
Gisya tersenyum senang, hari ini dia membantu kedua sahabatnya untuk melaksanakan pengajian 4 bulan kehamilan mereka. Berbagai pertanyaan muncul dibenak para tamu. Bagaimana tidak, Febri yang mereka ketahui belum pernah menikah kini sedang mengandung di usia 4 bulan 2 minggu. Gisya dan Yuliana terus menguatkan Febri, mereka saling menguatkan satu sama lain. Jafran yang sedang terbang ke Bali pun tidak bisa menemani istrinya. Bahkan Bunda Syifa masih berada di Palembang. Acara pengajian dilaksanakan dirumah Umma Nadia. Semuanya sudah diatur oleh Umma, Mama Lia, dan Mama Rini. Mereka saling membantu satu sama lain.
Selesai Acara, Gisya tiba-tiba membayangkan nikmatnya makan Cuanki Bandung.
"Biw, Lil. Makan Cuanki Serayu yuk! Enak kayaknya." ucap Gisya.
"Kamu ngidam Ca?" tanya Febri.
"Gak tau Biw. Tiba-tiba aja pengen makan Cuanki, rasanya kaya udah ada di lidah gitu. Terus minumnya teh manis dingin pakai jeruk nipis. Aduh! Hayukkk kita kesana yuukk! Beneran pengen banget ini." rengek Gisya.
"Yeee dodol! Itu namanya ngidam. Yaudah tunggu, aku cari orang dulu yang bisa nyetir. Kan gak mungkin semobil isinya bumil semua." ucap Yuliana.
Di Batalyon, semuanya sedang menyambut kedatangan Fahri bersama Dzikri dan beberapa anggota lainnya yang terluka. Mereka dipulangkan dan diberi masa istirahat hingga pulih dan bisa bertugas kembali. Fahri meminta Andina untuk merahasiakan kepulangannya dari Kongo. Fahri ingin memberikan kejutan pada istri tercintanya. Dzikri memeluk erat istri dan putranya. Luka yang dialami Dzikri masih membekas, dan itu semakin membuat Andina menangis tersedu-sedu.
Fahri sudah berada didepan Rumahnya, jujur dia sangat gugup dan sangat merindukan istri yang paling dicintainya itu.
"Caca lagi ke Acara 4 bulanan Febri sama Yuli, Om Fahri. Coba kalo Om bilang akan pulang, pasti Caca gak akan kemana-mana." ucap Andina.
"Gak apa-apa Bu, makasih udah merahasiakan ini dari istri saya." ucap Fahri.
"Sama-sama Om, dia pasti akan sangat bahagia. Untung aja dia selalu ditemani Indri, kalo enggak pasti.... " ucapan Andina menggantung.
"Pasti apa Bu? Apa ada sesuatu yang terjadi pada istri saya?" tanya Fahri.
"Aduhh hampir aja aku keceplosan." batin Andina. "Enggak ada apa-apa Om, kalo gak ditemani Indri pasti dia kesepian."
Andina hampir saja mengatakan hal yang tidak seharusnya dia katakan, untung saja Fahri tidak merasa curiga. Fahri masuk kedalam Rumah, dia memiliki kunci cadangan yang selalu dia simpan ditempat yang aman. Suasana rumahnya begitu nyaman, istrinya selalu dengan telaten membersihkan rumah. Fahri segera membersihkan diri dan membersihkan luka yang ada di bahu dan kakinya.
Suasana di tempat makan Cuanki sangat ramai. Syaina akhirnya yang menjadi sopir ketiga bumil tersebut, ditambah Ana yang menjadi asistennya.
"Teh Caca mau tambah lagi?" tanya Syaina.
"Boleh Ina, minta 1 porsi lagi yaa." ucap Gisya sambil memperlihatkan deretan giginya.
"Kamu laper apa doyan Gisya?! Yaa Allah udah 3 porsi itu yang kamu makan. Emang kamu gak engap gitu perutnya?" heran Yuliana.
"Aku masih pengen, emang gak boleh ya?" lirih Gisya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ish! Gak usah didengerin si Ulil mah! Sok makan lagi yang banyak, biar dede bayi nya happy didalem perut." ucap Febri.
Gisya melanjutkan Acara makannya, dia menghabiskan 4 porsi Cuanki dan 3 gelas es teh manis yang dicampur dengan jeruk nipis. Akhir-akhir ini selera makan Gisya memang lebih meningkat. Berbanding terbalik dengan Yuliana yang selalu merasakan mual dan muntah, begitupun Febri. Bahkan mereka baru-baru ini bisa menikmati enaknya makan. Karena kekenyangan, Gisya sudah tertidur didalam mobil. Syaina mengantarkan ketiga ibu hamil itu ke Rumah Gisya.
__ADS_1
Syauqi yang baru saja dihubungi oleh Fahri segera datang kerumah dinas kakak iparnya itu. Syauqi sungguh sangat bahagia melihat Fahri disana. Karena dia tau, jika kakaknya sangat mengkhawatirkan kondisi Fahri.
"Abaanggg!" teriak Syauqi berhambur memeluk Fahri. "Terimakasih sudah selamat."
"Ish! Polisi melow banget sih. Kamu jagain Caca kan?" tanya Fahri.
"Iyalah Bang, bahkan Calon istriku udah stay di Toko tiap hari. Soalnya Bunda lagi di Palembang nemenin Mama Abang. Abang udah kabarin mereka?" ucap Syauqi.
"Udah, tadi Abang langsung video call. Makasih ya Qi, udah jagain istri Abang."
"Cih! Dia itu juga kakak Uqi kalii. Udah kewajiban Uqi jagain Teteh." ucap Syauqi.
