Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Gara-gara Si Alan


__ADS_3

Sudah tiga hari Sweta mendapatkan perawatan dirumah sakit, hari ini Sweta sudah diperbolehkan pulang. Elmira dapat bernafas lega, akhirnya bayi kecil kesayangannya ini dapat kembali ceria.


"Bm, mamam mamam bububu," gumam Sweta dengan bahasa bayinya.


"Uunch! Gemeessss banget sihh Bubu sama kamu, Nak. Sweta mau mamam sayang? Bubu siapin dulu ya," ucap Elmira sambil membuatkan makanan bayi untuk Sweta.


Tak lama kemudian, datanglah Bunda Gisya bersama Ummi.


"Waahh, anak Oma mau pulang ya, Nak." ucap Bunda Gisya.


"Ckckck, menolak tua banget sih kamu, Ca! Yang namanya dipanggil Oma, itu udah pasti sama cucu. Gak mungkin anak manggil Ibunya Oma!" protes Ummi Ulil.


"Syirik aja sih kamu, Lil!" kesal Bunda Gisya.


"Yee bukannya syirik! Aku tuh cuman meluruskan kamu dari jalan yang belok, Ca," ucap Ummi Ulil membela diri.


"Udah udah! Kok dateng-dateng malah pada ribut, liat tuh diliatin Sweta, Mi," ucap Elmira pada Ummi Ulil.


Mereka menoleh pada Sweta yang duduk diranjang sambir berceloteh.


"Yaa Allah, gemes banget sii Swetaaaaa, jadi pengen punya bayi lagi," ucap Ummi Ulil.


"Bikin yuuk, Mii..." rengek Baba Jafran yang baru saja masuk bersama Ayah Fahri.


"Suka gak tau diri deh kamu Ba! Inget umur!" kesal Ayah Fahri.


"Sorry ya ane mah tua-tua keladi, makin tua makin beraksi ya gak Mi?" tanya Baba Jafran sambil menaik-naikkan kedua alisnya.


"Ish! Dasar aki-aki nurustunjung!" kesal Ummi Ulil membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


Jika Elmira saat ini disibukkan oleh Sweta, berbeda dengan Mirda yang saat ini tengah gelisah menunggu kehadiran sang detektif andalannya. Siapa lagi jika bukan Alan? Hanya karena seorang Elmira, Mirda sampai melakukan hal yang dipinta oleh Alan. Bukankah itu artinya Mirda sudah membuktikan jika dia mencintai Elmira?


Alan menyeringai puas saat melihat Mirda dari kejauhan.


"Let's play the game!" ucap Alan sambil tertawa menyeringai.


Plaaakkk!!


Satu geplakan dengan keras mendarat dikepala Alan.


"Sakit wooy!! Lu mah sok teu kira-kira kalo mukul!" kesal Alan sambil mengelus kepalanya.


"Emang pantes lu dipukul! Gedeg gua punya kembara kaya lu!" geram Alana.


"Lah ngapa lu marah-marah! Gua kan cuman minta kalian bantuin gua doang! Demi Kak Rara ini juga!" ucap Alan yang semakin kesal pada mereka.


"Heh! Maulana bin Jafran! Ente ngajak kita semua buat bantuin tapi kagak bilang rencana lu apaan! Gua kawinin sama komodo, mati lu!" kesal Husain sambil menoyor kepala Alan.


"Wah bawa-bawa nama partai lu! lupa gua! Sorry lah! Manusia kan tempatnya khilap dan dosa," jawab Alan dengan entengnya.


Setelah membisikkan rencananya, Alan segera menemui Mirda tentunya bersama Husain. Sedangkan Alana segera bergegas ke Rumah Sakit.


"Abang udah lama nunggu?" tanya Husain lalu mendudukkan dirinya disamping Mirda.


"Gak begitu lama, yaudah kita berangkat sekarang!" ajak Mirda.


"Sabar ngapa Bang, kagak sabaran banget sih!" ucap Alan sambil tersenyum.


