
Akhirnyaaaa....
Karena banyak yang minta dilanjutkan disini, maka Author akan lanjutkan ceritanya disini yaaa β€β€β€β€
SELAMAT MENIKMATI ALUR SEASON 2 π€π€π€π₯°
* * * * *
Mentari pagi mulai bersinar, Elmira sedang berkutat didapur bersama sang Bunda. Rencananya hari ini sang Ayah sudah diperbolehkan pulang. Sebagai bentuk ungkapan maaf, Elmira membuatkan makanan favorit Ayahnya.
"Jadi kapan Afifah datang?" tanya Bunda Gisya pada putrinya itu.
"Mm, kemungkinan besok Bun. Biar dia bisa cari kosan dulu," jawab Elmira.
"Loh ngapain ngekost? Biar disini aja sama kamu," ucap Bunda Gisya.
"Kakak udah bilang, tapi dia nolak Bun. Katanya ga enak sama Ayah," jawab Elmira.
"Biar nanti Bunda yang ngomong sama Afifah," sahut Bunda Gisya.
"Iya Bun, Kakak mau mandi dulu ya Bun! Masakannya udah Kakak susun dimeja makan," ucap Elmira lalu bergegas menuju kamarnya.
Berbeda dengan Elmira, seorang gadis masih meringkuk diatas kasur. Matanya cukup sembab karena menangis semalaman. Yap! Gadis itu adalah Alana, putri kesayangan Baba Jafran. Dia menangis, mengingat ciuman pertamanya bersama Husain kemarin. Dia sangat menyesal, dan dia merasa kecewa pada dirinya sendiri yang tidak mampu menghilangkan perasaan cinta dalam hatinya.
Tok.. Tok... Tok....
"Maiiiillll! Banguuuunnnn.....!" teriak Alan sang kembaran.
"Berisiiikkk....!" teriak Alana tanpa membukakan pintu, dia malah semakin menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Heh! Malu noh sama matahari, anak gadis jam segini belom bangun! Mau rezeki lu dipatok di Rambo!" kesal Alan sambil terus menggedor pintu kamar Alana.
"Bodo amat! Tinggal gue ambil lagi dari si Rambo!" gerutu Alana dibalik selimut.
Karena terlalu keras menggedor pintu, Alan mendapat hadiah dua jeweran dari Umminya.
"Rusak! Kenapa gak didobrak aja sekalian, hah?" geram Ummi Ulil.
"Awww.. Aww.. Awwwww.. Sakit Ummi! Yaa Allah, durhaka amat nih Ummi sama anaknya!" kesal Alan sambil mengusap kedua telinganya yang memerah.
"Heh anak durjanah! Mana ada Ummi durhaka sama kamu, yang ada Surga kamu tuh ditelapak kaki Ummi! Lagian bangunin Adeknya aja udah kaya mau nagih kontrakan kamu A!" kesal Ummi Ulil.
"Heleh mana liat Surganya? Yang ada perpecahan antar suku di kaki Ummi! Alias rorombeheun! Si Mail aja yang kebo, masa jam segini belom keluar kamar! Kaya Ayam lagi ngeremin telor aja!" sahut Alan yang mendapat pelototan dari Umminya.
"Anak durjanah! Makanya ajakin Ummi perawatan, biar Surga kamu gak ada perpecahan antar suku! Pengusaha kok pelit! Udah sana, biar Ummi yang bangunin Alana." ucap Ummi Ulil mengusir Alan.
Alan berjalan dengan kesal, dia menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil.
"Allahuakbar! Gempa!" sahut Baba Jafran saat melihat putranya itu berjalan kearahnya.
"Hiiiihhh! Gak Umi, gak Baba! Semuanya ngeseliiiiiinnnn....!" ucap Alan kesal.
"Laki kok emosian, udah kayak cewek PMS aja!" ledek Baba Jafran.
"Berisik deh, Ba! Jangan bikin Aa tambah emosii deh! Lama-lama Aa karungin juga nih Baba!" kesal Alan sambil berjalan menuju ruang makan.
"Heh markonah! Situ yang Baba karungin, emosi mulu! Makanya cepet tua!" teriak Jafran pada putranya itu.
Ummi Ulil hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat dua laki-laki yang paling berharga dalam hidupnya. Lalu dia membawa kunci cadangan yang berada dilaci, untuk melihat Alana.
Ceklek
__ADS_1
Alana mendengar suara pintu terbuka, artinya sang Ummi lah yang datang. Dengan cepat dia merapatkan selimutnya, agar Umminya tidak melihat matanya yang sembab.
"Teh Lana baik-baik aja kan, Nak?" tanya Ummi Ulil.
