Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Duka atau Bahagia


__ADS_3

WARNING!!!


BAB INI MENGANDUNG BAWANG SEKEBON 😭


Jangan demo! 😜✌


* * * * *


Jika di Indonesia sedang suka cita setelah pesta, berbeda dengan keadaan di Singapore. Saat ini Alan dan juga Thoriq sedang bersitegang didepan ruang operasi, sudah 2 jam berlalu sejak operasi transplantasi jantung yang sedang dijalani oleh Theresia. Dokter memperkirakan jika operasi akan berlangsung selama 4 hingga 5 jam. Tak henti-hentinya Alan berdo'a agar Operasi Theresia akan berhasil.


Disisi lain, duka masih terasa bagi kedua orangtua gadis yang mendonorkan jantungnya bagi Theresia. Demi sang anak, Ibunya terus memohon pada suaminya untuk merelakan jantung itu berada dalam tubuh oranglain. Dan akhirnya, hari ini operasi itu dilakukan. Hanya rasa penyesalan yang ada didalam hati Ayah gadis itu, pasalnya dialah penyebab putrinya nekat untuk mengakhiri hidupnya sendiri.


Ceklek


Suara pintu ruang operasi terbuka, Thoriq dan Alan segera menghampiri sang dokter.


"How's the operation doc? Did it work?" tanya Alan dengan frustasi.


"Calm down, Sir. Theresia is fine, she's under doctor's supervision," jawab dokter.


"Thank you very much doctor, May God Bless you," ucap Alan sambil memeluknya.


"Youre welcome, it's my dutty. I'm sorry, she can already be visited after going through his critical period," ucap dokter lalu meninggalkan mereka berdua.


Kini Thoriq dan Alan dapat sedikit bernafas lega, pasalnya operasi yang dilakukan sudah berhasil. Mereka saat ini sedang memantau hasil operasi itu, karena besar kemungkinan akan adanya resiko dari transplantasi jantung itu.


"Mas, aku mau sholat ashar dulu ya," ucap Alan pada Thoriq.


"Iya kita gantian sholatnya, takutnya dipanggil sama dokter," jawab Thoriq.


Alan kembali ke Apartemennya yang tak jauh dari rumah sakit, dia mengambil wudhu dan melaksanakan sholat ashar dengan khusyu. Selesai sholat, Alan menengadahkan tangannya untuk meminta kesembuhan bagi Theresia.


"Allahumma rabban nasi, adzhibil ba’sa. Isyfi. Antas syafi. La syafiya illa anta syifa’an la yughadiru saqaman. Yaa Allah berikanlah kesembuhan bagi Theresia, hamba mohon padamu Yaa Allah. Berikanlah kesehatan kembali baginya, hamba sungguh sangat takut kehilangannya Yaa Allah. Ampunilah segala dosa-dosanya, dan berikanlah kemudahan untuk Theresia. Yaa Allah, berikanlah tempat terindah-Mu bagi pendonor jantung Theresia, dia orang baik. Kabulkanlah segala do'a-do'a hamba-Mu yang penuh dosa ini, YaaAllah,"


Lama tinggal di Singapore membuat Alan sudah terbiasa disana, kini dengan langkah cepat Alan terburu-buru untuk pergi ke Rumah Sakit. Karena Thoriq mengabarkan jika keluarga pendonor ingin bertemu dengan mereka.


"Dimana mereka, Mas?" tanya Alan pada Thoriq.


"Mereka sudah menunggu diruangan dokter, ayo kita kesana sekarang!" ajak Thoriq.


Dengan mengucap bismillah, Alan membuka pintu ruangan dokter dan......


Deg!


Tubuh Alan serasa lemas tak bertulang, ketika dia melihat kedua orangtua Lula berada disana sambil memeluk erat foto putri satu-satunya itu.


"Tan-tante kenapa disini? Dimana Lula?" tanya Alan yang diam terpaku didepan pintu.


"Dia sudah damai bersama Bapa, di Surga," lirih Bu Eve.


"Apa maksud tante?!" tanya Alan lalu mendekat kearah kedua orangtua Lula.


"Lula sudah pergi, Nak Alan. Dia sudah meninggalkan tante," lirih Bu Eve lalu memeluk Alan.


Bagai disambar petir, tubuh Alan melemas dipelukan Ibunya Lula. Bayangan kebersamaan mereka berputar bagai film dalam memori ingatan Alan. Tak lama kemudian tangisnya pun pecah, Alan menangis terisak ketika mengetahui kenyataan jika yang mendonorkan jantungnya adalah sahabat baiknya, Lula. Terlebih saat ini Alan sangat tau bagaimana perasaan Lula padanya.


