Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Godaan dan Cobaan


__ADS_3

Sore itu menjadi sore yang paling menyebalkan bagi Husain, selain gagal membuat adonan dia juga harus pergi ke supermarket untuk membeli roti jepang untuk Alana. Sepanjang jalan menuju lobby, Husain terus menggerutu.


"Mau kemana kamu, Bang?" tanya Ayah Fahri yang berjalan bersama Mirda.


"Beli roti jepang!" ketus Husain membuat Ayah dan sang kakak ipar tertawa.


"Pantesan mukanya ditekuk, Yah. Rupanya malam pertama terhalang tamu," ledek Mirda.


"Ck! Ga usah rese ya, Abang! Situ juga lagi puasa kan," sahut Husain membuat Mirda menekuk wajahnya.


"Kasian, yang satu puasa 40 hari, yang satu malam pertama terhalang tamu, emang Ayah yang paling beruntung," ucap Ayah Fahri sambil membayangkan kebersamaannya bersama sang istri.


Karena kesal, Mirda dan Husain meninggalkan sang Ayah yang tengah senyam-senyum sendiri. Mereka berdua berjalan menuju mini market yang tak jauh dari hotel.


"Abang! Aku lupa, tadi Alana pesen apa," lirih Husain ketika mereka baru sampai.


"Bukannya roti jepang?" ucap Mirda membuat Husain semakin menunduk.


"Liat! Banyak banget jenisnya, aku mana ngerti yang kaya gini," keluh Husain.


"Telpon aja, apa susahnya!" ketus Mirda.


"Aku gak bawa ponsel, pinjem punya Abang," pinta Husain.


"Lah ponsel Abang kan dipake Sweta!" ucap Mirda membuat Husain menghela nafas berat.


Karena takut salah, akhirnya Husain meminta pegawai minimarket untuk membungkus semua jenis dan ukuran roti jepang itu.


"Mbak, tolong ya dibungkusin roti jepangnya! Semua merk, semua ukuran masing-masing satu aja!" titah Husain.


"Mau jualan, Pak?" tanya sang pegawai sambil menahan senyum.


"Iya jualan! Mumpung pabrik fanta saya lagi bocor!" ketus Husain.


"Haaaaaaaaaa????" kedua pelayan itu melongo tak mengerti.


Kali ini Mirda yang mencebik kesal, 3 keresek pembalut sudah berada ditangan mereka. Karena hal itu keduanya menjadi sorotan.


"Kenapa gak bawa sendiri aja sih?! Lagian gak berat!" gerutu Mirda.


"Ck! Aku tuh mau berbagi sama Abang," sahut Husain.


"Berbagi apanya kalo kaya gini?!" Mirda berkata ketus karena kesal.


"Berbagi malunya, Bang!" ucap Husain sambil menyengir seperti kuda.


Dilobby, mereka berpapasan dengan sang Baba yang kini tengah menatap dengan wajah yang kepo. Sebab dia mengerutkan dahinya melihat Husain membawa tiga keresek besar pembalut.


"Kamu bawa apaan itu?" tanya Baba Jafran menunjuk tangan Husain dengan dagunya.


"Udah tua kaga usah kepo!" ketus Husain sambil berjalan masuk tanpa memperdulikan teriakan sang Mertua.


"Snewen dia, lahan pabrik nya kedatangan tamu!" celetuk Ayah Fahri.


"Buahahahaha! Pantesan itu muka kusut plus lecek kaya duit dua rebuaan!" Baba Jafran tertawa puas.


Husain kembali ke kamarnya, dia mengetuk pintu kamar mandi sebab sang istri masih betah berada didalam sana.


"Yank, ini Abang udah bawa pesenan kamu," teriak Husain.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan sang istri yang nampak segar setelah mandi. Dengan susah Husain menelan ludahnya, sebab Alana tampak seksi dengan hanya menggunakan bathrobe saja.


"Yaa Allah, Yaa Rahman, Yaa Rahim! Kamu mau dagang pembalut, Bang?" kaget Alana ketika melihat tiga keresek besar dengan berbagai macam pembalut.

__ADS_1


"Ish! Itu buat sumpel pabrik kamu, Abang kan gak tau yang mana!" kesal Husain.


"Kan tadi aku bilang, ukuran 36 sama yang bersayap!" ucap Alana.


"Lagian itu pembalut apa burung sih! Pake ada sayapnya segala, udah jangan banyak nuhunahinu hunahinu hiya! Yang bawah perboden, jalur atas masih aman kan? Abang haus, pengen minum dawegan!" celetuk Husain.


"Eh!" wajah Alana bersemu merah, dia segera berlari menuju kamar mandi.


