
Hai.. hai.. maaf ya, beberapa hari ini othor sibuk sesibuk-sibuknya..
Othor memutuskan untuk mempercepat ceritanya ๐
Beberapa Bab lagi, cerita ini tamat yaa ๐ค
Terimakasih kepada pembaca setia othor โคโค
* * *
"Dari setiap detak jantungku, yang kuingat hanya namamu, meski hatimu bukan milikku."
Waktu terus berlalu, tak terasa setahun berlalu begitu cepat. Kondisi Ibam jauh lebih baik, bocah yang kini hampir berusia 2 tahun itu mampu melawan sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Elmira dan Mirda benar-benar memberikan hidup mereka untuk sang anak. Sweta kini sudah berusia 4 tahun, anak angkat Elmira itu pun sangat tumbuh dengan baik. Pada akhirnya mereka membawa Sweta tinggal bersama Elmira di Singapore.
Elmira menutup mulutnya seolah tak percaya, "Bang! Hasilnya positif," lirih Elmira dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah, Yaa Allah..." Mirda memeluk erat tubuh sang istri. Setelah perjuangan panjang badai kehidupan rumah tangga mereka, akhirnya sebuah harapan baru muncul. Sweta dan Ibam akan resmi menjadi seorang Kakak.
Kebahagiaan pun dirasakan oleh Husain dan Alana, keduanya di karuniai dua anak kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Keduanya tengah menikmati nikmatnya menjaga kedua buah hati nya yang kini hampir berusia 7 bulan. Fathan dan Fahira, itulah nama yang di berikam oleh Husain dan Alana.
"Papoy, anak-anak di titip di Mbak aja, ya! Kasian kalo mereka ikut, pasti kepanasan. Lagian aku mau fokus pada acara ini, aku mau......"
Husain memeluk tubuh sang istri yang tak sanggup meneruskan kata-katanya. "Aku ngerti sayang, kita sama-sama kehilangan! Jangan terus bersedih, aku gak mau anak-anak ikut sedih karena Mamoy nya sedih!"
Acara apakah yang di maksud Alana?
Saat nadimu pergi.. Malam mendingin dan sepi..
Perih pedih merintih.. Coba mengerti sendiri..
Nyalanya mati.. Matikan hati..
Aku melangkah.. Tanpa mengarah..
But you can go.. You can go..
Bukan ku tak terima.. Garis nyata yang digariskan..
Perih pedih merintih.. Coba mengerti sendiri..
Mungkin kau bertanya..
Apa bisa? Tanpa dirimu..
Aku disini.. Mencoba menerima..
Pergilah dengan tenang.. Ku kan tetap berjalan..
But you can go.. But you can go.. But you can go..
Don't wanna lose you.. But you can go..
I'm not done with you.. But you can go..
So scared to live.. Without you yeah..
But you can go.. But you can go..
Want you to be live.. But you can go..
Can't come with you.. But you can go..
I'll miss you so much.. But you can go..
Now you can go.. Now you can go..
Sebuah tenda sudah berdiri di atas gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama seorang perempuan yang sangat amat dicintainya. 40 hari sudah kepergiannya, namun luka yang di torehkan masih teramat dalam.
Seorang laki-laki duduk bersimpuh dengan seorang bayi perempuan dalam gendongan nya. "Assalamu'alaikum bidadari surgaku, lihatlah putri kecil kita sudah berusia 3 bulan! Dia sangat cantik, sama sepertimu. Aku beri dia nama Alesia, Alan dan Theresia! Bener kata Baba sayang, aku emang turunan Baba! Gak bisa memberikan nama yang bagus!"
Laki-laki itu tersenyum getir, dia adalah Alan. Tiga bulan yang lalu, Theresia melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Namun dia mengalami pendarahan hebat hingga menyebabkan dirinya koma berbulan-bulan. Empat puluh hari yang lalu, Theresia mulai siuman. Hanya satu hari, dalam satu hari itu kondisinya sangat stabil. Dia mampu menggendong buah hati tercintanya. Namun pada akhirnya, dia menghembuskan nafas terakhirnya sambil memeluk putri kecilnya.
"Aa... Ja-jaga putri ki-kita dengan ba-baik.. Ja-jangan terla-lu bersedih.. A-aku ba-bahagia men-ja-di is-trimu.. Bim-bimbing a-aku Aa.." pinta Theresia terbata.
Alan mendekatkan bibirnya ke teling sang istri, "La illaha illallah... La illaha illallah... La illaha illallah..."
