Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Penyesalan


__ADS_3

Tersenyum, dalam hati menangis. Itu kata-kata yang tepat bagi Cyra, tak dapat dipungkiri jika luka hatinya yang baru saja hampir mengering kembali basah karena luka yang lain.


"Mas lebih baik kamu racuni! Jangan pernah berpikir kalo Mas akan menikah lagi, dan satu hal lagi! Sampai mati pun, Mas tidak akan pernah menceraikan kamu! Kecuali.......... Allah mengambil nyawa, Mas! Saat itu juga Mas baru akan putus hubungan denganmu!"


Kata-kata Thoriq saat itu, menjadi salah satu alasan Cyra untuk bertahan dan sembuh dari seluruh luka batinnya. Cyra tau, semua nya bukan hanya kesalahan Thoriq semata. Tapi karena kesalahan dirinya juga yang tak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.


Malam ini, Cyra berjalan menyusuri taman sendirian. Dia ingin menikmati waktu kesendiriannya itu, menikmati setiap luka yang membuat hatinya perih. "Jangan ikutin aku ya, Ma! Aku butuh waktu sendiri, aku janji gak akan berbuat hal yang bodoh lagi!"


Dengan berat hati, Mama Febri mengabulkan permintaan putrinya itu.


Cyra berjalan sambil memeluk dirinya sendiri, merasakan dinginnya angin malam yang menerpa tubuhnya. "Aku kuat.. Aku kuat.. Aku kuat.."


Hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulutnya, air mata tak lagi Cyra tahan. Sebab dia selalu ingat kata-kata sang dokter, "Menangislah, jika dengan menangis membuat perasaanmu jauh lebih baik. Lawan semua kata-kata yang terngiang dalam kepalamu. Selalu ucapkan jika kamu adalah wanita yang kuat!"


Saat Cyra tengah hanyut dalam pikirannya, tiba-tiba saja sebuah jaket sudah menutupi tubuhnya. Cyra mendongak, rupanya laki-laki itu adalah Thoriq. Dengan segera, dia membuka jaket itu dan mengembalikannya. "Aku gak butuh itu, Mas. Makasih!"


Dengan langkah cepat, Cyra mencoba meninggalkan Thoriq. Namun......


Grep!


"Maafkan Mas, Cyra! Maafkan Mas! Laki-laki ini terlalu percaya diri, aku terlalu bodoh dengan meninggalkanmu!" Thoriq menangis sambil memeluk tubuh Cyra dari belakang.


"Lepas, Mas... Aku mohon...." lirih Cyra.


Thoriq semakin mendekap tubuh mantan istrinya itu, "Izinkan sekali saja, sekaliii saja.. Izinkan Mas memelukmu, untuk yang terakhir kali!"


Cyra terdiam, dia membiarkan Thoriq memeluknya dengan sangat erat. Tak dipungkiri, Cyra pun sangat merindukan Thoriq. Laki-laki yang sempat menemani hidupnya dalam susah dan bahagia.


Tiba-tiba saja hujan turun, Cyra melepaskan pelukan Thoriq. Dia berbalik dan menatap manik mata mantan suaminya itu. "Mas.. Aku sudah ikhlas, pergilah... Dia membutuhkan kamu, jadilah suami dan Ayah yang baik. Aku yakin, kamu adalah laki-laki yang baik. Jodoh kita hanya sampai disini, Mas. Biarkan aku kembali mengepakkan sayapku yang telah kamu patahkan. Biarkan aku menjahit luka yang kembali robek olehmu, biarkan.... biarkan aku menjalani kehidupan normal seperti manusia lainnya," ucap Cyra sambil menangkup kedua pipi Thoriq.


Selepas mengatakan itu, Cyra kembali berjalan ditengah hujan. Tubuh Thoriq melemah, dia menangis dan mengungkapkan semua penyesalannya. "Mas menyesal, Cyra! Aku menyesal melepaskan berlian indah seperti dirimu...."


Yang telah usai, biarlah usai. Berjalanlah dengan tegak, jangan pernah tunjukkan sisi kelamahan dirimu. Bangkitlah, bangkitlah Cyra!


Tatapan kosong, tubuh nya yang mulai menggigil tak mengurungkan niat Cyra untuk berhenti. "Tak ku pungkiri, sisa rasa ini masih dalam hati. Aku masih mengingat, pelukanmu yang hangat. Tapi aku pun masih mengingat, saat kamu pergi begitu saja, Mas! Aku menyesal, tak bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. Tapi aku juga menyesal, percaya pada semua ucapanmu!"


