Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Cinta dan Keadaan


__ADS_3

Sekuat hati..


Menjagamu tetap ada disisi..


Tak sampai hati melepasmu pergi..


Rasa cinta yang sangat besar dihati..


Tapi nyatanya..


Keadaan memang tak memungkinkan..


Memilih cinta atau keadaan..


Tak bisa keduanya..


Tuhan punya maksud sendiri..


Atas cerita ini..


"Bagian diriku merasa sakit, mengingat dirimu yang sangat dekat namun tak dapat tersentuh."


Sekuat hati, Alan selalu memperjuangkan cintanya untuk Theresia. Awal niatnya adalah agar dia bisa dekat dengan Cyra, namun pada akhirnya perasaan itu pun hadir. Cyra adalah sebuah alasan, tapi Theresia adalah sebuah jawaban. Takdir cintanya mungkin bukanlah Cyra.


Hari pernikahan kurang dari dua minggu itu akan segera terlaksana, Alan sudah kembali ke Indonesia. Sebab hari ini dia akan melakukan fitting baju pengantin. Tentu saja, baju pengantin yang akan mereka gunakan adalah rancangan Alana.


Rencananya, resepsi pernikahan Alan dan Theresia akan digabungkan dengan resepsi Thoriq dan juga Cyra. Sebab Thoriq dan juga Cyra belum melaksanakan resepsi pernikahan.


Cyra dan adik iparnya itu sedang menunggu Alana yang tengah membawakan beberapa gaun pengantin, tak lupa dia juga membawa Sweta yang tengah tertidur di pangkuannya.


"Tidurin aja itu Sweta nya, lu pegel nanti, Ra!" ucap Alan. Cyra hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Dia kalo di tidurin nanti bangun, gak apa-apa gini aja!"


Tak lama kemudian datanglah Alana, dia membawa masing-masing dua gaun pengantin untuk Cyra dan juga Theresia. Sedangkan untuk akad, Theresia akan menggunakan kebaya putih. Karena Cyra tengah menggendong Sweta, maka Theresia yang mencoba gaun pengantin itu terlebih dahulu.


Alan hanya sibuk dengan ponselnya, dia tengah memeriksa beberapa pekerjaan yang sempat dia lewatkan.


"Aa, ini gimana? Bagus gak?" tanya Theresia. Alan menoleh, dan menganggukkan kepalanya. "Bagus! Itu aja yank, gue suka." ucap Alan.


Merasa kurang puas dengan jawaban Alan, gadis itu berlenggak-lenggok di depan calon suaminya. "Jadi gak sabar pake gaun ini deh! Cantik banget!" puji nya pada diri sendiri.


Alan berdiri dan menghampiri kekasihnya itu, "Lu mau pake baju apapun cocok, yank! Kaga usah pilih-pilih, lu udah cantik dari sononya! Apalagi kalo kaga pake baju," bisik Alan membuat pipi Theresia bersemu merah.


"Heh! Kaga usah ngadi-ngadi ya lu, gue disini belom budek!" kesal Cyra saat mendengar ucapan Alan.


Laki-laki itu hanya tertawa terbahak-bahak, "Gue mau terima telepon dulu, takutnya agak lama! Kalo Mas Thoriq udah dateng, suruh duluan aja!" ucapnya lalu pergi ke Balkon butik milik kembarannya itu.


Gaun yang akan dipakai oleh Theresia sedikit kebesaran, maka dari itu Alana akan memperbaiki terlebih dahulu. Menyesuaikan dengan ukuran tubuh Theresia. Tak lama kemudian datanglah Thoriq sambil membawa beberapa minuman dan cemilan.


"Hei sayang! Kamu udah coba gaunnya?" tanya Thoriq yang langsung mendudukkan diri disamping sang istri.


Cyra menggelengkan kepalanya, "Gaun Rere kebesaran, itu lagi di otak atik sama Alana! Mas udah makan?" tanya Cyra.


"Belum sayang, Mas setelah ini ada meeting sama klien! Jadi kayaknya gak bisa lama-lama, maaf ya! Nanti kamu kirimin aja foto-foto kamu pas pake gaun pengantinnya ya, sayang," ucap Thoriq mengelus lembut pipi Cyra.

__ADS_1


Thoriq lalu bergegas mencoba tuxedo yang akan digunakannya saat resepsi, "Gimana sayang?" tanya Thoriq dan Cyra memberikan kedua jempolnya.


Berbarengan dengan itu, Theresia pun selesai mengukur gaunnya. Dia harus bergegas kembali ke kampusnya, sebab setelah pernikahan Theresia akan disibukkan dengan KKN dari kampusnya. "Kak, gue nebeng yaa sampe kampus! A Alan masih nelpon itu, gue buru-buru mesti ke kampus," rengek Theresia.


"Ckck! Mau nikah aja masih nyusahin Kakak, yaudah cepetan! Kakak juga mau ada meeting ini!" kesal Thoriq.


