
Hallo Reader...
Maaf author belum bisa jawab komen kalian satu-satu..
kondisi othor sudah jauh lebih membaik..
Othor hanya sanggup untuk UP, tapi komen kalian othor baca kok..
makasih banyak do'a baiknya untuk othor..
do'akan agar othor cepat lulus dengan gelar M. Cov dari Universitas Wuhan ini ya..
❤❤❤❤
* * *
"Hidup bukan tentang mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi tentang menghargai apa yang kamu miliki dan sabar menanti apa yang akan menghampiri."
Alan kini tengah berbahagia, pada akhirnya Theresia mau menikah dengannya. Kini keduanya sedang berada dibutik milik Alana. Mereka akan mencoba gaun pernikahan yanh sudah Alana rancang untuk keduanya.
Kini usia kandungan Alana sudah memasuki usia 3 bulan, perutnya sudah mulai sedikit membuncit. Alana berjalan sambil membawa koleksi jas pengantin pria rancangan miliknya. "Nih, Aa cobain dulu jas nya. Aku khusus loh bikinin ini buat hari pernikahan Aa nanti."
Alan tersenyum menghampiri sang adik, "Makasih Mail, lu emang adik terbaik. Tapi jangan kecapean ya! Bisa-bisa gue di gantung si Ain di Lapangan Gasibu," ucap Alan terkekeh.
"Enak aja, emang laki gue apaan gantung-gantung orang!" Alana mencebik kesal mendengar ucapan kembarannya itu.
Tringg tringg
Suara ponsel Alana berdering, ternyata panggilan masuk dari mertuanya.
...-In Call-...
"Assalamualaikum, Bunda!" ucap Alana memberi salam.
"Walaikumsalam Nak. Bunda boleh minta tolong gak? Kamu temenin Elmira dulu di RSIA Graha Bunda ya! Ibam katanya sakit, dari semalam demam sama mimisan terus!"
"Yaa Allah, kok bisa sih Bunda," panik Alana.
"Bunda juga gak tau, ini Bunda masih ada acara. Kamu temenin dulu Kakak kamu, ya. Nanti Bunda nyusul," titah Bunda Gisya yang khawatir.
"Iya Bunda, hati-hati ya! Bunda jangan panik, biar aku kesana sekarang."
"Kamu yang hati-hati, Nak. Jaga kandungan kamu, ya. Maaf Bunda ngerepotin, yaudah Bunda tutup ya, Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Walaikumsalam!"
...-End Call-...
Setelah mengangkat telepon itu, Alana meminta Alan dan Theresia untuk mengantarkannya. "Aa, buruan napa! Si Ibam masuk rumah sakit, anterin gue kesana! Cepetaaan darurat!" teriak Alana yang panik.
Alan keluar dari fitting room dengan wajah yang panik, "Begimana judulnya?! Anak gue itu, yaudah cepetan yuk!" ajak Alan yang sudah ketar-ketir.
"Tenang, Aa! Lu lepas dulu jas nya, itu buat kawinan kita entar! Kaga usah buru-buru, gue gak mau ya berurusan lagi sama malaikat Izrail!" kesal Theresia.
Alana menepuk jidatnya, "Dah.. Dah.. Entaran lagi debatnya, sekarang cepetan kita kerumah sakit!" pinta Alana dan mereka segera bergegas.
Sementara di Rumah Sakit, Elmira kini tengah menangis tersedu-sedu dipelukan Betrysda. Sudah dua minggu ini, Ibam mengalami demam tinggi dan puncaknya adalah hari ini ketika tiba-tiba bayi berusia 7 bulan itu mimisan dan muntah darah. Betrysda berinisiatif untuk mengajak Elmira ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tak lama kemudian, datanglah Alana juga Alan dan Theresia. Tiba-tiba saja tubuh Elmira ambruk, Alan membopong Elmira menuju IGD. Alana menghubungi suaminya yang kini sedang berada di kantor. Sedangkan Mirda kini sedang menjalani pelatihan, baru kemungkinan dua hari lagi kembali.
Ketika mereka sedang dilanda kegelisahan, tiba-tiba dokter mengatakan jika kondisi Ibam memburuk. "Dok, apa yang sebenernya terjadi sama ponakan saya?" tanya Alana yang khawatir.
"Dimana orangtuanya? Kami harus segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai bayi atas nama Gibran ini. Diagnosa awal kami, sepertinya Gibran mengalami gejala Leukimia. Apakah sebelumnya orangtua Gibran pernah ada yang mengidap Leukimia?" Alana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ibunya shock, saat ini sedang dibawa ke IGD dan Ayahnya sedang dinas luar. Saya gak tau dok, nanti saya akan tanyakan pada mertua saya. Tapi saya mohon, berikan penanganan terbaik untuk keponakan saya dok!" pinta Alana.
"Kami pasti akan melakukan yang terbaik, tapi kami perlu berkomunikasi dengan kedua orangtua Gibran terlebih dahulu. Selanjutnya Gibran akan menjalani serangkaian test," ucap dokter lalu undur diri.
"Hiks... Hiks... Ibam, dia... diaa..." Alana tak bisa lagi meneruskan ucapannya.
"Kenapa sayang? Ibam kenapa? Terus dimana Kak Rara?" tanya Husain mendekap erat istrinya yang kini menangis tersedu-sedu.