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu rumah Bunda Gisya, membuat Mama Febri segera beranjak dan membukakan pintu. "Yaa Allah, Cyra! Kenapa kamu hujan-hujanan sayang?" panik Mama Febri.


"Cyra seneng, Ma! Udah lama gak ujan-ujanan," jawabnya dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Yaa Allah, Nak! Masuk yuk, masuk! Ganti bajunya ya, Bunda bikinin kamu teh manis panas biar gak masuk angin," ucap Bunda Gisya yang tak kalah panik.


Cyra menganggukkan kepalanya, lalu dia masuk ke dalam kamar tamu. Dia berusaha tidak menunjukkan rasa sakitnya, sudah cukup semuanya. Cyra bertekad akan bangkit dan memulai kehidupannya kembali, kehidupan baru dengan status yang baru pula. Tak pernah terpikir dalam benak Cyra jika dirinya akan menjadi seorang janda di usia muda.


Ceklek


Baru saja Cyra keluar dari kamar mandi, dua orang bidadari dalam hidupnya kini tengah duduk berdempet disisi ranjang. Cyra bahagia dikelilingi oleh keluarga yang amat sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Makasih ya, Ma, Bun! Maaf udah bikin kalian khawatir," ucap Cyra penuh penyesalan.


Bunda Gisya mengusap rambut Cyra yang masih sangat basah, "Kamu itu anak yang kuat, Nak. Sama seperti Mama kamu! Tau gak, kamu itu sama kaya Bunda, penikmat hujan!" bisik Bunda Gisya.


"Iya penikmat hujan yang bikin Mama harus ceramah kultum! Sekarang Mama juga mau kultum sama kamu, lain kali......"


Ucapan Mama Febri terpotong oleh ucapan Cyra, "Maaf ya, Ma! Cyra sayang Mama."


Tak ingin lagi berkata, Mama Febri membawa tubuh putrinya itu dalam pelukannya. "Mama juga sayang sama Cyra, kamu adalah pelipur hati Mama. Kamu adalah permata hati, kamu adalah nyawa Mama. Kehadiran kamu membuat Mama menjadi manusia yang jauh lebih baik, Nak. Percayalah, usai hujan badai akan ada pelangi didepan sana."


Cyra menggelengkan kepalanya, "Pelangi hanya sesaat, Ma! Cyra gak mau kembali terjebak dalam sebuah kisah singkat. Saat ini Cyra cuman mau menata hidup kembali. Menjadi Ferandiza Chayra Shanum Faturachman yang baru!"


* * *


Pagi hari di kediaman Alan sudah riuh oleh suara tangisan Alesia. Sejak subuh tadi, tubuh putrinya itu tiba-tiba saja demam. Alan kelimpungan sendiri, untung saja Ummi Ulil selalu setia menemani putranya itu.


"Sayang.. Jangan bikin Papi khawatir, Nak!" lirih Alan.


Baba Jafran menepuk pundak putra kesayangannya itu, "Sabar! Insya Allah Ale baik-baik aja, kalo demamnya belum juga turun kita bawa ke Rumah Sakit!" ucap Baba Jafran.


Alan menganggukkan kepalanya, dia menatap kembali wajah Alesia yang kini berada dalam gendongan Ummi Ulil. "Kuatlah, Nak... Papi akan selalu melakukan yang terbaik untukmu!"


Ting tong...


Suara bel rumah Alan berbunyi, Baba Jafran bergegas turun dan membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Thoriq, dia datang bersama istrinya. Tujuannya adalah untuk berpamita.


"Walaikumsalam! Masuk.. Masuk.. Baba kira tadi siapa, sebentar biar Baba panggil dulu Alan. Alesia panas demam, dari tadi nangis terus!" ucap Baba Jafran.


"Kalo boleh, saya kesana aja, Ba! Kasian Alan kalo harus ninggalin Alesia," Baba Jafran mengangguk dan mempersilahkan Thoriq beserta istrinya masuk kedalam rumah.


Alan menoleh kearah pintu, "Eh Mas Thoriq, aku kira siapa! Masuk Mas!"


"Ale kenapa? Gak di bawa ke rumah sakit aja?" tanya Thoriq yang khawatir dengan keponakannya itu.


Ummi Ulil menjawab, "Jangan khawatir, mungkin Ale gak enak badan biasa. Udah Ummi kasih penurun panas, kalo nanti siang masih demam baru kita bawa ke Rumah Sakit."


Alan dan Thoriq mengangguk, "Alan, boleh kita bicara sebentar?" tanya Thoriq dan Alan mengangguk.


