Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Sahabat Naik Pangkat


__ADS_3

Disalah satu Hotel di Dago, Alana dan Husain akan mengucapkan janji sucinya. Dengan bertemakan 'garden party' seperti impian mereka. Akad nikah akan dilaksanakan di alam terbuka, dengan langit yang menjadi tenda bagi mereka. Begitulah kesederhanaan Alana dan juga Husain. Yang penting bagi mereka saat ini adalah halalnya hubungan mereka.


Setelah kemarin mereka mengadakan acara siraman dan juga pengajian yang penuh derai airmata. Pagi ini Husain sudah berdiri dengan gagah memakai beskap berwarna putih. Husain diapit oleh Ayah Fahri dan juga Bunda Gisya. Sedangkan dibelakang mereka, Indira yang menggendong Sweta dan Athaya juga Mirda dan Elmira yang duduk dikursi roda sambil memangku bayi kecil mereka. Rombongan mulai memasuki pelataran Hotel.


Seluruh keluarga Husain ikut berjalan sambil membawa seserahan.


"Ayah, kok aku jadi serem gini ya ketemu Baba," bisik Husain pada sang Ayah.


"Tenang aja! Baba kamu udah jinak kok," bisik Ayah Fahri.


"Kalian ngapain sih, bisik-bisik tetangga! Liat kedepan dan senyum!" pinta Bunda Gisya pada kedua lelaki kesayangannya.


"Nggih ndoro," jawab Husain dan Ayah Fahri bersamaan.


Baba Jafran dan Ummi Ulil menyambut Husain dengan mengalungkan bunga melati.


"Bismillah, ya! Jangan grogi, harus satu tarikan nafas! Awas kalo gagal," ancam Ummi Ulil membuat Husain susah payah menelan ludahnya.


"Iy-iya, Mi," gugup Alan membuat Ummi Ulil tersenyum jahil.


"Ish! Kamu jangan bikin anak aku snewen dong, Lil!" kesal Bunda Gisya.


"Apaan sih, itu tuh memberikan motivasi namanya!" elak Ummi Ulil.


"Ampun dah, malah debat disono! Masuk, pak pengulu udah nunggu itu," ucap Alan mengingatkan.


Kini Husain sudah duduk didepan meja akad, tangannya sangat dingin dan gemetaran. Bisa dipastikan dia akan diledek habis-habisan oleh keluarga somplaknya itu.


"Bedeeeuhh, masa calon Bupati gemeteran! Belum makan lu," bisik Alan meledek sang calon adik iparnya itu.


"Diem lu! Tar juga lu ngerasain," ketus Husain.


"Heh jangan jadi adik ipar durjanah lu ye, gua udah ikhlas dilangkahin begini," ucap Alan.


"Kalo ikhlas, lu kaga akan minta sepeda gunung!" kesal Husain.


Acara pun sudah dimulai, pembacaan ayat suci al-qur'an dilakukan oleh Athaya. Tapi kali ini dia sendirian, sebab Indira sedanh direpotkan oleh Sweta yang sedang aktif berjalan. Di waiting room, Alana bisa melihat dengan jelas wajah sang calon suami yang tengah gugup. Alana ditemani oleh Cyra dan juga Theresia, mereka terus menenangkan Alana yang sejak tadi sangat gugup dan terus menitikkan airmata.


Sudah kesekian kalinya, Cyra meminta make up Alana dibetulkan.


"Please deh, Mail! Udahan nangisnya, masa nanti sembab disana," kesal Cyra.


"Jangan dong! Nanti foto-foto nikahan aku nya jelek," rengek Alana.


"Yaudah makanya gak usah mewek mulu!" kesal Cyra membuat Theresia tertawa.


"Jangan ketawa kamu, Re! Nanti juga kalian ngerasain, lagian ini airmata kenapa ngalir mulu sih! Heran gue, masa harus disumpelin pantyliner!" kesal Alana pada airmatanya.


"Lu kate itu mata apaan," kesal Cyra sambil tertawa mendengar ucapan Alana.


Kini tiba saatnya Husain untuk berjabat tangan dengan Baba Jafran, saat dia sedang gugup sang Baba dengan sengaja menggodanya.


"Ciee jadi mantu Baba, cieeee," goda Baba Jafran.


"Ck! Udah cepetan, Ba!" ucap Husain sambil meminta tangan sang Baba.


"Yaudah ayok!" ucap Baba Jafran menyiapkan tangannya seperti orang yang akan melakukan panco, hal itu membuat mereka semua yang ada disana tertawa.


"Baba! Mau akad ih, bukan mau panco!" kesal Husain.


"Iya iya.. Gak sabaran banget sih," goda Baba Jafran.


"Yaa Allah si Baba, pengen nyemplungin ke kolam deh!" kesal Alana ketika melihat tingkah sang Ayah dilayar kaca.


"Biar si Abang gak tegang itu," ucap Cyra dan Alana menghela nafasnya.


