
Boleh kasih saran gak buat Author?
Kalo cerita ini TAMAT, kalian mau Author buat cerita yang seperti apa?
Author sebetulnya punya cerita yang cukup menyayat hati, tapi juga tetep ada komedinya. Kalo para Reader setuju, setelah tamat ini akan Author Up ceritanya.
Komentar dibawah ya mengenai saran kalian ππ
Terimakasih para reader setiaku π₯°π₯°
* * * * *
Kembalinya Febri, membuat kebahagiaan mereka semakin lengkap. Gisya bahkan tidak mengijinkan Febri untuk sekedar kembali kerumahnya. Akhirnya Febri dan Zaydan memutuskan untuk menginap dirumah Gisya bersama Yuliana dan Jafran.
"Pokonya gak mau tau! Malem ini kita harus tidur barengan, kangenn tau bobok sama kaliaan." ucap Yuliana yang memeluk Febri.
"Ehh! Baba bobok sama siapa nanti?" rengek Jafran pada istrinya.
"Manja! Noh sama si Abang sama Mas Idan tidur diluar!" ketus Yuliana.
Jafran menghela nafasnya, pada akhirnya para lelaki itu tidur bersama diruang tengah.
"Ba, bikinin kopi sanaaa! Biar begadang aja sekalian nonton bola." ujar Fahri.
"Hem mulaiii! Bikin sono sendiri, enak aja main nyuruh-nyuruh!" kesal Jafran.
"Kan ini kaki masih sakit Ba! Gitu aja perhitungan amat sih!" tutur Fahri.
"Udah-udah biar saya aja yang bikin kopi! Bapak pilot dan bapak komandan yang terhormat duduk manis aja disini ya!" ucap Zaydan sambil berjalan menuju dapur.
Ternyata didapur, Febri sedang membuatkan teh panas untuk Gisya yang sedang mual-mual. Zaydan tersenyum bahagia melihat calon istrinya disana, dia menggoda sang calon istri yang terkadang masih gugup saat berdekatan dengannya.
"Istri Mas lagi ngapain sih?" tanya Zaydan yang membuat Febri kaget.
"Mas! Kamu nih ngagetin aja sih!" kesal Febri pada calon suaminya itu.
"Lagian anteng banget sih yank, sampe Mas dateng aja gak ngeuh." ucap Zaydan.
"Apaan sih Mas panggilan kamu tuh kaya anak ABG, mau ngapain Mas ke dapur? Mau dibikinin kopi?" tanya Febri dengan wajah yang memerah.
"Tau aja nih sayangnya Mas, boleh bikinin kopi 3 cangkir ya. Buat Bang Fahri sama Bang Jafran sekalian." pinta Zaydan dan dengan senang hati Febri membuatkannya.
Sementara Jafran mulai kesal karena Zaydan tidak kunjung datang, akhirnya dia memutuskan untuk menyusul Zaydan ke dapur.
"Eheemmzzz! Pantesan di dago-dago larinya ke ledeng!" ledek Jafran pada Zaydan.
"Apaan sih Ba, ini kopinya masih dibikinin tau!" ucap Febri yang salah tingkah.
__ADS_1
"Cie salting, cie melting! Orang Baba mah cuman ngabsen jurusan angkot!" ledek Jafran lalu meninggalkan kedua sejoli yang salah tingkah itu.
"Mas sih! Udah ah aku mau balik lagi ke kamar, kasian Caca nungguin. Jangan begadang loh Mas!" ucap Febri mengingatkan.
"Siap istrikuu!" goda Zaydan yang membuat Febri berjalan lebih cepat.
Febri masuk kedalam kamar Gisya dengan wajah yang memerah, jiwa kepo dalam diri Yuliana langsung meronta-ronta untuk mengeksekusi Febri.
"Kenapaa sih? Mukanya merah banget, kesiram air panas?" goda Yuliana.
"Apaan sih Lil! Kamu sama suami kamu sama aja! Sama-sama gesrek!" kesal Febri.
