Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 27. Berita Mengejutkan


__ADS_3

Setelah Acara Lamaran kemarin, hari Minggu ini Risma ingin mengajak calon menantu dan sahabat-sahabatnya untuk pergi rekreasi. Risma ingin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan mereka sebelum pulang ke Palembang. Sayangnya, Fahri tidak bisa ikut serta karena dia akan bertugas hari ini.


"Beneran kamu gak akan ikut kita, Bang?" tanya Risma untuk kesekian kalinya.


"Bener, Ma. Abang ada tugas hari ini sama Danki. Abang titip calon istri aja, takut ada yang nyolek dijalan."


"Hush! Kamu kira calon mantu Mama itu sabun, pake di colek-colek segala!" kesal Risma.


Hari ini rencananya mereka akan pergi ke Lembang, mereka ingin menghabiskan waktu untuk menikmati suasana yang sejuk. Syauqi menyetir mobil yang membawa anak-anak muda, sementara Hari membawa mobil yang berisikan ibu-ibu. Mereka benar-benar sedang mengenang masalalu mereka.


"Inget gak siih dulu kita nekat jalan-jalan kesini pake mobil Papa kamu, Ris. Sampe gak berani pulang karena ditilang Polisi." Ucap Rini.


"Hahahaha, iya bener! Bandel banget ya dulu kita, sampe pergi jauh gak bilang orangtua. Alhasil pulang kuping langsung kaya kuping Gajah." Tutur Risma.


"Mama bandel banget ternyata ya waktu muda. Coba ceritakan dong gimana kelakuan istri saya waktu jaman dulu." pinta Hari.


Mereka mengingat-ngingat tingkah mereka saat masa sekolah dulu, setelahnya mereka hanya saling menatap dan tertawa.


"Aduh banyak banget ya kekonyolan kita dulu. Kalian inget kan, dulu saking konyolnya kita pergi naik bis untuk jalan-jalan ke Alun-alun Bandung. Tapi pas udah disana, kita malah cuman jajan surabi dibungkus terus balik lagi pulang. Malah pake bis yang sama lagi! Kondekturnya sampe gak percaya sama kita. Disangka nya kita gerombolan anak-anak yang suka nyopet!" cerita Nadia.


"Malu banget aku kalo inget itu, kita berlima udah kaya tersangka di introgasi sama kondekturnya. Untung aja ditolongin Ibu-ibu yang bilang kalo dia kenal sama orangtua kita. Aduh bisa gitu ya kita dulu." tambah Lia.


"Wuih kalian konyol banget ya dulu! Hahahaha, aku menemukan bagian konyol dari masalalu istriku." celetuk Hari.


Suasana berbeda dirasakan di mobil para anak muda. Fabian yang terus mengajak Syaina berbicara, membuat Syauqi merasa kesal. Ingin rasanya Syauqi membungkam mulut mereka, tapi rasanya tidak mungkin.


"Dunia sempit banget ya, jadi kalian temen SMP?" tanya Gisya.


"Iya Teh, dulu Ina tinggal di Palembang. Tapi semenjak Ibu meninggal, Ina sama Ayah memilih untuk pulang ke Bandung. Ayah gak mau Ina sendirian, karena Ayah kan kerjaannya pergi-pergi terus." jawab Syaina.


"Tapi Ayah kamu udah gak pernah mukulin kamu lagi kan Ina?" tanya Fabian.


"Emm, nggak Bian." jawab Syaina ragu.


Mereka semua terhenyak mendengar pertanyaan Fabian, pasalnya beberapa kali Gisya pernah melihat luka lebam di wajah dan tangan Syaina. Tapi Syaina selalu mengatakan jika itu luka karena dia terjatuh. Syauqi pun merasa jika gadis itu menyembunyikan sesuatu. Syauqi memutuskan akan mencari tahu sendiri latar belakang gadis itu.


Setelah sampai di Floating Market, mereka berwisata kuliner dan berjalan-jalan disana. Mereka sangat menikmati waktu kebersamaan itu, hingga satu berita mengejutkan datang dari Febri yang tiba-tiba saja menangis histeris dan pingsan.

__ADS_1


"Febriii!!" teriak Gisya dan Yuliana.


"Kamu kenapa nangis Biw? Bilang sama kita ada apa?" tanya Gisya.


Febri masih menangis histeris, lalu dia tidak sadarkan diri.


"Ada apa ini? Kenapa Ebi pingsan?" tanya Mama Rini.


"Gak tau, Ma. Tadi dia buka hp, tiba-tiba nangis terus pingsan." Jelas Yuliana.


Gisya mengambil ponsel Febri, betapa Gisya sangat terkejut membaca pesan yang dikirimkan oleh Serda Rizal.


✉️  Serda Rizal


Assalamualaikum, mohon maaf saya ucapkan sebelumnya. Tapi saya harus menyampaikan pesan ini kepada Mbak Febri. Saat ini Lettu Andi dinyatakan hilang saat membantu mengevakuasi korban bencana Longsor. Kami mohon do'anya untuk Lettu Andi, semoga beliau dapat segera ditemukan dan di Evakuasi. Kuatkan hati Mbak Febri, karena Lettu Andi tidak ingin Mbak bersedih. Do'akan dia Mbak.


"Innalillahi wa inna illahi rojiun" ucap Gisya terisak.