"Kan biar cepet tau! Biar Abang gak makin banyak dosa karena suudzon!" ucap Mirda lalu menarik kerah kemeja Alan.


"Bang bukan kucing ini! Pake di giwing segala!" kesal Alan.


"Kalo gak gini kamu mah lama!" ucap Mirda yang membuat Husain tertawa puas.


* *


Kini mereka bertiga sudah berada di Rumah Sakit, mereka menggunakan kemeja dengan jas yang cukup panjang seperti detektif-detektif dalam komik.


"Beuh! Ganteng banget nih gua, anak siapa sih!" gumam Alan saat mengaca pada kaca mobilnya. Sedangkan Mirda dan Husain merasa risih dengan pakaian itu.


"Kenapa gak pake baju biasa aja sih? Ini lagi mesti pake topi-topi begini! Berasa jadi penjahat deh gua," keluh Husain lalu melepaskan topi itu.


"Yaudah kagak usah dah! Batalin aja udah!" ucap Alan merajuk.


"Eits! Pakai topinya Husain!" titah Mirda pada Husain.


"Dasar bucin! Tapi ogah ngaku!" gerutu Husain tanpa bisa didengar orang lain.


Tepat saat mereka tiba, mereka melihat Elmira yang keluar dari ruangan Sweta bersama laki-laki yang dilihat oleh Mirda saat berada di IGD.

__ADS_1


"Nah itu laki-laki yang Abang lihat waktu itu!" ucap Mirda dengan suara yang cukup keras membuat Alan membekap mulutnya.


"Ngomong nya pelan, Bang! Bisa ketauan kita nanti," ucap Alan dan Mirda mengangguk.


Husain terus menahan tawanya saat melihat tingkah Alan dan Mirda yang mengendap-endap mengikuti Elmira.


Ternyata Elmira sedang menyelesaikan administrasi ruang perawatan Sweta.


"Biar aku aja yang bayar, Mas. Sweta tanggung jawab aku," ucap Elmira.


"Gak bisa gitu dong, Sweta juga tanggung jawab aku Elmira. Bagaimanapun malam itu, semuanya kesalahan aku juga. Kalo aja malam itu aku gak mabuk, pasti semuanya gak akan terjadi," ucap Faza membuat otak Mirda traveling ketika mendengarnya.


"Jadi Sweta itu anak mereka?!" ucap Mirda dengan suara yang cukup lantang dan dengan refleks Husain dan Alan membekap mulutnya.


"Yaa Allah Yaa Robbi, bucin boleh dah! Bodo jangan Bang! Alamat ketauan ini mah!" kesal Alan sambil mencomot mulut Mirda.


"Sakit Alan!" kesal Mirda sambil menginjak kaki Alan.


"Awwwww! Sakit Abang! Lagian itu mulut berisik amat sih!" kesal Alan memegangi kakinya.


Tanpa mereka sadari, sejak tadi security dirumah sakit menaruh curiga pada ketiganya.


"Hayohh kalian gak bisa lari lagi!" ucap security bernama Pak Salim.


"Eh eh eh! Tunggu pak ada apa ini?" tanya Husain sambil memberontak.


"Kalian pasti komplotan pencuri HP dirumah sakit ini kan?! Ayo kita bawa ke Pos!" ucap Pak Salim lalu membawa ketiganya ke Pos Security.


"Enak aja! Kita bukan maling Pak! Masa ada maling seganteng ini!" teriak Alan memberontak dari cengkraman sang security.


"Muka ganteng gak jadi jaminan orang baik! Jangan banyak omong! Seret mereka!" ucap Pak Salim sontak membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Elmira melihat ada keributan di Rumah Sakit, matanya langsung terbelalak ketika melihat ketiga orang yang sangat dikenalinya.


"Bang Mirda, Alan, Husain?" ucap Elmira saat melihat ketiganya.


"Pak stop Pak! Ada apa ini?" tanya Faza pada Pak Salim.


"Ini Pak, sepertinya mereka ini komplotan maling HP yang suka menyelinap kedalam ruang perawatan pasien!" ucap Pak Salim.


