Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Bertemu Paman


__ADS_3

Sudah seminggu ini, Elmira terus bolak balik ke Rumah Sakit. Ayah Fahri masih mendapatkan perawatan, karena dia baru saja melakukan Operasi pemasangan ring. Sedangkan Om Chandra kesayangannya itu masih dalam keadaan koma. Elmira baru saja pulang dari tempatnya bekerja, kali ini dia selalu dikawal oleh beberapa bodyguard yang sengaja dikirim oleh Paman Syauqi. Dan Elmira tidak lagi menolak seperti dulu.


Sebelum ke ruang rawat sang Ayah, Elmira terlebih dahulu membelikan beberapa makanan untuk Bundanya.


"Assalamu'alakum," ucap Elmira saat baru saja memasuki kamar rawat Ayahnya.


"Walaikumsalam sayang, kamu bawa apa Nak?" tanya Ayah Fahri.


"Ini ayam goreng dari Lesehan Mas Bewok, Ayah. Bunda sama Dira belum makan malam kan? Jadi Kakak beliin ayam goreng favorite Kakak," ucap Elmira sambil menyiapkan makanan. Indira begitu tergiur dengan sambal yang menjadi salah satu menu favoritnya.


"Inimah favorite Dira juga, Kak!" ucap Indira sambil mencomot tahu goreng.


"Wuaaahhh.. Wangi banget! Bunda jadi makin laper," sahut Bunda Gisya yang baru saja selesai sholat isya.


"Selamat makan Bunda, Adek Diraku sayang," ucap Elmira.


Selagi Bunda dan Indira makanan, Elmira membantu sang Ayah untuk meminum obat.


"Sekarang Ayah harus minum dulu obatnya! Biar kita cepet pulang," ucap Elmira.


"Ayah bosen disini, Kak. Bisa kan kamu minta sama dokter cerewet itu buat kasih surat kepulangan Ayah?" rengek Ayah Fahri pada putri sulungnya itu.


"Prof. Kiki, Ayah! Dia dokter terbaik loh, cerewet juga kan demi kebaikan Ayah," ucap Elmira membuat Fahri merajuk seperti anak kecil.


Ayah Fahri sangat kesal, pasalnya dia juga ingin merasakan makanan yang dibawa Elmira.


"Tuh liat, Bunda kamu kalo makan bikin orang ngiler!" kesal Ayah Fahri.


"Enak banget Ayah! Bunda mah baru lagi da ngerasain ayam goreng seenak ini. Kakak sering makan disana kali ya?" tanya Bunda Gisya.


"Sering banget, Bun. Dulu Bang Mirda yang sering ajakin Kakak makan disana, ternyata itu warung Lesehan langganan Bang Mirda dulu. Sampe kenal loh dia Bun sama ownernya, terus ada live musiknya juga Bun. Kaya dari anak-anak jalanan gitu, pokoknya tempatnya asyik deh!" ucap Elmira yang antusias menceritakan dengan senyuman indah diwajahnya.


"Ternyata memang benar, Mirda mampu membuat putriku bahagia, bahkan nama panggilan mereka pun berbeda dibelakangku," batin Ayah Fahri.


Bunda Gisya tersenyum bahagia, ketika melihat binar cinta dimata Elmira.


"Kapan-kapan ajakin Dira makan disana dong, Kak! Seru kayaknya!" ujar Indira.


"Boleh, nanti pas Bang Ain pulang liburan kita makan sama-sama disana, ya! Kamu pasti suka Dek, kan kamu seneng nyanyi juga kan? Beuh asyik deh! Bang Mirda emang gak pernah salah kasih tempat yang oke!" puji Elmira tanpa dia sadari.


"Mm, Kakak rindu sama Om Mirda ya?" ucap Indira dengan polosnya.


Deg!


Elmira kembali teringat, jika saat ini Mirda tak lagi selalu disampingnya.


"Dira udah selesai makannya? Temenin Kakak tengok Om Chandra ya," pinta Elmira.


"Sebentar Kak, Dira cuci tangan dulu ya!" ucap Indira bergegas mencuci tangannya.


"Kakak, are you okay?" tanya Bunda Gisya saat melihat putrinya melamun.


"I'm okay, Bun. Don't worry," ucap Elmira lalu beranjak keluar. "Kakak mau tengok Om Chandra dulu, sekalian kasihin makan malam untuk Biang,"


Indira dan Elmira saat ini sudah berada diruang rawat Om Chandra. Hingga saat ini dia masih dalam keadaan koma, dengan setia Biang Mira selalu menemaninya.


"Biang, makan dulu ya! Rara bawain makanan buat Biang, sekarang Biang harus banyak makan. Biar kalian sehat selalu," ucap Elmira mengelus bahu Biang Mira.


"Terimakasih, Rara. Wangi sekaliii... Bli Chandra pasti suka," ucap Biang sambi menatap suaminya yang masih tak sadarkan diri.


