
Mirda segera masuk kedalam ruangan bersalin, hatinya sungguh resah dan gelisah ketika melihat sang mertua dan yang lainnya tertunduk lesu. Pikirannya sudah melayang kemana-mana.
Brakkk!
Dengan kasar, Mirda membuka pintu ruang bersalin dan dia menganga ketika melihat Alan yang sudah tak berbentuk. Wajahnya penuh dengan cakaran dan rambutnya acak-acakan.
"Yaa Allah, terimakasih engkau telah menjawab do'a-do'a hamba! Sini lu Bang, tanggung jawab lu! Enak lu bikinnya, Bang! Muke gua yang ancur gini," kesal Alan.
"Ab-abang," rintih Elmira membuat Mirda mendekat dan mencium seluruh wajahnya.
"Yang kuat sayang, Abang udah disini. Abang bakalan temenin kamu, kita ketemu dedek sama-sama sayang," ucap Mirda menguatkan.
"Kak, si Abang udah ada! Lepasin dong, diriku sudah tak sanggup!" rengek Alan.
"Makasih ya Alan, nanti Abang transfer," ucap Mirda membuat Alan mencebik kesal.
"Berasa cowok bayaran deh eikeu," celetuk Alan membuat suasana yang tadi tegang menjadi lebih santai.
Alan keluar dengan berjalan lesu, semua orang nampak shock dengan penampilan Alan.
"Saha ngaran maneh saha imah dimana," celetuk Baba Jafran membuat mereka menahan tawanya. Alan langsung mengapit leher sang Baba karena kesal.
"Aing maung, maung Bandung! Dasar Baba durjanah! Sekarang temenin Aa ke IGD, obatin ini luka cakaran singa betina!" Alan menarik tubuh sang Baba.
"Lepasin dulu! Emang Baba domba apa, maen tarik-tarik aja," kesal Baba Jafran.
Mereka yang tadinya khawatir, kini malah sibuk menertawakan Alan. Tawa mereka sempat terhenti ketika mendengar suara tangisan bayi yang menggema. Mirda mengecup seluruh wajah istrinya, dia menatap bayi mungil yang masih berlumuran darah itu.
"Selamat ya, Bapak dan Ibu. Bayinya berjenis kelamin laki-laki dengan berat 2,9kg dan panjang 53cm, semuanya sehat sempurna," ucap Dokter Iyam.
"Makasih banyak ya, Dok," lirih Mirda sambil menggengam erat tangan Elmira.
"Bapak ikut kami, ya! Untuk mengadzani putranya," pinta suster.
"Abang lihat dedek bayi dulu ya sayang," ucap Mirda dan Elmira mengangguk.
Sambil menitikkan airmatanya, Mirda menggendong bayi mungil itu lalu mengumandangkan adzan ditelinganya. Dia menatap lekat mata bayi mungil itu.
"Selamat datang didunia ini putraku sayang, Baba menemanimu disini Nak. Terimakasih sudah mau berjuang bersama Bubu sayang. Tumbuhlah menjadi anak yang baik dan berguna untuk dunia ini, ya. Jadilah anak yang berbakti kepada kedua orangtua sekaligus menjadi pembuka pintu surga untuk kami, Almeer Gibran Ghazi Radiansyah,"
* * *
Kini semuanya sudah berkumpul diruangan Elmira, mereka sangat heboh menyambut cucu mereka yang baru saja lahir kedunia ini.
"MashaAllah, idungnya Kak Rara banget, jadi pengen punya bayi," celetuk Alana.
"Wah parah tuh Ba! Mereka mau kawin lari," celetuk Alan membuat para orangtua mereka menatap Alana dan Husain bergantian.
"Bohong! Itu mulut harusnya ikut dijambak deh sama si Kakak!" kesal Husain.
"Ye situ yang ngomong minggu depan kawin, noh si Kakak ama si Cyra jadi saksinya," Alan semakin memanas-manasi para orangtua.
"Jangan jadi kompor lu ye, meleduk baru tau rasa!" ucap Husain.
Mirda dan Elmira hanya bisa menahan senyumannya ketika melihat kelakuan keluarga mereka yang somplak.
__ADS_1
"Bang, dedek mau dikasih nama siapa," tanya Elmira pada sang suami.
"Almeer Gibran Ghazi Radiansyah, kamu suka gak sayang?" Mirda mengelus kepala sang istri dengan lembutnya.
"Suka sayang, panggilannya Ibam ya!" pinta Elmira.
"Boleh sayang," ucap Mirda sambil mencium kening sang istri.
Ekheeemmmm!
Suara deheman membuat Elmira dan Mirda menjadi salah tingkah.
"Dunia serasa milik berdua, yang lain mah ngekost! Mana nunggak lagi," celetuk Alan.
"Makanya nikah, biar tau rasanya!" ledek Mirda membuat Alan mencebik kesal.
"Tunggu! Ngomong-ngomong nikah, gimana judulnya itu si Mail sama si Abang mau kawin? Baba aja belom dikasih tau," ketus Baba Jafran.
"Ini baru kita mau ngomong, begini keluarga kami tersayang. Aku sama Alana pengen akad dulu, setelah Pemilu selesai baru aku resepsian. Kalian setuju kaan?" tanya Husain.
"Alah alah eta budak teh, main ngambil keputusan gak ngomong dulu sama orangtua?! Ummi kan kudu nyiapin ini itunya, mana cukup waktu seminggu," kesal Ummi Ulil.
Alana menghampiri Umminya, dia memeluk sang Ummi dengan erat.
"Maaf ya, Ummi. Tapi semuanya udah beres, aku sama Abang udah nyiapin semuanya. Maaf gak bilang, soalnya kalian pasti riweuh kalo kita bilang duluan," ucap Alana.
