Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Pengorbanan Cinta


__ADS_3

"Emmmhhh," lirih Elmira saat pertama kali membuka matanya.


Elmira melihat sekelilingnya, dia melihat Afifah yang tertidur disamping ranjangnya dan Bunda Gisya serta Indira yang tertidur di sofa. Elmira mengingat-ngingat kejadian yang menimpanya hari ini. Dia teringat niatnya untuk menemui Mirda. Elmira bangun dari tidurnya, dia melirik kearah jam dinding. Rupanya sudah jam 10 malam.


"Aku harus ketemu sama Bang Mirda," lirih Elmira.


Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Elmira perlahan turun dari ranjang. Dia tidak khawatir, karena Afifah tidur seperti kerbau yang tak akan pernah terusik. Elmira mencabut infusan yang menempel ditangannya, dia melihat keadaan sekitar. Perlahan tapi pasti Elmira mulai melangkah, darah terus menetes dari tangannya. Meskipun harus berjalan tertatih, Elmira terus melangkah.


Saat itu suasana Rumah Sakit cukup sepi, terlebih penjagaan yang dilakukan Ayah Fahri dilakukan di koridor depan lift bukan didepan kamarnya. Karena Ayah Fahri yakin, tak akan ada sesuatu yang terjadi disana. Elmira membawa jaket seorang perawat yang sepertinya sedang jaga. Tapi sepertinya perawat itu ketiduran.


"Aku pinjam jaketnya ya, Mas," bisik Elmira.


Elmira mulai berjalan, saat mendekati koridor dia bisa melihat sang Ayah, Om Chandra, Baba dan juga Rian yang sedang berbincang. Akhirnya Elmira memutuskan untuk melewati tangga darurat.


Perasaan Ayah Fahri tiba-tiba tak karuan, dia merasa gelisah dan dadanya terasa sakit.


"Om sebaiknya istirahat diruangan Elmira, biar kami yang berjaga disini," ucap Rian.


"Iya Rian benar, biar kami yang berjaga disini," ucap Baba Jafran.


"Aku antar Abang ke kamar Elmira, sekalian aku ingin melihat kondisinya," ucap Chandra lalu berjalan bersamaan dengan Ayah Fahri.


Chandra melihat tetesan darah dilantai sepanjang koridor, dia mulai khawatir.


"Elmiraa!!" teriak Chandra lalu berlari kearah kamar Elmira yang diikuti oleh Ayah Fahri dan juga beberapa perawat yang berjaga.


Sesampainya dikamar, Chandra melihat ranjang Elmira kosong.


"****!!! Apa yang kalian kerjakan? Sampe kalian kehilangan pasien!" teriak Chandra pada perawat itu dan membangunkan Gisya serta Afifah.


"Ada apa Om Chandra? Kenapa teriak-teriak?" kesal Afifah yang terganggu.


"Lihat! Apa yang kalian jaga? Elmira kabur!" geram Chandra lalu berlari keluar. Sedangkan Ayah Fahri tertunduk lesu sambil memegang dadanya yang terasa sangat sakit.


Bruk!


"Ayahhhhhh!!!" teriak Bunda Gisya. "Bangun Ayaaahhhhhh!!" teriak Indira.


Baba Jafran segera menghampiri Bunda Gisya, dan segera membawa Fahri ke IGD.


"Aku akan cari Elmira, Bunda! Tenanglah," ucap Afifah dan Bunda Gisya mengangguk.


Chandra segera menyiapkan persenjataannya, karena dia yakin akan ada sesuatu yang terjadi. Rian dan beberapa anak buahnya ikut, disusul oleh Afifah yang menggunakan sepeda motor milik tukang parkir. Afifah akan menyusuri jalanan kecil, yang mungkin dilalui oleh Elmira.


Sedangkan Elmira yang mulai berjalan jauh, tanpa menggunakan alas kaki. Kilatan petir sudah mulai menyambar. Dia takut, tapi dia harus menemui Mirda. Hingga ditengah jalan ada mobil yang berhenti tepat didepannya. Elmira tersentak kaget, dia sama sekali tidak mengenali orang-orang itu.


"Hai nona cantik! Akhirnya kami bertemu denganmu," ucap salahsatunya.


"Kalian siapa? Dan apa urusan kalian denganku?!" teriak Elmira.


