
Semua orang menyambut kabar bahagia mengenai persiapan lamaran Elmira, tapi tidak dengan Cyra. Masih teringat jelas dikepalanya, bagaimana Mami dari Thoriq mendatanginya dan meminta Cyra untuk tidak menikah dengan Thoriq. Selama ini Cyra tau jika hubungan Thoriq dan Mami nya tidak baik-baik saja. Dia tidak ingin semakin menciptakan jarak antara ibu dan anak itu.
Pagi tadi saat Thoriq menjemputnya, Cyra ingin mengajak Thoriq bicara. Tapi selalu saja Thoriq menolak dengan berbagai alasan. Saat ini Cyra dan Thoriq sedang berada didalam mobil, mereka dalam perjalanan pulang dari rumah Elmira.
"Aku gak bisa menikah sama kamu, Mas," ucap Cyra tiba-tiba, membuat Thoriq menginjak rem dengan sekaligus.
Ckiittt... Braaaakkkk...!
Thoriq yang menginjak rem mendadak, membuat kendaraan dibelakangnya menabrak mobil Thoriq. Dia segera keluar, menghampiri pengendara lain itu dan memberikan sejumlah uang ganti rugi. Sedangkan Cyra hanya terdiam menunduk, menahan tangisnya. Keningnya mengeluarkan darah, karena mengenai dashboard mobil.
"Kita ke klinik sekarang dan jangan bicara apapun!" tegas Thoriq.
"Mas, aku...." ucapan Cyra terpotong oleh ucapan laki-laki yang ada disampingnya itu.
"Aku gak mau denger apapun!" tegas Thoriq, rahangnya sedikit mengeras menahan amarah.
Kini mereka sudah sampai di Klinik, dokter segera mengobati kening Cyra yang terluka.
"Aku akan mengantarmu pulang, maaf sudah membuatmu terluka," ucap Thoriq sambil mengelus kening Cyra yang terluka. Cyra memegang tangan Thoriq dan menatapnya.
"Kita harus bicara, Mas. Aku mohon, dengarkan aku," pinta Cyra.
"Enggak! Aku gak mau denger apapun itu, jika itu hanyalah sebuah alasan agar kamu bisa menolak dan menjauh dariku. Aku mencintaimu, Cyra! Tidakkah kamu mengerti? Aku mencintaimu," lirih Thoriq.
Cyra menggenggam tangan Thoriq, lalu mengelus pipi laki-laki itu.
"Mas, setiap pernikahan harus mendapat ridho dari orangtua, terutama Ibu. Ridho dan Syurga mu ada pada Ibumu, Mas. Jika Syurgamu saja tidak meridhoi, bagaimana bisa kita melangkah bersama?" ucap Cyra membuat Thoriq tersentak kaget.
"Apa Mami datang menemui kamu, Cyra?" tanya Thoriq.
"Iya Mas, dua hari yang lalu Ibumu datang menemuiku Mas. Dia tidak menginginkan pernikahan kita, sebab dia sudah memiliki calon istri untukmu," lirih Cyra menahan setiap rasa sakit yang menusuk rongga batinnya.
Thoriq terlihat semakin emosi, dia sudah geram dengan tingkah Maminya.
"Aku akan bicara pada Mami! Dia tidak berhak mengaturku!" geram Thoriq.
"Jangan Mas, aku gak mau semakin ada jarak diantara kita. Dengerin aku, Mas. Level tertinggi dalam mencintai adalah merelakan. Aku ikhlas kamu melepaskan aku, Mas. Dan aku yakin, Ibumu sudah memiliki calon pendamping hidup yang baik untukmu," ucap Cyra.
"Tidakkah kamu mau berjuang bersamaku, Ferandiza Chayra Shanum Faturachman?!" tanya Thoriq dengan nada menahan emosi.
Cyra hanya menunduk, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan. Disisi lain, hatinya mulai nyaman dan mulai mencintai Thoriq. Tapi dia tidak ingin Thoriq dan Ibunya semakin jauh.
"Setidaknya aku mohon, sayang. Berjuanglah bersamaku, hanya kamu yang aku inginkan. Aku mencintaimu, Cyra," lirih Thoriq berlutut dihadapan Cyra.
"Aku takut Mas, aku takut tak layak mendampingi kamu. Bahkan Ibumu sudah membawa calon istrimu kehadapanku, Mas. Aku tidak pantas disandingkan dengan dia, aku mohon Mas. Aku gak mau kamu jadi anak durhaka," ucap Cyra dengan isak tangis.
Dengan segera Thoriq membawa Cyra kedalam pelukannya. Akhirnya setelah selesai membayar administrasi, Thoriq membawa Cyra pulang. Tak ada pembicaraan sepanjang perjalanan, mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Hingga tak terasa, mobil sudah sampai di pelataran rumah Cyra.