Rumah Gisya terlihat lebih ramai, Syaina membukakan kaca mobilnya dan dia turun dari mobil. Dia berniat meminta tolong pada Indra untuk mengangkut tubuh Gisya. Tapi betapa terkejutnya Syaina, ketika dia melihat Fahri disana sedang duduk dan berbincang dengan Syauqi. Syaina berteriak hingga Ana dan ketiga bumil itu terkaget.
"Bang Fahriii!!!" teriak Syaina.
Gisya yang mendengar Syaina menyebutkan nama suaminya, tersentak kaget. Dia melihat banyak orang berkumpul disana. Gisya tidak bisa melihat Fahri karena terhalangi oleh pagar dan beberapa orang. Pikirannya sudah tidak bisa berjalan dengan baik, dia menyangka jika sesuatu telah terjadi. Gisya turun dari mobilnya, dia berjalan dipapah oleh Ana. Sedangkan Syaina sudah berhambur ke pelukan Syauqi saking bahagianya.
Saat tepat didepan pagar, Gisya terhenyak. Bulir airmatanya tidak bisa lagi dia tahan. Dia melepaskan genggaman tangan Ana dan berlari memeluk Fahri. Hampir saja dia tersandung, untung saja Fahri bisa menahannya. Yuliana dan Febri yang melihat Gisya berlari sontak berteriak.
"Caca!! Gisyaaa!!" teriak mereka.
"Abang jahat! Adek kangen Abang! Adek nungguin kabar dari Abang. Abang kemana aja? Apa Abang gak tau Adek khawatir? Apa yang terjadi sama Abang? Abang gak ada yang luka kan?" tutur Gisya dengan berbagai pertanyaan.
"Abang baik-baik aja sayang." ucap Fahri memeluk erat istrinya.
"Caca kangen Abang. Makasih sudah berjuang hidup untuk kami." Lirih Gisya.
Suasana begitu haru, Febri dan Yuliana saling berpelukan. Sungguh saat ini mereka sangat bahagia dengan kepulangan Fahri. Gisya membiarkan para tamu berada diluar, dia menuntun suaminya untuk masuk kedalam kamar. Gisya memeluk suaminya dengan erat, menciumi setiap inci wajah suaminya itu.
"Terimakasih, Adek sudah setia menunggu Abang." ucap Fahri mengecup kepala istrinya.
"Adek yang harus berterimakasih, Abang mau berjuang hidup untuk kami. Tenyata Allah mendengar semua do'a-do'a kami." tutur Gisya.
"Kami?" Heran Fahri mendengarkan istrinya terus mengatakan kami.
Gisya berjalan menuju meja riasnya, dia membuka laci dan membawakan sebuah kotak yang berpita merah untuk Fahri. Gisya sudah menyiapkan semua itu, dia ingin menyimpan semua moment kehamilannya dalam kotak itu. Ada 3 buah amplop disana, amplop yang pertama adalah hasil tespek dan hasil darah milik Gisya. Di amplop kedua adalah foto USG pertama janinnya, dan amplop yang ketiga adalah foto Gisya yang sedang memeluk foto Fahri dan menunjukkan hasil tespeknya.
Fahri membuka amplop itu satu persatu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Di-dia sudah hadir disini? Kamu hamil sayang?" tanya Fahri.
__ADS_1
"Iya Ayah, dedek sudah ada dalam perut Bunda. Dedek yang menguatkan Bunda selama Ayah pergi bertugas." ucap Gisya sambil membawa tangan Fahri untuk mengelus perutnya yang masih datar. Fahri berlutut, dia mengelus dan mencium perut istrinya itu.
"Terimakasih jagoan Ayah, terimakasih sudah hadir disini. Ayah janji akan jaga kalian dengan baik." tutur Fahri sambil terus memeluk dan menciumi perut istrinya.
"Ternyata bukan cuma Abang yang memberi kejutan, tapi kamu juga memberikan kejutan ini buat Abang, sayang."
"Kejutan dalam kejutan Bang," ucap Gisya.
Saat kedua pasangan yang baru melepas rindu keluar kamar, mereka dikejutkan dengan kehadiran orangtua mereka. Semuanya sudah berkumpul disana.
"Mama, Papa, Bunda." lirih Fahri berhambur memeluk mereka satu persatu.
"Terimakasih sudah berjuang! Kamu prajurit tangguh!" ucap Hari memeluk Fahri.
"Selamat datang kembali anak Mama. Kamu anak yang kuat Abang, Mama tidak pernah berhenti mendo'akanmu, Nak." lirih Mama Risma.
"Alhamdulillah, Bunda bahagia kamu kembali. Istri dan calon anakmu sangat merindukan dan membutuhkanmu. Teruslah berjuang dan berdo'a pada Allah untuk keselamatan kalian." ucap Bunda Syifa memeluk erat menantunya itu.
Mereka semua berkumpul disana untuk melepas rindu, banyak sekali yang mereka bicarakan. Fahri terus saja merangkul Gisya, sambil mengelus perutnya.
"Heh! Gandengan muluk kaya perangko! Sini-sini Ca pindah!" kesal Yuliana.
"Dih syirik aja! Maklum dong baru ketemu istri." jawab Fahri.
"Yee gak liat neh yang lain juga gak ada tuh yang gandengan!" ucapnya lagi.
Bukannya menurut, Fahri semakin mengeratkan pelukannya pada Gisya. Yuliana yang kesal melempar bantal kearah Fahri.
"Dasar Tentara buciiiinnnnn!" geram Yuliana yang membuat mereka tertawa.
"Mas Andi, aku rindu." ucap Febri dalam hatinya.
Dia sungguh ingin merasakan hal seperti yang Gisya rasakan.
* * * * * *
Gimanaa suka gak ceritanya? 🙂
Dukung Author terus yaa!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1