
Setiap awal kisah, pasti akan ada akhir. Kisah cinta Bunda Gisya dan Ayah Fahri menjadi awal dimulainya kisah ini. Dan menjadi akhir pula dari kisah ini.
Suara monitor di ruang ICU membuat suasana menjadi tegang, terbaring lemah sosok laki-laki yang dulunya gagah dan perkasa. Ayah Fahri kini tengah berjuang antara hidup dan mati, penyakit jantung yang dideritanya kini sudah mulai kronis.
Dengan lantunan ayat suci Al-qur'an, Bunda Gisya menemani sang suami. Do'a tak hentinya dipanjatkan pada Allah, agar sang suami dapat melewati masa kritis dan kembali saling menggenggam, saling bertaut melewati masa tua bersama.
Tit.. Tit.. Tit..
Suara monitor tiba-tiba berbunyi, Bunda Gisya menghampiri suaminya itu.
Mata Ayah Fahri sedikit terbuka, samar dia dapat melihat wajah sang istri. Tangannya terasa dingin, digenggam oleh Bunda Gisya. Tak kuasa melihat sang suami, Bunda Gisya berbisik pada telinga suaminya itu.
"Abang.. Adek mencintaimu karena Allah, Adek ikhlas jika Abang pergi. Supaya Abang gak sakit lagi.. Tunggu Adek disana ya, Bang! Laa.. Illaha.. Ilallah... Laa.. Illaha.. Ilallah... Laa.. Illaha.. Ilallah..."
Tiiiiiittttttttt.....
"Innalillahi wa inna illahi rojiun... Selamat Jalan suamiku sayang, Adek mencintai Abang karena Allah. Adek ikhlas, Abang... Suamiku, perjuanganmu telah usai. Baktimu pada negara dan keluargamu telah usai. Beristirahatlah suamiku."
Jika harus memilih antara nafas dan cinta. Maka aku memilih nafas terakhirku, untuk mengatakan 'Aku cinta padamu'. -Ayah Fahri
Bunga duka cita sudah berjejer sepanjang jalan menuju kediaman Mayor Jenderal (Purn) Fahri Putra Pratama. Sang Jenderal yang gagah perkasa telah berpulang pada yang Maha Kuasa. Satu persatu keluarga mulai berdatangan, Alan dan Cyra datang terlebih dahulu sebab mereka tinggal di Bandung.
"Bun.." panggil Alan.
Bunda Gisya tak dapat lagi membendung air matanya. "Perwiraku telah gugur, Nak. Dia lebih dulu meninggalkan Bunda, hati ini ikhlas tapi terasa sakit!"
Alan mendekap tubuh sang Bunda, "Kuatkan hati Bunda, Insya Allah Ayah sudah bahagia berkumpul disana bersama Oma, Opa dan yang lainnya. Bunda selalu bilang, jika Ayah pergi lebih dulu, Bunda tidak akan memberatkan dengan tangisan yang berlarut."
"Ayaaaahhhhhh....!!" teriak dua orang anak perempuan dengan nafas yang tersenggal.
Indira dan Elmira berlari, rasanya tak percaya jika cinta pertama mereka telah pergi begitu saja. Rasa sesal menderu dalam dada, mereka tak disamping sang Ayah hingga hembusan nafas terakhir. Sebab tugas istri abdi negara mengikuti kemanapun suami pergi.
"Ayah.. Dira datang, kenapa Ayah pergi tinggalin Dira?" sambil menangis meraung, Indira memeluk jasad sang Ayah.
"Ayah.. Ini Elmira, maaf Ayah.. Maaf tak bisa menemani Ayah hingga nafas terakhir, Elmira sayang Ayah. Bolehkah Elmira meminta untuk Ayah tetap disini. Banguun Ayaaah!" seluruh emosi membuncah dalam dada Elmira.
Rasa sesal menumpuk didalam dada, andai saja mereka tinggal di Bandung, andai saja mereka datang tepat waktu. Namun semua penyesalan hanyalah sia-sia saja, Ayah Fahri sudah pergi menghadap sang khalik.
Sedangkan Husain, sekuat hati dirinya menjaga agar tak menangis, tapi semuanya tak bisa tertahan lagi. Husain bersimpuh didepan jasad sang Ayah. "Maafkan Abang, Ayah! Bukannya Ayah bilang, mau Abang jemput buat main sama si kembar? Kenapa Ayah pergi? Maafkan Abang Ayah! Abang janji, Abang akan jadi pengganti Ayah. Abang akan jaga Bunda, Kak Rara dan Adek Dira."