Cyra hanya tersenyum saat melihat interaksi kedua Kakak beradik itu, "Mas! Jangan kaya gitu dong! Nanti dia udah nikah, baru kerasa kamu kehilangan adik semanis dan selucu dia," ucap Cyra membuat Theresia tersenyum penuh kemenangan.


"Yaudah, Mas pamit ya sayang! Pulang nya hati-hati, minta aja tuh calon adik ipar kita buat nganterin kamu. Jangan pulang sendiri, oke?" Thoriq mencium kening sang istri sebelum pergi.


"Huft! Kalian itu pamer kemesraan mulu, awas aja nanti udah nikah! Gue bales!" kesal Theresia.


"Hahahahaha!" Cyra dan Thoriq tertawa terbahak-bahak. "Dah lah males! Teh nanti bilangin sama A Alan kalo aku pergi, ya! Buru-buru banget ini, maaf kalo gak pamit gitu! Kalo dia marah, jewer aja yak!" ucap Theresi lalu menarik tubuh sang Kakak agar segera berangkat.


"Hati-hati dijalan! Jangan ngebut!" teriak Cyra.


Alana yang baru saja selesai membetulkan gaun Theresia mengerenyitkan dahinya, "Dimana Rere sama Mas Thoriq?


"Udah pergi, Mas Thoriq ada meeting sedangkan adiknya musti ke kampus! Ngurusin buat KKN, katanya," jawab Cyra.


Alana mengangguk tanda mengerti, lalu wanita yang kini tengah hamil itu meminta sang asisten untuk menggendong Sweta. "Tolong jaga Sweta dulu ya, Mbak! Gendong aja, soalnya dia bangun kalo di tidurin di sofa!" ucap Alana.


"Oke, Bu! Itu baju Bu Cyra sama Pak Alan udah saya siapin di fitting room."


Setelah Sweta berpindah gendonga, Alana dan Cyra segera masuk kedalam fitting room. Alana membantu Cyra untuk mengenakan gaun pengantinnya. "Ini aku buat spesial buat sahabatku tersayang, kamu suka?"


Cyra tersenyum penuh haru, gaun pengantin impiannya sungguh indah. Gaun dengan aksen brokat dan train panjang, tak lupa veil (kerudung tipis) sebagai pengganti mahkota. Sebab Cyra kini sudah memilih untuk menggunakan hijab, maka dia memilih tidak ingin memakai hiasan mahkota.


Alan yang baru selesai menelepon segera masuk kedalam fitting room, tubuhnya mendadak menegang. Cyra sangat cantik dalam balutan gaun pengantin itu. 'Yaa Allah, makhluk ciptaanmu begitu indah. Bolehkah aku mengharapkan menjadi pendampingnya di pelaminan,' batin Alan.


Dia memilih menghampiri kedua gadis itu, "Calon istri gue dimana, nih?" tanya Alan mengagetkan keduanya.


"Gusti Allah! Maul! Kalo anak gue tiba-tiba brojol karena kaget, gua tendang lu ke Pluto!" Alana memegang dadanya karena kaget.


"Tau, nih! Datang tuh samlekum! Bukan tiba-tiba nongol kaya................"


Alan segera menutup mulut Cyra, "Kaga usah dipertegas! Gue jadi horor sendiri nantinya, kaga lucu kalo ada makhluk yang cekikikan siang bolong begini!" kesal Alan.


Tanpa dia sadari, jantung Cyra kini sudah berdetak lebih cepat dari biasanya. "Heh lepasin manten gue! Sono cobain dulu baju punya lu! Kalo kegedean kan bisa gue benerin dulu!" Alana mendorong tubuh Alan untuk menjauh.


"Iya-iya! Kaga usah dorong-dorong begitu," Alan mencebik kesal pada kembarannya itu.


Saat Cyra mencoba gaun kedua, bersamaan dengan Alan yang keluar memakai tuxedo dengan warna silver yang senada dengan gaun yang digunakan oleh Cyra. Melihat gaun dan tuxedo nya pas, membuat Alana berjingkrak bahagia. Dia sampe lupa jika kini tengah mengandung.


"Alana! Maillll!" pekik Alan dan juga Cyra bersamaan.


"Lu jingkrak-jingkrak begitu anak lu snewen didalem perut! Kaga lucu tiba-tiba dia oek oek minta keluar! Malu dia punya emak somplak kaya elu," kesal Alan menoyor kepala Alana.


"Hehehe, sorry gue cuman kesenengan! Sini-sini, gue mau pamerin semuanya di grup keluarga!" Alana menarik tangan Alan dan juga Cyra agar berdekatan, lagi-lagi hal itu membuat jantung keduanya berdegup kencang.


Tak ingin menjadi canggung, Alan merangkul bahu Cyra dan tersenyum menatapnya.


Cekrek!