Tiiiiiiiittttt....
Suara monitor membuat putri kecilnya itu menangis dalam pelukan sang Ayah yang kini memeluk jasad ibunya. "Aku ikhlas sayang, pergilah bidadari surgaku..."
__ADS_1
Alan berjanji pada istrinya, dia akan menjaga dan merawat Alesia dengan baik. Laki-laki itu terlihat sangat tegar, dia bahkan mengurus dan merawat putrinya sendiri. Walaupun terkadang Ummi, Bunda dan Alana ikut merawat putrinya.
Tidak mudah bagi Alan menjadi seorang Ayah sekaligus Ibu bagi Alesia. Tapi dia selalu meyakinkan dirinya bahwa dia bisa dan dia mampu.
Tepat disamping Alan, Thoriq bersimpuh dihadapan makam sang adik. Dia sudah ikhlas menerima, jika adiknya itu berpulang terlebih dahulu. "Bidadariku, Kakak datang! Lihatlah, putrimu sangat cantik. Kakak beruntung, gen kamu menurun padanya! Daripada Pipi nya yang gesrek!"
Tawa yang keduanya keluarkan terasa hambar, "Kamu adalah Mimi terbaik bagi Alesia, Allah pasti akan menempatkanmu di Syurga nya. Kami akan selalu mendo'akan kamu dan memberikan kasih sayang terbaik bagi Alesia."
Kini di makam Theresia, keluarga Alan sudah berkumpul. Mereka mendo'akan Theresia, membaca yasin bersama. Malam nanti akan diadakan acara tahlilan 40 hari kepergian Theresia. Karena itu, mereka ziarah dan mendo'akan Theresia.
Sedangkan ditempat lain, seorang perempuan hebat kini tengah merasakan semilir angin yang menerpa tubunya. Sudah hampir setahun ini dia tinggal disebuah tempat bernama 'Pelangi House'. Dia berjuang melawan dirinya sendiri, mental nya perlahan hancur oleh ucapan-ucapan manusia-manusia yang menganggap dirinya benar.
Bukan tak memiliki iman, tapi tekanan-tekanan itu mampu menghancurkan mental seseorang dari dalam dirinya. Semua ucapan, hinaan, cacian dan makian terus berputar dalam memori ingatannya. Hanya dia... Hanya dirinya sendiri yang mampu melawan semua itu.
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat dirinya menoleh dan tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, "Mama..... Papa......"
"Sudah siap, sayang?" tanya Mama Febri dan Cyra mengangguk.
Ini pertama kalinya Cyra akan keluar dari 'Pelangi House', selama setahun ini dirinya terus berjuang melawan semua bisikan-bisikan yang ada dikepalanya. Berkat dukungan semua orang, pada akhirnya Cyra mampu berada di tahap ini. Bahkan kini, walaupun sebelah rahimnya kini telah diangkat tapi Cyra mampu mengikhlaskan hidupnya.
Tempat pertama kali yang akan dikunjungi nya adalah makam Theresia, hatinya terluka tatkala mendengar kepergian adik ipar tersayangnya itu. Pagi itu Cyra merasakan kelegaan dalam hatinya, dia siap bertemu dengan seluruh keluarganya. Sebab selama setahun ini dia memilih untuk tidak berhubungan dengan siapapun.
Mereka tiba saat semuanya baru selesai membacakan yasin, Cyra tersenyum terlebih ketika melihat seorang wanita yang kini selalu menggenggam tangan suaminya, lebih tepatnya mantan suami. Apalagi terlihat sekali jika perempuan itu kini tengah mengandung, sebab perutnya yang terlihat membuncit.
"Aku ikhlas.. Aku ikhlas... Aku ikhlas..." batin Cyra.
"Cyra..." lirih Alana.
"Maafkan aku, Cyra.. Aku bodoh, sangat bodoh!" Thoriq merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Cyra melepaskan pelukannya, "Hai.. Mamoy, apa kabar?" tanya Cyra dengan suara parau nya. Alana lagi-lagi memeluk sahabatnya itu, "Aku gak baik-baik aja, tapi aku harus baik-baik aja! Begitu pun kamu, yang harus selalu baik-baik aja!"
Keduanya berjalan mendekati makam Theresia, Cyra duduk dan mengelus nisan yang bertuliskan nama adiknya itu. "Assalamu'alaikum, Re! Maafin Teteh, maaf atas segala kesalahan Teteh. Maaf baru bisa menemui kamu, walau pun dalam kondisi seperti ini."
