Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 92. Malam bersejarah


__ADS_3

Setelah lelah menerima tamu yang begitu banyak, Zaydan membawa Febri pergi ke kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh Gisya dan Yuliana. Suasana dalam kamar begitu canggung, mereka saling tatap dengan salah tingkah.


"Mas mandi duluan ya, tolong siapkan baju Mas." pinta Zaydan pad istrinya itu.


"Iya Mas, aku mau liat Cyra dulu ya. Takutnya dia rewel, Mas." ucap Febri.


"Nanti aja setelah Mas mandi, sekarang kamu istirahat dulu." tegas Zaydan lalu masuk kedalam kamar mandi. Febri menunggu dengan gugup didepan meja rias.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Zaydan hanya memakai handuk yang melilit pinggangnya. Refleks Febri menutup wajah dengan kedua tangannya. Zaydan tersenyum, dia menghampiri Febri dan memeluknya dari belakang.


"Kenapa ditutup, hm? Semua yang ada di diri Mas ini milikmu." bisik Zaydan.


"Pake bajunya, Mas! Aku mau mandi dulu." ucap Febri gugup, dia segera berlari menuju kamar mandi dengan jantung yang berdegup kencang.


Zaydan tertawa geli melihat kelakuan istrinya itu, dia memakai bajunya dan pergi keluar untuk menemui Cyra. Selesai membersihkan diri, Febri beranjak dari bathub. Dia teringat tidak membawa pakaian kedalam kamar mandi karena gugup. Dengan masih menggunakan bathrobe dia pergi keluar kamar. Dia bernafas lega karena suaminya tidak berada disana. Febri segera membuka lemari untuk mencari bajunya. Tapi Febri tidak menemukannya, akhirnya dia menghubungi Gisya untuk menanyakan dimana koper miliknya disimpan.


In Call


"Ca! Koper aku dimana? Kok gak ada di kamar?" tanya Febri.


"Yaa Allah, Biw! Salam dulu kenapa sih." kesal Gisya.


"Cepetan! Keburu Mas Zaydan dateng nih! Aku belom pake baju." rengek Febri.


"Gak apa-apa dong, Biw! Gak usah pake baju aja." goda Gisya.


"Cacaa! Beneran deh, cepetan dimanaaa?" kesalnya sudah memuncak.


"Iya deh iya, bajunya di paperbag pink!" jawab Gisya.


End Call


Febri segera mengambil paperbag berwarna pink itu, dan segera membawanya kedalam kamar mandi. Bahkan dia mematikan telpon Gisya begitu saja. Matanya terbelalak ketika melihat isi paperbag itu. Baju tidur yang tipis seperti saringan, dengan tali spagheti. Febri sangat kesal, kedua sahabatnya itu bahkan memberikan note pada paperbagnya.


'Raihlah surgamu dengan membahagiakan suami, selamat ngadon-ngadon πŸ˜‹'


Zaydan yang baru saja masuk ke kamar kebingungan mencari istrinya. Dia menggedor pintu kamar mandi, dan membuat Febri terperanjat kaget.

__ADS_1


"Sayang, kamu di dalam?" tanya Zaydan sambil mengetuk pintu.


"Iy-iya Mas. Sebentar lagi selesai." gugup Febri lalu dia membuka pintu kamar mandi.


Mata Zaydan tak hentinya memandang sang istri. Zaydan menelan salivanya, ketika melihat setiap lekukan tubuh istrinya itu. Rambut yang terurai indah, yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Zaydan berdiri mematung, tubuhnya terasa kaku.


Grep


Febri memeluknya dan menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya itu.


"Aku malu, Mas. Jangan diliatin kaya gitu!" ucap Febri dengan wajah yang memerah.


"Sepertinya Mas harus berterimakasih pada kedua sahabatmu itu. Mereka sudah menjadikan malam ini, malam yang bersejarah bagi kita." bisik Zaydan ditelinga Febri, membuat tubuhnya semakin menegang.


Perlahan Zaydan menatap wajah istrinya itu, meskipun bukan pertama kalinya bagi mereka. Tetap saja perasaan gugup itu ada. Zaydan mencium kening Febri, lalu berlanjut ke seluruh wajahnya. Febri mulai terbuai oleh ciuman Zaydan, dia mulai membalas setiap ciuman yang diberikan oleh Zaydan.