"Iya Mi, Alana baik-baik aja," jawab Alana dibalik selimut.
"Coba buka selimutnya, Ummi mau liat kalo anak Ummi baik-baik aja!" ucap Ummi Ulil.
"Kalo gak mau buka, Ummi suruh si Abang buat kesini biar digebukin sekalian sama Baba sama si Aa!" ujar Ummi Ulil membuat Alana segera menyibakkan selimutnya.
Melihat mata putrinya yang sembab, Ummi lekas memeluk erat putrinya itu.
"Ummi, Teteh baik-baik aja kok," lirih Alana dalam dekapan Umminya.
"Teteh nutupin masalah dengan kalimat baik-baik aja, itu bener-bener cuman nyakitin diri sendiri sayang," ucap Ummi Ulil sambil mengusap lembut rambut putrinya itu.
"Kenapa Ummi?" tanya Alana sambil menatap manik mata Umminya.
"Karena Teteh belajar berbohong sama diri sendiri, gak nerima diri sendiri bahkan Teteh memusuhi keadaan dengan kalimat kalo Teteh baik-baik aja!" ucap Ummi Ulil.
"Padahal kalo Teteh belajar untuk bisa menerima keadaan dengan jujur pada diri sendiri dan orang sekitar, percaya sama Ummi tangis Teteh akan hanya untuk satu hari itu aja Nak." imbuhnya.
Alana semakin mengeratkan pelukannya pada Ummi Ulil. Hanya dipelukan Ummi lah, hati Alana bisa menjadi tenang.
"Udah bangun yuk! Katanya mau jemput Cyra nanti siang," ucap Ummi Ulil.
"Iya Mi, Teteh siap-siap dulu ya!" ucap Alana memberikan senyuman pada Umminya.
"Yaudah Ummi keluar, ya! Baba kamu pasti udah siapin kultum karena Ummi belum bikinin Baba kopi!" ucap Ummi Ulil sambil tertawa ketika mengingat suaminya itu.
Sepeninggal Umminya, Alana bersiap untuk mandi. Tapi langkahnya terhenti didepan sebuah figura besar. Dimana foto Cyra, Husain dan dirinya berada. Alana memandangi figura besar itu dengan menahan airmatanya.
'Aku jatuh cinta padamu, sejatuh-jatuhnya. Kamu yang sama sekali tak mampu aku gapai untuk dimiliki, namun hanya bisa berkata sebatas SAHABAT. Kamu, kusebut dalam setiap untaian do'aku pada Tuhan, tanpa malu aku ungkapkan pada penjuru langit. Bagaimana cara kamu berbicara dan memperlakukanku dengan istimewa. Kamu sangat baik, namun sekali lagi kamu bukan untuk kumiliki. Kamulah peran utama dalam rasa yang tak pernah terbalas ini, Husain Hafidz Gifahri.' ucap Alana dalam hati.
"Kenapa sih lu diem aja? Sariawan lu?" tanya Alan.
"Lagi pengen diem, gak usah ganggu dan gak usah rese!" ucap Alana dengan lesu.
"Heleh, gara-gara si Ain lu begini? Apa perlu gue..." ucapan Alan terpotong.
"Please A, gue lagi pengen diem!" ucap Alana memohon dan hal itu membuat Alan terdiam. Sedangkan Ummi dan Baba sudah saling tatap.
Mereka sudah sampai di Rumah Sakit Jiwa, dimana Cyra mendapat perawatan. Dokter mengatakan jika kondisi Cyra sudah cukup stabil untuk dibawa pulang. Hanya saja mereka masih harus memperhatikan setiap gerak-gerik Cyra. Husain melihat mata Alana yang sembab, ingin rasanya Husain meminta maaf kembali pada Alana. Tapi semua itu dia urungkan, karena saat ini tujuan utamanya hanyalah Cyra.
Cyra pun melihat mata Alana yang sembab, dia meminta Alana untuk mendekatinya.
"Alana... Bisa kesini sebentar?" tanya Cyra membuat Alana yang tersentak.
"Ada apa sayangku? Ada yang kamu butuhin?" sahut Alana.
"Kamu nangis? Kenapa?" selidik Cyra pada sahabatnya itu.
"I'm fine Beib, cuman kangen sama kamu aja," ucap Alana sambil memeluk Cyra.
"Youre not fine, I can feel it! What happended?" tanya Cyra yang masih tak percaya.
"Aku cuman kangen sama Grandma sama Grandpa aja," jawab Alana.
"Me too, nanti kita telpon sama-sama ya, biar melepas rindu," ucap Cyra dan Alana menganggukkan kepalanya.
