Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Pemakaman Oma


__ADS_3

Kepergian Oma Syifa menjadi duka paling mendalam bagi seluruh keluarga besar mereka. Kini sesepuh mereka semuanya sudah tiada, Jenazah Oma Syifa disemayamkan dikediaman Ayah Fahri. Berita meninggalnya mertua Sang Jenderal pun sudah sampai ketelinga para pimpinan dan staff Kodam. Mereka segera membantu keluarga Militer itu. Terlebih ketika Mirda pun memiliki jabatan sebagai Komandan Kompi di Batalyonnya.


Bunda Gisya masih terus menangis disamping jenazah Bundanya yang kini tertutupi oleh kain putih. Wajah Oma Syifa terlihat bersinar, bahkan seperti menyunggingkan sebuah senyuman.


"Sayang, kuat ya! Bunda udah bahagia disana," Ayah Fahri merangkul tubuh sang istri.


"InshaAllah aku ikhlas, Bang! Hanya saja, kerinduan mendengar omelan dan melihat senyuman manis Bunda masih mengganjal hatiku. Aku gak akan pernah bisa mendengar dan melihat itu semua lagi," sepenuh hati Bunda Gisya mencoba menegarkan dirinya.


Tak jauh dari Bunda Gisya, Elmira pun masih menangis terisak. Masih teringat jelas di memorinya, bagaimana Oma Syifa merawatnya dari kecil hingga dewasa.


"Astaghfirulloh, kuatkan hatiku Yaa Allah," Elmira menunduk menahan setiap airmata yang ternyata lolos begitu saja membasahi pipinya.


"Bubu tata mau ndong Yangti," rengek Sweta pada Elmira, lagi-lagi Elmira hanya bisa memeluk putri kecilnya itu.


"Kaka sayang, Yangti sudah bahagia di Surga, Nak. InshaAllah nanti kita ketemu lagi sama Yangti, di Jannah," Elmira mengelus kepala bocah yang jelas-jelas tak mengerti ucapan sang Ibu.


Dirga yang berada dibelakang Elmira, mengusap kepala Sweta dan membawanya kedalam pangkuannya.


"Anak manis, jangan nangis ya! Liat, Eyang Uti lagi bobo. Kalo Sweta nangis, nanti Eyang Uti sedih. Sweta gak mau kan Eyang Uti nangis?" tanya Dirga mengelus pipi Sweta.


"No! Yangti nda boyeh angis, tata anji ga angis," Sweta memberikan jari kelingkingnya pada Dirga sebagai tanda janjinya.


"Anak pinter! Sekarang buka tangannya, kita harus berdo'a sama Allah. Biar Eyang Uti selalu bahagia, Sweta mau kan selalu do'ain Eyang Uti?" Dirga tersenyum ketika melihat gadis kecil itu mengangguk bahagia.


Hal itu tak luput dari pandangan Indira yang saat ini tengah menangis dibahu Athaya. Ingin rasanya dia kembali memeluk Dirga, tapi dia kembali mengingat jika semua itu salah.


"Sstt, jangan nangis lagi ya, sayang! Oma udah bahagia disana," Athaya terus mengusap lembut kepala Indira.


"Aku mau ke kamar dulu, aku butuh waktu sendiri," Indira beranjak dan berjalan menuju kamarnya. Athaya beranjak, dan mendudukkan dirinya disamping Alan.


Para ibu-ibu Persit sudah datang, mereka membantu persiapan pemakaman Oma Syifa. Mereka merangkai bunga untuk diletakkan di keranda, mereka juga membuat beberapa hidangan yang akan disajikan ketika para pelayat pulang dari makam. Dalam adat istiadat sunda, itu disebut dengan 'Nyusur Tanah'. Nyusur Tanah yaitu mengucapkan terima kasih pihak keluarga kepada orang-orang yang telah membantu mengurus jenazah dan dilakukan setelah selesai penguburan diadakan dirumah duka dengan membacakan doa bersama dan dikasih makan.


Tepat pukul 10 pagi, mereka sudah bersiap untuk mengantarkan Jenazah Oma Syifa ketempat peristirahatan terakhirnya. Gisya dan Syauqi sepakat untuk memakamkan Oma Syifa disamping Pusara Ayahnya.


"Teh, Uqi gak sanggup! Uqi gak sanggup teh, Uqi sendirian sekarang! Bunda pergi ninggalin Uqi," Syauqi merasa seluruh tubuhnya lemas.

__ADS_1


"Yang kuat, Qi! Kalo kamu lemah, Teteh gimana? Teteh butuh kamu Uqi," lirih Bunda Gisya.


"Astaghfirulloh, astaghfirulloh! Yaa Allah, kuatkan aku Yaa Allah," Syauqi memeluk kedua lututnya sambil menangis.


"Uqi! Lihat Abang! Kuatlah Uqi..! Kamu sekarang seorang suami dan juga seorang Ayah..! Kuat Uqi, kuat! Abang dan Kakakmu ini masih hidup,Uqi! Kamu gak sendiri!" Fahri mengguncang tubuh Syauqi.


Akhirnya mereka semua berangkat dengan pengawalan, beberapa puluh mobil sudah berjejer untuk mengantarkan Oma Syifa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dirga menyetir mobil yang membawa Mirda, Elmira, Alana dan juga Husain. Sedangkan Athaya menyetir mobil yang membawa Indira, Alan, Theresia dan Afifah juga Rian. Para orangtua berada dalam mobil Jenazah yang mengantarkan Oma Syifa. Kilatan memori masalalu menghantui pikiran Mama Febri, didalam sana dia tak bisa berhenti menangis.