"Tenang dong cantik! Kamu cukup ikut kami saja untuk bertemu boss kami," ucap penjahat itu sambil berjalan mendekati Elmira.


Pergiiii!!! Aku tidak mau!!" teriak Elmira yang semakin memundurkan jalannya.


Dorrr!! Dooorrrrrr!!! Doooorrrrr!!


Hingga akhirnya terdengar suara tembakan yang menggelegar dimalam itu.


"Cepat bawa dia ke mobil!" perintah penjahat itu pada anak buahnya.


"Lepas!! Lepaskan aku!!!" teriak Elmira meronta-ronta.


Bugh!


Elmira pingsan karena dipukul oleh penjahat itu, Chandra melihatnya dan mengejar mereka. Tentunya dengan terus menembak kearah mereka, berharap mereka berhenti.


"Elmiraaaa!!!" teriak Chandra ketika melihat Elmira tak sadarkan diri.


Penjahat itu sudah berhasik masuk kedalam mobil, sedangkan Chandra dan anggota pasukan Fahri segera mengejarnya. Tak lupa Chandra meminta bantuan pada Syauqi, yang merupakan Paman dari Elmira. Aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan, hingga Chandra mulai kehilangan jejak Elmira.


"Siaaaaaallllll!!!" teriak Chandra frustasi.

__ADS_1


"Gimana ini, Om? Kita harus kemana?" panik Rian yang mengkhawatirkan Elmira.


"Ini yang selalu kami takutkan, Rian. Makanya kami selalu memperketat pengamanan terhadap Elmira," lirih Chandra lalu mulai melajukan mobilnya kembali menyusuri jalan.


Sementara itu, Elmira sudah disekap disebuah gedung kosong dipinggiran jalan Tol arah Jakarta. Elmira mengerjapkan matanya, dia melihat seorang laki-laki yang seumuran sang Ayah. Dengan sisa tenaga yang ada, Elmira coba memberontak.


"Siapa kalian? Kenapa kalian menginginkanku?" teriak Elmira.


"Ssstttt.. Sabar Quera sayang, aku adalah pamanmu, Nak," ucap laki-laki itu.


"My name Elmira! Kalian salah orang!" teriak Elmira.


"Hahahahahaha, jangan membodohi kami Quera!" bentak laki-laki itu lalu menampar pipi Elmira dengan sangat keras hingga sudut bibir Elmira berdarah.


Plaaaakkkkkk!!


"Aku hanya butuh tanda tanganmu, disiniiii!!" teriaknya sambil memberikan bolpoin ditangan Elmira. "Cepat tanda tangan!!" Dengan tangan bergetar, Elmira mulai mendekatkan tangannya untuk menandatangani surat itu. Tapi tubuhnya terlalu lemas.


"Tolong aku, Bang Mirda," lirih Elmira yang tak sanggup lagi membuka matanya.


"Bangun!! Shiiittt!!" umpat penjahat itu ketika melihat Elmira tak sadarkan diri.


Mirda terbangun dari tidurnya, dia tersentak ketika merasa mendengar suara Elmira.


"Astaghfirullohaladzim," ucap Mirda mengusap wajahnya yang penuh keringat dingin.


Untuk menenangkan hatinya, Mirda beranjak pergi mengambil wudhu dan melaksanakan sholat malamnya. Selesai sholat, Mirda berdo'a meminta ketenangan hatinya.


"Yaa Allah, ampunilah dosaku. Tenangkanlah hati ini, Yaa Allah. Aku mohon, jaga dia dimanapun dia dan dalam kondisi apapun. Hanya ini yang bisa aku lakukan, meminta keselamatan dan kebahagiaannya padamu, Yaa Allah. Jagalah Elmira Ayudia Syafa, wanita yang selama ini aku cintai." do'a Mirda sambil meneteskan airmatanya.


Paman Syauqi berhasi menemukan titik koordinat keberadaan keponakannya itu, dia langsung menghubungi Chandra. Mereka akhirnya bertemu dipersimpangan jalan, dan berencana untuk mengepung mereka semua. Bahkan sekitar 200 anggota Kepolisian dan Tentara sudah mulai menjalankan tugasnya.