Cyra menangis sesegukan, "Berbahagialah disana, Re. Teteh yakin, Allah akan menempatkanmu di Surganya. Sekarang kamu gak ngerasain sakit lagi, Teteh sayang kamu, Re!"
Isak tangis kembali terdengar disana, namun fokus Cyra teralihkan oleh tangisan bayi yang kini dalam pelukan Alan. "Sssttt.. Anak Pipi gak boleh nangis cantik, Ale kaget ya nak!"
Alan menggendong Alesia bergantian dengan Thoriq tapi sayang nya Alesia terus menangis. Cyra menghampiri mereka, "Boleh aku gendong?"
Thoriq dan Alan saling berpandangan, kemudian menganggukkan kepalanya. Thoriq memberikan Alesia pada Cyra. Dan ajaibnya, Alesia berhenti menangis begitu dalam dekapan Cyra.
"Anak Mimi Rere jangan nangis ya, Nak! Kamu anak yang kuat, karena kamu terlahir dari seorang perempuan yang kuat!" Cyra mencium bayi mungil itu, airmata tak surut mengalir dari mata indahnya.
"Apa boleh aku bicara sama kamu, Cyra?" tanya Thoriq, Cyra tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Boleh, Mas. Tapi izin dulu sama istrimu, jangan sampai hatinya terluka."
Jawaban Cyra cukup menyentak hati Thoriq, setelah meminta izin pada istrinya dia membawa Cyra sedikit menjauh dari sana dengan Alesia di gendongannya.
"Maafkan semua kesalahan Mas, Cyra. Mas mohon jangan pernah membenci, demi Allah Mas khilaf atas segala kesalahan malam itu," lirih Thoriq.
Cyra tersenyum, "Aku sudah memaafkan kamu, Mas! Aku juga gak benci kamu, malah aku bahagia. Pada akhirnya kamu akan memiliki anak, darah daging kamu sendiri. Hiduplah dengan bahagia Mas, kita cukup menjadi masa lalu dan menjadi pembelajaran di masa depan. Perlakukanlah istrimu dengan baik, mungkin jodoh kita hanya sebentar Mas! InshaAllah.. Aku sudah ikhlas, mari kita jaga tali silaturahmi ini, Mas!"
Perasaan Thoriq cukup lega setelah mengucapkan kata maafnya, "Ini ada titipan dari Rere, sebelum dia melahirkan dia menitipkan ini sama Mas. Amanah ini sudah Mas sampaikan, kamu juga harus hidup dengan bahagia, Cyra. Mas pamit!"
Ketika sebuah hubungan diawali dengan baik dan diakhiri dengan baik pula, maka kehidupan terasa lebih ringan tanpa harus merasa terbebani dengan semua luka hati. Selama berada di 'Pelangi House', Cyra lebih mendekatkan dirinya pada Allah dan lebih menikmati hidupnya sendiri.
__ADS_1
Mentalnya telah di hajar habis-habisan, maka dia harus membuktikan jika dirinya mampu bangkit dari sebuah keterpurukan. Cyra dan keluarga nya menuju kediaman Alan dan juga Theresia, mereka akan mengadakan Acara tahlilan disana.
Sesampainya disana, Alan mengambil Alesia dari gendongannya. Keduanya belum saling menyapa, ada sedikit keraguan dalam hati Alan mau pun Cyra untuk menyapa lebih dulu.
Cyra lebih memilih bergabung bersama para ibu-ibu yang kini sibuk mempersiapkan bingkisan untuk acara tahlilan nanti. "Masha Allah, keponakanku cantik dan tampan! Gemesin banget siihh anak Papoy sama Mamoy!"
Alana tersenyum lalu memberikan Fathan pada Cyra, "Nih, Mami kamu harus gendong kamu Fathan! Enak aja, dia bahkan gak ada disaat Mamoy mau lahiran!" keluh Alana membuat Cyra tersenyum.
"Ma-mami?"
"Iya! Dia akan panggil kamu Mami, anakku ini juga anakmu Cyra. Kelak aku akan butuh bantuan kamu untuk membesarkan anak-anak kita!" ucap Alana.
Husain menghampiri keduanya, "Bener, Mami! Awas aja kalo Mami pergi-pergi lagi, Papoy bakalan minta ajudan buat ngawasin dia 24 jam!" kesal Husain. "Kamu perempuan hebat, Ra! Maka anak-anak juga harus mendapat didikan yang hebat dari perempuan-perempuan hebat seperti kalian!"
