
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 4 pagi, Elmira terbangun dari tidurnya. Dia bergegas menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat tahajud. Diatas hamparan sajadah, Elmira menengadahkan tangannya.
"Yaa Allah, berilah kelancaran dihari ini. Ridhoi jalan kami, untuk menyempurnakan ibadah kami. Dan berikanlah kami kebahagiaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga, jadikanlah kami menjadi keluarga yang sakinnah, mawadah, warahmah." Do'a Elmira.
Selesai sholat subuh, pihak MUA sudah hadir dikediaman Elmira untuk merias. Alana pun sudah disibukkan dengan mempersiapkan gaun pertama untuk sang Kakak.
"Lho, kamu gak dandan yank?" tanya Husain yang melihat Alana tengah sibuk.
"Entaran aja, gampang. Yang penting gaun buat Kak Rara aman dulu," jawab Alana.
"Dandan yang cantik, ya!" bisik Husain membuat Alana tersipu malu.
Bunda Gisya dan Ummi Ulil bahagia melihat keduanya, keinginan mereka pun terkabul.
"Alhamdulillah, si Abang kecantol juga sama si Alana! Gak sia-sia usahaku, akhirnya kita besanan!" antusias Ummi Ulil memeluk Bunda Gisya.
"Haaa? Tunggu! Usaha apa emangnya?" selidik Bunda Gisya.
"Suudzon.. Suudzon kan?! Situ kan gak tau, Ca. Anak situ tiap lewat aku sholawatin, biar jadi mantu! Siapa sih yang gak mau punya mantu Cabup," ucap Ummi Ulil berbinar.
"Yaa Allah, Ulil! Gemes aku lama-lama sama kamu," gemas Bunda Gisya mencubit pipinya.
"Haarrr kunaon ai si Caca! Gelo kitu," gumam Ummi Ulil.
* *
Sementara di kediaman Mirda, semuanya sudah berkumpul dan bersiap. Mereka menata semua seserahan didalam mobil. Lumayan banyak, setidaknya kuran lebih ada 50 buah seserahan yang diberikan oleh Mirda untuk Elmira. Dia sangat gugup, takut salah menyebutkan nama Ayah dari Elmira. Padahal sepanjang malam, Mirda sudah terus menghapalkannya.
Chandra menghampiri putranya itu, dia mencoba menenangkan Mirda.
"Tenanglah boy! Kalo kamu gugup, nantinya makin berabe," ucap Chandra.
"Udah dicoba, Ayah. Tapi tetep aja gugup," sahut Mirda dengan tangan bergetar.
"Anggap saja kamu akan menghadapi musuh, fokus!' ucap Chandra menepuk bahu Mirda lalu pergi menghampiri sang istri.
"Fokus, Mirda! Fokus!" gumam Mirda menyemangati diri sendiri.
Biang Mira tengah sibuk memeriksa semua seserahan, dia takut ada yang tertinggal.
"Istriku ini sibuk sekali," ucap Chandra mengecup pucuk kepala sang istri.
"Ini pernikahan anak kita, Bli. Tiang gak mau ada yang terlewat, semuanya harus sempurna Bli. Belum tentu ketika Acel menikah nanti, kita masih ada," lirih Biang Mira.
"Bicara apa kamu ini, kita akan hidup hingga seribu tahun dan melihat anak-anak kita bahagia," ucap Chandra membawa Biang Mira kedalam pelukannya.
* *
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, rombongan Mirda sudah berangkat menuju tempat akad nikah. Begitupun juga dengan Elmira, mereka sudah sampai dan kini tengah menunggu diruangan yang telah disediakan bagi pengantin. Sepanjang perjalanan Mirda terus gelisah, hal itu membuat mereka tersenyum bahagia.
Mirda beserta rombongan sudah sampai disana, mereka disambut oleh Ayah Fahri dan Bunda Gisya juga Indira dan Theresia yang menjadi pager ayu. Bunda Gisya memakaikan kalung dari bunga melati, dan mengapit Mirda diantara dirinya dan Ayah Fahri. Mereka berjalan masuk menuju ruangan akad nikah.
