
Waktu terus berlalu, kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Bukankah wajar bagi semua orang untuk merasakan itu semua. Sebab kesedihan dan kebahagiaan adalah bumbu kehidupan semua umat manusia yang ada di muka bumi ini.
Tak terasa, sudah dua bulan kehidupan rumah tangga Alan dan Theresia. Bahkan kabar baik menghampiri keduanya pagi ini. Tak seperti biasanya, Theresia mual dan muntah di pagi hari.
"Yaa Allah, kenapa ini?! Kok mual banget," keluh Theresia. Alan yang mendengar suara sang istri segera menghampirinya, "Ay! Kamu muntah lagi?! Kita ke dokter ya!"
Theresia hanya bisa mengangguk patuh, tubuhnya bahkan terlalu lemas meskipun untuk sekedar menjawab. Alan segera membawa istrinya itu ke Klinik terdekat, tak lupa dia mengabari Thoriq perihal sakit yang di alami Theresia.
"Mas, gue bawa Rere ke Klinik! Tolong susul ya, lo tau kan gue orang nya panikan!" pinta Alan saat menghubungi Thoriq.
Sudah tak aneh, keluarga Baba Jafran memang terkenal dengan seluruh kepanikan nya hingga bisa menggemparkan seluruh keluarga. Thoriq dan Cyra sudah sampai sebelum keduanya, sebab jarak rumah mereka dengan Klinik tak begitu jauh.
Alan panik bukan kepalang, apalagi melihat Theresia yang terkulai lemas dengan wajahnya yang memucat. "Dokter! Tolong istri saya dok," panik Alan.
"Hei! Calm down, Rere gak akan apa-apa!" Cyra berusaha menenangkan sahabatnya itu. Dia menepuk-nepuk bahu Alan, bisa dilihat laki-laki itu mulai sedikit tenang.
"Rere gak akan kenapa-kenapa kan, Ra?" lirih Alan. Cyra menggelengkan kepalanya, "Rere itu anak yang kuat, dia pasti baik-baik aja!"
Thoriq baru saja menyelesaikan pendaftaran bagi sang adik, kini Theresia tengah menjalani beberapa serangkaian test. Tak lama kemudian terdengar suara panggilan dari dokter, "Keluarga pasien Nyonya Theresia!"
"Saya sus! Saya suaminya, istri saya gak apa-apa kan sus? Dia baik-baik aja kan suster?" Serangkaian pertanyaan itu dilontarkan begitu saja, sungguh Alan panik bukan kepalang.
Suster itu tersenyum, "Mari ikut saya, Pak!" titah suster.
Ketiganya mengikuti suster menuju ruangan dokter, suasana cukup tegang. Bukan tanpa alasan, Theresia pernah mengalami kegagalan jantung dan sudah 2x operasi. Wajar saja bukan jika mereka khawatir.
Dokter tersenyum menyambut ketiganya, "Jangan khawatir, Pak Aidan! Tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan, saya malah akan mengucapkan selamat!" ucap dokter.
Dahi Alan mengerenyit, "Selamat untuk apa dok? Saya tidak berulang tahun!"
Dokter tertawa, "Selamat, Nyonya Theresia sedang mengandung. Usia kehamilan nya sekitar 5 minggu, mual dan muntah sangat wajar bagi ibu hamil. Apalagi ini merupakan kehamilan pertama bagi Nyonya Theresia," jelas dokter.
"Ap-Apa? Sa-saya bakalan jadi Ayah dok?" gugup Alan, airmata nya menetes begitu saja ketika dokter menganggukan kepalanya.
"Sekali lagi selamat ya, Pak! Tolong dijaga kondisi istrinya, sebab trimester awal kehamilan merupakan masa-masa yang cukup rentan keguguran. Saya akan memberikan resep berupa vitamin," ucap dokter dan Alan mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
Bagi Alan ini adalah sebuah kebahagiaan, begitupun bagi Thoriq. Jujur saja Cyra bahagia, hanya saja hatinya sedikit terluka. Sebab dia akan sulit memiliki keturunan.
Alan segera menghampiri Theresia, dia mencium seluruh wajah istrinya itu. "Terimakasih sayang! Terimakasih sudah membuat aku jadi suami yang paling bahagia di dunia ini!" lirih Alan.
"Jangan nangis, Aa! Dedek gak mau Ayah nya cengeng," goda Theresia dengan mata yang berkaca-kaca.
Thoriq dan Cyra pun bergantian memeluk sang adik, "Selamat ya, Re! Kami turut bahagia, yeaayyy kita punya ponakan, Mas!" bahagia Cyra.
"Makasih ya, Teh! Insha Allah, Teteh dan Kakak akan segera menyusul kami, ya!" dengan tulus Theresia mendo'akan kedua Kakaknya itu.
"Aaamiinnn! Yaudah kalian tunggu disini, aku beliin sarapan pagi dulu di kantin ya!" antusias Cyra. Mereka hanya mengangguk tanda mengerti.
Cyra keluar dari ruangan Theresia, dia berlari menuju kamar mandi. Hatinya mencoba untuk baik-baik saja, tapi nyata nya tidak. Cyra menangis tanpa suara, sesekali dia menepuk dada nya yang terasa sesak. "Aku ikhlas, aku ikhlas atas semua cobaan yanh engkau berikan!" batin Cyra.
Setelah puas, Cyra membasuh wajahnya. Dia tak ingin terlihat menyedihkan didepan sang adik dan sahabatnya itu. Dia bergegas menuju kantin, tapi sayang nya begitu membuka pintu kamar mandi, ternyata suaminya sudah berdiri disana.
Tanpa bersuara, Thoriq langsung membawa tubuh istrinya itu kedalam dekapan nya. "Menangislah sayang, Mas ngerti apa yang kamu rasakan!"