Alan mengambil foto Lula dari tangan Ibunya, senyumannya sungguh sangat manis.


"Lula selalu bilang padaku, jika dia sangat menyayangi Papanya. Dia bahkan rela meninggalkan semua impiannya, agar dia bisa terlihat dimata Papanya. Bahkan dia sudah memiliki usaha sendiri, hasil dari jerih payahnya sendiri," ucap Alan sambil mengusap foto Lula. "Apa penyebab kematiannya?" tanya Alan melirik kearah Papa Lula yang tertunduk lesu.


Sambil menatap sang suami, dengan tatapan benci. Bu Eve menceritakan semuanya.


Flashback On


Lula bersama kedua Kakaknya kini sedang berada di Singapore, mereka mengurusi anak perusahaan yang berada disana. Sekalian untuk berlibur dan melupakan perasaannya, Lula memutuskan untuk ikut kesana. Dengan riang gembira dia berjalan memasuki apartment yang cukup luas. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan sang Ayah.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah setuju jika Lula masuk kedalam perusahaan! Dia itu seorang perempuan, lemah! Lagi pula dia bukan anak kandungku! Jadi untuk apa aku menyayanginya!" ucap Ayah Lula.


Bruuuk!

__ADS_1


Karena terkejut, Lula tak sengaja menjatuhkan koper dan tas yang berada ditangannya. Kini semua mata tertuju pada Lula.


"Lulaaaa?!" kaget mereka semua dan akan menghampiri Lula.


"Stop! Apa maksud Papa?! Lula bukan anak Papa?!" tanya Lula dengan nada yang bergetar.


"Ya! Kau bukan putriku, kau hanya anak pungut! Jika bukan karena warisan Ayahku, sama sekali aku tidak sudi untuk menerima kehadiranmu!" tegas Ayah Lula.


"Cukup Pa!! Kamu keterlaluan!!" bentak Mama Lula.


"Berani kamu membentakku!! Semua perempuan itu memang LEMAH!!" teriak Ayah Lula.


Tak kuat lagi mendengar ucapan sang Ayah, Lula berlari keluar Apartment. Kedua Kakaknya mengejar Lula, meskipun Lula bukan adik kandung mereka. Tapi bagi keduanya, Lula sangatlah istimewa. Lula terus berlari, hingga tanpa sadar dia berlari ke tengah jalan.


Braaakkk!!!


Tubuh Lula terpental jauh, hingga kepalanya terbentur trotoar jalan.


"Lulaaaaaaaaaaa!!!" teriak kedua Kakak Lula, diikuti sang Ibu dan Ayah dibelakang.


Mereka menghampiri tubuh Lula yang mengeluarkan banyak darah, tak lama kemudian ambulance pun datang untuk membawa Lula ke Rumah Sakit. Terlihat rasa penyesalan dalam diri sang Ayah, terlebih ketika anak dan istrinya terus menyalahkannya.


"Aku akan sangat membenci Papa, jika sesuatu terjadi pada adikku!" teriak Kakak Lula.


"Dan aku akan menceraikanmu, jika anakku tak bisa terselamatkan," ucap Ibu Lula.


Kini Lula sudah berada dalam ruang Operasi, kepalanya terluka dan tangannya patah. Dokter sudah mengatakan, jika kondisi Lula akan baik-baik saja pasca operasi. Dan keluarga dapat bernafas lega mendengar hal itu.


Sudah dua hari ini Lula mendapatkan perawatan, Lula pun mulai sadarkan diri.


"Ma-mama," lirih Lula ketika melihat sang Ibu yang menangis.


"Lula sayang, ini Mama, Nak. Lula ingat Mama?" tanya Bu Eve.


"Lula ingat, Ma. Dimana Papa?" tanya Lula sambil mengedarkan pandangannya.


"Ma, Lula sayang Mama. Lula sayang Papa, Lula juga sayang Kakak Boy dan Kak Bhre. Maafin Lula ya, Ma. Kalo Lula ngerepotin Mama selama ini," lirih Lula.


"Enggak sayang, kamu anak Mama. Gak pernah ada kata repot, dalam mengurus anak-anak Mama," ucap Bu Eve sambil mencium kening Lula.