"Loh, loh kok bawa-bawa suamique! Wah jangan-jangan ada udang dibalik Zaydan nih!" ucap Yuliana dengan nada bicara yang dibuat-buat.
"Ish! Jyijyick banget deh Ummi!" ucap Gisya menimpali.
"Kalian tuh sama aja deh! Gemesiinn...!" ucap Febri sambil mencubit kedua pipi sahabatnya itu.
Anak-anak sudah tertidur diatas kasur, mereka tidur berempat. Sementara Quera tidur bersama Bunda Syifa dikamarnya. Dan ketiga ibu-ibu rumpi ini menggelar kasur dibawah, agar mudah memantau anak-anaknya. Yuliana yang masih penasaran tentang hidup Febri selama 3 tahun ini, terus mewawancarai sahabatnya itu.
"Ceritain dong gimana kehidupan kamu sama Cyra disana. Kita kan pengen tau, Biw. Sumpah demi apapun, aku sama si Caca udah kayak gelandangan nyari-nyari kamu di stasiun! Awas aja kalo kamu berani ninggalin kita lagi!" ucap Yuliana yang kesal.
"Lil, mau gak mau pasti aku bakalan jauh lagi dari kalian. Karena Mas Zaydan kan dinas di Jogja, dan aku juga punya toko oleh-oleh disana yang gak bisa aku tinggalin." ucap Febri.
"Coba ceritain Biw, gimana kehidupan kamu disana." pinta Gisya.
POV FEBRI
"Aku harus pergi, aku akan mulai kehidupanku yang baru bersama putriku. Tidak mungkin selamanya aku akan merepotkan Caca dan Ulil." ucapku pada diriku sendiri.
Pagi itu aku sudah mempersiapkan segalanya, termasuk kebutuhanku selama di Jogja. Aku memberanikan diri untuk pergi berdua dengan anakku. Beruntungnya disana aku sudah menemukan sebuah Ruko yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal sekaligus tempat usaha. Walaupun berat, aku harus melakukan semua ini. Aku titipkan beberapa surat untuk Mama, untuk Caca dan juga untuk Ulil. Tak lupa sepucuk surat untuk laki-laki yang mampu membuat hatiku luluh, walaupun pada akhirnya rasa sakit yang aku dapat.
Sesampainya di Jogja, aku dibantu oleh anak pemilik Ruko yang bernama Ayu. Aku mulai merintis membuka toko kue, namun sayangnya itu tak bertahan lama. Toko kue pesaingku disana menghancurkan Ruko dan mengancamku.
"Mbak Febri, sebaiknya kita cari usaha yang lain saja. Daripada keselamatan Mbak Febri dan Dek Cyra terancam." ujar Ayu padaku.
"Tapi kita harus buka usaha apalagi Ayu? Mbak cuman bisa bikin kue, kalo usaha yang lain Mbak belum yakin bisa. Apalagi Cyra belum bisa ditinggal-tinggal." jawabku.
Ayu terus memberiku saran dan menyemangatiku, hingga suatu hari Ayu menikah dengan seorang suplier bakpia. Dia menyarankan agar aku membuka toko oleh-oleh saja.
"Mbak, suamiku suplier bakpia terbesar di Jogja. Bagaimana kalo Mbak buka toko oleh-oleh khas Jogja aja? Biar aku sama suami yang akan membantu Mbak. Permodalan bisa diatur sesuai budget kita Mbak." ucap Ayu padaku.
"Mbak setuju Ayu, tabungan Mbak masih cukup untuk menyewa toko. Tolong bantu Mbak ya Ayu." ucapku penuh harap pada Ayu.
Setelah kurang lebih satu tahun aku merintis toko oleh-oleh, akhirnya kehidupanku dan Cyra berubah. Kini aku harus membagi waktu untuk mengurus toko dan juga mengurus anakku. Untungnya ada Ayu yang selalu setia mendampingiku, dan juga Cyra yang mampu mengerti keadaanku. Kehidupanku tidak jauh dari Toko dan Cyra, hanya itu saja. Hingga akhirnya aku bertemu dengan Bayu, seorang Polisi yang menolongku ketika aku panik.
