
"Seburuk-buruknya laki-laki, dia akan memilih perempuan baik untuk mendampingi hidupnya."
Itulah sebuah prinsip yang selalu terngiang ditelinga Alan, ucapan Utinya yang meninggal beberapa tahun lalu. Alan sudah menemukan sosok gadis yang menurutnya adalah belahan jiwanya. Hingga dia rela mempertaruhkan segalanya untuk sosok gadis bernama Theresia. Gadis pecicilan bin bar-bar yang selalu mengesalkan dan menggemaskan dalam waktu yang bersamaan.
Malam ini, rencananya Alan akan mengajak sang kekasih hati untuk makan malam bersama. Sekaligus dia ingin mengatakan keinginannya untuk menikah.
"Selamat malam tuan Aidan Alan," sapa Theresia menyambut kedatangan sang kekasih.
"Selamat malam nyonya Aidan, sudah siapkah mengarungi malam yang indah ini bersamaku?" Alan mencium tangan Theresia dengan lembut.
Plaaakkk
Sebuah bantal mendarat tepat diwajah Alan.
"Aduh! Sialan, sape nih yang main timpuk-timpukan," geram Alan.
"Gue! Mau ape lu?! Mau demo?!" Cyra datang sambil membawa sebuah sapu lidi.
"Waduh bahaya! Kalem, slodon nape?! Lagian ngapain sih lu main timpak-timpuk segala, ngerusak keromantisan gue yang haqiqi tau," keluh Alan menatap Cyra malas.
"Gimana gak gue timpuk, maksudnya ape tuh mau mengarungi malam yang indah bersama?! Jam 10 dah balek kerumah, awas aja telat! Gue gantung lu di tiang jemuran," begitulah Cyra, sebagai seorang pengganti Mami dia benar-benar menjaga Theresia.
Alan menghela nafasnya, susah memang kalo menaklukan seorang perempuan, pikir Alan.
"Mohon maaf yee mak emak! Pikiran lu tuh kotor amat si, gue kan cuman mau diner makan malem doangan! Sorry dah kalo gue salah dalam berucap, kan aku bukanlah seorang pujangga yang pandai merangkai kata," elak Alan membuat Cyra memutar bola matanya malas. Belum juga Cyra menjawab, Thoriq sudah menyela terlebih dahulu.
"Stop! Dah udah, keburu kemaleman diner-dineran nya! Inget ya, jam 10 malem dah balek kerumah. Telat 10 menit, kaga ada tuh ketemu selama seminggu!" tegas Thoriq.
"Aelah lu Kak! Jahat banget, emang kaga tau apa nahan rindu tuh berat," Theresia mencebik kesal.
"Yang berat tuh bukan rindu, tapi dosa! Dah sana cepet, sebelum izin nya dicabut neh," ancam Thoriq membuat Alan dan Theresia segera pergi darisana.
Sepanjang jalan, Alan terus menggerutu karena kesal pada pasangan calon kakak iparnya itu. Theresia hanya tersenyum, mendengarkan setiap ocehan yang keluar dari mulut Alan.
"Sumpah ye! Kalo bukan calon Kakak ipar, dah gue lempar ke segitiga bermuda. Biar honeymoon aja tuh mereka disono," kesal Alan.
"Sstttt! Jangan ambekam mulu, gue gak mau ya punya calon laki mukanye tua kek aki-aki! Lagian mereka kan cuman ngelindungi gue, ayank!" ucap Theresia tanpa sadar.
"Tunggu! Lu panggil gue ayank tadi?" antusias Alan.
"Ck! Kaga, udah nyetir yang bener! Gue kaga mau berhubungan mulu sama malaikat Izrail. Mereka kesel entar sama gue, udah mati idup lagi, udah mati idup lagi. Kaya gak konsisten aja gue," Theresia mencebik kesal dan mendapatkan toyoran dari Alan.
"Lu parah lu! Malaikat Izrail aja lu ghibahin, kacau lu!" Alan sedikit tertawa melihat ekspresi wajah Theresia.
Mereka kini sudah sampai disalah satu Hotel ternama di Kota Bandung.
"Lu beneran ngajakin gue ke hotel ini?" tiba-tiba saja wajah Theresia berbubah menjadi panik, terlebih saat mereka tiba di hotel ini.
