
Selepas kepergian sang Bunda, kini Bunda Gisya lebih banyak mengurung diri didalam kamarnya. Dia terus memeluk erat baju terakhir yang dipakai oleh Oma Syifa. Ternyata berucap ikhlas memang mudah, tapi kerinduan dalam hatinya membuatnya semakin berat melepaskan kepergian sang Bunda.
"Sayang, Abang mohon! Jangan berlarut, ingatkan ucapan Bunda? Boleh menangis, tapi jangan berlarut. Abang yakin, Bunda pasti kecewa melihat kamu seperti ini," Ayah Fahri dengan setia menemani sang istri.
Bunda Gisya tidak menjawabnya, dia lebih memilih menangis dalam pelukan sang suami. Permintaan terakhir dari Oma Syifa, sedikit membebankan pikirannya.
"Bang, soal permintaan Oma bagaimana?" lirih Bunda Gisya.
"Jadi istri Abang sejak tadi menangis memikirkan itu, hm?" Ayah Fahri menangkup kedua pipi sang istri, dan menghapus airmatanya.
"Dulu aku gak bisa memenuhi amanat Ayah, Bang! Kali ini aku mau memenuhi amanat Bunda," dengan wajah sendu Bunda Gisya menatap sang suami.
Berpuluh-puluh tahun hidup bersama, hingga kini usia mereka tak lagi muda. Tapi cinta keduanya tak pernah pudar ditelan waktu.
"Sayang, kita akan bicarakan baik-baik dengan Athaya dan juga Indira. Jika memang putri kita tidak bahagia, Abang akan lakukan apapun untuk membahagiakannya. Kalian itu harta paling berharga dalam hidup Abang," Ayah Fahri mengecup bibir sang istri.
"Abaangg...! Cari kesempatan dalam kesemutan," kesal Bunda Gisya seraya tertawa.
"Kesemutan mbahmu! Terus tersenyumlah sayang, kekuatan terbesarku ada padamu," Ayah Fahri mengusap lembut kepala sang istri, dia mulai memiringkan wajahnya untuk mencium istrinya itu.
"Ayah! Bunda! Itu ada......" ucapan Husain menguap diudara ketika melihat kedua orangtuanya tengah melakukan sesuatu. Padahal pintu kamar mereka terbuka lebar.
Brak!
"Astaga, udah tua juga masih nyosor kek soang! Pagi-pagi mataku sudah ternodai, dimana lagi istriku!" gerutu Husain yang dengan sengaja menutup pintu.
Bunda Gisya dan Ayah Fahri terperanjat kaget, mereka akhirnya saling pandang dengan wajah yang bersemu merah.
"Ayah sih! Itu pasti tadi ada yang liat," kesal Bunda Gisya mencubit perut sang suami.
"Biarin, lagian salah sendiri gak ketok pintu," kilah Ayah Fahri.
"Ih Ayah! Kan emang pintunya gak ditutup!" akhirnya Bunda Gisya merajuk, dia lebih memilih untuk masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Waw.. Siapa yang sudah berhasil melihat live kiss ku," batin Ayah Fahri.
Tok tok tok
"Ayah! Bunda! Ada keluarga Athaya didepan," teriak Elmira.
"Iya sebentar, Kak! Nanti Ayah kesana, ganti baju dulu," jawab Ayah Fahri.
"Cepetan! Udah daritadi itu nungguin," kesal Elmira.
"Astaga, kenapa baru bilang!" Ayah Fahri terburu-buru membuka pintu.
"Ye, itu si Abang tadi kesini! Tapi katanya malah liat soang lagi nyosor," ketus Elmira sambil memutar bola matanya malas.
"Hm, jadi si Abang yang nonton live! Gak apa-apalah, biar latihan nyosor si Mail," sambil tertawa Ayah Fahri meninggalkan Elmira yang masih tergelak tak percaya.
"Sejak kapan Ayah terkena virus Baba," gumam Elmira lalu pergi
Ayah Fahri menyambut kedatangan keluarga Athaya dengan hangat.
"Assalamu'alaikum, Pak Kiai. Maaf menunggu lama, tadi saya menemani dulu istri saya," ucap Ayah Fahri menjabat tangan Abi Athaya.
"Walaikumsalam, tidak apa-apa Pak," jawab Umma Fika.
__ADS_1
"Maaf Pak Fahri, kami baru datang pagi ini. Perjalanan kemarin cukup macet, saya tiba disini malam hari. Kami turut bela sungkawa atas meninggalnya Oma, InshaAllah saat ini beliau sudah berada ditempat terbaik disisi Allah," Abi Athaya menguatkan calon besan.