Waktu terus berlalu, kini Lula sedang berada di kamar miliknya. Pagi tadi, dokter sudah memperbolehkan Lula pulang. Selama Lula dirawat, sama sekali dia tidak pernah melihat Ayahnya. Padahal Lula sangat berharap untuk bertemu dengannya, diam-diam Lula masuk kedalam ruang kerja sang Ayah. Dilihatnya, sang Ayah tertidur dengan kepala diatas meja. Lula menatap wajah sang Ayah dengan penuh kerinduan, setelah itu dia keluar karena tak ingin Ayahnya itu kembali marah.


Lula masuk kedalam kamar, dia menuliskan dua buah surat. Yang satu ditujukan untuk Keluarganya, dan satu lagi ditujukam untuk Alan. Sambil menangis Lula menuliskan surat itu. Menumpahkan kesedihannya disana.


† † †


Teruntuk Papa, Mama, Kak Boy dan Kak Bhre...


Terimakasih untuk kehidupan yang indah ini, terimakasih sudah memperlakukan Lula dengan baik.. Rasanya sangat menyakitkan, ketika Lula tau jika Lula bukanlah anak kandung kalian.. Tapi apalah daya, Lula gak bisa lakuin apa-apa..


Pa.. Lula sayang Papa, meskipun Papa gak pernah anggap Lula ada.. Tapi Lula tetep sayang sama Papa dan tetep menjunjung tinggi nama Papa.. Lula punya Cafe Pa, semua itu Lula bangun dari nol.. Biar Papa bangga sama Lula, sekarang Lula kasiin semuanya buat Papa.. Anggap aja itu untuk mengganti semua biaya yang Papa keluarkan selams merawat Lula...


Mama... Lula sayang banget sama Mama.. Karena Mama adalah Malaikat dalam hidup Lula.. Makasih ya Ma, atas cinta kasih Mama selama ini.. Semoga Tuhan Yesus membalas semua kebaikan Mama.. Mama sayang, Lula punya satu permintaan untuk Mama.. Jika sesuatu terjadi pada Lula, tolong berikan jantung ini untuk Theresia... Dia adalah orang yang sangat penting dalam hidup Alan, dan Alan adalah orang sangat Lula cintai.. Lula juga mohon, donorkan semua organ tubuh Lula yang masih berguna.. Lula ingin menjadi orang yang baik sebelum kembali pada Tuhan.. Kabulkan ya, Ma... Lula mohoonn...


Kak Boy dan Kak Bhre.. Jaga kesehatan kalian ya! Lula pasti bakal kangen banget sama keisengan kalian, hehehe.. Jangan pikirin perusahaan terus ya, Kak.. Carilah jodoh yang mampu menemani kalian, dalam kondisi apapun itu.. Dan yang pasti, harus seiman... Karena Lula tau, bagaimana sakitnya ketika mencintai orang yang seamin tapi tak seiman.. Lula titip Papa dan Mama, ya Kak.. Lula pamit! Iloveyou.. ❤❤❤


† † †


Setelah menuliskan surat itu, dia menuliskan surat untuk Alan. Dalam setiap surat, ada tulisan luntur dari airmata Lula. Dia menangis, dia lelah, dan dia menyerah. Setelah menulis surat itu, Lula memasukkannya kedalam saku. Lalu Lula meminum obat sebanyak 50 butir. Tak lama kemudian tubuh Lula mengalami kejang-kejang, mulutnya berbusa. Dan tak ada satupun yang tahu itu.


Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, tapi Lula belum juga keluar dari dalam kamarnya. Bu Eve sangat khawatir, terlebih Lula mengunci kamarnya.


"Lulaa! Buka pintunya sayang, udah sore! Makan dulu," teriak Bu Eve.


"Mama ngapain teriak-teriak!" bentak Papa Lula.


"Papa! Lula gak keluar-keluar kamar, Mama khawatir!" panik Bu Eve.


"Biarkan saja! Anak lemah!" ucap Papa Lula.

__ADS_1


Bu Eve segera mencari kunci cadangan, tapi dia tak menemukannya. Kemudian Kak Boy datang, Bu Eve memintanya mendobrak kamar Lula.


Braaaakkkkk!!


"Lulaaaaaa!!!" teriak mereka lalu menghampiri Lula yang sudah tak sadarkan diri.


