengangkat teleponnya. Tak lama kemudian datanglah Yuliana bersama Jafran. Dia memeluk Syaina dan Farida untuk melepaskan rasa rindunya.
"Mana Ebiw? Kata Ayu dia udah berangkat dari tiga jam yang lalu." ucap Yuliana.
"Teteh kata siapa?! Teh Ebiw gak bisa dihubungin loh! Ini Ina nelponin terus daritadi gak diangkat-angkat!" ucap Syaina.
"Yaa Allah Baba! Mana dia bawa anak-anak! Gimana ini Baaa?" panik Yuliana.
"Tenang dulu, Bun! Biar Baba hubungin dulu Idan sama Fahri!" ucap Jafran.
Zaydan dan Fahri tidak bisa dihubungi, karena ponsel mereka mati saat berkelahi tadi. Jafran mulai panik, dia tidak mengerti harus bagaimana. Akhirnya dia menghampiri Hagum yang sedari tadi berdiri didepan ruangan IGD bersama Bu Sarah.
"Permisi! Apa kalian dari kesatuan Fahri?" tanya Jafran.
"Siap! Saya Hagum anggota Danki. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Hagum.
"Tolong temani saya mencari istri Lettu Zaydan, mereka belum datang padahal sudah tiga jam yang lalu mereka pergi! Tolong bantu saya!" Ucap Jafran panik.
"Baik Pak! Biar kita telusuri jalan dari Toko milik Bu Zaydan hingga kemari." Ucap Hagum.
"Farida! Ikut saya! Takutnya anak-anak gak ada yang pegang nanti!" Pinta Jafran.
Jafran dan Hagum menelusuri jalan, hingga Farida melihat mobil yang biasa digunakan oleh Febri disana.
"Pak itu mobil Bu Febri! Kayaknya nabrak pohon!" tunjuk Farida pada mobil yang berada disisi kanan. Jafran terperanjat kaget melihat mobil sahabatnya itu.
"Yaa Allah! Om balik kanan Om! Cepetaannnn!" Pinta Jafran.
Mereka segera menghampiri mobil Febri dan mencari keberadaannya.
"Pak pemilik mobil dan anak-anaknya dibawa ke Klinik Pemuda didepan sana." ucap salah satu warga yang menjadi saksi kejadian.
"Mereka baik-baik aja kan, Pak?" Tanya Jafran.
"Ibunya pingsan, untungnya ketiga anak-anaknya dibangku belakang. Mereka dari tadi nangis terus, diamankan dirumah samping Klinik." Jawabnya.
Hagum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia sangat mwngkhawatirkan anak-anak Danki dan Dantonnya itu. Jafran bergegas turun untuk mengecek keadaan anak-anak.
"Babaaaa!!" teriak Elmira ketika melihat Jafran.
"Yaa Allah anak-anak Baba! Kalian gak apa-apa kan?" Tanya Jafran memeluk ketiganya.
"Dung Ain cakit, Ba!" Lirih Husain mengadu.
"Astaghfirulloh, hidung Ain berdarah! Kita ke Klinik sekarang!" ucap Jafran dan akan membawa mereka ke Klinik.
Namun Jafran dihadang oleh para warga, mereka masih ingat ucapan Zaydan tadi.
"Tolong Pak, bapak tidak bisa membawa anak-anak ini. Saya sudah diamanati oleh Ayahnya." Ucap salah satu warga.
"Mereka terluka, Pak! Setidaknya bawa ke Klinik!" Geram Jafran.
__ADS_1
"Anak-anak ketakutan Pak, tadi kami juga sudah akan membawa mereka. Tapi mereka malah menangis histeris." Jawabnya lagi.
"Saya Babanya mereka! Saya yang akan bertanggung jawab! Katakan saja anak-anak dibawa oleh Muhammad Jafran! Hagum! Farida! Tolong bawa Cyra dan Elmira SEKARANG!" ucap Jafran dengan penuh penekanan.