"Terimakasih, Pak Kiai. InshaAllah, kami mohon do'a terbaik saja untuk Oma. Kami semua sudah ikhlas akan kepergiannya, oh ya, dimana Athaya?" tanya Ayah Fahri membuat ketiga orang itu saling berpandangan.
"Athaya mungkin sedang dalam perjalanan, tadi kami tidak pergi bersama-sama," kilah Umma Fika yang tak ingin mencoreng nama Athaya.
Sedangkan dikamar, Indira baru saja menyelesaikan sholat dhuha. Elmira menghampirinya dan mengatakan jika kedua orangtua Athaya datang.
"Dek, itu calon mertua kamu dateng. Cepet temuin, gak baik orangtua menunggu lama," Elmira mengelus kepala Indira dengan lembut.
"Jujur, Kak! Dira sebenarnya lagi gak pengen ketemu orang," lirih Indira.
"Jangan gitu, mau bagaimanapun mereka orangtua Athaya, calon suami kamu. Ayo, biar Kakak temenin," ajak Elmira.
"Aku ganti baju dulu, Kak," walaupun enggan, tapi Indira masih menghormati orangtua Athaya.
Indira keluar kamar dan menyapa calon mertuanya, matanya masih sembab sisa menangis semalam.
"Ummi, Umma, Abi," sapa Indira sambil mencium tangan orangtua Athaya.
"Kami turut berduka cita ya, Nak. Bersedih boleh, tapi jangan berlarut ya," Ummi Athaya mengelus kepala Indira dengan lembut.
"Terimakasih Ummi, oh iya! Apa Fika gak ikut, Umma?" tanya Indira pada Umma Fika.
"Lho, kemarin dia katanya kesini. Emang gak ketemu?" Umma Fika cukup kaget mendengar pertanyaan Fika.
"Enggak Umma, aku tanya Theresia katanya Fika di Sukabumi," lirih Indira.
"Pasti ada sesuatu yang aku tidak tau," batin Indira.
"Begini, Pak Fahri, Nak Dira. Sebenarnya setelah pulang mengantarkan Indira ke Sukabumi, Athaya mengalami kecelakaan. Dia menabrak seorang gadis yang sedang mengendarai motor," sontak ucapan Abi Athaya membuat Ayah Fahri dan Indira tersentak kaget.
"Apa?! Lalu apa yang terjadi pada gadis itu?" tanya Ayah Fahri.
"Dia mengalami patah kaki dan tangan, setelah melakukan operasi mungkin akan berbulan-bulan dia tidak akan bisa berjalan. Athaya berniat untuk bertanggung jawab, tapi ternyata keluarganya menolak," Ummi Athaya menjelaskan.
"Kenapa Ummi? Kenapa mereka menolak? Lalu bagaimana sekarang?" lirih Indira yang cukup khawatir pada kondisi Aini.
"Ummi gak tau, Nak. Tapi yang Athaya tabrak itu, putri keluarga Dirgantara. Namanya, Aini Clarissa Putri," ucap Ummi Athaya.
Bruukkk....
Mereka menoleh kearah suara barang terjatuh, Dirga tak sengaja mendengar ucapan mereka. Mendengar nama sang adik disebut, tubuhnya seketika lemas. Indira refleks menghampiri Dirga.
"Mas Yoga! Mas kenapa?" panik Indira.
"Aini Clarissa Putri Dirgantara, itu adikku, Syafa," lirih Dirga.
"Apa?!" demi apapun, Indira merasa seperti orang bodoh.
Dirga bangkit dari duduknya, dia menelepon orangtuanya. Setelah mendapatkan jawaban, dia segera bangkit sambil membawa emosi yang membuat dadanya terasa sesak.
"Mas! Mau kemana, Mas?" teriak Indira.
"Aku harus melihat kondisi adikku, Syafa!" lirih Dirga.
"Tunggu, Mas! Aku ikut!" Indira segera berlari mengikuti Dirga, tanpa memperdulikan kedua orangtua Athaya yang masih berada disana.
__ADS_1
Orangtua Athaya saling menatap, mereka dilanda kebingungan. Sebab calon menantu mereka dengan jelas pergi bersama laki-laki lain.
"Maafkan putri kami," itulah yang terucap dari mulut Ayah Fahri.
"Tidak apa-apa, Pak Fahri. Wajar jika mereka khawatir, apalagi Indira. Mungkin dia khawatir pada Athaya," ucap Abi Athaya.