Kali ini Baba Jafran menjabat tangan Husain, dengan wajah serius namun sendu.


"Husain Hafidz Gifahri bin Fahri Putra Pratama, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya bernama Ariella Alana Putri Maulani binti Muhammad Jafran dengan Mas Kawin seperangkat alat sholat dan emas putih sebanyak 50gram dibayar TUNAI!" Baba Jafran mengatakan hal itu dengan nada bergetar menahan tangis.

__ADS_1


"Saya terima nikah dan kawinnya, Ariella Alana Putri Maulani binti Muhammad Jafran dengan mas kawin tersebut, TUNAI!!" ucap Husain dengan satu tarikan nafas.


"SAAAAAAHHHHHH!!!"


Suara yang cukup nyaring, dibawah hembusan angin dipagi yang cerah itu kini Alana dan Husain sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Baarakallaahu laka, wa baarakallahu ‘alaika, wa jama’a bainakuma fii khaiir," ucapan do'a dari setiap orang yang berada disana.


Husain dapat menghela nafas lega, sedangkan Baba Jafran sudah tak kuasa lagi menahan tangisnya. Begitupun dengan Ummi Ulil dan juga Bunda Gisya, apalagi ketika melihat Alana berjalan dengan anggunnya memasuki tempat akad nikah.


"MashaAllah, putri kecilku yang pecicilan sekarang berubah jadi putri cantik yang anggun," ucap Ummi Ulil dengan mata berkaca-kaca.


"Alhamdulillah, kita besanan sekarang, Lil!" ucap Bunda Gisya memeluk sang sahabat.


Kini gaun yang terpajang pada manequin sejak lama di butik Alana, berubah terpajang ditubuh ramping Alana. Sungguh siapapun akan terhipnotis dengan kecantikan putri dari pasangan paling absurd itu. Husain tersenyum ketika melihat wajah Alana yang kini sudah sah menjadi istrinya itu. Hati Husain sangat bahagia, sahabat kecilnya yang pecicilan itu kini sudah berubah menjadi anggun.


Kini Husain dan Alana sudah berhadapan, Alana mencium tangan Husain dan Husain mencium kening Alana seraya mengucapkan do'a pada ubun-ubunnya.


"Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih. Kamu cantik, sayang," ucap Husain membuat Alana tersipu malu.


"Abaaang!" wajah Alana sudah besemu merah.


Setelah itu, Alana dan Husain menandatangani berkas pernikahan mereka. Seperti pernikahan pada umumnya, mereka melakukan sesi foto sambil menunjukkan buku akad nikah mereka.


"Kagak usah shombong, pake diliat-liatin segala buku nikahnya," celetuk Alan.


"Iri bilang bossss!" ledek Husain sambil mencium pipi Alana.


"Ummi! Boleh akad juga gak," rengek Alan yang mendapatkan cubitan oleh sang kekasih.


"Diem atau gua balikin ni cincin," ancam Theresia membuat Alan seketika diam.


"Cie dah punya pawang cieee!" goda Husain.


Kini tiba saatnya acara sungkeman, hal yang paling menguras airmata. Husain dan Alana bersujud pada kedua orangtua mereka masing-masing. Mereka meminta maaf dan memohon do'a demi kelancaran rumah tangga mereka. Setelah itu, mereka menyambut beberapa kerabat dan keluarga yang datang. Memang Alana dan Husain hanya mengundang keluarga dan beberapa kerabat saja.


Acara tak sampai sore, siang itu semua keluarga memutuskan untuk menginap di hotel. Sekalian mengadakan acara makan malam keluarga, seperti biasanya. Kini Alana dan juga Husain sudah berada dikamar pengantin mereka, keduanya terlihat sangat gugup.


"Iya ini Abang mau mandi, mau bareng?" goda Husain pada sang istri.


"Ja-jangan aneh-aneh deh, Bang!" gugup Alana hingga pipinya merona.


"Gak aneh-aneh lah sayang, kita kan......." ucapan Husain terpotong.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Husain menggerutu kesal.


"Penganten lagi ngapain nih?" tanya Alan yang menyelonong masuk bersama anak-anak muda lainnya seperti Theresia, Cyra dan Thoriq, Carel dan Aqeela juga Indira dan Athaya.


"Ck! Kalian ngapain sih kesini," kesal Husain saat mereka semua menerobos masuk.


"Nemenin penganten lah, mau ngapain lagi," ucap Thoriq sambil mengedipkan matanya.


"Cyra! Calon laki lu genit amat ama laki gue," bisik Alana.


"Gak apa-apa dong," jawab Cyra sambil mengedipkan sebelah matanya.


Alana bersembunyi dibalik tubuh sang suami, ketika melihat Cyra seperti itu.


"Bang, kayaknya mereka kesambet jurig kebon deh," bisik Alana yang masih bisa didengar oleh mereka semua.


"Kesambet setan kebelet kawin yank mereka mah," ucap Husain sambil menatap tajam pada mereka yang kini tengah asyik menjelajah kamar pengantin.


