
Sore ini begitu mendung dan kelabu, tapi tidak bagi perasaan Elmira dan Mirda. Sebuah 'tupperware' bisa mambuat keduanya seperti orang gila. Mereka terus saling menyalahkan sambil sesekali tertawa atas tingkah konyol mereka tadi. Afifah sampai geleng-geleng kepala melihat kedua makhluk dihadapannya ini.
"Diem! Kalian ini bikin malu deh! Bikin gempar rumah sakit cuman gara-gara tupperware doang," rengek Afifah yang kesal sekaligus malu pada tingkah kedua makhluk ini.
"Yaelah siapa juga yang gak malu, Afifah! Tapi kalo udah urusan yang satu itu, ogah aku urusan sama Bunda," ucap Elmira bergidik ngeri.
"Iya betul! Saya pernah geledah satu sekolah Indira cuman gara-gara sebotol 'tupperware' sampe saya di getokin guru-guru disekolah Indira," sahut Mirda sambil membayangkan kekesalan istri atasannya itu.
"Segitu berhargakah tupperware?" heran Afifah.
Tanpa disadari, sejak tadi Elmira dan Mirda berbincang hangat. Hal itu membuat Afifah menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. Bahkan dia sengaja merekam interaksi keduanya, lalu dia tiba-tiba teringat pada teman debatnya.
"Jadi kangen sama si Kutilang," gumam Afifah lalu memasukkan ponselnya dalam tas.
Dddrrrrtt.. Ddrrrrtt..
Baru juga Afifah memasukan ponselnya, tapi ponselnya itu bergetar. Mata Afifah membulat seketika ketika melihat pesan yang masuk dalam ponselnya.
π +62 8789021****
Hei Beo! Kangen gue gaaak? Kalo gue sih, iya! π
Afifah memekik kaget, dia kegirangan setelah mendapatkan pesan dari orang yang baru saja dia rindukan.
"Aaahhhhhh!!" teriak Afifah bahagia.
Ckiiiittttt.......
Mirda menginjak rem nya sekaligus karena kaget mendengar teriakan Afifah. Tapi satu tangannya refleks menahan tubuh Elmira agar tidak membentur dasboard mobil. Untung saja jalan yang mereka lewati ini bukan jalan yang ramai.
"Yaa Allah si Om! Baru juga seneng udah mau ngajak mati aja," kaget Afifah yang tubuhnya terlonjak kedepan. Elmira dan Mirda berbalik dan menatap Afifah dengan tajam.
"Fifaaaahhhhh....! Kamu yang salah! Ngapain teriak kaya gitu?" kesal Elmira.
"Hehehe... Sorry!" ucap Afifah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Mirda melihat pesan dari ponsel Afifah, dan dia membulatkan matanya.
"Hanya karena pesan itu kamu menjerit?" heran Mirda lalu dia kembali melanjutkan perjalanan mereka. Elmira kembali keposisi duduknya semula.
"Emang jatuh cinta bisa bikin orang jadi bodoh, malu-malu tapi mau," gerutu Elmira yang masih bisa didengar mereka, sedangkan Mirda menahan senyumnya saat melihat Elmira.
"Hiiihhhh! Kalian juga sama! Malu-malu tapi mau," sahut Afifah yang tak terima dengan ucapan Elmira.
Sementara itu disisi lain, Alan saat ini sedang melakukan meeting di cafe miliknya bersama beberapa kliennya termasuk Thoriq. Alan sangat cekatan jika urusan bisnis, maka dari itu para orangtua mereka sudah mempercayakan segalanya pada Alan. Selesai meeting, Thoriq meminta adiknya untuk datang kesana mengantarkan berkas yang tertinggal.
"Nih berkasnya! Lu jadi kakak durhaka banget sih! Mana ongkosnya!" ucap gadis berseragam SMA itu. Alan menoleh dan matanya membulat tak percaya.
"Dek! Kebiasaan kamu! Gak malu diliati klien kakak!" kesal Thariq pada adiknya itu.
__ADS_1
Gadis itu mencebik kesal, tapi dia juga malu karena dilihat oleh para klien Kakaknya.
"Eloooo!" ucap Alan dan gadis itu bersamaan.
"Theresia! Dia klien Kakak! Kamu harus sopan!" tegur Thoriq.
"Tapi Kak, dia itu Om-om yang kemaren nabrak aku tau!" kesal gadis bernama Theresia itu.
"Enak aja, sorry Mas Thoriq kemaren dia yang bawa adek saya boncengan sambil ngebut! Saya kepaksa nyalip, tapi gak sampe nabrak tuh," sanggah Alan menatap tajam gadis itu.
"Indira nya juga gak apa-apa kok situ yang repot," ucap Theresia.
Alan dan Theresia terus bedebat, hingga mereka yang berada disana malah menahan tawa melihat tingkah keduanya.
"Enak aja situ manggil Om! Emang kapan gue nikah sama tante lu!" kesal Alan.
"Ya lu juga ngapain manggil gue bocah! Gue udah dewasa tau," sahut Theresia.
"Yakin udah dewasa? Kalo udah dewasa tau dong ngebut dijalan pake motor tanpa helm itu bahaya?!" ucap Alan mendekatkan wajahnya pada gadis itu.
"Kita gak ngebut kok! Situ aja kolot! Gak ngerti cara pake motor yang asyik!" kesal Theresia yang ikut memajukan wajahnya.
Jarak wajah keduanya kini sangat dekat, tanpa disadari jantung mereka berdegup kencang. Alan terus menatap Theresia, begitupun sebaliknya.
"Ekhheemm...." deheman dari Thoriq membuat keduanya salah tingkah.