"Makasih udah nganterin aku pulang, Mas. Hati-hati dijalan, jaga dirimu baik-baik, Mas. Aku pamit," ucap Cyra sambil bergerak membuka pintu mobil.
Belum Cyra membukanya, Thoriq sudah kembali menguncinya. Dengan cepat dia meraih tengkuk Cyra dan ******* bibirnya. Itu adalah ciuman pertama bagi keduanya, lalu Cyra kembali mengingat ketika bajingan itu akan menciumnya. Tubuhnya mulai berkeringat dingin dan wajahnya memucat. Thoriq menyadari itu dan melepaskan ciumannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Cyra. Aku tak mau kehilanganmu," ucap Thoriq.
"Buka pintunya, Mas!" pinta Cyra dengan tegas.
"Aku mohon sayang, maafkan aku," ucap Thoriq namun tangannya dihempaskan Cyra.
"Buka pintunya sekarang!!" teriak Cyra.
Mau tidak mau, akhirnya Thoriq membuka kunci pintu mobilnya dan menyusul Cyra yang sudah berlari kedalam rumah. Sayangnya dengan cepat Cyra menutup dan mengunci pintu rumahnya. Sontak hal itu membuat Mama Febri dan Papa Zaydan juga Carel yang sedang menonton TV tersentak kaget.
Tok tok tok
"Cyra aku mohon sayang, buka pintunya! Biarkan aku bicara," teriak Thoriq.
"Nggak Mas! Kamu harus pergi sekarang!" teriak Cyra yang menyandarkan tubuhnya dipintu. Thoriq mulai merasa frustasi, dia tak ingin kehilangan Cryra.
"Aku mohon Cyra, aku mencintaimu. Aku gak mau kehilangan kamu," lirih Thoriq.
Mama Febri dan Papa Zaydan menghampiri putrinya itu, mereka membawa Cyra masuk kedalam kamarnya. Setelah Cyra dikamar, Papa Zaydan dan Carel membuka pintu untuk menemui Thoriq. Laki-laki itu terduduk lesu didepan pintu.
"Om saya mohon, saya harus bicara sama Cyra," ucap Thoriq memohon.
"Biarkan Teteh tenang dulu A, sebaiknya Aa pulang. Gak enak dilihat tetangga udah malem," ucap Carel yang berjongkok didepan Thoriq.
"Carel benar, pulanglah Nak Thoriq. Nanti jika Cyra sudah tenang kita bicarakan semua permasalahan kalian," ucap Papa Zaydan sambil mengelus punggung Thoriq.
Dengan langkah gontai, Thoriq kembali pulang. Sedangkan Cyra masih berada dipelukan Ibunya dan menumpahkan segala kegelisahan hatinya.
"Kenapa Tuhan gak pernah adil sama aku, Ma? Kenapa? Apa salahku, Ma? Aku mulai mencintai Mas Thoriq, tapi aku bukan pilihan Ibunya," ucap Cyra sambil menangis dan hal itu membuat hati Mama Febri berdenyut nyeri dan tak bisa berkata apa-apa.
Cyra beralih memeluk Papanya, laki-laki pertama yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Jika dia memang jodohmu, sebesar apapun rintangan yang akan kalian hadapi pasti kalian akan dipersatukan. Tapi jika dia bukan jodohmu, mungkin akan ada jalan dimana kalian akan sama-sama merelakan dan mengikhlaskan. Untuk saat ini, kalian hanya butuh waktu untuk membicarakan semuanya dengan tenang. Agar kalian bisa menemukan jalan keluar dari permasalahan kalian," ucap Papa Zaydan sambil mengelus lembut kepala putrinya itu.
Karena lelah menangis, Cyra terlelap tidur dipelukan sang Ayah.
"Apa ini karma dari kesalahanku dan Mas Andi di masalalu, Mas? Semua yang menimpa Cyra mungkin karena kesalahanku dimasalalu," lirih Mama Febri.
"Jangan bicara seperti itu, Ma! Cyra bukanlah suatu kesalahan dan itu juga bukan kesalahan siapapun, dia adalah anugerah untuk kita. Hanya saja, Tuhan sedang menguji dirinya. Aku yakin putri kesayanganku akan bisa hidup bahagia," ucap Papa Zaydan.
* *
Praaaaakkkkkkk!!!
Thoriq membuka pintu rumahnya dengan kencang, membuat Mami Rena memekik kaget.
"Thoriq! Apa-apaan kamu?!" teriak Mami Rena.