Alana sudah kembali, dia mengerenyitkan dahinya ketika melihat Husain sedang minum air kelapa muda.


"Abang lagi ngapain?" tanya Alana mengagetkan Husain.


"Lagi minum dawegan! Kan tadi Abang bilang, kalo Abang haus," jawab Husain.


"Dasar turunan Baba Jafran, otak gua jadi ngeres begini!" batin Alana, Ya! Tadi sebelum kembali, Mirda mengatakan jika air kelapa akan memperlancar haid katanya. Untuk itu dia membelikan untuk sang istri, berharap haidnya akan cepat selesai.


"Kamu kenapa yank? Kok geleng-geleng kepala?" heran Husain.


"Nggak apa-apa! Makasih ya, sayang," ucap Alana mengecup pipi Husain.


"Sama-sama yank, udah ini Abang mau main dawegan kamu," bisik Husain membuat Alana tersipu malu.


* * *


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, selesai sholat isya keluarga mereka berkumpul di private room untuk makan malam bersama. Tak habis-habisnya Husain digoda oleh keluarganya, hingga dia lebih memilih menempel pada sang istri.


"Sana ngobrol sama sesepuh-sesepuh kamu, ngapain ngintilin istri kamu muluk sih?!" kesal Ambu Syaina pada Husain.


"Emoh! Males banget diledekin mulu, gara-gara pabrik kebanjiran fanta! Lagian kamu sih yank, bilang dong sama tamunya suruh dateng besok lagi! Kan harusnya aku yang sekarang bertamu ke goa hiro," kesal Husain membuat wajah Alana bersemu merah.


"Yaa ampun, mulut laki gue kenapa lemes amat! Gawat, kagak boleh terlalu bergaul sama si Baba, bahaya!" batin Alana menggerutu kesal.


Karena terus diomeli oleh para ibu-ibu, akhirnya Husain menghampiri Alan yang kini tengah menikmati gorengan bersama Mirda, Thoriq dan juga Carel.


"Makan apa kamu, Carel?" tanya Husain.


"Haah? Kalo Abang makan apa?" tanya Husain pada Mirda.


"Hala-hala!" jawab Mirda sambil makan gorengan juga.


"Wah parah, kalo lu makan apa, A?" tanya Husain pada Alan.


"Hehu," ucap Alan yang sedang memasukan gehu kedalam mulutnya.


"Hehe hoheng, hala-hala, hehu, gorengan jenis apa itu!" kesal Alan.


"Hanash tau!" kesal ketiganya, karena memang gorengan yang disajikan itu dalam keadaan panas. Maka dari itu tempe goreng, bala-bala dan gehu menjadi terdengar aneh.


Husain pun mengambil satu ubi goreng dan memakannya.


"Huh hah, hui nha hanash," ucap Husain membuat mereka tertawa.


"Rasai lu! Gak bisa huh hah huh hah malam panas, jadi makan gorengan panas aja! Tetep bisa bikin huh hah huh hah," ledek Alan.


"Aa! Gak usah ledekin suami aku mulu kenapa sih," kesal Alana yang baru saja datang.


"Buset dah, pawangnya dateng," gumam Alan.


"Ck! Yang punya pawang tuh situ, kan situ buaya!" ketus Theresia membuat wajah Alan memucat.


Jika godaan sedang diterima oleh Husain dari seluruh keluarganya, berbeda dengan Alan. Dia tengah menghadapi cobaan dalam hubungannya dengan Theresia. Bagaimana Rere tidak kesal, Alan diam saja ketika beberapa cabe-cabean yang memakai baju kurang bahan menggodanya. Bahkan Alan termasuk menanggapi godaan mereka.


Alan meminta Theresia untuk duduk disampingnya, tapi gadis itu menolak.


"Sini dong, Re! Kan mereka yang godain, bukan aku," rengek Alan.

__ADS_1


"Yakin? Bukannya seneng digodain! Lain kali, aku mau pake baju kurang bahan ah! Siapa tau ada yang mau jadiin aku sugar baby gitu," ucap Theresia membuat Alan melotot.


"Enak aja! Kamu itu milik aku, mau aku bikin stampel di jidat kamu tuh! 'MILIK ALAN', enak aja aset negara mau diumbar-umbar, nyicipin aja belum!" kesal Alan.


"Belom dapet sertifikat Halal dari KUA jadi masih bisa diambil orang!" ketus Theresia lalu pergi meninggalkan Alan.


Sungguh Alan sangat kesal dengan ucapan Theresia, dia pergi menyusul gadis itu.


"Kamu mau kemana?!" Alan mencekal pergelangan tangan Theresia.