Chandra berhasil melumpuhkan satu persatu anak buah penjahat itu yang jumlahnya memang lumayan banyak. Karena posisi saat itu dini hari, maka suara tembakan menggelegar kemana-mana. Membuat warga sekitar sana menjadi panik, terlebih saat mereka melihat banyak sekali mobil Polisi dan Tangki Tentara disana. Berita itu pun cepat menyebar luas, hingga para wartawan pemburu berita turut hadir disana. Bahkan salah seorang warga sudah berinisiatif memanggil 2 unit ambulance.


Kini Chandra dan Syauqi sudah sampai didalam, dia melihat Elmira terikat dan wajahnya yang lebam. Chandra segera berlari menghampiri Elmira, tapi sayangnya dia tertembak.


Dorrrr!! Dooorrrrr!! Dooooorrrrrr!!!


"Sssshhhh, El-el-mi-mira," lirih Chandra mencoba menjangkau tangan Elmira.


"Emmmhhh," rintih Elmira yang mulai tersadar, matanya terbelalak ketika yang pertama kali dia lihat adalah Chandra yang berlumuran darah.


"Om Chandraaa!!!" pekik Elmira mencoba melepaskan ikatannya dan mendekati Chandra.


"Ja-jangan me-menangis," lirih Chandra saat melihat Elmira menangis.


Elmira sudah melepaskan ikatannya, dia berdiri dan akan menghampiri Chandra.


"Awassssss!!" teriak Chandra saat melihat salah satu penjahat menodongkan senjatanya kearah Elmira. Chandra segera bangkit dan melindungi tubuh Elmira.


Dooorrrrr!!!


"Om Chandraaaaaaaa!!!" teriak Elmira saat melihat Chandra tertembak tepat dihadapannya. Elmira terus menangis, membawa Chandra dalam pangkuannya. Sedangkan Syauqi sedang berusaha melumpuhkan sang penjahat.


"Pr-princess, ja-jangan me-nangis, Om bb-baik-baik saja," ucap Chandra.


"Jangan tinggalin Kakak, Om. Kakak mohooonn, Kakak gak mau kehilangan siapapun lagi. Om harus baik-baik aja!!" teriak Elmira saat melihat Chandra mulai melemah.


Baju gamis putih milik Elmira kini sudah dipenuhi oleh darah, Afifah dan Rian yang baru saja masuk memekik kaget ketika melihat Elmira dan Chandra.


"Raraaaaa!!" teriak Afifah menghampiri Elmira.


"Tolong bawa Om Chandra ke ambulance!" pinta Rian pada pasukan Tentara.


"Selamatkan Om Chandra, Bang Rian!" pinta Elmira sambil terisak.


"Tenang, Ra. Bang Rian pasti melakukan yang terbaik! Sekarang kamu juga harus dapet perawatan," ucap Afifah memapah Elmira menuju ambulance.


Ambulance sudah pergi membawa Elmira dan Chandra ke Rumah Sakit. Siapa sangka, disana ternyata sudah ada Biang Mira yang baru saja datang untuk menemui calon mantan suaminya yang sebentar lagi akan menikah. Rian adalah orang yang meminta Biang Mira untuk datang, tapi siapa sangka ternyata yang harus dia lihat adalah sang suami yang baru saja turun dari ambulance dengan darah disekujur tubuhnya.


"Blii!!! Ada apa ini Rian? Bli kenapaaa?" teriak Biang Mira.

__ADS_1


"Om Chandra tertembak, dokter. Saat menyelamatkan, Elmira," ucap Rian lalu mendorong blangkar milik Chandra menuju IGD.


Setelah dilakukan pemeriksaan, Chandra harus melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang bersarang ditubuhnya. Dan lagi-lagi Biang Mira harus menyaksikan semuanya. Saat ini waktu menunjukan pukul 8 pagi, semua orang masih sangat cemas. Elmira bahkan belum sadar dari pingsannya, Chandra masih dalam ruang operasi dan Ayah Fahri masih berada di ruang observasi karena serangan jantungnya.


Elmira mulai mengerjapkan matanya, dia merasakan sakit diseluruh tubuhnya.


"Om Chandraa!!" pekik Elmira mengagetkan Afifah dan juga Rian.


"Tenanglah Ra! Om Chandra pasti akan baik-baik saja!" ucap Afifah memeluk Elmira.


"Semuanya salah aku, Fifah. Harusnya aku yang terluka, bukan Om Chandra!" isak Elmira.