__ADS_1
Mirda, Dirga dan Alana, sebagai menantu tentu saja mereka pun teramat kehilangan sosok Ayah Fahri yang sangat menyayangi keluarga. Selalu kebahagiaan anak-anaknya yang beliau utamakan, dengan hati bahagia beliau mengantarkan putri-putri mereka ke tempat penugasan bersama suaminya. Bahkan mendukung keputusan anak laki-laki satu-satunya yang kini menjabat sebagai anggota DPR dan harus tinggal berjauhan.
Bagi Ayah Fahri, melihat kesuksesan anak-anak dan menantunya sudah cukup. "Ayah bisa pergi dengan tenang, kalo anak-anak sudah bahagia! Tinggal menunggu waktu, Ayah akan tunggu Bunda di pintu Surga." Kata-kata itulah yang selalu beliau ucapkan pada Bunda Gisya.
Tap.. Tap.. Tap...
Suara langkah kaki membuat semua orang menoleh, Bunda Gisya tak dapat lagi membendung rasa pedih dalam hatinya. "Ulil.. Ebiiw...."
Kedatangan kedua sahabat baiknya tentu saja menjadi kekuatan tersendiri bagi Bunda Gisya, dia dipeluk erat oleh kedua sahabatnya itu. Tanpa bicara, mereka pun mengerti dan memahami beratnya kehidupan ketika ditinggalkan oleh orang yang paling kita cintai.
Papa Zaydan dan Baba Jafran bersimpuh diatas jenazah sang sahabat. "Innalillahi wa inna illahi rojiun... Selamat jalan sahabatku, perjuanganmu telah usai wahai perwira. Aku akan menjaga Caca dan anak-anakmu, menjadi rumah bagi mereka untuk pulang. Tunggu aku disana," bisik Baba Jafran ditelinga jasad Ayah Fahri.
"Bang, terimakasih atas segala jasa Abang dalam kehidupanku dan Febri juga anak-anak. Terimakasih atas limpahan kasih sayang Abang terhadap keluarga ini. Aku berjanji, aku akan menjaga keutuhan keluarga ini hingga kita kembali berkumpul disana. Selamat jalan perwira sejati...." ucap Papa Zaydan dengan airmata yang tak dapat lagi tertahan.
* * *
Taman Makam Pahlawan, disanalah Ayah Fahri akan dikebumikan secara Militer. Bunda Gisya didampingi kedua sahabatnya berjalan dibelakang peti jenazah yang tertutup oleh bendera merah putih, dia memeluk erat bingkai foto sang suami. Elmira didampingi oleh Mirda, Indira didampingi oleh Dirga dan Husain didampingi oleh Alana, juga Alan dan Cyra yang ikut mengantarkan jenazah Ayah Fahri ketempat peristirahatan terakhirnya.
Begitu peti jenazah dimasukan kedalam liang lahat, saat itu juga dunia terasa menggelap. Bunda Gisya jatuh pingsan, dia tak sanggup menyaksikan semua itu.
"Bunda!" pekik mereka bersamaan.
"Ca, bangunlah! Kuatlah, Ca! Jangan tinggalin kita semua, anak-anak masih butuh kamu," lirih Ummi Ulil.
Mama Febri mendelik menatap sang sahabat, "Gisya pasti sadar, Lil! Jangan ngaco kamu!" bentak Mama Febri.
Suara tembakan terdengar, Ummi Ulil dan Mama Febri terus menggenggam jemari Bunda Gisya yang semakin dingin. Acara pemakaman pun usai, tapi masih tak ada tanda-tanda jika Bunda Gisya akan terbangun. Mereka segera membawa Bunda Gisya ke Rumah Sakit, sedangkan anak-anak masih berada di makam dan tak tau kondisi sang Bunda.
Cukup lama mereka disana, "Bunda pulang? Kok nggak ada kesini?" tanya Husain dengan tatapan kosongnya.
Mereka saling berpandangan, "Ada apa? Kenapa kalian diam?" tanya Elmira.
"Siap salah! Ibu dilarikan ke Rumah Sakit, sebab tak kunjung sadarkan diri," ucap salah satu ajudan sang Ayah.
Mendengar hal itu, mereka segera menuju ke Rumah Sakit. Mereka tak ingin kehilangan sang Bunda, mereka tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada sang Bunda.
Sedangkan di Rumah Sakit, Ummi Ulil dan Mama Febri sudah menangis meraung-raung. "Gisya Kayla Nursalsabila! Bangunlah! Jangan patahkan kedua sayap anak-anakmu, Ca! Bangun Gisya!" teriak Ummi Ulil.
"Caca sayang! Bangun, Gisya! Yaa Allah, cinta kalian begitu sejati, inikah cinta sehidup semati?! Banguuuun Caaaa!!" teriak Mama Febri.