"Wah! Nambah lagi deh SIM lu sekarang, Ain!" celetuk Alan.


"Haaa? SIM? Gua cuman punya dua kok!" jawab Husain.


"Heleh, dapet lagi lu hari ini! Surat Izin Mengemudikan si Mail!" ucap Alan membuat mereka tertawa, sedangkan kedua pengantin baru itu wajahnya sudah bersemu merah.

__ADS_1


Melihat itu mereka semakin menggoda kedua pasangan baru itu.


"Ciee udah naik pangkat cieee," goda Cyra membuat mereka semakin malu.


"Apaan lagi tuh?" tanya Theresia.


"Naik pangkat, dari sahabat bermain ditaman jadi sahabat bermain diranjang," bukan Cyra yang menjawab, tetapi Alan.


"Gak ikutan ah! Kita mah keluar aja, yuk!" ajak Indira pada Athaya, Carel dan juga Aqeela.


"Jangan kabur ya, Dira!" teriak Theresia.


Tak lama kemudian datanglah sidak dari para orangtua.


"Kalian ngapain disini?" tanya Baba Jafran sambil berkacak pinggang.


"Nemenin penganten dong, Ba! Siapa tau bisa dapet private gitu, tata cara malem pertama," celetuk Alan membuat sang Baba melototkan matanya.


"Anak durjanah! Enak aja mau private celap celup, pake pengen tau tata cara malam pertama segala! Kasih logo halal dulu tuh kaya si Mail, sekarang ikut kita keluar!" ucap Baba Jafran sambil menjewer kedua telinga Alan.


"Aw! aw! Sakit Baba! Iya iya ini mau keluar," kesal Alan sambil memegang telinganya yang terasa panas.


Setelah orangtuanya, Alan dan kawan-kawan keluar, kini Husain menatap kedua mertuanya yang masih berdiri didepan pintu kamarnya.


"Lah, Baba sama Ummi masih ngapain disini?" heran Husain menatap keduanya.


"Baba cuman mau ngingetin, kalo mau bikin adonan jangan lupa di ulenin dulu biar adonannya basah! Kalo udah siap ngadon, pelan-pelan nyalain mixernya. Takutnya baskom penampung adonannya itu belum siap," ucap Baba Jafran mengedipkan sebelah matanya.


"Giring bolanya jangan cepet-cepet ya, Bang! Biasanya gawang masih tersegel," ucap Ummi Ulil membuat kedua pasangan pengantin itu melongo mendengar ucapan absurd dari kedua orangtuanya.


"Haaaaaa???" Husain dan Alana sama-sama menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Husain sudah akan menutup pintu, tapi kepala Baba Jafran yang nongol membuat Husain terkaget apalagi setelah mendengar kembali ucapan absurd dari sang mertua.


"Selamat bermain balon dan merasakan enaknya dawegan! Juga selamat menaiki gunung dan menjelajahi lembah! Inget pelan-pelan, jangan sampe anak Baba lecet! Nabung yang banyak, biar cepet kasih Baba cucu! Byee!" ucap Baba Jafran menbuat Husain melongo.


"Yaa Allah, punya mertua absurd banget!" batin Husain lalu menutup pintu kamar dan menguncinya.


Dia mendekati sang istri yang tengah duduk diatas kasur dengan gugupnya. Husain dengan telaten membantu Alana membuka gaun pengantinnya.


"A-abang gak jadi mandi?" tanya Alana gugup.


"Nanti aja sekalian, nanti juga gerah lagi," jawab Husain membuat jantung Alana berdegup.


"Se-sekarang aja, Bang! A-aku gerah," Alana mencari cara agar bisa menghindar.


"Kenapa? Mau mandi bareng, hm?" bisik Husain membuat tubuh Alana meremang.


Perlahan tapi pasti, Husain mulai mencium kening sang istri lalu beralih pada pipi dan mulai menjelajahi bibir sang istri yang kini sudah halal baginya.


"Boleh ya?" tanya Husain dan Alana menganggukkan kepalanya.


(HAYOO YANG TRAVELING ANGKAT TANGAN 😝🤣)


Husain mulai berjalan menaiki gunung kembar dan berlari-lari kecil disana hingga membuat Alana menggetarkan tubuhnya. Tapi saat Husain akan menjelajahi lembah, tangan Alana mencegahnya. Dengan segera dia berlari masuk kedalam kamar mandi.


"Sayang! Kamu kenapa yank?! Maaf ya, maaf kalo kamu belom siap! Buka yank, besok lagi juga boleh kok!" teriak Husain yang panik.


Alana membuka pintunya dan menyembulkan kepalanya.


"Aku gak apa-apa, Bang! Cuman pabrik lagi kebanjiran Fanta! Tolong beliin roti jepang yang 36cm, yang ada sayapnya ya, Bang!" pinta Alana.


"Haaaaaaa????"


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2