Pletak
Alan menyentil kening sang kekasih yang menggemaskan itu.
"Lu sama aja kaya si Cyra, pikiran lu kotor mulu sama gue! Kan kita mau dinner ini ijem, i have a surprise for you," bisik Alan.
"Ck! So enggres banget sih lu, A! Dahlah cepetan, gue laper!" Theresia menarik tangan Alan untuk menutupi rasa gugupnya.
__ADS_1
"Sabar napa jem, tutup dulu mulut lu!" ucap Alan menghentikan tangan Theresia.
"Lu kalo mau kasih gue kejutan tuh mata yang ditutup, bukan mulut!" kesal Theresia.
Para pegawai yang menemani mereka hanya bisa menahan tawanya mendengar percakapan kedua anak manusia ini. Mata Theresia ditutup dulu pada akhirnya, mereka masuk kedalam lift dan menuju lantai teratas hotel ini.
"Ini ke lantai berapa sih, lama amat!" keluh Theresia karena sudah lama berada dalam lift.
"Diem aja napa sih, jem! Lu mah ngilangin suasana romantis aja," kesal Alan.
Ting
Pintu lift kini terbuka, Alan menuntun sang kekasih untuk menuju kursi yang sudah disediakan untuk mereka. Perlahan tapi pasti, Alan membuka penutup mata Theresia.
"Waahh... It's beautiful, love.." bahagia Theresia tanpa sadar memeluk Alan.
"Aduh, gawat! Jiwa bujangan gue meronta-ronta ini! Andai udah sah, gue kerem lu di kamar hotel ini," batin Alan.
"I-iya jem, makan dulu yuk! Laper gue," Alan mencoba mengalihkan rasa gugupnya.
"Yuukk kita makan, selamat makan calon suamiku," ucap Theresia dengan manja.
Sambil menikmati makan malam, Alan dan Theresia berbincang-bincang. Suara alunan biola menambah kesan romantis pada dinner mereka malam ini. Lagu yang dimainkan pemain biola itu adalah lagu A thousand years.
Selesai makan, Alan menggenggam erat tangan sang kekasih. Hal itu membuat jantung Theresia berdegup kencang.
"Sayangku, Theresia. Aku sangat mencintai kamu, aku ingin kita terikat dalam ikatan suci pernikahan. Aku gak mau kehilangan kamu lagi, Re. Untuk yang terakhir kalinya aku meminta, maukah kamu menjadi istriku, menjadi ibu dari anak-anakku, dan menjadi pendamping hidupku dimasa tua nanti? Will you marry me?" Alan tiba-tiba saja beranjak dari duduknya dan berlutut dihadapan Theresia sambil membuka sebuah kotak berwarna merah berisikan sebuah cincin.
Theresia menutup mulutnya tak percaya, matanya sudah berkaca-kaca. Dia tidak memyangka jika laki-laki absurd dihadapannya ini bisa bersikap romantis.
"Makasih sayang, makasih banyak! Aku janji, sekalipun kita sudah menikah. Aku gak akan pernah menghalangi kamu untuk meraih semua cita-cita kamu," Alan mengecup tangan Theresia lalu beralih pada keningnya.
"Cita-citaku sekarang cuman satu, menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak kita kelak. I love you Aidan Alan," Theresia mengecup pipi kanan Alan.
Alan sedikit terkejut dengan perlakuan Theresia, tapi kemudian dia tersenyum.
"Sebelah lagi dong, nanti dia iri gimana," goda Alan membuat Theresia tersenyum malu.
"Dah ah! Geli juga ya roromantisan begini," celetuk Theresia.
"Astaga, ijeeemmm! Ngeselin banget dah, suasana lagi puncak-puncaknya romantis ini neng! Wah lu gemesin, gue kurung di kamar hotel boleh kaga sih!" gemas Alan.
"Boleh dong," jawab Theresia membuat mata Alan berbinar. "Asal ngadepin dulu golok Teh Shanum sama Kak Thoriq, hahahahaha," Theresia tertawa kencang melihat ekspresi wajah Alan.
Cupp. 💋
Alan memberengut kesal, tapi kecupan dipipi kirinya membuat Alan tersenyum penuh kemenangan.