__ADS_1


Satu foto telah Alana dapatkan, Cyra melepaskan rangkulannya dan menggandeng tangan Alan. Dan dua foto itu didapatkan oleh Alana dengan sempurna. Dia mengirimkan foto itu dalam grup keluarga inti, dengan caption 'Kesuksesan Gaun Alana, walaupun kakak beradik mangkir dari fitting'.


Semua orang mengomentari foto itu, mereka memuji gaun rancangan Alana yang memang luar biasa. Tapi tidak dengan Mirda dan Elmira, saat melihat foto itu keduanya saling menggenggam tangan dengan erat. "Jika saja kalian ditakdirkan bersama, kami adalah orang yang paling berbahagia," ucap Elmira dan dianggukki oleh Mirda.


"Biarkanlah semuanya berjalan sesuai takdir yang sudah digariskan untuk mereka. Kita do'akan saja agar keduanya bisa bahagia dengan terikat dalam hubungan keluarga," walaupun dalam hatinya, Mirda pun mengharapkan keduanya akan bisa hidup bersama.


Elmira mengangguk, "Mungkin ini adalah definisi dari cinta sejati ya, Bang!"


Cinta dan keadaan sudah tak bisa membuat mereka untuk bersama, Allah sudah memilihkan jodoh untuk keduanya. Mungkin menurut Allah, jalan terbaik bagi keduanya adalah bersatu dalam sebuah ikatan keluarga.


Siang itu menjadi hari paling bahagia bagi keduanya, walaupun hanya sesaat. Karena belum makan siang, maka Alan mengajak Cyra dan Alana untuk makan siang bersama-sama. Karena Sweta sangat menyukai ayam goreng, mereka lebih memilih untuk makan disalah satu restoran cepat saji. Terlebih disana memiliki playground untuk bermain anak-anak.


Husain sudah menunggu terlebih dahulu disana, disela-sela kesibukannya sebagai Bupati pasti dia menyempatkan diri untuk makan siang bersama istrinya. Seperti saat ini, jadwalnya tidak begitu padat. Hingga mereka bisa makan siang bersama-sama. Mereka lebih terlihat seperti dua keluarga bahagia, bagaimana tidak? Husain menggandeng tangan Alana yang kini tengah mengandung, sedangkan Cyra berjalan disamping Alan yang kini tengah menggendong Sweta.


Ah, sudahlah!


"Udah lama juga ya kita gak pernah makan siang bareng kaya gini!" ucap Husain yang mulai membuka pembicaraan.


Mereka mengangguk, "Gue aja lupa, kapan terakhir kita kumpul bareng kaya gini! Bapack Bupati seehhh, sok sibuk!" ketus Alan.


Alana menoyor kepala sang kembaran, "Laki gue emang sibuk, Maul! Maklum lah, dia punya rakyat yang musti dia urusin. Situ tuh yang sok sibuk! Pake lama-lama diem di Singapore," kesal Alana.


"Astaga! Salahin tuh Baba sama Ummi elu yang nahan-nahan gue disono!" ucap Alan yang kembali menoyor kepala Alana.


"Stop!" ucap Cyra dan Husain bersamaan.


"Heh! Ummi sama Baba itu orang tua elu juga, duh heran gue! Punya ipar gini amat sii!" Husain mencebik kesal. Sedangkan Cyra dan Alana tertawa terbahak-bahak. "Aduh kalo kaya gini jadi pengen camp bareng lagi deh," ucap Cyra.


Husain dan Alana mengangguk, "Nanti beres nikahan si Maul kita camp ya! Yang deket aja, yang aman juga buat bumil!"


Alan tak menjawab, pikirannya kembali ke masa itu. Saat pertama kali dia jatuh cinta pada Cyra. Lamunan Alan buyar ketika mendengar suara tangisan Sweta, dia dan Cyra bergegas menghampiri bocah kecil itu.


"Mami... Pipi... Atit.." rengek Sweta menunjukkan lututnya yang berdarah. Alan segera menggendong bocah kecil itu, "Udah jangan nangis, anak Pipi kan kuat!"


"Anaknya cantik ya Pak, Bu! Mirip banget sama Bapak dan Ibu," ucap salah satu pengunjung disana.


Sedangkan Alan dan Cyra hanya menjawabnya dengan senyuman, "Yukk, kita makan dulu! Mamoy sama Papoy udah nungguin!" ajak Cyra.


'Andai saja semua ucapan mereka itu nyata, aku akan menjadi manusia paling bahagia di bumi ini,' batin Cyra.


'Mungkin kalo dulu gue gak pengecut, pasti gue udah bisa milikin lu! Tapi takdir memang gak berpihak sama gue,' batin Alan.


Keduanya sama-sama tak mengetahui perasaan masing-masing, apalagi perasaan Cyra. Sebab gadis itu memang sangat tertutup, hanya pada foto Papa Andi, Cyra mengungkapkan seluruh isi hatinya.


Sudahlah! Jangan menyalahkan takdir, mungkin yang kamu pikir itu baik belum tentu itu yang terbaik begitupun, sebaliknya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2