"Mami yang apa-apaan?! Untuk apa Mami menemui Cyra dan memintanya menjauhiku?!!" teriak Thoriq tepat didepan wajah Ibunya.
"Cih! Jadi perempuan itu udah ngadu sama kamu, dasar lemah!" cibir Mami Rena.
__ADS_1
"Mami gak berhak ikut campur hidupku! Aku yang berhak atas diriku dan hidupku! Sekali lagi Mami ikut campur urusanku, jangan harap harta Papi akan jatuh ketanganmu!" ancam Thoriq pada Ibunya itu.
Tak ingin semakin memanas, Thoriq melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
"Kamu anak Mami! Jadi Mami berhak ikut campur kehidupan anak Mami! Dan kamu akan Mami jodohkan dengan Natalia!" teriak Mami Rena membuat Thoriq menghentikan langkahnya dan berbalik mendekati Ibunya kembali.
"Mami bilang aku anakmu?! Dimana ada seorang ibu yang tega meninggalkan anak-anak dan suaminya hanya demi harta?!! Dan sekarang setelah Papi tiada, kamu kembali agar bisa menguasai kembali hartanya melalui adikku?!! Jangan mimpi nyonya Renata Aryatama!!!" teriak Thoriq membuat Mami Rena terkulai lemas.
Tanpa mereka sadari, Theresia mendengar semua ucapan Kakak dan Maminya. Dengan sekuat tenaga, Theresia menahan tangisnya. Pantas saja, Maminya mulai bersikap manis kembali terhadap Theresia. Rupanya karena sang Ibu masih menginginkan harta yang ditinggalkan oleh Papinya.
Theresia merasakan sakit didadanya, sejak kecil hanya kasih sayang Papi dan Kakaknya yang dia dapatkan. Ketika Ibunya datang kembali merangkul dan memeluknya, Theresia baru bisa merasakan kehangatan pelukan seorang Ibu. Dengan membawa rasa sakit hatinya, Theresia bergegas keluar dari rumah membawa semua surat-surat penting yang diberikan Papinya. Pantas saja Ibunya sangat betah berada didalam kamarnya, pikir Theresia. Dengan kecepatan tinggi, Theresia membawa mobilnya menuju apartemen miliknya yang berada didaerah Pasteur. Siapa sangka, mobil yang dikendarai Theresia sudah dirusak oleh orang suruhan Ibunya.
Braaaaaaaakkkkkkkkk!!
Mobil Theresia menabrak pembatas jalan, membuat mobilnya depannya ringsek. Hal itu membuat jalanan berubah menjadi sangat macet.
"Ada apaan sih ini? Tumben rame banget!" kesal Alan dibalik kemudinya.
"Sabar napa woy! Jalanan kan bukan punya nenek moyang lu," ucap Lula.
"Lu dah jadi cewek gua kaga ada manis-manisnya perasaan!" ketus Alan.
"Sama lu ngapain manis-manis! Lagian sandiwara doangan kan?" cebik Lula.
"Iyasih! Tapi tetep aja, manis-manis dikit kek!" ucap Alan.
"Eh kayaknya ada kecelakaan deh! Tuh mobilnya ampe ringsek!" sahut Lula membuka kaca mobilnya saat melewati mobil itu.
Alan membulatkan matanya tak percaya, dengan segera dia menepikan mobilnya.
"Heh! Mau kemana lu!" teriak Lula saat Alan meninggalkannya.
Dengan cepat Lula mengikuti Alan, dia melihat Alan menghampiri kerumunan.
"Yaa Allah Re! Bangun Re! Theresia!" teriak Alan membawa tubuh Theresia dalam pangkuannya. Mata Theresia mulai mengerjap, wajahnya sudah dipenuhi darah.
"Su-surat su-surat i-itu to-tol-ong am-amankan," ucap Theresia lalu tak sadarkan diri.
"Re bangun! Yaa Allah Theresia! Gua mohon bangun, Re!" panik Alan yang tanpa sadar terus menciumi pucuk kepala Theresia.
Deg!
Hati Lula terasa meringis, meskipun statusnya hanyalah kekasih sandiwara tapi Lula merasakan sakit itu. Masih jelas permintaan Alan, agar dia berpura-pura menjadi kekasihnya didepan perempuan bernama Theresia. Dan hari ini, didepan mata Lula sendiri Alan seolah takut kehilangan Theresia. Bahkan dia membawa Theresia ke Rumah Sakit dan melupakan Lula. Meski begitu Lula tetap menyusul Alan, dan membawa mobilnya.
"Perasaan terburuk dalam hidupku bukanlah kesepian. Tapi dilupakan oleh satu orang yang tidak akan pernah bisa kamu lupakan," batin Lula.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