Mereka saling berpelukan, tanpa sengaja Husain melihat sebuah amplop dari saku jaket Cyra. "Ini apa?" tanya Husain.
"Surat dari Theresia, Mas Thoriq yang kasih ke aku tadi!" jawab Cyra.
Husain mengumpulkan semua keluarganya, termasuk Thoriq dan Alan yang baru saja turun dari kamarnya. "Ada apa? Kenapa semuanya tegang? Kayak mau tempur aja!" celetuk Alan.
"Theresia menitipkan surat ini pada Thoriq sebelum melahirkan, aku berniat membacakan surat ini didepan kalian semua. Agar tidak ada kesalah pahaman di masa depan nanti, bisa saja surat ini berupa wasiat dari Theresia," papar Husain dengan jelas.
Mereka mengerti, perlahan Husain membacakan surat Theresia itu.
๐ผ๐ผ๐ผ
Assalamualaikum Mami Shanum,
Jujur aja, aku gak berharap apa pun dengan kondisi aku saat ini. Dokter bilang, kemungkinan aku melahirkan normal sangat kecil. Mengingat kondisi jantungku yang memang sudah tidak baik-baik saja. Saat menulis surat ini, jujur saja aku dalam kondisi sedang merindukanmu, Teh!
Maafkan aku, kabar kehamilanku rupanya menjadi salah satu faktor sakitnya Teteh. Terlebih kesalahan dan kebodohan yang dilakukan Kakakku. Aku mohon maaf sebesar-besarnya Teh Shanum, eh bukan! Lebih tepatnya Mami Shanum.
Andaikan jika Allah tidak memberikanku umur yang panjang, aku mohon tolong jaga putriku dan suamiku, Aa Alan.
Teteh tau sendiri kan gesrek nya dia kaya apa? Hehehehe, tapi aku suka! Aku sangat mencintainya, Teh Shanum! Tapi aku ingin putriku tumbuh dengan baik, diasuh oleh Ibu yang baik. Tolong Teh Shanum, penuhi keinginan terakhirku..
Jaga putriku... Dan menikahlah dengan A Alan.. Hanya Teteh yang bisa mengurus putriku dan A Alan dengan baik.. Sekali lagi aku mohon, maafkan aku.. Anggap saja ini sebagai wasiat dariku, sebab semua harta yang aku punys kelak akan menjadi milik putriku.. Aku ingin Teh Shanum yang mengurusnya dan membesarkannya...
Aku mencintai kalian, Theresia.
๐ผ๐ผ๐ผ
Mereka cukup tercengang ketika mendengar wasiat dari Theresia. Cyra tak bisa berkata-kata, dia menangis dipelukan Ummi Ulil. Sedangkan Alan hanya diam terpaku. Melihat itu, Thoriq kembali angkat bicara.
"Sebagai Kakak dan mantan suami, aku juga memohon agar kalian mau memenuhi wasiat dari adikku. Rere benar, hanya Cyra yang mampu mengurus dan membesarkan Alesia. Aku mohon, Alan..." Thoriq berlutut dihadapan Alan.
"Bangun, Mas! Jangan begini!" tegas Alan.
Alan meminta waktu untuk berpikir, ini terlalu cepat. Bahkan luka hati karena kehilangan istrinya masih membekas didalam dadanya. Alan kembali ke kamarnya, dilihatnya bayi mungil itu menggeliat. "Lucu banget sih kamu, Nak!" Alan menoel hidung mancung putri kecilnya itu.
Kemudian dia memeluk foto Theresia yang ada dalam kamarnya, "Aku merindukan suaramu, Re! Suaramu bagai sebuah simfoni dalam hidupku. Aku juga merindukan aroma tubuhmu, karena itu candu bagiku. Senyumanmu adalah perhiasan dalam hidupku, kenapa kamu meninggalkanku, Re?!"
Alan menangis dalam diam, dia tak ingin membangunkan putrinya itu. Hingga akhirnya dia terlelap sambil memeluk foto Theresia. Entah nyata atau hanya dalam halusinasi, Alan melihat Theresia tersenyum sempurna menggunakan gamis berwarna putih. "Raihlah cintamu Aa, aku titipkan putri kecil kita padamu dan Teh Shanum.. Aku mencintaimu, Alan. Hiduplah dengan bahagia...."
\* \* \* \* \*
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite ๐ฅฐ๐๐ฅฐ
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author โค