"Om Chandra akan segera sadar, Biang. Sekarang makan yang banyak! Rara keluar sebentar ya, Dira temenin Biang ya!" ucap Elmira lalu berjalan keluar.

__ADS_1


Menyusuri lorong Rumah Sakit, Elmira terus berjalan. Hingga dia terduduk lesu, Elmira menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. Elmira memeluk lututnya dan menumpahkan segala tangis kerinduan dan kesakitan hatinya.


"Aku merindukanmu, Bang Mirda. Demi Allah aku tersiksa, bahkan saat ini aku berhutang budi lagi pada Om Chandra. Aku harus bagaimana? Aku tidak bisa menyakiti hati Biang Mira, terlebih lagi saat ini diaa........."


Elmira tak lagi bisa berkata-kata, hanya airmata yang mewakilkan segalanya.


"Neng Rara sedang apa disini?" tanya Bang Ogem, bodyguard yang menjaganya.


"Astaghfirulloh, Bang Ogem ngagetin aku!" kesal Elmira yang tersentak kaget.


"Hehehe disangka tuyul ya, Neng! Habis Bang Ogem teh khawatir, bisi ada yang nyulik lagi Neng Rara kumahaa sok?" ucap laki-laki berkepala plontos itu.


"Yaa Allah, ya gak ngagetin juga atuh Bang Ogem!" ucap Elmira lalu berdiri. "Jangan bilang siapa-siapa kalo aku nangis ya, Bang Ogem," pinta Elmira.


"Siap atuh Neng dilaksanakan!" sahut Bang Ogem.


Karena sudah larut malam, Elmira mengajak Indira untuk pulang bersamanya. Karena besok dia mendapatkan jatah liburnya.


"Ayah, Kakak ijin sama Ayah. Besok Kakak dipanggil ke Polda, katanya Paman Kandung Kakak mau bicara," ucap Elmira meminta ijin pada sang Ayah.


"Ayah ijinkan kalo Kakak dalam pengawalan penuh, semuanya demi kebaikan Kakak. Maafin Ayah," lirih Ayah Fahri menundukkan kepalanya.


"InshaAllah Kakak dikawal Bang Ogem, Paman Uqi sama Om Hagum. Jadi Ayah jangan khawatir ya, sekarang Ayah harus istirahat biar sembuh,"


Semalaman Elmira tidak bisa tidur, dia membuka balkon kamarnya. Dia menutup mata dan menghirup udara sedalam-dalamnya.


"Aku menyayangimu, Elmira. Tapi aku hanya diam, terlihat tidak peduli. Padahal dalam hati selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Karena mendoakan adalah cara mencintai yang paling rahasia. Memperhatikanmu diam-diam, mendoakanmu setiap hari dan mencintaimu secara rahasia. Hanya itulah yang bisa aku lakukan, sekarang berbahagialah Elmira. Jangan biarkan airmata kesedihan jatuh dari mata indahmu, jaga dirimu baik-baik. Aku harus pergi,"


Kata-kata itu selalu terngiang dalam ingatan Elmira, dia memeluk dirinya sendiri ditengah keheningan malam. Elmira sangat merindukan sosok Mirda.


"Aku gak bisa Bang, airmata ini selalu jatuh begitu saja saat aku mengingatmu. Kamu sedang apa saat ini, Bang? Apa kamu juga merindukanku?" lirih Elmira.


* *


"MashaAllah, aya bidadari turun ti Surga, meuni geulis pisan!" puji Bang Ogem.


"Bang Ogem bisa aja, atuh cantikan Rara ya dibanding Ceu Esih?" goda Elmira.


"Oh tidak ferguso! Ceu Esih mah atuh tetep no 1 dihati Bang Ogem, meskipun rada butek saeutik oge Neng!" jawab Bang Ogem.


"Awas loh didenger Ceu Esih! Nanti gak dibukain pintu!" ledek Elmira.


"Ya atuh Neng Rara weh jangan ember bocor mulutnya!" ucap Bang Ogem lesu.


"Aman deh.... Hayuk berangkat!" ajak Elmira lalu berjalan menuju mobilnya.


Sesampainya di Polda Jabar, Elmira disambut oleh Paman Syauqi dan pengacara yang akan menangani kasus yang menimpa Elmira.


"Kak, kenalin namanya Arvi Faza Fadillah, SH. Dia yang akan mendampingi Kakak untuk menghadapi kasus ini. Dan ini Elmira Ayudia Syafa, keponakan kesayangan saya," ucap Paman Syauqi memperkenalkan keduanya.


"Mohon bantuanya Pak Faza," ucap Elmira sambil menjabat tangannya.


"Panggil Faza saja, saya kira usia kita gak begitu jauh," ucap Faza pada Elmira.


"Rasanya gak sopan, saya panggil Mas Faza aja ya!" ujar Elmira yang merasa tak enak.


"Boleh, bagaimana baiknya saja," jawab Faza tersenyum.


Elmira duduk dengan tubuh yang sedikit gemetar, jujur saja dia masih mengingat dengan jelas kejadian malam itu.