Tak lama kemudian Bunda Gisya datang, dia berbincang-bincang bersama calon mertua anaknya itu. Hingga tak terasa, mereka berbincang cukup lama. Teringat wasiat terakhir Oma Syifa, Bunda Gisya mencoba bertanya.
"Begini Pak, Bu. Saya memiliki amanat dari Ibu saya sebelum meninggal, apa hukumnya wasiat tersebut," tanya Bunda Gisya.
"Wasiat hukumnya mustahab/sunnah. Jika ia mempunyai harta yang banyak, disunnahkan berwasiat dengan sepertiga atau seperempat atau seperlima (dari harta tersebut). Atau berwasiat untuk mewujudkan kebaikan dan amal kebaikan. Hukumnya tidak wajib akan tetapi jika ia berkehendak maka sebaiknya ia bersegera menulisnya. Kalo boleh tau, apa yang diwasiatkan oleh Ibunda anda?" tanya Abi Athaya.
"Mmm.. Begini, Pak. Beliau menginginkan Indira lepas dari Athaya," lirih Bunda Gisya.
Ucapan Bunda Gisya membuat orangtua Athaya saling berpandangan seolah tak percaya.
"Bagaimana maksudnya, Bu? Kenapa beliau meminta hal seperti itu? Bahkan sebelum kematian!" Ummi Athaya menuntut sebuah penjelasan.
"Tolong jangan salah paham, semua ini juga diluar kehendak kami. Indira mau menerima Athaya karena terpaksa, tidak ada cinta untuk Athaya. Laki-laki tadi yang putri kami cintai, sayangnya Athaya maju lebih dulu. Bahkan hubungan persahabatan Athaya dan Fika kini mulai renggang, sebab Athaya tidak mengizinkan Fika untuk dekat dengan Indira. Kemarin Fika datang kemari, tapi dia tidak menemui Indira! Sebab Athaya melarangnya," tegas Ayah Fahri membuat mereka menunduk malu.
Tak lama kemudian, Athaya datang dengan tergopoh-gopoh. Wajahnya cukup babak belur setelah dihajar oleh Dirga.
"Bunda, dimana Dira?" tanya Athaya yang panik.
"Dira pergi bersama kekasihnya!" ketus Ummi Athaya.
"Ummi! Athaya disini yang bersalah, tadi kami bertemu dirumah sakit. Tapi Dira pergi meninggalkan Athaya, dia kecewa sama aku!" lirih Athaya.
"Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, Athaya! Temukan Indira dan selesaikan masalah kalian baik-baik! Abi sungguh malu!" bentak Abi Athaya.
"Kami permisi pulang, Pak, Bu! Maaf atas semua kesalahan anak kami," pamit Abi Athaya.
Bunda Gisya menghampiri Athaya yang tertunduk lesu, dia mengelus pundak Athaya.
"Jika perempuan adalah permukaan danau yang tenang. Maka laki-laki hanyalah perahu nelayan di atasnya. Jika salah dayung maka tenggelam sudah. Bunda percaya kamu bisa menyelesaikan semuanya. Libatkan Allah dalam segala hal, maka kamu akan menemukan jawaban atas masalahmu," ucap Bunda Gisya.
"Athaya mohon Bun, izinkan Athaya untuk mendampingi Dira. Jika memang Dira tidak akan bahagia bersamaku, maka aku akan ikhlas melepasnya," lirih Athaya.
"Bicaralah nanti dengan Dira, Bunda gak bisa memaksakan kehendak. Kalo memang Dira tidak mau, Bunda harap kamu tidak memaksanya," Bunda Gisya menepuk bahu Athaya.
Ayah Fahri menghampiri Athaya, dia tau bagaimana Athaya mencintai Indira.
"Hubungan itu seperti gelas kaca, kadang lebih baik meninggalkan gelas itu pecah daripada menyakiti dirimu sendiri karena menyatukannya. Pulanglah, Nak. Istirahatlah, Ayah tau kamu lelah," dengan lembut Ayah Fahri mengelus kepala Athaya.
"Terimakasih Ayah, dan maaf sudah mengecewakan," lirih Athaya lalu berpamitan.
Tak perlu berusaha keras untuk mendapatkan cinta karena percuma berusaha jika ia tidak memiliki perasaan yang sama. Cinta yang baik itu saling memiliki perasaan bukan hanya salah satunya saja yang berusaha dan berjuang untuk mendapatkan.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1