Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 82. Kembali Pulang


__ADS_3

Sudah seminggu ini mereka mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. Gisya, Fahri dan Quera sudah diijinkan untuk pulang. Mereka sudah sangat merindukan suasana rumah, terutama celotehan Husain.


"Akhirnya kita bisa pulang ya Kak." ucap Gisya pada putrinya itu.


"Iya Mbun, Kakak kangen banget sama dek Ain. Bun, nanti Kakak boleh telpon Om Chandra? Kakak kangen sama Om." pinta Quera pada ibunya.


"Boleh dong, Kak. Nanti kita minta Ayah buat telponin Om Chandra yaa. Sekarang kita siap-siap dulu, kita harus pulang." jawab Gisya.


Fahri dan Syauqi sudah menyelesaikan administrasi perawatan mereka. Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba perut Gisya terasa mual. Syauqi menepikan mobilnya dipinggir jalan.


"Hoeekkk... Hoeeekkkk..."


"Bunda kenapa sih? Biasanya juga anteng aja dalem mobil." heran Fahri.


"Gak tau lah! Emang siapa yang mau muntah kaya gini." kesal Gisya.


"Maaf deh Bun, Ayah beliin dulu air minum ya." ucap Fahri, namun Gisya menahannya.


"Beliin rujak aja, tapi Uqi yang beliin." rengek Gisya pada suaminya itu.


Fahri menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Syauqi sudan menghela nafas panjangnya. Gisya memasang wajah memelas pada adiknya itu.


"Udah Uqi kalaaahhhh! Gak usah pasang muka sok imut gitu deh Teh, mending kalo lucu! Rujak doang? Atau sama yang jualnya sekalian?" kesal Syauqi.


"Kalo gak ikhlas gak usah! Pake yang jualnya mau dibeli segala!" kesal Gisya.


"Ish! Sensi amat sih Teh! Kaya Ina kalo lagi PMS aja, marah-marah muluk!" ucap Syauqi sambil berjalan menuju penjual rujak.


Sementara suasana di Bandara sangat ramai, Zaydan dan Febri juga Cyra sudah dalam perjalanan menuju Bandung. Mereka sengaja memakai pesawat, agar cepat sampai. Febri terus gelisah, dia merasa bersalah terhadap seluruh keluarganya.


"Tenang aja, semuanya akan baik-baik aja. Mas yakin mereka semua sangat merindukan kamu, sama seperti Mas." ucap Zaydan mencoba menenangkan.


"Ih, Mas Zaydan belajar gombal dari siapa sih?" kesal Febri dengan wajah yang memerah.


"Otodidak dong! Biar bisa romantisin kamu tiap hari." bisik Zaydan.


Wajah Febri semakin memerah karena malu, sedangkan Zaydan tersenyum bahagia.


"Sini gantian aku gendong Cyra, Mas pasti pegel daritadi gendong dia." ucap Febri.


"Nggak! Mas masih mau gendong bayi kecil Mas, Cyra adalah hidup bagi Mas. Begitu juga kamu, sekali lagi Mas minta maaf pernah menyakiti kamu." ucap Zaydan sambil menggenggam tangan Febri.


"Udah lah Mas, itu masalalu. Sekarang kita jalani skenario yang sudah Allah berikan. Teruslah genggam tanganku, hingga maut yang akan memisahkan kita nantinya. Teruslah mencintaiku, seperti saat aku tak disampingmu, Mas." ucap Febri.


Pesawat sudah landing di Bandara Husain, ternyata Fatimah dan Gilang menyambut kedatangan mereka dengan sukacita.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian dateng juga! Gimana kabar kamu Biw?" tanya Fatimah sambil memeluk Febri dan Cyra.


"Mohon ijin Bu, Alhamdulillah kabar kita baik Bu." jawab Febri.


"Wah, udah siap jadi bagian dari Persit ya, Biw. Santai ajalah dulu, anggap aja kita lagi jemput adik kita yang nakal ini." ucap Gilang bergurau.


"Yuk kita kerumah Gisya! Kebetulan hari ini mereka sudah diperbolehkan pulang. Pasti mereka bahagia mendapat kejutan besar ini." ajak Fatimah.


Febri dan Zaydan menyetujui usulan Fatimah, Cyra yang sejak tadi terbangun mulai merengek. Tapi Zaydan dengan cekatan membujuk Cyra.