"Izinkan Mas meminta hak Mas malam ini, Mas ingin memilikimu seutuhnya." bisik Zaydan dengan suara beratnya. Febri menganggukkan kepalanya. Akhirnya terjadilah peperangan ngadon mengadon malam itu. Malam yang sangat bersejarah bagi mereka. (Selamat traveling sendiri yak wahai otak para reader 🀣)


Hal yang sama dirasakan oleh Syauqi, malam ini menjadi malam pertama bagi mereka. Karena malam pertama mereka sebelumnya dipisahkan oleh anak-anak tuyul yang harus mereka jaga. Namun malam ini Syauqi berhasil membobol gawang pertahanan istrinya itu. Akhirnya ular cobra itu berhasil menyemburkan bisanya.


"Terimakasih istriku, semoga akan segera tumbuh Syasya mini's didalam sini." ucap Syauqi sambil mengusap perut istrinya itu.


"Jangan malu-malu sayang, kamu milik Aa seutuhnya." bisik Syauqi.


Mereka mengulangi kembali pergulatan panas mereka. (Ayo traveling ayo! πŸ˜†πŸ€£)


Sementara dikamar lain, Jafran dan Fahri sedang merasa kesal. Pasalnya kamar mereka itu menyatu dengan kamar orangtua mereka. Jafran merebahkan dirinya, setelah lelah mengasuh kelima bocah yang energinya tak pernah surut.


"Rebahan mulu kamu, Ba! Udah kaya orang mati aja!" kesal Fahri pada Jafran.


"Daripada situ jalan-jalan mulu kaya arwah gentayangan!" jawab Jafran dengan ketus.


"Abis daritadi si Ummi nempel mulu sama istriku! Emang bener-bener Ulet!" ucap Fahri.


"Heh aku pengen ditempelin gitu, dia malah nempel sama si Caca! Dipikir gak kesel apa! Keseeeelllll banget tauuuu!" sewot Jafran.


Karena merasa kasihan dengan kedua anaknya, Umma Nadia meminta Gisya dan Yuliana agar kembali ke kamar mereka masing-masing.


"Kalian berdua balik sana ke kamar masing-masing! Kasian suami kalian, mau dilaknat malaikat karena mengabaikan suami?" ucap Umma Nadia.

__ADS_1


"Emoh Umma! Naudzubillah, yaudah aku balik kamar ya Ca!" Ucap Yuliana bergegas meninggalkan Gisya.


"Dasar Ulet buluuu! Caca ke kamar ya, Umma." Pamit Gisya.


Jafran yang semula kesal tersenyum bahagia ketika istrinya menyeretnya untuk kembali ke kamar. Jafran segera memeluk istrinya dengan erat.


"Ummi mau mandi dulu, Ba. Gerah tau!" ucap Yuliana.


"Bareng yuk! Udah lama kita gak mandi bareng." bisik Jafran.


Mereka tak mau kalah dengan para pengantin baru, Jafran melampiaskan kerinduannya pada sang istri. Mereka menikmati malam panas yang selama ini selalu terganggu oleh kedua anaknya. Jafran sangat bahagia melihat wajah lelah istrinya.


"Terimakasih, Ummi. Sudah mau menerima dan mencintai Baba hingga hari ini. Baba sayang banget sama Ummi! Tanpa Ummi, Baba hanyalah ambulan tanpa Uwiw!" ucap Jafran memeluk erat tubuh istrinya.


"Sampai maut memisahkan, Ummi akan tetap menjadi tulang rusukmu Ba. Tapi jangan sakiti Ummi, karena tulang rusuk ini bisa berubah menjadi sop!" ucap Yuliana membalas pelukan suaminya.


Sementara itu, Fahri menikmati udara malam di Balkon kamar hotelnya. Dia sedang menunggu sang istri yang sedang membuatkan kopi untuknya. Gisya memeluk suaminya dari belakang. Fahri membalikkan tubuhnya, Gisya begitu seksi dimata Fahri. Dengan perut yang membuncit dia memakai baju dinasnya dan menggoda suaminya.


"Abang gak mau gitu malam pengantinan seperti mereka." bisik Gisya ditelinga suaminya.


"Jadi Adek mau Abang garap nih." goda Fahri pada istrinya itu.


"Berasa jadi murahan deh ya aku Bang, minta duluan." Lirih Gisya.


"Abang seneng kamu minta duluan, Dek. Ayo! Ayah mau tengokin putri kecil kita." bisik Fahri lalu menggendong Gisya dan membaringkannya diatas kasur.


Semenjak hamil, Gisya jadi lebih agresif terhadap suaminya. Dan hal itu membuat Fahri sangat bahagia. Cinta dan kasih sayang mereka semakin tumbuh. Dan malam ini, menjadi malam yang bersejarah bagi sejoli yang sedang memadu kasih.


* * * * *


Selamat Traveling para reader.Β  πŸ˜†πŸ˜œ


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❀

__ADS_1


__ADS_2