Semua orang menatap Gisya, mereka bertanya-tanya dengan maksud ucapan Gisya. Dia tidak mampu berkata-kata, dia hanya memberikan ponsel itu kepada mereka.


Sungguh mereka tidak bisa berkata-kata, Febri dibawa ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan. Gisya terus menghubungi Fahri, tapi sepertinya Fahri tidak membawa ponselnya.


Namun, kedua orangtua Andi tidak ada satupun yang mengangkatnya. Lalu Hari menelpon salah satu atasan Andi disana, ternyata memang benar saat ini Andi dinyatakan hilang. Kemungkinan tertimbun oleh Longsor susulan. Gisya dan Yuliana menangis berpelukan, mereka berdua adalah saksi cinta Febri dan Andi.


Tidak lama kemudian, Febri bangun dari pingsannya.


"Mas Andi." Lirih Febri.


"Sabar sayang, anak Mama kuat." Ucap Mama Rini memeluk Febri.


"Mama apaan sih, Ma! Mas Andi itu cuman hilang, bukan meninggal!" teriak Febri.


"Istighfar, Nak. Tenanglah, semuanya akan baik-baik aja."


"Ca, Lil. Please hubungin siapapun yang ada disana. Tanyain keberadaan Mas Andi, please tolongin aku." pinta Febri.


"Kita lagi cari tau Biw, tapi tolong tenang ya." ucap Gisya memeluk Febri.

__ADS_1


Sementara di Magelang, suasana sedang mencekam. Kejadian tanah Longsor disalah satu Desa mengakibatkan banyaknya korban jiwa. Saat itu Andi mendapat tugas untuk membantu dalam mengevakuasi korban bencana. Namun, siapa sangka bencana susulan itu datang. Andi beserta beberapa anggota Tim Basarnas dan Kepolisian yang sedang berusaha mengevakuasi korban ikut terseret.


"Lettuuuu!!!" teriak Serda Rizal.


Mereka semua yang ada disana memutuskan untuk mundur, demi mengurangi jatuhnya korban jiwa yang lebih banyak.


Sudah 2 hari berlalu, tapi Andi belum juga ditemukan. Febri memutuskan untuk pergi secara langsung ke Magelang, dia ditemani oleh Gisya dan kedua orangtuanya. Sungguh ini adalah mimpi buruk bagi mereka. Harusnya, hari ini Febri akan menghadap Pangdam kesatuan Andi untuk melakukan wawancara pengajuan pernikahan. Gisya selalu berada disamping Febri, dia takut jika Febri akan melakukan sesuatu yang nekat.


"Biw, kita balik dulu ke penginapan, yuk! Besok kita dateng lagi kesini buat cari Mas Andi. Ini udah siang, kamu juga belum makan apa-apa dari pagi." ajak Gisya.


"Aku masih mau nunggu Mas Andi, Ca." jawab Febri dengan tatapan kosong.


"Permisi Mbak, tolong jauhi area sini. Bencana susulan bisa saja terjadi." Pinta Rizal.


"Zal, kamu kan udah janji sama saya bakalan jagain Mas Andi. Kenapa kamu ingkar janji Zal? Kenapa kamu biarin Mas Andi pergi?" isak Febri.


"Istighfar Biw! Kita tidak bisa menyalahkan siapapun, ini takdir Allah Biw. Kita tidak bisa menolak takdir yang sudah Allah berikan, Mas Andi juga tidak ingin melihat kamu seperti ini. Kuatlah Biw, kamu harus kuat demi Mas Andi."


Gisya terus memeluk erat Febri dan menguatkannya. Namun, tubuh Febri benar-benar lemah. Fisik dan batinnya sangat lelah, hingga dia harus pingsan berkali-kali.


Rizal membantu Gisya menggendong tubuh Febri menuju posko bantuan. Disana Febri mendapatkan perawatan kembali. Bahkan tubuhnya harus mendapatkan infus karena memang sudah 2 hari ini Febri tidak makan. Sebenarnya saat ini pun Gisya sedang mengkhawatirkan Fahri, karena calon suaminya itu juga sedang pergi bertugas dan belum ada mengabari hingga saat ini. Bahkan mungkin Fahri pun belum mendengar berita tentang hilangnya Andi.


Dalam tidurnya, Febri memimpikan Andi. Dia melihat Andi memakai baju kebesarannya, baju Loreng yang setiap hari digunakannya. Andi menghampiri Febri dan memeluknya.


"Mas, jangan tinggalin aku Mas. Aku gak bisa kehilangan kamu, Mas."


"Dinda sayang, Mas tidak akan pernah meninggalkanmu. Mas selalu ada didalam hatimu, tolong Dinda jangan seperti ini. Menjadi istri seorang perwira itu harus kuat! Mas yakin Dinda pasti kuat. Maafkan Mas tidak bisa menepati janji, kamu harus tetap hidup bahagia. Maafkan Mas, Dinda sayang."


"Jangan lepasin pelukan ini Mas, jangan tinggalin Dinda, Mas."


Perlahan Andi melepaskan pelukannya, dia tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Mas Andii!!!" teriak Febri yang langsung terbangun dari tidurnya.


* * * * *


Dukung terus Author yaa!

__ADS_1


Maaf jika ada kesalahan 😊


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2