"Sini duduk didepan sama Papa dan Kak Yanuar." ucap Zaydan pada Cyra.


"Janganlah Mas, repot nanti kamu didepan itu." ucap Febri.


"Cyra duduk dulu sama Mama, ya. Nanti pas turun papa gendong." tutur Zaydan.

__ADS_1


"Oteh Pa!" ucap Cyra sambil menyusup dipelukan Mamanya.


Yuliana sedang sibuk mempersiapkan makan siang untuk keluarga besar itu. Mereka akan menyambut kepulangan sang pemilik rumah. Husain beserta si kembar terus saja memperebutkan mainan, padahal mereka sudah memiliki masing-masing.


"Hayoh! Kalo masih pada berantem Baba masukin karung satu-satu! Itukan mainan udah pegang masing-masing, ngapain pada rebutan sii." kesal Jafran.


"Ah Baba gak lame! Kan selu liat Ain nangis!" ujar Maul alias Alan.


"Hush! Gakk boleh gitu, anak siapa sih kamu. Bandel banget!" ucap Jafran gemas.


"Anak Baba! Maca anak meng!" jawab bocah tengil itu.


Umma Nadia tertawa melihat tingkah keduanya, sungguh Maul memang miniatur Jafran.


"Tuhkan! Anak kamu yang satu itu tengilnya emang mirip kamu." ucap Umma.


"Setuju Nad, si Jafran kan waktu kecil doyan banget bikin si Caca nangis. Noh, liat cucuku diisengin terus sama si Maul." tutur Bunda Syifa sambil melihat cucunya.


"Aduh mohon maaf ya ibu-ibu rempong! Itu namanya Alan bukan Maul. Haduuhh gemes deh aku!" ucap Yuliana yang kesal.


Ketika mereka sedang berbincang, tiba-tiba saja bel berbunyi. Pasti Gisya dan Fahri, pikir mereka. Jafran segera membukakan pintu sambil mengomel tak jelas.


"Kan rumah sendiri ngapain ketuk..." ucapannya menggantung ketika melihat Febri yang berdiri didepan pintu sambil menggendong Cyra.


"Ummiiiiii.......!!!" teriak Jafran yang membuat Yuliana terperanjat kaget.


"Yaa Allahu Robby, Baba ngapain teriak-teriak sii.... Udaaaanggggg!!" teriak Yuliana sambil berlari memeluk Febri dan Cyra.


Teriakan keduanya membuat Bunda Syifa dan Umma Nadia keluar untuk melihat mereka.


"Dasar sahabat lucknut! Apa-apaan kamu pergi ninggalin kita semua? Kamu pikir hebat bisa hidup sendirian?! Kita ini keluarga, dasar udang tengil!" ucap Yuliana yang diiringi oleh tangisan dari keduanya.


"Maaf, maafin aku, Lil." lirih Febri dalam pelukan Yuliana.


"Maafin Ebiw, Umma, Bunda. Maafin Ebiw udah membuat kalian semua khawatir, maaf Bunda, Umma." lirih Febri berlutut dan kedua orangtua itupun memeluknya.


"Anak nakal! Jangan pergi-pergi lagi dari kami, Nak. Demi Allah kami menyayangi kamu, jangan lakukan hal itu lagi." isak Bunda Syifa.


"Umma akan taro pelacak dibadan kamu, biar gak kabur lagi!" ucap Umma.


"Anjing dong Umma, pake pelacak." ledek Jafran dengan mata berkaca-kaca.


Zaydan menurunkan Cyra dari gendongannya, dia menuntun Cyra kearah Jafran.


"Cyra sayang, ini Baba Jafran. Dia ini Baba nya Cyra, sama seperti Papa. Salim dulu sama Baba ya Nak." ucap Zaydan sambil menuntun Cyra.


"Mitum Baba." ucap Cyra sambil mencium tangan Jafran. Lalu Jafran memeluk Cyra.


"Anak Baba sudah besar, Cyra tumbuh jadi anak yang cantik yaa." ucap Jafran dengan mata yang berkaca-kaca.


"Atik aya Mama. Tu capa?" tunjuk Cyra pada ketiga bocah yang ada dibelakang Jafran.


Jafran memanggil ketiga anak itu, dan mulai memperkenalkan pada Cyra.


