Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 34. Akad Nikah


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, Gisya meminta izin kepada Bundanya untuk menginap dirumah Uwak Ais. Sudah 3 hari Gisya berada disana, dia tidak pernah bercerita apapun pada Uwak Ais dan Uwak Yusuf. Dan mereka pun tidak berani menanyakan apapun. Saat ini Gisya sedang menikmati pemandangan indah kebun teh. Sambil mengetik ceritanya dalam Laptop miliknya. Tiba-tiba suara Uwak Ais mengagetkannya.


"Kamu betah disini, Ca? Gak rindu Toko?" tanya Uwak Ais.


"Masih betah disini Uwak, enak adem disini." ucap Gisya.


"Tapi besok kita harus ke Bandung, mau ada hajatan. Nanti Ulil sama Jafran yang jemput Caca. Uwak harus pergi malam ini, Rini membutuhkan bantuan Uwak disana. Caca gak apa-apa kan Uwak tinggal?" tutur Uwak Ais.


"Gak apa-apa Uwak." Ucap Gisya memaksakan senyumnya.


Malam ini, Gisya hanya ditemani oleh Mang Dayat dan istrinya. Gisya menangis dalam diam, hatinya begitu pedih. Gisya tau, mungkin hajatan yang dimaksud adalah Acara Pernikahan Fahri dan Febri. Padahal hingga saat ini belum ada kejelasan untuk hubungan mereka. Gisya mencoba untuk mengirim pesan kepada Fahri.


πŸ’Œ Gisya


Saat semuanya harus dilepaskan dan saat itu juga semuanya usai. Semoga takdirmu, membawamu dalam kebahagiaan. Terimakasih dan maaf untuk segalanya.


πŸ’Œ Bang Fahri ❀


Tak usah cemas perihal Takdir, karena selembar daun pun sudah Allah atur akan Jatuh kapan dan dimana.


Mendapat balasan seperti itu, Gisya mulai menangis tersedu-sedu. Hingga akhirnya dia tertidur pulas sambil memeluk foto dirinya bersama Fahri saat mengenakan pakaian Persit. Mang Dayat beserta istrinya, terus melaporkan kondisi Gisya kepada Syauqi.


"Maafin Uqi ya, Teh. InshaAllah Uqi akan membuat Teteh bahagia." Ucap Syauqi.


Yuliana dan Jafran baru saja sampai di Rumah Uwak Ais. Dia menghebohkan seisi rumah dengan membawa banyak sekali orang. Ada 2 orang perias dan 2 orang yang sedang mempersiapkan baju. Gisya terbangun dari tidurnya, dia melihat jam dan ternyata sudah jam 7 pagi. Gisya tidak melaksanakan sholat subuh karena sedang halangan.


"MashaAllah Ulil! Ada apa ini rame banget!" kaget Gisya.


"Cacaaaa!! My bestpreenn, kangen bangeeettt! Kamu bales chat cuman singkat-singkat, udah gitu ditelpon gak diangkat! Kesyeell dehh!" tutur Yuliana.


"Miii, jangan heboh-heboh ah! Baba gak mau yaa, anak Baba hebohnya kayak kamu!" kesal Jafran melihat tingkah istrinya.


"Kamu hamil, Ulil?! MashaAllah selamat yaa buat kaliaan." ucap Gisya memeluk Yuliana.


"Kalian sudah berbahagia, sementara aku disini menahan luka." Batin Gisya.


Yuliana meminta perias make up untuk mendandani mereka berdua. Gisya hanya menuruti keinginan Yuliana. Menurutnya, dia harus tetap menjaga persahabatan mereka.


"Kok pake gaun putih gini?" tanya Gisya.


"Semuanya emang pake gaun putih, Ca. Nih aku juga pake." Ucap Yuliana.


"Tapi punya aku lebih heboh gaunnya!"


"Jangan demo! Permintaan bumil itu, aku gak mau ya anak aku ileran!" Kesal Yuliana.


Gisya hanya bisa menuruti keinginan sahabatnya itu.


Jafran yang sejak tadi terus dihubungi oleh Syauqi merasa kesal. Dia menghampiri para wanita yang baru saja selesai dirias.


"Duh! Make up aja lama bener sih! Mbak cepetan diberesin dong! Nanti kita telat, gak akan liat akad nikahnya nanti!" kesal Jafran.

__ADS_1


"Sabar, Baba. Ini udah selesai! Yukk kita capcusss!" ucap Yuliana.