"Ibam di diagnosa mengidap Leukimia, kedua orangtuanya diminta untuk menghadap dokter. Kak Rara pingsan waktu kita datang tadi, sekarang ditemenin A Alan sama Mbak Betrysda di IGD," lirih Theresia.
Bruk
Bunda Gisya menjatuhkan tas nya begitu saja, "Yaa Allah, cucuku.. Ibam sayang... Bang! Telepon Mirda sekarang! Suruh dia pulang duluan, Bang! anaknya dalam bahaya ini, Bang!" rengek Bunda Gisya pada suaminya.
"Gak bisa, Dek! Mirda itu sedang Latihan Gabungan, bukan main-main! Kita gak bisa seenaknya begitu! Itu sudah konsekuensi sejak awal mereka menikah, untuk sekaranh Ibam adalah tanggung jawab Abang!" bentak Ayah Fahri membuat Bunda Gisya terduduk lemas.
Ayah Fahri tidak memperdulikan istrinya, dia berlalu masuk kedalam ruangan dokter anak. Dia harus mencari tahu, apa yang terjadi pada cucu kesayangannya itu.
Tok tok tok
"Silakan masuk," ucap dokter setelah mendengar ketukan pintu.
"Permisi dok, ada keluarga pasien atasnama Almeer Gibran Ghazi, sepetinya ingin bertemu dengan dokter," ucap suster menerangkan.
__ADS_1
"Suruh masuk aja, suster! Makasih ya,"
Ayah Fahri masuk kedalam ruangan dokter dengan kaki yang cukup gemetar, baju yang dia kenakan dengan penuh lencana kini mengalahkan kegagahannya. Hatinya begitu meringis tatkala mendengar cucunya itu mendapat diagnosa Leukimia.
Dengan nada bergetar Ayah Fahri mencoba menanyakan kondisi sang cucu. "Bagaimana keadaan cucu saya, dok? Apa dia baik-baik saja?" lirih Ayah Fahri.
"Begini pak, apakah sebelumnya anak Bapak ada yang pernah mengidap penyakit Leukimia? Sebab kami mendapatkan hasil yang cukup mencengangkan, dugaan sementara cucu Bapak mengidap Leukimia. Saat ini kami sedang melakukan pemeriksaan lanjutan, untuk menentukan langkah kami berikutnya dalam menangani cucu Bapak," ucap dokter membuat Ayah Fahri menitikan air matanya.
Sambil terisak, Ayah Fahri menjelaskan kondisi Elmira dulu. "Anak saya dulu mengidap Leukimia, dok. Tapi setelah menjalani operasi beberapa kali anak saya sembuh. Saya mohon d0okter, lakukan yang terbaik untuk cucu saya," pinta Ayah Fahri.
"Baik Pak, kamia pasti akan melakukan yang terbaik untuk cucu Bapak. Kemungkinan penyakit ini adalah bawaan genetik dari orangtuanya. Kami membutuhkan tanda tangan orangtua pasien sebagai persetujuan untuk pemeriksaan aspirasi dan biopsi sum-sum tulang belakang," ucap dokter.
"Ayahnya sedang menjalani latihan gabungan, dok. Kemungkinan dua hari lagi baru akan kembali. Bolehkah saya yang mewakilinya?" tanya Ayah Fahri dan dokter menganggukan kepalanya.
Sementara di IGD, Elmira baru saja mengerjapkan matanya. "Ibam, anak bubu..." panggil Elmira dengan terisak.
"Kak tenang, ya. Kakak harus kuat, Ibam butuh Kakak. Kalo Kakak begini, kasian Ibam gak ada yang ngurusin," ucap Alan memeluk tubuh Elmira.
"Betul itu, Ra! Kau itu harus kuat demi anak kau, dia itu membutuhkan kau. Sa juga harus pulang dulu, kasihan Sweta deng anak sa belum diberi makan," ucap Betrysda.
"Alan, nanti kamu jemput Sweta ya! Kakak titip Sweta sama kamu," lirih Elmira.
"Iya Kak, udah jangan khawatirin soal Sweta! Sekarang Kakak harus kuat," tegas Alan.
"Makasih ya, Betrys. Maaf aku ngerepotin terus," Elmira memeluk Betrysda.
"Tuhanmu itu sedang memberikan ujian untuk kau punya keluarga, tegarlah dam kuatlah. Sa yakin akan ada sebuah kebahagiaan menantimu," ucap Betrysda dan Elmira mengangguk.
Setelah dirasa kondisinya membaik, Elmira menghampiri putranya yang kini terbaring lemah tak berdaya. Bunda Gisya hanya bisa menguatkan putrinya itu, "Sabar sayang, Ibam pasti akan baik-baik aja," lirih Bunda Gisya.
Elmira mencium kening putranya itu, "Anak Bubu yang kuat ya sayang, kita pasti bisa melewatinya, Nak. Ibam anak soleh, anak kuat, anak kesayangan Bubu dan Baba. Apapun akan Bubu lakukan buat Ibam, maafin Bubu ya, Nak. Bubu gak bisa jaga Ibam dengan baik."
Sedangkan diluar kota, hati Mirda diselimuti kegelisahan yang luar biasa. Mungkin itulah ikatan batin Ayah dengan anaknya.
"Yaa Allah, jagalah anak-anakku ketika penjagaanku tak sampai pada mereka. Peluklah anak-anakku saat aku tak bisa memeluknya dan hapuslah airmata mereka ketika aku tak mampu menjaga mereka," batin Mirda.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