"Udahlah Ra! Sekarang kamu istirahat, kasian Bunda kamu sedih. Belum lagi Ayah kamu yang saat ini masih belum sadar, jadi aku mohon! Tenang dan istirahat!" tegas Rian.


"Aku mau lihat Ayah, Bang Rian!" isak Elmira dipelukan Afifah.


"Nanti setelah kondisi kamu membaik! Sekarang aku harus jagain Bunda dulu," ucap Rian.


"Dimana Bang Mirda? Harusnya dia dikasih tau buat jagain Ayah!" ucap Elmira.


"Stop Elmira! Mirda udah dalam perjalanan ke Kongo! Dia akan bertugas kesana!" teriak Rian dengan nada tinggi.


Plaaakkkkk!


Afifah menampar wajah Rian dengan sangat keras.


"Gak seharusnya kamu membentak Elmira! Karena kalo kamu yang ada diposisi dia kamu belum tentu bisa memperjuangkan cintamu seperti Elmira!" teriak Afifah.


Rian tertunduk lesu, karena memang benar dia belum bisa memperjuangkan cintanya untuk Afifah. Terlebih Dzikri tidak menyetujui hubungan keduanya, mengingat sikap dan prilaku Bella, almarhum Ibu Afifah.


Tanpa memperdulikan keduanya, Elmira berlari keluar. Lagi-lagi dengan sembarangan dia mencabut infusannya. Afifah segera mengerjar Elmira.


"Elmiraaa!! Tunggu aku!!" teriak Afifah.


"Aku harus temuin Bang Mirda, meskipun yang terakhir kali!" isak Elmira.


"Cepet naik!! Aku bakalan bawa kamu kesana! Aku yang akan melindungi kamu!" ucap Afifah sambil membawa Elmira menuju motor yang semalam dipinjamnya.


Sesampainya di Batalyon, Elmira berlari hingga membuat semua mata tertuju padanya. Elmira terlambat, sangat terlambat. Mobil yang membawa Mirda baru saja pergi. Isak tangisnya sudah tak bisa tertahan lagi. Mereka yang mengenali Elmira, membawa Elmira dan Afifah ke Barak yang semalam ditempati oleh Mirda.


"Apakah Teteh ini Elmira?" tanya salah satu Prajurit disana.


"Bukan, saya Afifah dan dia Elmira," ucap Afifah menunjuk Elmira.


"Oh maaf, saya Bagja adik asuh Bang Mirda. Tadi milik Bang Mirda ini tertinggal, tulisan disini tertera nama Teh Elmira. Mungkin Abang rusuh, sampe barang sepenting ini tertinggal," ucap Bagja sambil memberikan kotak berukuran sedang bertuliskan 'Elmira'.


"Terimakasih, Bagja," ucap Elmira lalu mengambil kotak tersebut.


Elmira membuka kotak itu perlahan, semua barang-barang berharga Mirda ada disana. Mulai dari jam tangan pemberiannya hingga kalung yang tertera nama Mirda. Kalung yang selalu menggantung disetiap leher Tentara. Pandangan Elmira terkunci pada sebuah buku kecil milik Mirda, mungkin tidak layak disebut diary tapi disitulah Mirda mengungkapkan rasa cintanya pada Elmira. Lembaran demi lembaran Elmira buka, hingga dia tak bisa berhenti menitikkan airmatanya.


"Aku akan selalu menanti cintamu, abdi negaraku," lirih Elmira memeluk foto Mirda.


"Dunia ini begitu luas untuk diarungi, jadi jangan biarkan aku lupa dengan hanya mengarungi duniamu saja. Ada masa ketika kau memberikan isyarat cinta, namun ada juga saat kau memberikan isyarat untuk pergi. Aku tak pernah tersesat ketika berpetualang, kecuali saat masuk dalam hatimu. 100 hati pun masih terlalu sedikit untuk membawa semua cintaku padamu. Aku butuh kamu seperti jantung butuh detak. Ketidakpastian membuatku jatuh dalam penantian dan aku terjebak dalam dua pilihan, bertahan atau melepaskan. Dan aku putuskan akan bertahan, menanti kepulanganmu. Menanti kata cinta kembali terucap dari bibirmu," batin Elmira.


* * * * *


Gimana readerrrr??


Panik gak?


Baper gak?


Maaf yaa OTHOR JUALAN BAWANG DULU PART SKRG 🥺😭


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2