"Miii... Aa juga mo kawin, Mi!" rengek Alan seperti anak kecil.
"Tanya noh si Rere, mau kagak kawin sama orang macem ente begitu," celetuk Husain.
"Udah pasti mau Rere nya?" ledek Cyra membuat Alan kesal.
"Lu jadi ipar nyebelin banget sih," Alan mencebik kesal dan hal itu membuat mereka tertawa. Menggoda Alan adalah kebahagiaan tersendiri bagi mereka.
* * *
Elmira dan Mirda tengah menikmati peran barunya sebagai orangtua, kini mereka berdua sedang bergadang sebab sang putra baru mendapat imunisasi pasca lahir.
"Kamu istirahat aja sayang, biar Abang yang jagain dek Ibam," titah Mirda.
"Abang gak cape? Kan Abang juga baru pulang satgas," lirih Elmira.
"Sayang, kamu lebih capek sudah berjuang melahirkan putra kita. Besok pagi, Betrysda sama Sonia kesini buat tengok Adek Ibam sekalian anterin Kaka Sweta. Jadi Abang bisa istirahat," ucap Mirda dan Elmira mengangguk.
Pagi harinya, Elmira terbangun. Dia melihat sang suami yang tengah tertidur lelap dikursi bersama sang bayi dalam dekapannya. Elmira mengambil ponsel dan memotretnya.
"Terimakasih Yaa Allah, sudah memberikan kebahagiaan yang tak terkira untukku. Papa, Mama, aku bahagia. Bahkan sangat bahagia," lirih Elmira ketika mengingat kedua orangtua kandungnya.
Tak ingin berlarut, Elmira segera membersihkan dirinya. Perlahan dia berjalan menuju kamar mandi, dilihatnya seluruh ****** ***** dan kain samping bekas melahirkan sudah dalam keadaan bersih. Selepas sholat subuh, Mirda mencuci seluruh pakaian sang istri.
"Suamiku terbaik," ucap Elmira lalu perlahan membersihkan tubuhnya.
Jujur saja, tubuh Elmira masih sangat terasa sakit. Perjuangan untuk menjadi seorang ibu memang tidaklah mudah. Mendengar suara gemercik air dikamar mandi, Mirda terbangun.
"Sayaang kamu didalam?" teriak Mirda.
__ADS_1
"Iya Bang, sebentar ya!" ucap Elmira sambil membersihkan bekas darahnya.
"Abang masuk, ya! Biar Abang bantu!" Mirda mengkhawatirkan Elmira.
Tanpa mendengar persetujuan sang istri, Mirda menyelonong masuk. Akhirnya dia sendiri yang harus menahan hasratnya ketika melihat tubuh sang istri.
"Puasa Bang, puasa!" goda Elmira ketika melihat ekspresi wajah sang suami.
"Iya Abang tau, nanti Abang beli indomie satu dus!" celetuk Mirda lalu membantu Elmirs membersihkan tubuhnya.
"Kok indomie, Bang? Buat apa?" tanya Elmira yang keheranan.
"Yaa Allah sayang! Itu indomie kan isinya 40, jadi pas kan hitungannya," ucap Mirda membuat Elmira tertawa.
Betrysda datang bersama Sonia, bertepatan dengan Bunda Gisya yang juga baru tiba.
"Aduh mamae, saya mohon maaf ya! Ini anak dua ngapain dikamar mandi? Lihat ini anak tampan malah ditelantarkan begitu saja," ucap Betrysda dengan nada khas orang timur.
"Jangan traveling, jangan traveling, jangan traveling," gumam Sonia.
"Hush! Kan mesti puasa 40 hari, jadi gak mungkin mereka nganu-nganu!" ucap Bunda Gisya membuat mereka tertawa.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Elmira memekik kaget ketika yang dilihatnya pertamakali adalah rambut Betrysda yang mengembang.
"Yaa Allah, kaget! Aku kira sarang tawon," celetuk Elmira.
"Hei Bu Danki! Jang kau ledek-ledek sa macam itu, kalo tak ingin putramu itu menangis," ancam Betrysda.
"Jangan marah-marah dong, nanti gemes nya ilang!" goda Elmira.
"Sudahlah cepat bersiap, sebentar lagi kita punya rombongan itu datang untuk menengok kau," titah Betrysda.
Karena sang Danyon akan menjenguk putranya, Mirda tak jadi beristirahat. Dia menyambut para tamu, untung saja Ayah Fahri memintanya untuk mengambil ruangan VVIP. Elmira masih harus mendapat perawatan, sebab dulu Elmira pernah memiliki riwayat leukimia.
"Selamat sudah melahirkan putra yang sangat tampan ke dunia ini. Semoga kelak ia akan menjadi anak yang sehat, kuat, cerdas, dan tidak lupa menyayangi ayah dan ibunya. Semoga Allah memberikan berkah kepada anakmu dan memperluas rezekinya agar bisa tumbuh menjadi anak yang berbakti," ucap Bu Danyon sambil menggendong Ibam.
"Ijin Bu, semoga do'a baik ibu dikabulkan Allah dan terimakasih sudah berkenan meluangkan waktunya untuk menjenguk putra kami," ucap Elmira.
Kehadiran Gibran kedunia ini, membuat hidup Elmira dan Mirda lebih sempurna. Kini mereka sudah memiliki putra dan putri yang kelak akan mendo'akan mereka.
* * * * *
Hayooo siapa yang udah suudzon sama othor angkat tangan!!! ππ€£
Hayooo reader kasih kado apa buat dedek Ibam? π€β
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€
__ADS_1