Gisya hanya berjalan mengikuti mereka, sungguh sebenarnya dia tidak ingin hadir. Dia juga kecewa karena Yuliana tidak menanyakan bagaimana perasaannya. Satu jam perjalanan tidak terasa, saat mereka tiba disana Acara Akad Nikah sedang dimulai. Gisya masih belum beranjak dari depan pintu masuk dimana tempatnya berdiri. Tubuhnya gemetar, hatinya sungguh terasa sangat amat sakit. Dia tidak sanggup untuk menyaksikannya. Tapi dia terkesiap ketika mendengar suara Fahri.


"Saya terima nikah dan kawinnya Gisya Kayla Nursalsabila binti Wahyu Saputra Malik Almarhum dengan Mas Kawin tersebut TUNAI!!"


Setelah mendengar kata 'SAH' yang diucapkan oleh para tamu undangan tubuh Gisya menjadi lemas. Dia tidak menyangka jika Fahri akan mengucap ijab kabul untuknya. Gisya tak kuasa lagi menahan airmatanya. Apalagi ketika melihat Fahri yang tersenyum ditempat ijab kabul. Dia juga mulai menyadari ketika Uwak Yusuf berbalik dan memandang kearahnya. Gisya benar-benar terpaku ditempatnya.


Suasana haru sangat terasa, Gisya berjalan menuju tempat Akad Nikah tadi dibantu oleh Yuliana dan Syaina. Semua orang berderai airmata bahagia melihat Gisya yang terus menangis bahagia. Gisya melihat seluruh keluarganya ada disana, bahkan Gilang sang Komandan Kompi menjadi saksi pernikahannya. Sungguh Gisya tidak menyangka jika Fahri akan melakukan ini tanpa memberitahunya.


Setelah saling berhadapan, Fahri memberikan tangannya. Lalu Gisya mencium tangan Fahri dan Fahri mencium kening Gisya.


"Kamu cantik hari ini sayang." bisik Fahri dengan airmata bahagia dipipinya.


Gisya tidak bisa berkata-kata, dia terus menangis bahagia. Setelah menandatangani surat-surat dan buku nikah. Mereka melakukan sesi foto, Fahri menghapus airmata Gisya dan membelai lembut kepalanya.


Mereka sudah berhadapan dengan Mama Risma dan Bunda Syifa, mereka melakukan prosesi sungkeman kepada kedua orangtua mereka.


"Maafin Caca, Bunda. Caca sudah bersuudzon terhadap Bunda. Terimakasih sudah memberikan kebahagiaan ini untuk Caca." lirih Gisya.


"Bunda akan selalu membuat kamu bahagia, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Kamu harus menuruti dan mengikuti suamimu. Syurgamu kini sudah berada pada suamimu, teruslah mencari ridho dari suamimu." tutur Bunda menasehati.


Risma menangis memeluk putra kesayangannya.


"Terimakasih Mama sudah menjaga dan merawat Abang, maaf Abang belum bisa membalas semua kebaikan Mama. Do'akan Abang, agar Abang bisa menjalankan Rumah Tangga Abang dengan baik." lirih Fahri.


"Tanpa diminta pun, Mama akan selalu mendo'akan Abang. Sekarang Abang sudah jadi seorang suami. Bahagiakanlah istrimu, karena istri adalah jantung Rumah Tangga. Jika istrimu melakukan kesalahan, tegurlah dengan lembut. Karena sekuat-kuatnya istri, dia akan rapuh ketika dibentak suaminya." ucap Mama Risma.


"Uwak titipkan Gisya padamu, jaga dia dan didik dia dengan penuh cinta. Dia adalah permata yang bersinar dalam hidup kami yang kami berikan padamu. Jangan biarkan sinarnya meredup, semoga kalian selalu bahagia." ucap Uwak Yusuf.


"Papa selalu mendo'akan yang terbaik untuk Rumah Tangga kalian, Papa minta Gisya untuk menguatkan hati. Karena kelak nanti, akan ada banyak halangan dan rintangan dalam rumah tangga kalian." ucap Papa Hari.


Setelahnya mereka berdiri di Pelaminan, Akad Nikah hanya dihadiri oleh keluarga terdekat. Satu persatu dari mereka mengucapkan selamat atas pernikahan Gisya dan Fahri.


"Teh, selamat menempuh hidup baru. Tugas Uqi menjaga Teteh sudah selesai, saat ini Bang Fahri yang akan meneruskan tugas Uqi. Semoga Teteh selalu bahagia, dan semoga cepet kasih Uqi keponakan yang lucu-lucu." ucap Syauqi dengan mata berkaca-kaca.


