Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 74. Pelangi setelah hujan


__ADS_3

Hujan deras tiba-tiba turun, ketika cuaca sedang panas. Sudah dua jam berlalu, namun operasi Bunda Syifa belum juga selesai. Gisya terus saja berdzikir untuk menenangkan hatinya. Sedangkan Syauqi, dia terus mengaji untuk Bundanya. Uwak Yusuf tersenyum bangga, kedua keponakannya itu mampu untuk menahan diri mereka dan tetap bersikap tenang. Tak berapa lama, keluarlah dokter dari ruang operasi.


"Alhamdulillah, operasi pemasangan Ring nya sudah selesai. Kini tinggal menunggu masa pemulihan, untuk sementara pasien akan kami pantau di ruang ICU." ucap dokter.


"Alhamdulillah Yaa Allah, terimakasih banyak dokter." ucap Gisya merasa lega.


Syauqi memeluk erat tubuh Fahri, menyalurkan segala kegelisahan yang sedari tadi dia tahan. Kini mereka dapat bernafas lega, karena Bundanya baik-baik saja.


"Ca, aku mesti balik kerumah sakit. Cyra nangis terus." ucap Febri lesu.


"Gak apa-apa, Biw. Makasih ya, udah nemenin aku disini." lirih Gisya.


"Udah kewajiban aku, Ca. Alhamdulillah operasinya lancar, aku pamit ya." tutur Febri.


Febri segera melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit tempat Cyra dirawat. Sesampainya disana, dia melihat Ana yang sedang menggendong Cyra dengan kesal.


"Kenapa kamu lampiaskan amarahmu pada Cyra?" kesal Febri lalu mengambil Cyra.


"Aku gak nyangka Mbak itu munafik! Menjadikan Cyra sebagai tameng agar Mas Zaydan tetap berada disisi, Mbak. Lalu apa maksudnya niat Mbak menikahkan kami?" ucap Ana dengan emosi yang menggebu-gebu.


Belum Febri menjawab, Zaydan dan kedua orangtua Andi masuk kedalam ruangan.


"Saya mohon maaf kepada Bapak dan Ibu, tapi sebaiknya kalian segera pulang. Saya pikir kasih sayang Ana untuk saya dan Cyra itu tulus. Ternyata hanya karena Zaydan, dia berani untuk melukai Cyra! Lihat ini! Apa pantas dia melakukannya pada seorang bayi?" kesal Febri sambil menunjukkan pergelangan tangan Cyra yang memerah.


"Pergilah, ambil Mas Zaydan milikmu itu! Aku tidak membutuhkan siapapun untuk berada disisiku. Sekarang aku mohon dengan segala hormat, tinggalkan ruangan ini sekarang! Atau perlu saya panggilkan security?" ucap Febri dengan emosi yang membuncah.


Kedua orangtua Zaydan sangat terluka, melihat putri dan menantunya berseteru karena hanya seorang laki-laki.


Plaakkkkk!!


Satu tamparan mendarat dipipi Ana. Ibunya sungguh merasa kecewa dengan putrinya itu.


"Jika kamu mau melampiaskan amarahmu, lampiaskan padanya! Bukan pada bayi mungil yang tidak berdaya!" ucap Ibu sambil menunjuk Zaydan.


"Ternyata jatuh cinta membuatmu menjadi perempuan bodoh! Kejarlah obsesi dan keinginanmu, kami tidak akan melarangnya. Urus dirimu sendiri!" kesal Pak Burhan.


"Maafkan Ana, Pak, Bu. Ana tidak bermaksud melukai Cyra." lirih Ana.


Kedua orangtua Andi meninggalkan Ana dan Zaydan. Mereka memutuskan untuk pulang ke Magelang. Sungguh mereka sangat malu dan merasa beralah terhadap Febri. Ana terus memandangi wajah Zaydan yang sedang penuh dengan amarah.


"Maafkan aku, Mas." lirih Ana mencoba memegang tangan Zaydan.


"Aku sudah salah pernah menilai baik dirimu. Jujur saja, dulu aku kagum akan sikapmu terhadap Febri dan Cyra. Hingga aku mengira jika itu adalah cinta, tapi ternyata aku salah besar. Aku yakin pilihanku sudah tepat, mungkin aku memang bersalah terhadapmu dan Febri. Tapi inilah perasaanku Ana, aku tidak pernah mencintaimu." ucap Zaydan lalu pergi.


Ana menangis tersedu-sedu, dia merutuki kebodohannya sendiri. Sementara Febri sudah meminta dipindahkan ruang rawat oleh suster. Dan meminta agar tidak ada yang mengunjunginya. Saat ini Febri lebih memilih untuk menenangkan dirinya sendiri. Berdua saja dengan Cyra sudah cukup baginya. Febri tersenyum bahagia, ketika melihat putrinya sudah mulai ceria dan aktif kembali.