Kini Lula sudah berada di Rumah Sakit, namun kali ini Lula tak lagi bisa terselamatkan. Dia mengalami mati otak karena overdosis obat-obatan. Dan kali ini mereka terlambat membawanya ke Rumah Sakit. Lalu dokter memberikan kedua surat yang dia temukan disaku Lula. Bu Eve menangis meraung-raung ketika membaca surat itu.


Bugh! Bugh! Bugh!


Boy dengan penuh emosi menghajar Ayahnya sendiri hingga babak belur.


"Puas kamu!! Aku menyesal memiliki Papa sepertimu!! Lula lebih barharga bagiku dibandingkan dirimu!!" teriak Boy dengan airmata dipipinya.


"Semua itu karena dia lemah!!" teriak sang Papa.


Plaaaakkkk


"Aku akan menceraikanmu, aku gak pernah sudi lagi untuk hidup bersama pembunuh sepertimu!! Aku membencimu!! Karena kamu putriku mati!!" teriak Mama Lula.


"Aku tidak akan pernah menceraikanmu!!" teriak Papa Lula.


"Aku menyesal, aku menyesal.... Aku menyesaaalllll!!" teriak Papa Lula frustasi.


"Percuma!!! Penyesalanmu tak berguna! Putriku sudah mati!!" teriak Mama Lula.


Tak lama kemudian, datanglah dokter. Mereka menanyakan mengenai donor yang diinginkan oleh Lula. Karena Boy sudah memberitahukannya pada dokter.


"Lakukan apapun yang Lula mau, hanya itu yang bisa aku lakukan," lirih Bu Eve.


"Tidak!! Tubuhnya harus utuh!!" tolak Papa Lula.


"Berhentilah menyakitinya! Setelah mati pun kamu masih akan bertingkah seperti itu?!! Biarkan Lula pergi dalam damai!!" tegas Bu Eve.


Flashback Off


Alan menangis tersedu-sedu setelah mendengar cerita dari Bu Eve. Dia memeluk erat foto Lula, dan menangisi segalanya. Hubungannya dengan Lula sangatlah dekat, terlebih Alan tau jika Lula mencintainya.


"Lula titipkan ini untukmu, Alan. Dia sangat mencintaimu, Tuhan memang satu hanya saja kalian yang tak sama. Tante mohon, jagalah Theresia. Karena dia adalah Lula kami. Hanya itu yang Tante inginkan," lirih Bu Eve.


"Aku akan menjaganya, Tante. Aku akan menyayanginya," lirih Alan.


Alan menerima surat itu, dia menggenggamnya dengan sangat erat. Thoriq menghampiri Alan dan memeluknya, mereka sangat bersyukur tapi mereka juga bersedih setelah mengetahui kenyataan yang ada. Tak lama kemudian, dokter mengabari jika Theresia sudah menunjukan tanda-tanda kesadaran. Dengan segera, Alan dan Thoriq berhambur keluar menuju ruangan Theresia.


Alan dan Thoriq masuk bersamaan, setelah memakai pakaian khusus. Mereka dapat melihat mata Theresia yang mulai terbuka, meskipun banyak sekali alat ditubuhnya.


"Kami disini untukmu, ijem! Sembuhlah," bisik Alan saat melihat Theresia ingin bicara.


"Kamu masih sangat lemah, jangan bicara apapun. Kakak dan Alan selalu menemanimu, disini. Sembuhlah adikku sayang," lirih Thoriq.


Terlihat airmata disudut mata Theresia, dia lalu menatap Alan. Tatapan penuh cinta, dialam bawah sadarnya Theresia dapat mendengar semua ucapan Alan.


"Aku mencintaimu, Re. Aku mencintaimu, ijem! Cepatlah sembuh, aku akan menikahimu. Aku gak mau lagi kehilangan kamu," ucap Alan dan dijitak oleh Thoriq.


"Kakaknya duluan yang nikah! Enak aja!" ucap Thoriq sambil tertawa dengan airmata dipipinya.


Alan terus menatap mata Theresia, dia mengecup tangannya yang terdapat infus.


"Aku tidak tau, harus berduka atau bahagia. Tapi aku berterimakasih Lula, kini aku bisa mencintai kalian berdua. Karena sebagian dirimu ada dalam diri Theresia. Tidurlah dengan damai kekasihku, Lula. Aku beruntung bertemu dengan gadis bar-bar sepertimu, karena hidupku jauh lebih berwarna. Maafkan aku yang tak bisa membalas cintamu, tapi kini aku akan mencintaimu dalam setiap do'aku," batin Alan sambil mengusap lembut kepala Theresia.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2