Malam itu Cyra demam tinggi, karena panik aku menjalankan mobilku dengan kecepatan tinggi. Hingga aku menabrak sebuah kios, untung saja kios itu dalam keadaan kosong. Aku memeluk erat putriku yang menangis di Car seatnya.
__ADS_1
"Mbak tidak apa-apa?" tanya Bayu padaku dan aku hanya bisa menangis.
"Tolong saya, anak saya demam tinggi. Saya harus bawa dia kerumah sakit." ucapku.
Dengan cekatan Bayu mengambil Cyra dibangku penumpang dan membawanya kedalam mobil patroli. Salah satu temannya, membantu untuk mengurusi mobilku. Dia mengantarkan hingga Cyra sampai ke kamar rawat inap.
"Terimakasih Pak, maaf sudah merepotkan." ucapku pada Bayu.
"Panggil saja Bayu, lain kali jangan menjalankan kendaraan ketika sedang panik. Itu bisa membahayakan nyawa Mbak dan juga anak Mbak." ucap Bayu menasehatiku.
Sejak saat itu, Bayu semakin dekat dengan Cyra. Kehadirannya membawa kebahagiaan tersendiri bagi Cyra yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ayah. Aku mulai terbuka akan kehidupanku pada Bayu. Begitupun juga dengan Bayu, dia mulai mengenalkanku pada kedua orangtuanya. Namun sayangnya, sikap mereka terhadapku dan Cyra sangat buruk.
"Kamu harus mengerti statusmu, putraku harus mendapatkan istri yang setara dengan keluarga kami dan jelas asal usulnya. Apalagi statusmu yang janda mati tapi memiliki anak! Sungguh menjijikkan!"
Itulah ucapan kedua orangtua Bayu yang selalu melekat dalam ingatanku. Aku terus berusaha menjauhkan diri dari Bayu dan juga keluarganya. Tapi Bayu tidak pernah mau mendengarkan permintaanku.
"Aku akan tetap mencintai kamu dan memperjuangkan kamu." ucap Bayu.
"Tapi aku tidak bisa, dan kamu tidak akan pernah bisa menjadi Ayah untuk Cyra. Jadi aku mohon, tolong jauhi aku dan Cyra." pintaku dengan sungguh-sungguh.
"Jika aku tak diijinkan menjadi Ayahnya, maka ijinkan aku untuk selalu dekat dengan kalian dan melindungi kalian. Walaupun sebagai seorang teman dekat." ucap Bayu.
Aku tidak bisa melarangnya, Bayu begitu bertekad untuk melindungi aku dan Cyra. Hingga akhirnya kehadiran Zaydan membuat aku bisa terlepas dari Bayu dan ancaman keluarganya terhadapku.
POV END
"Wah gila kamu Biw! Abis TNI terbitlah Polisi! Terus sekarang hubungan kamu sama Bayu gimana? Terus dia tau kalo Mas Idan calon papanya Cyra?" tanya Yuliana bertubi-tubi.
"Ihh kumat penyakit KEMAL nya deh!" kesal Febri pada sahabatnya itu.
"Hah? Kemal? Apaan tuh?" tanya Gisya yang sejak tadi hanya menyimak.
"KEPO MAKSIMAL!" jawab Febri dan Yuliana bersamaan yang membuat Gisya tersentak.
"Dasar Gerandong! Bikin jantungan aja! Biasa aja jawabnya kan bisaa kaleeee!" kesal Gisya.
Febri dan Yuliana tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan Gisya. Dalam hati, Gisya merasa bahagia jika sahabatnya itu sudah kembali.
"Akhirnya kita bisa berkumpul sama-sama lagi disini. Jangan pisahkan kami lagi, Yaa Allah.." ucap Gisya dalam hati.
* * * * *
Maaf Baru Up πβ
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author β€