"Ini Maul dan Mail, mereka anak Baba. Dan yang ini Husain, panggil aja Ain. Dia anak dari Ayah Fahri sama Bunda Caca." ucap Jafran menjelaskan.


Cyra hanya menatap dengan tatapan polos seolah tidak mengerti, Yuliana menatap tajam kearah suaminya itu. Dan dia memberi pengertian pada Cyra.


"Mereka adalah sahabat-sahabat Cyra sayang, dan ini Ummi juga Baba. Itu Oma sama Uti, sebentar lagi kita akan sambut Ayah sama Bunda juga kakak Rara ya." ucap Yuliana.


Febri menepuk jidatnya, ternyata kedua sahabatnya itu masih absurd seperti dulu. Karena mendengar suara mobil berhenti didepan, Yuliana menyuruh Febri juga Zaydan dan Cyra untuk bersembunyi. Mereka akan memberikan kejutan untuk Gisya.

__ADS_1


Husain berlari kearah Bundanya untuk digendong, sungguh bocah itu sangat merindukan kedua orangtua serta kakaknya.


"Mbun, Ain anen Mbun." ucap Husain dengan mata yang berkaca-kaca.


"Halahhhh Ain dramaaaa!" ledek Syauqi lalu digetok oleh Gisya.


"Bunda juga kangen sama Ain, adek baik-baik kan sama Oma sama Uti?" tanya Gisya.


"Eh mohon maaf nih Bun! Ain diasuh sama Baba loh, seenaknya bilang sama Oma sama Uti." kesal Jafran dan mendapat jeweran dari Ummanya.


"Awww! Sakit Umma! Ih malu dong liat anak-anak aku liat Baba nya di jewer!"


"Ajak masuk dulu buat istirahat! Malahh diajak ngobrol disitu." kesal Umma.


Mereka tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Ibu dan anak itu.


"Mbak Fatimah sama Bang Gilang udah lama?" tanya Fahri pada atasannya itu.


"Baru kok! Belum lama, gimana kondisi kalian?" ucap Gilang.


"Alhamdulillah, tinggal nunggu gips Quera dilepas aja Bang. Sebulanan lagi, mudah-mudahan kondisinya semakin membaik." ucap Fahri.


Gisya merasa heran, karena sejak tadi tidak melihat Yuliana disana.


"Ulil mana Ba? Kok gak keliatan daritadi?" tanya Gisya pada Jafran.


"Dikamar, samperin aja gih! Lagi semedi dia." ucap Jafran.


Akhirnya Gisya memutuskan untuk menuju kamar tamu yang ditempati oleh Yuliana.


Ceklek


Gisya terdiam mematung ketika melihat sahabat yang paling dirindukannya itu.


"Gak mau peluk aku Ca?" ucap Febri sambil merentangkan tangannya.


"Ayaaaahhhhhhh!!" teriak Gisya memanggil suaminya. Fahri segera menghampiri istrinya itu. Betapa Fahri terkejut melihat Febri bersama Cyra dan Zaydan disana.


"Yaahhh, Bunda mimpi gak sih ini?" lirih Gisya menatap suaminya.


"Peluklah, bukannya Bunda sangat merindukannya?" ucap Fahri sambil mengelus punggung istrinya.


Perlahan Gisya menghampiri Febri yang masih merentangkan tangannya. Airmatanya sudah tidak bisa tertahan lagi, sedangkan Yuliana sibuk mengabadikan semuanya dalam sebuah video. Gisya memeluk erat sahabatnya itu.


"Maaf... Maafin aku ya, Ca. Maaf udah bikin kalian semua khawatir." lirih Febri.


"Jangan pergi lagi, Biw. Apapun yang terjadi, jangan pernah pergi lagi. Aku gak mau kita terpisah lagi." ucap Gisya sesegukkan.


Gisya melepaskan pelukannya dan menghampiri Cyra.


"Anak Bunda sudah besar, Cyra cantik sekali." ucap Gisya sambil memeluk Cyra.


"Angan angis Mbun." ucap Cyra menghapus airmata dipipi Gisya.


Sebelumnya Febri sudah memberitahukan mengenai Gisya, agar putrinya itu tidak kaget. Akhirnya mereka bisa berkumpul kembali dan berbahagia bersama.


* * * * *


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2