"Mana ongkosnya! Rere mau balik sekarang," rengek Theresia pada Thoriq.
"Ck, reseeeee!" ucap Theresia sambil menghentakkan kakinya.
Akhirnya Theresia duduk dimeja yang berada diujung rooftop. Dia menikmati pemandangan indah disana, tanpa sengaja dari atas dia melihat Cyra.
"Teh Shanuummmm!" teriak Cyra melambaikan tangannya. Cyra melihatnya dan segera bergegas menuju rooftop. Theresia yang antusias terus berjingkrak senang.
"Rereeee....." ucap Cyra sambil memeluk erat Theresia.
"Udah lama aku gak ketemu Teteh, gimana kabarnya?" tanya Theresia.
"Teteh kan sibuk kuliah, jarang juga kerumah Dira. Teteh baik, kamu gimana?" tanya Cyra sambil menyelipkan rambut Theresia.
"Masih gini lah Teh, masih kangen sama Papi," lirih Theresia lalu memeluk Cyra.
Pemandangan itu tak luput dari pandangan Thoriq dan Alan. Mereka mengerenyitkan dahinya karena terheran bagaimana Cyra bisa mengenal Theresia.
"Re kita pulang sekarang," ajak Thoriq pada Theresia yang betah dipelukan Cyra.
"Huft! Lu jadi Kakak ngeselin banget, baru juga gue kangen-kangenan sama Teh Shanum!" kesal Theresia yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Shanum? Cyra woy! Maen ganti nama anak orang aja!" ucap Alan.
__ADS_1
"Dih suka-suka gue, orangnya aja kagak demo napa situ yang demo!" kesal Theresia.
"Stop!" ucap Thoriq dan Cyra bersamaan.
Cyra dan Thoriq malah jadi salah tingkah, Theresia menatap Kakaknya yang gugup.
"Ciee lu blushing, Kak? Cieeeee, manusia lempeng jadi belok," ledek Theresia.
"Cieeeee kompak cieeee, kemaren judes-judesan sekarang blushing-blushingan," ledek Alan sambil menunjuk Cyra dan Thoriq bergantian.
"Apaan sih! Bukannya kamu yaa yang bilang cewek yang bareng Indira itu cantik, ini kan orangnya?" ucap Cyra yang membuat keduanya terdiam.
"Ciee salting cieee, malu-malu tapi mauuu," ucap Thoriq membuat Cyra tertawa.
Cinta datang memang tak terduga, rasa gengsi untuk mengungkapkan dan rasa malu untuk menyatakan menjadi salah satu penghalang. Berbeda dengan mereka yang sedang malu-malu tapi mau, Alana kini sedang menata hatinya. Dia ingin memperbaiki dirinya sendiri, agar kelak dia bisa bertemu dengan orang yang tepat untuknya. Dulu alasan Alana untuk kuliah di Bandung adalah Husain, tapi kini Alana bertekad untuk berkuliah di Turki agar bisa meraih semua mimpi-mimpinya.
Alana berdiri didepan cermin besar, besok dia akan pergi ke Turki. Menempuh pendidikan perancang busana, Alana ingin menjadi seorang designer hebat seperti Dian Pelangi yang menjadi panutannya selama ini. Alana membuka paperbag yang kemarin diberikan oleh Bunda Gisya, dan ternyata didalamnya ada begitu banyak jilbab. Alana mengambil salah satunya dan mulai memakainya.
"Cantik...." gumam Alana sambil melihat dirinya dalam cermin.
Jilbab itu dicoba oleh Alana satu persatu, hingga netra Alana berhenti pada sebuah kartu ucapan berwarna pink yang tergeletak didasar paperbag. Perlahan Alana membukanya, matanya berkaca-kaca membaca kartu ucapan itu.
πΈ πΈ πΈ πΈ πΈ
Ariella Alana Putri Maulani,
Sejak kecil aku begitu jengah melihat tingkah konyolmu.. Aku bahkan risih, setiap kali kamu pulang ke Indonesia kamu selalu menempel seperti ulat bulu.. Tapi kalau aku inget-inget sekarang, rasanya lucu.. Kamu yang ceria mampu membuat aku bahagia..
Tetaplah jadi Alana, sahabat kecilku yang ceria..
Maafkan aku yang sudah menorehkan luka dalam hatimu, aku tidak berharap kamu akan tetap mencintai aku.. Tapi aku akan terus memperbaiki diri, agar pantas menjadi pendampingmu, agar pantas berdiri menjadi imam dalam hidupmu..
Mari kita saling memperbaiki diri dan saling memantaskan diri.. Aku serahkan segalanya pada Allah.. Yang mampu membolak balikan hati, benar katamu Alana. Manusia harus merasakan kehilangan, baru mampu mengerti arti kehadiran.. Dan kehadiranmu dalam hidupku adalah anugerah terindah.. Semoga saat kita bertemu kelak, salah satu jilbab ini akan menutupi rambut indahmu..
*note : maafkan aku sudah mencuri ciuman pertamamu, semoga kelak hanya aku yang dapat merasakan manisnya bibirmu ^^
πΈ πΈ πΈ πΈ πΈ
Setelah membaca kartu ucapan yang isinya adalah surat dari Husain, Alana tersenyum sambil mengusap airmata yang menetes dipipinya.
"Ketika aku mulai mengikhlaskan, kamu datang sendiri padaku. Aku pasrahkan segalanya pada Allah, jika memang kita berjodoh suatu saat Allah akan mempersatukan kita. Jika tidak, mungkin memang kita hanya ditakdirkan untuk menjadi sahabat," ucap Alana.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author β€