Ceklek

__ADS_1


Suara pintu yang terbuka membuat Elmira samakin menundukkan wajahnya.


"Hei keponakanku tersayang, rupanya kamu masih hidup!" ucap Paman Grigori.


"Apa mau anda sebenarnya?" tanya Elmira langsung ke intinya.


"Aku hanya ingin seluruh harta peninggalan Ayahmu! Itu saja! Hanya dengan kamu mati atau kamu dengan sukarela menandatanganinya! Tapi kamu malah menyeret aku kedalam jeruji besi!!" geram Paman Grigori.


"Ambilah! Aku tidak butuh sedikitpun harta dari Papa! Ambilah! Tapi aku mohon berhenti menyakitiku dan orang-orang sekitarku!" lirih Elmira menahan airmatanya.


Paman Grigori malah tertawa terbahak-bahak saat mendengar ucapan Elmira.


"Dengar Quera! Jika bukan kamu penyebabnya, aku sudah bisa mendapatkannya sejak dulu!" geram Paman Grigori ingin mencekik Elmira tapi untungnya Faza menahannya.


"Bukankah Paman ini Paman kandungku? Kenapa bukan Paman yang merawatku sejak kecil! Mungkin dengan begitu Paman bisa mendapatkan semuanya!" teriak Elmira.


"Abrafo sialan itu! Dia memilih menitipkanmu pada Fahri! Bajingan itu!" geram Grigori.


"Dia Ayahku!!! Dan kau yang bajingan! Dimana ada seorang Paman yang rela membuhuh keponakannya hanya demi harta!" teriak Elmira.


Plaaaaaakkkkkk


"Diamm brengksek!!! Karena dirimu aku harus dipenjara! Bahkan pihak PBB hingga turun tangan!!! Setelah aku keluar dari sini, aku akan membunuhmu!!" teriak Paman Grigori sambil menampar pipi Elmira hingga tersungkur.


"Aku tunggu Paman!! Aku kira dengan bertemu paman, aku akan merasakan bagaimana disayangi oleh keluarga ku yang sebenarnya, tapi ternyata tidak! Dan satu hal lagi, dengan sukarela akan aku berikan seluruh harta Papa padamu! Tapi mungkin sekarang tidak lagi! Selamat bertemu dipersidangan!" ucap Elmira lalu meninggalkan Paman Grigori begitu saja. Ucapan Elmira membuat Paman Grigori terdiam sejenak.


"Arrrgggghhhhh!!! Siaaaaaaalll!!!" teriak Paman Grigori frustasi.


Elmira berlari keluar, tanpa berpamitan pada Paman Syauqi ataupun Faza dia segera masuk kedalam mobilnya.


"Bang Ogem! Cepat jalan!" pinta Elmira yang membuat Bang Ogem tersentak.


"Gak pamit dulu, Neng?" tanya Bang Ogem.


"Jalan sekarang!" sentak Elmira membuat Bang Ogem dengan segera menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan Elmira terus menangis, hatinya terasa sangat sakit.


"Maaf Neng, kita mau kemana?" tanya Bang Ogem dengan hati-hati.


"Punclut, Bang Ogem," lirih Elmira yang masih menangis tersedu-sedu.


Kini mereka sudah sampai di Punclut, dulu Elmira pertama kali datang kesana diajak oleh Mirda. Kini dia ingin mengunjungi tempat kenangannya bersama Mirda.


"Teh, minta dua porsi nasi tutug oncom ya! Yang satu minta dibawa keatas, yang satu disitu aja," ucap Elmira sambil menunjuk tempat Bang Ogem.


"Iya Neng, tunggu sebentar ya!" ucap sang pemilik warung.


Elmira naik ke lantai 2, tempat makan lesehan sederhana dengan pemandangan yang indah. Tempat itu tidak terlalu ramai, Elmira memilih duduk ditempatnya dulu bersama Mirda. Saat makanan datang, Elmira tak langsung menyantapnya.


"Bang Mirda, gimana bisa aku habisin nasi tutug oncom ini sendirian? Bukankah dulu Bang Mirda bilang lebih enak makan sepiring berdua?" lirih Elmira.


Tanpa Elmira tau, Mirda pun sama tersiksa sepertinya. Apalagi setelah dia tau, jika Elmira akan dilamar oleh sang Ayah. Rasa sakit itu semakin menyiksa batinnya.


"Aku menyibukkan diri dengan hal-hal yang kulakukan, tapi setiap kali aku berhenti aku masih merindukanmu. Aku menutup mata dan melihatmu di sana. Tetapi, ketika aku membukanya dan tidak melihat apa pun di sana, aku menyadari betapa aku merindukanmu, Elmira," batin Mirda saat mengingat gadis pujaan hatinya.


Ketika kamu menjaga diri, di saat yang sama, di tempat lain jodohmu pun menjaga dirinya hingga nanti kalian bertemu di saat dan cara yang paling berkah. Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kamu sebut dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namamu dalam doanya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2