Akhirnya mereka menyerah dan membiarkan Jafran membawa ketiganya. Fahri sudah sampai di Rumah Sakit, dengan jalan yang terseok-seok dia berjalan menuju keruang bersalin. Bahkan Fahri menjadi pusat perhatian, karena seragam Lorengnya yang penuh darah dan wajahnya yang babak belur.
"Yaa Allah Danki!" ucap Bu Sarah yang kaget melihat Fahri.
"Abangggggg!!" Teriak Yuliana dan Syaina berbarengan.
"Apa yang terjadi, Bang?" Tanya Yuliana sambil memapah tubuh Fahri.
"Orang-orang itu masih mengincar Elmira. Dimana istriku?" Lirih Fahri.
"Teh Caca didalam sama Bunda, Bang. Sekarang Abang ikut Ina ke IGD, bersihin dulu luka Abang. Baru Abang boleh temuin Teh Caca, Abang gak mau kan Teh Caca kaget lihat kondisi Abang yang begini." ucap Syaina.
Fahri akhirnya dibawa ke IGD, sedangkan Zaydan langsung menuju Klinik Pemuda. Dia segera berlari menuju kedalam. Dilihatnya Jafran yang sedang berbicara dengan dokter.
"Gimana kondisi istri dan anak-anakku, Ba?" Tanya Zaydan yang mengagetkan Jafran.
"Yaa Allah Idan! Kenapa muka kamu penyok kaya mobil si Ebiw! Obatin duluuuu! Nanti aku jelasin!" ucap Jafran menuntun Zaydan. "Dok obatin dok!" ucapnya.
"Febri dan anak-anak baik-baik aja kan, Ba? Mereka gak apa-apa kan?" tanya Zaydan.
"Sabar! Obatin dulu lukanya! Baru nanti aku ceritain kondisi mereka!" kesal Jafran.
Setelah mengobati lukanya, Zaydan meminta Jafran membawanya menemui sang istri.
"Febri gak apa-apa, dia hanya shock dan kepalanya terluka karena benturan." ucap Jafran.
"Yaa Allah, sayang. Kenapa bisa begini?" Lirih Zaydan mencium istrinya yang belum sadar.
"Anak-anak juga gak apa-apa, mereka juga shock. Dokter nyaranin kita buat konsul ke psikiater anak. Takutnya mereka mengalami trauma." Ucap Jafran lagi.
"Gak ada luka fisik kan?" tanya Zaydan yang khawatir.
"Ain hidungnya terbentur, Elmira kedua tangannya terbentur sampe ada keretakan. Katanya dia meluk kedua adiknya, sedangkan Cyra kakinya yang terhimpit jok mobil. Tapi pas di rontgen baik-baik aja, hanya terkilir aja." ucap Jafran menjelaskan.
"Yaa Allah anak-anakku!" Ucap Zaydan sambil terisak.
"Tapi anak kamu yang lain terselamatkan!" ucap Jafran menepuk bahu Zaydan.
"Maksudnya? Anak aku yang lain gimana?" tanya Zaydan yang terheran.
"Selamat! Kamu bakalan jadi Panadu!" Ucap Jafran sambil tersenyum bahagia.
"Panadu? Apaan sih Ba? Yang jelas kenapa?!" kesal Zaydan.
"Papa Anak Dua Bodoh! Kamu bakalan jadi Papa lagi, si Ebiw panen benih kamu! Usia kandungannya 4 minggu, untung aja tuh kecebong aman!" ucap Jafran.
"Apaa?! Istriku ha-hamil?" tanya Zaydan yang masih tidak percaya.
"Hadeuh! Masihh gak paham juga. Iyaa bini ente si Udang lagi hamil! Isinya benih kecebong ente!" kesal Jafran.
Zaydan segera berhambur memeluk istrinya, dan menciumi seluruh wajahnya.
"Dasar Tentara bucin! Gak malu apa diliatin orang-orang! Muka bengep aja masih sanggup kalo urusan cium mencium!" gerutu Jafran.
* * * * *
Maaf yaa kalo ceritanya gak sesuai ekspektasi kalian..
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