Deg!
Tubuh Cyra sedikit menegang, "Apaan sih, Mas! Lepasin, malu diliat orang!" kesal Cyra.
Dia terus meyakinkan dirinya, bahwa semuanya akan baik-baik saja. "I'm Okay, Mas! Aku gak apa-apa," lirihnya.
"Lepas, Mas! Aku gak mau terlihat menyedihkan! Lepas!" berontak Cyra. Namun sayang, Thoriq tak mau melepaskannya. Untung saja disana tak terlalu ramai.
Thoriq semakin mengeratkan pelukannya, hingga Cyra tak lagi memberontak. Kini hanya ada isak tangis wanita yang paling dicintainya itu. "Aku ikhlas, Mas. Aku bahagia Rere bisa hamil, hanya saja entah kenapa hati ini sakit! Aku aneh ya, Mas!"
"Enggak sayang, gak aneh! Wajar, sangat wajar kamu merasakan itu semua. Aku selalu ada disini sayang, aku selalu disamping kamu. Bagaimanapun keadaan kamu, aku gak peduli! Mau kita punya anak atau pun enggak, aku gak peduli! Kita cukup hidup berdua dengan saling mencintai, itu cukub buat kita!" tegas Thoriq.
Mendengar hal itu, Cyra kembali terisak. Dadanya terasa semakin perih, sesekali dia memukul dada nya. "Kenapa harus aku, Mas? Aku lahir tanpa Papa kandungku, aku bodoh dengan hampir kehilangan hidupku! Dan sekarang aku gak bisa memberikan kamu keturunan! Kenapa harus aku, Mas?!"
"Istighfar sayang! Ini semua ujian dan cobaan yang Allah berikan untuk rumah tangga kita, semua itu baru diagnosa dokter! Tidak dengan Allah, kita percayakan semuanya pada Allah sayang," hati Thoriq terasa sakit mendengar ucapan istrinya itu.
Alan baru saja mengambil obat di apotek, saat melintas dekat kamar mandi dia mendengar semua percakapan Cyra dan juga Thoriq. Hatinya sangat sakit, terlampau sakit ketika mengetahui jika Cyra tidak akan bisa memiliki keturunan.
__ADS_1
Hatinya bimbang, antara bahagia dan luka. Alan mencoba menepis semuanya, Theresia kini tengah mengandung buah cintanya. Maka Alan harus memprioritaskan istrinya itu.
Setiap manusia memiliki badai nya masing-masing, kini rumah tangga Cyra dan Thoriq yang tengah mengalami masa sulit. Cyra yang tidak percaya pada dirinya sendiri dan Thoriq yang bingung dalam bersikap.
* * *
Sepulang dari Klinik saat itu, hampir seminggu ini Cyra tidak mengunjungi sang adik. Biasanya setiap dua hari sekali dia akan sekedar mampir kesana, namun sudah seminggu ini Cyra beralasan. "Nanti Mami bikinin makanan kesukaan Mimi biar bayi nya sehat, tapi maaf ya gak hari ini. Mami hari ini ada acara, nanti kalo Mami udah gak begitu sibuk pasti Mami masakin!" itulah alasan yang selalu Cyra berikan.
Cyra tak lagi mampu menahan beban hatinya, bercerita pada Thoriq pun dia tak bisa. Terlalu banyak beban yang sudah di tampung suaminya itu, seminggu ini Cyra sama sekali tak bisa tidur ataupun makan dengan nyaman.
Ya, mental Cyra mulai down!
Tak ingin berlarut, diam-diam Cyra memeriksakan diri ke Psikiater yang berada di Rumah Sakit Jiwa, tempatnya dulu mendapatkan pengobatan. Dia butuh obat penenang, dia butuh sesuatu yang dapat menenangkan hatinya. Namun saat konsultasi, dokter menyarankan Cyra untuk therapy terlebih dahulu.
Cyra tak sabar, dirinya sangat butuh ketenangan. Jiwa nya kini terguncang, tak ada tempat bagi nya untuk berlari. Dia tak ingin membuat semua orang khawatir. Dengan wajah yang pucat dan tatapan nya yang kosong, dia berjalan kaki menyusuri jalan sepi.
Rasanya ingin mati saja, itulah yang ada dalam pikiran Cyra. Dokter yang memeriksa kondisi Cyra tadi segera menghubungi keluarganya. Dan kontak yang tertera adalah kontak milik Alana.
Alana shock, dia segera menelepon suaminya untuk mengetahui kondisi Cyra. Husain tersentak kaget, "Apa?! Cyra kesana sama siapa Mamoy? Masa iya dia gak bilang sama Mas Thoriq!" panik Husain.
"Mamoy gak tau Papoy! Mumpung deket kantor, Papoy cari Cyra! Jangan lupa hubungin Mas Thoriq!" titahnya dengan panik.
Husain hanya mengangguk, padahal Alana tak akan bisa melihatnya. "Jangan panik! Papoy gak mau anak kita kenapa-kenapa!"
Sedangkan Cyra masih berjalan, entah sudah berapa lama dan entah ada dimana dia sekarang. Tatapan orang-orang seolah melihat Cyra seperti orang yang kena hipnotis. "Neng! Kenapa neng?" tanya seorang ibu-ibu sambil menepuk bahu Cyra.
Cyra menoleh, tiba-tiba saja dia memeluk ibu-ibu itu dengan erat lalu menangis sejadi-jadinya. Karena khawatir, Ibu itu membawa Cyra ke rumah nya yang tak jauh darisana. Hati Cyra sangatlah rapuh, dia butuh sandaran dan dia butuh kekuatan.
Cukup lama dia menangis, namun tangisnya terhenti ketika mendengar suara laki-laki yang memanggilnya. "Ferandiza!"
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