"Lepas!! Aku mau pulang, sana sama cabe-cabean aja! Aku juga mau cari om-om yang jauh lebih setia dan dewasa!" ketus Theresia membuat Alan semakin kesal.


"Aku bilang aku gak nanggepin, yank! Lagian aku cuman sayang sama kamu, masih kurang bukti yang aku tunjukin ke kamu?" bentak Alan membuat Theresia menangis.


Merasa bersalah, Alan segera memeluk tubuh gadis kesayangannya itu.


"Maafin aku, yank! Sumpah demi langit dan bumi yang menjadi saksinya, aku cuman sayang sama kamu. Itulah alasan aku pengen cepet dapet sertifikat halal sama kamu, biar aku bebas ngapa-ngapain kamu," ucap Alan membuat Theresia membulatkan matanya.


"Jadi kamu halalin aku cuman biar bisa kamu apa-apain?!" kesal Theresia.


"Yaa Allah, ini singa betina lagi kedatangan tamu apa?! Bener kata Baba, lebih baik berhadapan dengan singa asli daripada singa betina begini," batin Alan.


Alan lebih memilik tak menanggapi ucapan sang kekasih, dan memilih untuk mendekap tubuh Theresia dengan sangat erat.


"Aa Alan, kalo kamu masih menanggapi gadis-gadis yang ngegodain kamu. Lebih baik kita udahan, aku lelah! Tiap kali ada cewek yang deketin kamu, hati aku sakit 2 kali lipat. Mungkin Kak Lula juga sakit hati," lirih Theresia.


"Nggak! Jangan pernah ngomong kaya gitu, aku gak akan pernah ngelepasin kamu!" tegas Alan.


"Yaudah kalo gitu buktiin! Jangan sampe aku liat kamu lagi digodain cewek lagi," kesal Theresia.


"Kan mereka yang deketin aku, yank! Bukan aku," kilah Alan tak ingin disalahkan.


"Kalo ikan deketin kucing, kira-kira kucing bakalan ngapain?" tanya Theresia.


"Ya paling dimakan!" jawab Alan.


"Tuhkan! Kamu juga kaya kucing, kalo ikan nyamperin pasti diembat! Dasar kucing garong!" kesal Theresia menginjak kaki Alan lalu pergi begitu saja.


"Yaa Allah salah lagi gua! Ya kaki, ya hati sama-sama sakit!" keluh Alan dalam hatinya sambil memukul-mukul bibirnya sendiri.


Alan berwajah cukup tampan, otomatis hal itu membuat para gadis tak segan untuk mendekatinya. Hanya satu kelemahan Alan, dia tidak pernah bersikap ketus pada siapapun. Maka dari itu, Theresia kadang merasa kecewa dengan sikap Alan.


Ummi Ulil yang sempat mendengar pembicaraan mereka, menghampiri sang putra.


"Lecek banget ini muka, Ummi sampe gak bisa bedain mana kamu mana duit saking leceknya!" goda Ummi Ulil.


"Ck! Apaan sih, Ummi!" kesal Alan.


"Aa, dengerin Ummi ya sayang. Dalam sebuah hubungan, pria sejati gak akan pernah bikin pasangannya cemburu sama orang lain, tapi pria sejati akan membuat orang lain cemburu sama pasangannya. Kecemburuan adalah perasaan cinta dan benci pada saat yang bersamaan, Nak. Seharusnya Aa tahu, kalo kecemburuan akan selalu ada dalam ikatan. Karena itu, jangan buat Rere cemburu, buatlah orang lain cemburu saat melihat hubungan kalian berdua. Sungguh wanita itu mampu menyembunyikan cinta selama 40 tahun, Aa. Tapi mereka gak akan sanggup menyembunyikan cemburu meski sesaat," ucap Ummi Ulil menasehati sang anak dan Alan menganggukan kepalanya patuh.


Sedangkan Theresia, dia sedang menangis dipelukan calon Kakak iparnya.


"Aku gak mau cemburu, Teh. Tapi aku merasa gak suka kalo orang lain bikin dia ketawa lepas tanpa kehadiran aku disana," lirih Theresia.


"Udah, udah jangan nangis! Nanti kita bicara baik-baik sama Alan, ya!" ucap Cyra.


"Enggak, Teh. Untuk saat ini, Rere mau tenangin diri sendiri dulu. Biarin dia ngerasain, gimana hidup dia tanpa kehadiran Rere disampingnya," tegas Theresia dan Cyra hanya bisa mengangguk pasrah.


"Dasar si Alan, Oon, Bloon, kurap, kudas, kutu air, bintitan," umpat Cyra dalam hatinya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2