__ADS_1
Mereka tiba di Rumah Sakit, tubuh mereka kembali menegang. "Bu-bunda!"
Elmira, Indira dan juga Husain memeluk tubuh sang Bunda yang sudah memucat. Bunda Gisya telah pergi bersama suami tercintanya, dia mengalami serangan jantung karena shock. "Innalillahi wa inna illahi rojiun!" ucap Mirda dan Dirga bersamaan.
Masih tak menyangka jika kedua orang tua mereka akan pergi meninggalkan mereka secara bersamaan. Indira dan Elmira berkali-kali jatuh tak sadarkan diri, untung saja putra putri mereka dijaga oleh beberapa ajudan mereka. Husain pun sama, tubuhnya terasa lemah tak bertulang.
"Bunda... Ayah... Cinta kalian benar-benar cinta sejati, kalian pergi bersama-sama meninggalkan kami disini. Tunggu kami di Surga-Nya, semoga kelak keluarga kita akan berkumpul kembali disana!" Husain berucap dengan isak tangis.
Hari itu menjadi hari yang paling menyakitkan, kehilangan kedua orang tua sekaligus menjadi luka paling mendalam. Tapi mereka tak bisa melawan takdir yang telah Allah berikan. Rumah kembali ramai, bahkan jauh lebih ramai pelayat.
Ayah Fahri dan Bunda Gisya memang dikenal sebagai sosok pasangan yang sempurna. Maka kali ini, kisah cinta keduanya pun menjadi sebuah panutan bagi pasangan suami istri lainnya. Cinta mereka sehidup semati.
Jenazah Bunda Gisya akan disatu liang lahatkan bersama sang suami, itupun atas persetujuan pihak terkait juga keluarganya. Elmira dan Indira, kedua anak perempuan Ayah Fahri dan Bunda Gisya saling memeluk dan menguatkan. Walaupun keduanya terlahir bukan dari rahim yang sama.
"Bunda, kami bahagia menjadi putrimu. Bunda adalah panutanku, bunda adalah segalanya bagiku. Sekarang, Ayah dan Bunda sudah bahagia saling memeluk dalam ikatan cinta kalian di Surga Allah. Dira dan Kak Elmira akan meneruskan perjuangan Bunda untuk mendampingi perwira tercinta. Semoga kisah cinta kami akan seindah kisah cinta Ayah dan Bunda," lirih Indira.
"Benar, Bunda. Kami akan terus disamping perwira tercinta kami, kami akan terus saling menguatkan, Bun. Karena tak ada lagi kekuatan yang Bunda berikan, meskipun aku bukan darah daging kalian, tapi aku sangat mencintai kalian sepenuh hati. Kalian pasti kini sangat bahagia di Surga Allah," isak tangis Elmira tak dapat dibendung lagi.
Husain mendekap keduanya, "Abang akan jaga Kakak dan Adek seperti titah Ayah, kini bahu Abang siap untuk menopang Kakak, Adek dan juga istri Abang. Abang akan menjaga kalian seperti Ayah. Kita harus hidup dengan baik, mengamalkan semua ajaran dan didikan Ayah dan Bunda terhadap anak-anak kita nanti!"
Kehilangan pun dirasakan oleh Mirda, Dirga dan Alana, juga Alan dan Cyra yang sudah menganggap keduanya sebagai orang tua. "Ayah dan Bunda adalah panutanku, semoga kelak aku bisa menjadi seorang Ayah seperti Baba, Papa dan Ayah Fahri. Apalagi, keajaiban kini hadir dalam rahim istriku, Cyra. Bunda, Ayah.. Kalian tak sempat mendengar ini, tapi percayalah semua itu tak luput dari do'a kalian, maka dari itu kami akan terus mendo'akan kalian!"
Ucapan Alan membuat mereka semua saling memeluk, pelukan erat mengelilingi makam Ayah Fahri dan Bunda Gisya. Dibalik semua kesedihan, ketika kita ikhlas menjalaninya. Maka Allah akan berikan suatu hal yang paling indah didunia ini.
Perpisahan hanya berlaku untuk mereka yang mencintai lewat mata. Karena untuk mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa, tak akan ada yang namanya perpisahan.
* * * * *
Maaf baru menyelesaikan cerita ini..
Rindu mohon do'a dan dukungan dari kalian..
Untuk novel persimpangan dilema, akan rindu up setelah memulihkan diri.. ๐
Adakah yang mau support rindu, rindu mau buat grup via whatsapp ๐
Rindu juga akan buat novel dengan judul baru..
Terimakasih untuk kalian yang setia menunggu rindu..
__ADS_1
Salam Rindu, Author โค