__ADS_1
Elmira dapat menyaksikan calon suaminya didepan sebuah layar televisi yang sudah disediakan disana. Dia tak bisa lagi membendung rasa bahagianya, hingga airmatanya turun begitu saja.
"Ih, Kakak please! Jangan nangis, kita repot nanti!" ucap Alana sambil memberikan tisu.
"Iyanih! Ngapain nangis sih, ah! Kan aku jadi ikutan," kesal Afifah.
"Terharu, liat Abang ganteng banget pake bendo gitu! Kasep!" ucap Elmira membuat keduanya terdiam membisu.
Acara sudah dimulai, setelah melewati sambutan-sambutan dari berbagai pihak kini tiba kita pada acara inti. Yaitu akad nikah Elmira dan juga Mirda. Dengan tegap dan gagahnya Mirda berdiri didepan penghulu disaksikan oleh Komandan Batalyon Mirda sebagai saksi dari mempelai pria. Dan Walikota Bandung sebagai saksi dari mempelai wanita.
Kini Mirda sudah berjabat tangan dengan penghulu, membuat Elmira berkaca-kaca.
"Saudara Radiansyah Mirda, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Elmira Ayudia Syafa binti Abrafo Feodora dengan mas kawin seperangkat alat sholat, satu unit rumah dan emas putih 25gram dibayar tunaii!" ucap sang penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Elmira Ayudia Syafa binti Abrafo Feodora dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAII!!!" ucap Mirda dalam satu tarikan nafas.
"SAHHHHH!!!" suara itu menggema diseluruh ruangan.
Elmira kini bernafas lega, Alana dan Cyra memeluk sang Kakak dan menghapus airmatanya. Kini mereka diminta untuk mengantarkan Elmira keluar menuju meja akad.
"Udah yuk! Nanti make up nya makin luntur!" ucap Alana sambil membawa tisue.
Mereka beriringan keluar, Alana dan Cyra mengapit Elmira. Disamping mereka, berjejer para bridesmaid dan bridesman. Bukan hanya Mirda yang terpana, tapi juga Husain dan juga Thoriq. Sungguh mereka sangat cantik, terlebih gaun yang mereka gunakan sangatlah anggun. Ditambah jilbab yang mereka kenakan menambah 80% aura kecantikan mereka.
Kini Elmira sudah berdiri berhadapan dengan Mirda, dia mencium tangan suaminya dan Mirda mencium kening Elmira sambil melafalkan do'a.
"MashaAllah cantik sekali istriku," ucap Mirda membuat Alana tersipu malu.
"Bang, tanda tangan berkas dulu! Gak malu apa sama Danyon sama Pak Wali," celetuk Alan yang berada didekat Mirda.
Duh Ibu hapunten abdi
Tina sugri kalepatan
Rumaos abdi rumaos
Abdi sering ngaraheutan
Ibu kantos kahesean
Ngurus abdi ti kapungkur
Ngamongmong ngadama-dama
Anaking mangka **** “Ridollohi firidowalidain. Wasuhtullohi fiisuhtihima…”
Karidoan Alloh gumantung kana ridona ibu sinareng rama. Sawangsulna, bebendu Alloh gumantung kana benduna ibu sinareng rama.
Duh Apa sungkemeun abdi
Nu ngayuga ngarasanan
__ADS_1
Ngabayuan hese cape
Bela tur nyaah ka putra
Abdi mah kantun raosna
Abdi sujud neda ampun
Neda jembar hapuntenna
Duh… anaking, beubeulahan jiwa Apa. Apa rido anaking dug hulu pet nyawa, nyiar pakeun pikeun hidep. Ieu tanggel waler Apa sangkan hidep bagja waluya.
Acara sungkeman ini membuat semua yang berada disana menitikkan airmata. Terlebih kedua mempelai, dimana mereka sama-sama hanya didampingi oleh keluarga angkat. Bahkan mereka tak mengetahui keluarga kandung mereka. Ayah Fahri menitipkan Elmira pada Mirda sepenuhnya, sungguh beban berat selama ini telah ia berikan pada Mirda.