"Kak Raraaaa....." rengek Alan dan Husain bersamaan.


"Hahahahahahahahahahaha," tawa Elmira pecah. "Lepasin Pak! Mereka ini adik-adik saya," ucap Elmira sambil mengusap airmatanya karena tertawa terlalu keras.


"Iyaa, saya jamin mereka orang-orang baik. Tolong lepasin ya, Pak Salim," pinta Elmira.


Setelah dilepaskan, Alan menatap tajam pada Pak Salim.


"Eitss, jangan salahkan hamba, suruh siapa kalian ngendap-ngendap kaya maling," ucap Pak Salim yang tak mau disalahkan.


"Makanya nongton pilm detektip! Biar tau, udah baju keren gini disangkain kang maling hp!" kesal Alan sambil membenarkan kemejanya.


"Abis tampangnya juga mendukung! Udah kalian ikut keruangan Sweta sekarang!" titah Elmira dan diangguki keduanya.


Jangan tanyakan bagaimana wajah Mirda saat ini, dia sangat malu atas tingkah konyol yang dilakukannya. Ingin rasanya Mirda bersembunyi didalam Kawah Gunung Berapi.


Ceklek


Suara pintu terbuka, semua orang yang berada disana menatap kearah suara. Mereka terlihat menahan tawanya ketika melihat tiga orang yang mengenakan baju ala detektif.


"Buahahahahahahaaha," tawa Alana sudah tak bisa tertahan lagi, begitupun juga dengan mereka semua yang berada diruangan itu.


"Baru liat aja udah pada ketawa kan? Apalagi kalo kalian tau, tadi mereka disangka komplotan tukang maling HP!" ucap Elmira membuat mereka semua semakin tertawa dengan kencangnya.


"Puassss? Puaaaaaasss? Dasar orangtua durjanah! Anaknya begini malah diketawain," kesal Alan sambil melipat kedua tangan didadanya.


Elmira menatap Mirda dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah mengerti mereka semua meninggalkan Elmira dan juga Mirda. Sambil menunggu Sweta yang masih tertidur, baru setelah itu mereka akan pulang bersama-sama.


"Jadi apa alasan Abang bertingkah konyol seperti ini?" tanya Elmira yang duduk dihadapan Mirda sambil melipat kedua tangan didadanya.


"Mm, maaf Elmira," ucap Mirda yang menunduk seperti seorang tersangka.


"Aku butuh penjelasan, Abang! Bukan kata maaf," ucap Elmira.


Perlahan Mirda mulai mengangkat wajahnya, dia menatap dalam manik mata Elmira.


"Karena aku mencintaimu Elmira, kehidupanmu sekarang membuat kepalaku hampir pecah. Banyak sekali kejutan yang kamu berikan. Pertama Om Chandra, kedua Sweta, ketiga Faza lalu Rian? Pernikahan, anak? Apa ini Elmira? Aku begitu tersiksa dengan beribu pertanyaan dalam benakku," ucap Mirda sambil menahan emosi yang bergejolak dalam dadanya.


Mirda berdiri dan menghadap jendela, dia sangat frustasi dan malu karena kelakuannya. Perlahan Elmira bangkit dari duduknya, dia menghampiri Mirda dan menggenggam erat tangan Mirda. Keduanya saling menatap penuh kerinduan.

__ADS_1


"Kenapa gak Abang tanyakan langsung sama aku?" lirih Elmira menahan tangisnya.


"Aku merasa tak pantas Elmira, aku tak pantas untuk bertanya padamu. Terlebih ketika aku tau, jika Ayah akan menikahimu. Hatiku hancur, Elmira," ucap Mirda sambil menangkup kedua pipi Elmira. Mata mereka memancarkan kerinduan yang mendalam.


Elmira segera berhambur memeluk Mirda, dia sangat merindukan laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. Tak peduli apapun yang Mirda pikirkan tentangnya.


"Aku merindukanmu, Bang. Aku sangat merindukanmu," ucap Elmira dalam isak tangisnya.


Deg!