Hati Husain meringis melihat kedua sahabatnya itu,
__ADS_1
'Sepedih itukah hatimu? Terlalu dalamkah luka yang aku torehkan?' batin Husain.
Setelah menjemput Cyra, mereka bergegas menuju rumah Bunda Gisya. Semuanya akan berkumpul disana, sambil merayakan kepulangan Elmira.
"Cyra sayang! Alhamdulillah, kamu baik-baik aja kan sayang?" lirih Bunda Gisya.
"Aku baik-baik aja, Bun! Ayah gimana? Katanya sakit." tanya Cyra.
"Ayah baik-baik aja, tuh lagi ngobrol sama Om Mirda dan yang lainnya," jawab Bunda Gisya.
Mereka berkumpul bersama, ketika semua orang sedang bercanda dan tertawa bahagia. Alana memutuskan untuk pergi kehalaman belakang, membawa segelas minuman ditangannya. Dia lebih memilih menenangkan hatinya, dengan melihat kolam ikan.
"Kenapa kamu disini, Alana?" tanya Elmira saat dia melihat Alana kehalaman belakang.
"Eh, lagi pengen ngadem aja, Kak!" jawab Alana gugup.
"Boleh Kakak temenin? Kakak juga pengen ngadem." ucap Elmira lalu mendudukkan dirinya disamping Alana.
Alana dan Elmira larut dalam pikirannya masing-masing, Husain menyadari bahwa Alana dan Elmira tak ada disana. Dia mencari mereka, sampai akhirnya Husain melihat Alana dan Elmira sedang duduk menatap kolam ikan.
"Terkadang kita selalu ngerasa hidup ini gak adil, Kakak juga pernah ada diposisi kamu. Hanya saja, masalah kita berbeda. Rasanya pedih sekali ya, Alana." ucap Elmira sambil menghela nafas panjangnya.
"Aku salut sama Kakak, bisa melewati semuanya. Sabar ya, Kakak pasti kuat," ucap Alana.
"Gimana bisa kamu menguatkan orang lain, sedangkan diri kamu sendiri sedang lemah Alana?" tanya Elmira membuat Alana tersenyum pedih.
"Aku gak pernah bilang kalo diri aku lemah, Kak. Meskipun mungkin itu memang benar adanya. Tapi seenggaknya ketika aku menguatkan orang lain, aku menyadari bahwa ada Kakak yang lebih terluka, dibandingkan aku." ucap Alana sambil menatap Elmira dengan senyuman diwajahnya.
Elmira menghela nafasnya, lalu dia menggenggam tangan Alana.
"Kakak tau, sejak kecil kamu selalu seneng banget deket sama Husain. Bahkan setiap hal yang kamu lakukan, Kakak juga tau. Apa kamu masih mencintainya?" tanya Elmira.
"Dalam hal mencintai Abang, peran aku buat berusaha milikin dia udah selesai Kak. Bukan karena ku kalah, tapi aku cuma mengalah pada keadaan. Aku gak mau dia pergi karena besarnya ego dalam diri aku. Aku mau dia tetep disisi aku, meskipun ada batasnya. Semua yang udah aku perjuangkan, berujung pada satu kata Kak. Ikhlas! Tinggal nunggu waktu aja, gimana rasa ini akan hilang dengan sendirinya." jawab Alana dengan senyuman yang diiringi oleh tetesan airmata yang sudah tak tertahan.
Elmira memeluk Alana, secara tidak sadar mereka saling menguatkan. Husain mendengar semua pembicaraan Alana dan Elmira. Dia meremas dadanya yang begitu sakit.
"Coba jujur pada hatimu, barangkali kamu sendiri yang belum mengerti makna dari mencintai." ucap Mirda mengagetkan Husain.
"Astagfirulloh, Om Mirda bikin kaget aja!" kesal Husain menarik Mirda agar tak dilihat oleh Elmira dan Alana.
"Lagian kamu ngapain ngintip?" ucap Mirda sambil tertawa remeh.
"Apa Om Mirda pernah ngerasain jatuh cinta?" tanya Husain.
"Saya tidak mau mengenal cinta, biar Tuhan saja yang menentukan," jawab Mirda.
"Kalo sama Kak Rara? Masa iya Abang gak jatuh cinta?" ucap Husain yang membuat Mirda memelototkan matanya.
"Enggak, kan saya bilang tidak mau mengenal cinta." sahut Mirda dengan wajah datarnya.
"Bbbrrrrr... Dingin! Aku masuk duluan, Om Mirda!" ucap Husain lalu masuk kedalam rumah.
Mirda menatap Elmira yang sedang tertawa bersama Alana.
'Sepertinya aku tertarik padanya, tapi aku tidak bisa mendekatinya.' batin Mirda.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€