__ADS_1


"Setelah badai kehidupan yang Mama lewati, kamulah pelangi Mama. Ferandiza Chayra Shanum Faturachman." ucap Febri sambil menatap mata indah putri cantiknya.


* * * * *


Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Jafran masih kerepotan mengasuh dua bayi kembarnya itu. Usia si kembar sudah memasuki 6 bulan, hingga mereka mulai sangat aktif. Rumah sudah seperti kapal pecah, popok dan mainan bertebaran dimana-mana. Kini Jafran sudah sangat menyesali perbuatannya.


"Mail, Maul. Baba memang sangat bodoh, ternyata selama ini Ummi kerepotan menjaga kalian. Sementara Baba malah menyakitinya." lirih Jafran pada kedua anaknya itu.


Yuliana sedang dalam perjalanan menuju rumahnya, dia terus ditemani oleh Umma.


"Ingat kata-kata Umma, buat anak bodoh itu semakin menyesal!" tegas Umma.


"Baik Umma, lihat saja apa yang akan terjadi besok." ucap Yuliana dengan senyuman menyeringai.


Mobil sudah memasuki halaman, Yuliana bergegas masuk kedalam rumah. Yang dia tuju adalah kedua anak kesayangannya. Matanya melotot tak percaya, melihat pemandangan rumah yang sudah seperti kapal pecah. Dilihatnya, suami dan anak kembarnya tertidur diatas karpet yang berada diruang tengah. Umma Nadia menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya dengan keadaan rumah putranya itu.


"Umma ke kamar tamu, ya. Kamu juga cepet mandi, anak-anak juga harus dimandiin." ucap Umma Nadia sambil memindahkan si kembar kedalam box bayi yang ada disana.


"Ulil beresin rumah dulu Umma. Gak mungkin Ulil biarin rumah berantakan kaya gini." ucap Yuliana sambil membereskan rumah.


Jafran terbangun, dia menyadari jika si kembar tidak ada dalam pelukannya. Matanya terbelalak kaget ketika melihat rumah sudah dalam keadaan rapi. Bahkan si kembar sudah mandi dan berganti baju dan tertidur lelap dalam box bayi yang berada diruang tengah. Saat Jafran melihat jam, ternyata sudah pukul 6.30. Jafran  bergegas menuju kamarnya, dia melihat istrinya sedang berdo'a dan menangis.


Hati Jafran sungguh sangat teriris mendengar do'a istrinya itu.


"Yaa Allah ampunilah suamiku, ampunilah segala dosaku. Karena aku, suamiku pergi mencari hiburan diluar sana. Jangan berikan azab hukuman padanya Yaa Allah. Aku masih membutuhkannya untuk menjadi Baba dari anak-anak kami. Sadarkanlah suamiku, jika aku sangat mencintainya. Aku hanya belum bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Yaa Allah jagalah keutuhan rumah tangga kami, jauhkanlah rumah tangga kami dari godaan pelakor." ucap Yuliana dalam do'anya.


"Maafin Baba, Mi. Baba emang laki-laki brengsek! Tapi demi Allah, Baba gak pernah melakukan adegan ngadon-ngadon sama perempuan lain. Baba hanya berniat buat bantuin dia aja, Mi. Maafin Baba, ya Ummi sayang." ucap Jafran terisak.


"Besok pertemukan aku dengan wanita itu, maka aku akan pikirkan untuk memaafkanmu. Sekarang cepet sholat Maghrib!" tutur Yuliana.


Tanpa menjawab, Jafran melangkahkan kakinya untuk membersihkan diri. Lalu dia melaksanakan sholat maghrib. Yuliana mempersiapkan makan malam untuk Jafran. Karena dia dan Umma sudah makan sebelum maghrib.


"Makan dulu, mungkin tenaga kamu habis setelah mengurus anak-anak." Ucap Yuliana tanpa ekspresi yang membuat Jafran menghela nafasnya. Sungguh Jafran merindukan istrinya yang ceria itu.


Setelah sholat isya, Yuliana merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dia memakai baju tidur yang tipis, yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Jafran mulai panas dingin, ingin rasanya dia menerkam istrinya itu. Tapi dia tau, kesalahannya itu adalah awal dari penderitaannya. Jafran menghela nafas kasar, melihat istrinya sudah tertidur pulas. Dalam hati, Yuliana berteriak kegirangan telah membuat suaminya itu seperti ikan tanpa air.


"Rasain kamu Ba! Suruh siapa main-main sama ulet bulu! Belum tau aku Ratunya! Ulet mau di uletin!" Batin Yuliana.