Batin Mirda ikut meringis ketika mendengar ungkapan rindu dari mulut Elmira. Rasa penasaran dalam hatinya terus menyeruak. Perlahan Mirda melepaskan pelukannya, dia menatap mata Elmira sekali lagi.


"Tolong jelaskan padaku, maksud perkataanmu barusan," ucap Mirda.


"Aku akan menjawab semua pertanyaan yang ada dalam benakmu, Bang. Tapi tidak sekarang, Sweta harus pulang hari ini," ucap Elmira sambil menatap Sweta yang sudah menggeliat dalam tidurnya.


"Kalian akan pulang bersama Abang, biar Abang ijin sama Bapak," ucap Mirda dan Elmira mengangguk patuh.


Sedangkan di Kantin, Alan dan Husain terus berdebat mengenai siapa yang salah.


"Semua ini gara-gata si Alan, Bun! Coba kalo dia gak berisik, pasti gak akan ketauan!" ucap Husain sambil menyantap semangkuk Baso.


"Heh Bambang!" ucapan Alan terpotong oleh seorang cleaning service.


"Iya Mas, panggil saya?" tanya Bambang sang cleaning service.


"Eh, enggak Mas!" jawab Alan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Mendengar semua itu, mereka semua tertawa terbahak-bahak. Membuat semua orang yang berada di kantin ikut tertawa. Bahkan Husain hampir saja tersedak baso.


"Tawa aja terooosssss! Keselek baso Innalilahi lu!" celetuk Alan.


"Do'ain kita mati keselek baso kamu, A!" kesal Ummi Ulil menggetok kepala putranya itu.


"Sumpah ya! Semuanya juga karna si Bang bucin tau! Kalo dia kagak rese nginjek kaki gua, ya kagak bakalan ketauan!" kesal Alan sambil mengelus kepalanya.


"Gatot gatot! Rencana lu sia-sia A!" celetuk Alana.


"Gimana rasanya di grebek satpam A? Malu ya?" tanya Baba Jafran menggoda.


"Yaiyalah! Masa yaiyadong! Duren aja dibelah, bukan dibedong! Lagian ya si Baba, mana ada di grebek satpam dia happy salto-salto!" kesel Alan.


Mereka semua terus menggoda Alan dan Husain, sambil sesekali menjahili.


"Udah udah, kita pulang sekarang yuk! Terusin dirumah aja ngobrolnya," ucap Bunda Gisya.


"Lah si Kakak sama si Abang gimana?" tanya Husain.


"Mereka pulang bareng, kita tunggu aja dirumah!" ucap Bunda Gisya, karena tadi Elmira mengirimkan pesan padanya.


"Bun main pergi pergi aja! Bayarin dulu dong!" celetuk Alan.


"Idiihhh judulnya pengusaha, jajan baso aja minta Bunda. Bayar sendiri lah! Lagian Mission Failed! " ledek Bunda Gisya.


"Semuanya nih, gara-gara si Alan!" ucap Husain dan Alana bersamaan.


"Iyalah gua salah dah, Alan yang salah Bun! Gara-gara SI ALAN!" ucap Alan sambil menekankan setiap katanya. Lalu dia mengeluarkan dompetnya untuk membayar.


Dompet Alan sangat penuh dengan lembaran uang berwarna merah dan biru.


"Buset duit banyak masih malakin orang tua! Bagi duitnya dong! Kalo nggak nanti kamu jadi judul sinetron ikan terbang tau A!" ucap Ummi Ulil.


"Apaan tuh Mi?" tanya Baba Jafran.


"Seorang Anak mati kesamber geledek karena pelit...." ucapan Ummi Ulil terpotong.


"Naudzubillah Ummi! Nih Aa kasih duit buat Ummi, tapi besok-besok kagak usah nonton sinetron ikan terbang lagi!" ucap Alan bergidik ngeri.


"Bisa diatur!" ucap Ummi Ulil sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Bagi-bagi, Mi! Biar gak jadi judul sinetron ikan terbang," bisik Baba Jafran.


"Dasar suami durjanah!" gumam Ummi Ulil.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2