Kini keduanya sedang duduk berhadapan di ruangan kerja milik Alan. "Ada apa, Mas? Kayaknya ada hal serius yang mau Mas sampaikan?" tanya Alan memecahkan keheningan.


"Mas mau menyerahkan semua ini!" ucap Thoriq sambil memberikan berkas-berkas kepemilikan 'Thora Cafe & Resto'.


Alan mengerenyitkan dahinya, sebelum dia bertanya, Thoriq sudah mengatakan sesuatu hal yang membuat Alan mengerti. "Aku berikan semua ini pada Cyra, semuanya sudah aku balik namakan atas nama Cyra seorang. Rumah dan juga tanah sudah aku alihkan menjadi nama Cyra."


"Aku pamit!" ucap Thoriq.


Alan tersentak kaget, "Maksud Mas gimana?" tanya Alan yang belum memahami situasi yang kini terjadi.


"Aku pamit, Alan. Aku dan istriku akan memulai kehidupan baru kami, aku harus berusaha mencintainya dan melupakan kehidupan kelamku disini."

__ADS_1


Seketika suasana menjadi hening, Alan dan Thoriq larut dalam pikirannya masing-masing.


"Semalam aku menemui Cyra, penyesalan dalam hidupku adalah menyia-nyiakan perempuan baik seperti dia. Aku melanggar sumpahku, aku menjadi racun bagi diriku sendiri. Penuhilah wasiat adiku, Alan... Jangan sampai kamu merasakan penyesalan yang aku rasakan!" ucap Thoriq.


Kini Alan berada sendiri di ruangan itu, Thoriq sudah pergi bersama keluarga barunya. Alan menatap surat wasiat yang dibuat oleh istrinya itu. Pikirannya kembali teringat pada ucapan Thoriq. "Aku harus apa, Re? Aku harus apa?" lirih Alan.


Entah dalam keadaan sadar atau tidak, Alan merasakan Theresia memeluknya dan berkata, "Melangkahlah, Aa.. Rere ikhlas, bahagiakanlah putri kita dan kejarlah cintamu.. Aku bahagia karena pernah menjadi bagian dari hidupmu.. Pergilah.. Kejarlah.."


Bisikan itu membuat Alan mengerjapkan matanya, segera dia keluar dan menyambar kunci mobilnya. Hal itu membuat Baba Jafran tersentak kaget dan panik bukan kepalang.


"Alan!! Mauuuuulll!! Mau kemana kamu?!!" teriak Baba Jafran.


Namun Alan tak menghiraukan itu, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Tujuannya sekarang adalah rumah Bunda Gisya, dia ingin segera menemui Cyra dan membicarakan mengenai wasiat Theresia.


Sesampainya disana, Alan tak menggunakan adab bertamu. Dia membuka pintu begitu saja, hingga membuat mereka terlonjak kaget.


"Anak biawak!! Kamu bikin Ayah kaget aja!!" kesal Ayah Fahri, sebab kopi yang tengah di minumnya itu tumpah membasahi kaki dan juniornya.


"Huh.. Huh.. Huh.. Maaf Ayah! Darurat!" ucap Alan dengan nafas yang memburu.


"Kalo sampe melepuh, kamu Ayah masukin ke kandang singa!"


Alan tak memperdulikan ocehan Ayahnya itu, dia segera masuk kedalam rumah dan mengetuk pintu kamar tamu.


Tok.. Tok.. Tok..


"Cyra! Buka pintunya, kita perlu bicara!" ucap Alan. Tak ada jawaban, Alan kembali mengetuk dan kembali tak ada jawaban.


"Cyra udah pergi, Alan..." ucapan Mama Febri membuat Alan menoleh seketika. Terlihat raut wajah sedih di wajah Mama Febri. Alan mendekatinya dan menggenggam tangan Mama Febri.


"Katakan, Ma! Cyra pergi kemana?!" tanya Alan dengan tak sabarannya.


Mama Febri menundukkan kepalanya, hal itu membuat Alan semakin panik bukan kepalang. "Ma! Cepet bilang dong! Cyra pergi kemana, Ma?! Alan harus ngomong sama Cyra, tolong Ma!"


Tubuh Alan melemah, hal itu membuat mereka tak kuasa menahan haru dan tawa sekaligus. "Cyra pergi... Dia pergi ke......."


"Apaan sih, Mama! Kasian tuh si Alan, wong Cyra cuman pergi ke Pasar doang! Duuuhh lebay nya istriku!" celetuk Papa Zaydan.


Tau sendiri kan ekspresi Alan seperti apaa? 😁🀣😝✌


* * * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❀

__ADS_1


__ADS_2