Sebuah tenda sudah berdiri kokoh disana, Ayah Fahri menjadi barisan terdepan yang mengangkut keranda sang Mertua. Dibarengi oleh Baba, Papa Zaydan, Mirda, Husain, dan Alan. Sedangkan Bunda Gisya dan Syauqi kini saling memeluk erat, meluapkan semua rasa sakit yang menghujam dadanya.


Prosesi pemakaman berlangsung, Ayah Fahri masuk kedalam liang lahat. Dia mengadzankan jenazah sang Mertua, mati-matian dia menahan airmatanya. Perlahan tanah mulai menutupi jenazah Oma Syifa. Siapa sangka, Dirga turut ikut dalam prosesi pemakaman. Dia tak perduli jika pakaiannya kini sudah penuh dengan tanah, begitupun dengan Mirda dan Thoriq selaku cucu menantu. Sedangkan Athaya terus berada disamping Indira, dia tak ingin jauh-jauh dari sang kekasih.


Acara pemakaman selesai, mereka semua kembali kerumah. Bunga ungkapan belasungkawa sudah memenuhi sepanjang jalan menuju rumah Ayah Fahri. Bunda Gisya segera pergi kekamarnya, dia memeluk pakaian terakhir yang dipakai oleh sang Bunda.


"Ca! Istighfar, inget kata Bunda! Boleh menangis, tapi jangan berlarut-larut! Kasian Bunda, Ca! Kamu harus tegar, diluar masih banyak tamu," Mama Febri mencoba mengingatkan sahabatnya itu.


"Astaghfirulloh, astaghfirulloh, astaghfirulloh! Temenin aku ya, Biw, Lil!" lirih Bunda Gisya.


"Pasti, Ca! Kita bakalan selalu temenin kamu," Ummi Ulil mengusap lembut kepala sang sahabat.


Indira dan Elmira kini tengah menyambut para kerabat yang mengucapkan bela sungkawa. Melihat Dirga yang belum berganti baju, dia hanya membilas bajunya sampai basah. Indira beranjak dari duduknya, dia meminjam baju Mirda pada Elmira.


"Terimakasih, Syafa!" Dirga sungguh sangat bahagia dengan perhatian Indira.


"Jangan lupa hubungi istrimu, Mas! Takutnya dia khawatir," Indira berucap dengan wajah datar dan terkesan ketus, dia lalu berbalik.


"Aku belum menikah!"


Deg!


Saat Indira akan bertanya, Athaya datang dan membawa Indira pergi darisana.


"Kenapa kamu perhatian sama dia, Ra?! Ada aku disini, apa kamu gak bisa menghargai aku sebagai calon suami kamu?!" sungguh emosi Athaya mulai tersulut.


"Aku cuman kasih dia baju ganti punya Bang Mirda! Dia yang udah anterin aku jauh-jauh kesini, disaat kamu menghilang, saat aku butuh!" Kesal Indira.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Dira! Aku tau, aku salah! Tapi......."


"Cukup Athaya! Aku masih dalam masa berkabung! Simpan semua kekesalanmu, dan luapkan padaku nanti," Indira pergi dengan penuh amarah.


Acara do'a bersama dan makan bersama sudah dimulai, mereka semua berkumpul dikediaman Ayah Fahri. Banyak sekali kerabat mereka yang berdatangan, bahkan tak menyangka jika adiknya Fabian pun ikut hadir dari Palembang. Ayah Fahri memeluk erat sang adik, kini mereka sudah sama-sama yatim piatu.


"Aku turut berduka cita ya, Bang! Bunda orang baik dan soleha, InshaAllah jadi ahli Surga. Teh Caca, yang kuat ya!" Fabian memeluk sang Kakak ipar.


"Ck! Udah pelukannya," kesal Ayah Fahri melepaskan pelukan Fabian.


Fabian menyipitkan matanya, dia melihat seseorang yang sangat dikenalnya.


"Itu bukannya Dirga ya? Dia kan prajurit yang hampir tewas di Lebanon, Bang! Kisah cinta dia sampe ramai dijagat Militer, karena operasi jantungnya dua kali dia sampe merelakan pacarnya diikat orang! Kalo gak salah, dia juga anaknya Agung Dirgantara, Bang! Pasti Abang tau kan?" sungguh ucapan Pamannya itu menohok hati Indira.


"Iya Abang tau, dia tadi membantu proses pemakaman. Dia memang anak yang baik, setia pada negara! Meskipun harus kehilangan cintanya," Ayah Fahri menatap Indira dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Dirga berpamitan untuk kembali ke Sukabumi. Sebab besok dia harus mengikuti apel pagi, meskipun Ayah Fahri dan Bang Mirda sudah mencoba mencegahnya.


"Saya punya tanggung jawab, Bang! Saya Komandan Kompi, gak bisa seenaknya. InshaAllah saya akan berhati-hati," Dirga mencium tangan Ayah Fahri lalu berpamitan.


"Bunda, jangan sedih ya! InshaAllah, Oma sudah berada disisi Allah ditempat terbaik. Saya pamit, minta do'anya supaya saya selamat sampai Sukabumi," pamit Dirga.


"Gak ketemu Dira dulu?" Bunda Gisya mengelus pipi Dirga.


"Lain kali aja, Bunda! Aku pamit, Assalamualaikum,"


"Walaikumsalam," ucap mereka serempak.


"Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudra, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Jika tahun kemarin aku hanya bisa menyebutmu dalam do'a, semoga tahun ini bisa menyebut namamu dalam ijab kabul, Indira Myesha Kirania Syafa," batin Dirga menatap jendela kamar Indira.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2