Setelah sungkeman, mereka melakukan adat meuleum harupat atau membakar harupat merupakan prosesi pembakaran lidi yang berasal dari tulang rusuk daun kelapa. Kedua pengantin menyalakan dan memadamkan api secara bergantian. Hal tersebut adalah simbol bahwa Elmira dan Mirda harus senantiasa bersama dalam menyelesaikan segala permasalahan.
Dilanjutkan dengan Nincak endog atau menginjak telur dilakukan oleh Mirda dan kemudian Elmira akan mencuci kaki pasangannya dengan menggunakan air yang berasal dari kendi dan mengelapnya sampai kering. Hal tersebut melambangkan pengabdian seorang isteri kepada suami yang dimulai sejak hari itu.
Lalu, Elmira dan Mirda disuapi oleh kedua orang tuanya masing-masing dan kemudian bergantian. Ini dalam adat Sunda disebut dengan Huap Lingkup. Dimulai disuapi oleh para Ibu dan kemudian dilanjutkan oleh para Ayah. Setelah itu, Elmira dan Mirda akan saling menyuapi melalui bahu masing-masing. Huap lingkup merupakan simbolis suapan terakhir yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya dan menandakan bahwa kasih sayang kedua orang tua terhadap anak dan menantu sama besarnya.
Setelah itu Mirda dan Elmira akan melakukan prosesi pabetot bakak hayam. Dalam Bahasa Indonesia, pabetot bakakak hayam memiliki arti saling menarik ayam bakar. Elmira dan Mirda saling duduk berhadapan dan memegang kedua paha ayam bakakak yang kemudian ayam tersebut akan ditarik hingga terbagi menjadi dua. Siapa yang mendapat bagian paling besar, harus membaginya dengan pasangan mereka melalui cara digigit bersama-sama. Hal tersebut menjadi tanda bahwa berapapun rezeki yang didapat harus dibagi dan dinikmati bersama.
Kini acara dilanjutkan dengan ngaleupaskeun japati. Elmira dan Mirda masing-masing akan membawa burung merpati yang kemudian dilepaskan secara bersamaan. Hal tersebut menjadi simbolis bahwa peran orang tua sudah berakhir sejak hari itu karena kedua anak mereka telah mandiri dan memiliki keluarga sendiri.
Tiba dipenghujung acara adat Sunda yaitu saweran. Pada prosesi saweran, Mirda dan Elmira akan dihujani oleh koin, permen, dan beras. Koin dan beras merupakan arti dari kekayaan atau kemakmuran dan permen berarti manisnya hidup. Prosesi saweran akan diiringi oleh lantunan kidung yang mengandung nasihat bagaimana agar rumah tangga dapat berjalan dengan tentram dan makmur.
Para tamu sudah mulai berdatangan, baik itu teman-teman Mirda ataupun juga rekan-rekan sejawat Elmira. Kini keduanya berdiri diatas pelaminan, menyapa para tamu undangan dari kerabat terdekat. Setelah dzuhur, akan dilaksanakan prosesi pedang pora dan juga resepsi yang merupakan relasi dari Ayah Fahri dan juga Chandra.
Elmira dan Mirda kini sedang berada diruang ganti, untuk mempersiapkan gaun yang akan digunakan Elmira saat prosesi pedang pora. Tentu saja Alana yang kocar kacir mempersiapkan segalanya.
"Abang mau makan dulu?" tanya Elmira pada suaminya itu.
"Nanti aja sayang, sekarang kita siap-siap sholat dzuhur dulu ya! Setelah itu kita ganti pakaian lalu bersiap," ucap Mirda sambil mengelus kepala Elmira.
"Bolos sholat sehari kan gak apa-apa, Kak!" celetuk Alana membuat Elmira menjitaknya.
"Gak boleh! Lagian tamu juga pasti ngerti," ucap Elmira membuat Mirda tersenyum.
"Istri Abang sholeha banget sih!" ucap Mirda mengecup kening Elmira.
"Woooyyyy! Ada orang disini woooyyy! Jadi pengen dapet sertifikat halal deh!" rengek Alana membuat mereka tertawa.
* * * * *
Gimana gimanaaaaaaa?
Bapeeerrr gaaaakkkkkkkkk?
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