"Jangan manyun-manyun mulu napa, takutnya gue khilaf A! Nyosor lu duluan, kan bahaya! Apa kata dunia nantinya," ucap Theresia membuat Alan semakin bahagia.
"Makasih ya, Re. Lu mau terima gue apa adanya, bukan terima gue karena ada apanya. Gue bahagia bisa dipertemukan sama orang yang satu frekuensi sama gue. Tapi gue mohon, kedepannya kalo gue ada salah kita selesaikan semuanya baik-baik. Gue takut kehilangan lu, Re. Gue gak mau...."
"Ssstt, gue gak akan pernah tinggalin lu lagi. Lu masa depan gue, lu sayang dan cinta lu tulus buat gue. Itu udah cukup buat gue, dan satu hal lagi. Gue gak akan pernah mengulang kesalahan gue dimasalalu, gue juga gak....."
Theresia tak lagi berbicara, sebab Alan sudah menempelkan bibirnya dengan bibir kekasihnya itu. Jantung keduanya seolah berpacu dengan waktu, kedua anak manusia ini lupa jika saat ini bukan hanya mereka berdua yang berada disana. Mereka baru tersadar ketika pemain biola sedikit melakukan kesalahan nada. Barulah mereka melepaskan ciuman itu.
__ADS_1
Alan mengusap tengkuknya dengan canggung.
"Lu sih, gue jadi khilaf kan!" bisik Alan.
"Diem lu, gue juga malu kali!" bisik Theresia.
Untung saja waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Keadaan berubah menjadi canggung, keduanya larut dalam pikiran mereka masing-masing. Sampai tak terasa, kini mereka sudah sampai dirumah Theresia.
"Gak turun dulu?" tanya Theresia dengan gugup.
"Mm, besok deh gue jemput! Kita ke butik si Mail ya, cari baju buat pernikahan kita. Salam buat Cyra sama Mas Thoriq ya," Alan mengusap lembut kepala Theresia.
"Iya sayang," ucap Theresia lalu mengecup bibir Alan sekilas.
Siapa sangka, Alan malah menahannya. Dan mereka kembali menyatukan kedua bibir itu, hingga suara gedoran pintu mobil membuyarkan keduanya.
"Cepet pergi ya! Sebelum mak grandong dan pak grandong ngamuk!" titah Theresia.
"Malam love!" teriak Alan lalu pergi dari halaman rumah Theresia.
Thoriq dan Cyra menatap sang adik dengan tatapan tajamnya.
"Waduh! Tau gitu tadi gue kabur aja sama si ayank," batin Theresia.
"Malem Kakak-kakaku sayang," ucap Theresia dengan gugupnya.
"Tadi ngapain di mobil, lama banget!" Thoriq mulai menginterogasi sang adik.
"Ck! Kaya kamu gak pernah aja nyium aku dimobil, Mas!" celetuk Cyra.
"Nahloh, hayoloh Kak! Lu ketauan, lu!" goda Theresia.
"Tap-tapi kan itu, kan anu kan itu," gugup Thoriq.
"Apaan sih, nu anu huna hinu, dah ah Rere masuk ya!" pamit Theresia.
Cyra dan Thoriq hanya saling senggol-senggolan karena merasa malu.
"Kamu sih yank, pake keceplosan segala," kesal Thoriq.
"Ya kamu, lagian kaya gak pernah ngalamin aja," kesal Cyra.
"Kak! Main senggol-senggolannya dikamar aja! Biar ponakan aku cepet on the way!" teriak Theresia membuat keduanya salah tingkah.
Malam itu, Theresia merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dia membuka buki hariannya, yang terdapat foto dan surat yang Lula tinggalkan.
"Cinta sejati bukanlah bagaimana kamu memaafkan, tetapi bagaimana kamu melupakan. Bukan apa yang kamu lihat, tetapi apa yang kamu rasakan. Bukan bagaimana kamu mendengarkan, tetapi bagaimana kamu mengerti dan bukan bagaimana kamu melepaskan tetapi bagaimana kamu bertahan. I believe that God created you for me to love. He picked you out from all the rest cause He knew I'd love you the best!"🌹
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