Keesokan harinya, Yuliana pergi bersama Jafran dan si kembar untuk bertemu dengan wanita yang berhasil memikat hati suaminya itu. Sepuluh menit kemudian, datanglah seorang wanita berpakaian pramugari menghampiri mereka.


"Maaf saya terlambat Capt. Tadi saya baru selesai briefing." tutur wanita bernama Celia itu.


"Jadi kamu yang sering berkirim pesan sayang dengan suami saya?" Tanya Yuliana.


Celia menatap Yuliana dari atas hingga bawah, dia tersenyum mencibir.

__ADS_1


"Jadi ini calon madu saya Capt?" tanya Celia dan Jafran hanya terdiam.


"Hemm, madu? Berarti kamu racun dong?" ledek Yuliana.


"Maksud anda apa ya? Capt Jafran ini sudah berjanji akan menolong saya dan menikahi saya. Lagian kami suka sama suka." ucap Celia dengan penuh percaya diri.


"Apa kedua orangtua kamu tau kelakuan anaknya yang sebenarnya? Kasihan sekali orangtuamu jika tau anaknya itu pelakor." ucap Yuliana dengan tenang.


Jafran sudah mulai panas dingin, dia tidak menyangka jika istrinya bisa bersikap begitu tenang dalam berbicara dengan Celia.


"Jangan bawa-bawa orangtuaku!" geram Celia.


"Loh kenapa? Bukankah kalo kalian menikah, kedua orangtuamu harus tau? Bahkan mereka harus mengenal aku bukan? atau jangan-jangan, kamu memang hanya benalu dan racun bagi orangtuamu." ucap Yuliana sambil tersenyum.


Gadis itu sudah sangat kesal, dia akan menampar Yuliana. Tapi sayangnya, Yuliana sudah menamparnya terlebih dahulu.


"Singkirkan tangan kotormu itu! Aku tidak sudi sedikitpun tanganmu menyentuh wajahku. Lihatlah dirimu, kamu ini perempuan. Bahkan ternyata kamu sedang mengandung, apa kamu tau siapa ayahnya? Tidak mungkin suamiku bukan? Kamu salah sudah memilih Capt Jafran sebagai umpanmu. Ulet bulu sepertimu tidak akan bisa menyingkirkanku, karena aku adalah RATUNYA ulet bulu! Sekarang lihatlah kesana!" tunjuk Yuliana kearah Umma Nadia yang sedang bersama orangtua Celia dan suaminya.


Celia terbelalak kaget ketika melihat suami dan orangtuanya ada disana.


"Lihatlah, suamimu yang begitu baik hati menerima dirimu. Tapi kamu malah menyeleweng dibelakangnya, sekarang kamu mau menghancurkan rumah tanggaku? Tidak semudah itu Celia! Aku menemani suamiku dari Nol, dimulai dari dia yang tidak memiliki apa-apa! Lalu dengan seenaknya kamu ingin merebutnya? Cihh! Kamu bukan ulet bulu, kamu itu sejenis keong racun!" geram Yuliana membuat Celia tidak berkutik.


Keluarga Celia meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Jafran. Setelah mereka pergi, Jafran masih tertunduk malu didepan istri dan ibunya.


"Ngapain nunduk terus Ba? Malu atau nyari duit jatoh?" Ledek Yuliana.


"Maafin Baba, Ummi. Baba janji gak akan mengulangi kesalahan yang sama." Lirih Jafran.


"Udahlah, Ummi anggap Baba lagi kesambet setan ulet bulu! Mulai sekarang bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki, Ba. Aku mendampingimu karena aku mencintaimu karena Allah. Peganglah teguh kesetiaan janjimu pada Allah, karena ketika ijab kabul kamu sudah berjanji pada Allah." ucap Yuliana.


Jafran dengan cepat berhambur memeluk istrinya itu, dia berjanji tidak akan bersikap bodoh lagi. Dia juga meminta ampunan pada Ibu yang sangat dicintainya.


"Maafin Apan, Umma. Apan janji akan lebih menyayangi dan bersyukur dengan apa yang Apan miliki. Maafin Apan ya, Umma." Lirih Jafran dalam pelukan ibunya.


"Dengerin ya anak bodoh! Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, tapi ingat rumput milikmu akan jauh lebih hijau jika kamu bisa merawatnya dengan baik. Jangan jadi lelaki egois yang hanya ingin diperhatikan. Lihat saja istrimu, bahkan dia tidak memikirkan dirinya hanya untuk mengurus kamu dan si kembar." Ucap Umma menasehati.


"Udahlah Umma, akan selalu ada badai dalam rumah tangga. InshaAllah setelah ini, badai itu akan digantikan oleh Pelangi." ucap Yuliana.


* * * * *


Gimanaaa sukaa gak ceritanya reader?


Maaf ya ngebosenin!


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author❤


__ADS_2