"Makasih adik Teteh tersayang, maafin Teteh belum bisa membuat Uqi bahagia. Teteh berdo'a semoga Uqi diberikan kelancaran dalam segala hal." ucap Gisya.


"Titip Teh Caca ya, Bang. Jangan buat Teh Caca nangis lagi. Cukup seminggu ini dia nangis, sampe matanya kayak panda." ucap Syauqi yang dihadiahi jeweran dari Fahri.


"Kan kamu yang sita hp Abang biar gak ngehubungin Caca, kamu juga yang biarin kesalah pahaman itu berlanjut! Sekarang malah nyalahin Abang." kesal Fahri.


"Oh jadi ini kerjaan Uqi! Awas ya Malikkk!" kesal Gisya menjewer kuping Syauqi yang sebelahnya.


"Ampun-ampun Teh, Bang! Kan bukan cuman Uqi yang terlibat, Ina, Bunda sama yang lainnya juga kan!" tutur Syauqi.


Gisya lalu menatap tajam kearah Fahri.


"Pokoknya malam ini Abang harus kasih Adek penjelasan." kesal Gisya.


"Jangan malam ini ya, kan malam ini malam pertama kita Dek." bisik Fahri yang membuat pipi Gisya merona merah.

__ADS_1


"Cieee kawinn cieeee, Uhuuyyyy!!" ledek Jafran.


"Dih! Udah mau jadi bapak, kelakuan masih minus gitu." ucap Fahri.


"Yee! Bodo amat, yang penting bini nerima apa adanya." tutur Jafran tak mau kalah.


"Ih si Baba! Diem!" kesal Yuliana.


"Barakallahu Chacha Maricha HeyHey ku! Semoga hidupmu akan lebih manis seperti Coklat Chacha dan berwarna seperti Es krim paddle pop rainbow! Semoga cepet dikasih Chacha mini, biar anak-anak kita bisa meneruskan persahabatan kita." ucap Yuliana lalu memeluk Gisya.


"Makasih Ulilku sayang, semoga kehamilanmu lancar hingga persalinan nanti. Oh iya, dimana Ebi?" tanya Gisya.


Yuliana dan Jafran saling tatap, mereka menunjuk kearah pojok dimana Febri sedang duduk diatas kursi rodanya. Gisya menghampiri Febri dengan mata berkaca-kaca.


"Maafin aku Biw, aku udah salah paham sama kamu. Aku udah suudzon sama kamu, tolong maafin aku." ucap Gisya sambil berlutut dihadapan Febri.


"Caca sayang, udah jangan kaya gini. Aku yang harusnya minta maaf, aku sama Mas Andi udah terlalu banyak ngerepotin kalian. Sekarang, kalian udah dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Semoga keluarga kalian selalu bahagia."


"Aamiinn, kenapa kamu pake kursi roda? Kandungan kamu baik-baik aja kan?" tanya Gisya yang khawatir.


"Alhamdulillah, aku sama Mama baik-baik aja onty." ucap Febri menirukan suara anak-anak.


Acara resepsi akan dilaksanakan besok hari dengan prosesi Upacara Pedang Pora dimana setiap prajurit yang menikah akan melakukannya. Syauqi dan Syaina menghampiri Fahri dan Gisya. Saat ini mereka akan melakukan Acara Saweran yang ada dalam adat Sunda.


"Bang, mana duit yang kemaren di siapin buat Saweran?" tanya Syauqi.


"Dih kan kamu yang simpen Syauqi Malik!" kesal Fahri.


"Sssttt! Diem! Itu duitnya udah ada di Bunda sama Mama! Kalian ribet banget sih, urusan duit aja rame gitu." ucap Jafran.


"Ya ramelah! Orang semua orang suka dikasih duit, yang gak suka dikasih duit tuh cuman Ayam." celetuk Syauqi.


"Loh kok Ayam?" tanya Syaina yang ikut terheran.


"Jawab Teh Ulil!" pinta Syauqi.


"Yaa Ayam lah! Coba aja kasih duit satu juta, yakin gak akan dipatok!" jawab Yuliana dengan santainya.


Semua orang tertawa mendengar ucapan Yuliana. Semua yang ada disana menikmati pesta yang hanya dihadiri oleh kerabat dekat mereka. Berbeda dengan Febri yang saat ini duduk disamping Ana. Dia terus melihat kearah pintu, seolah Andi berada disana dan melambaikan tangannya.


"Kamu ikut bahagia kan Mas di Syurga sana? Aku merindukanmu, Mas." batin Febri.


* * * * *


Akan ada tawa dan airmata dalam setiap perjalanan hidup.


Mohon maaf apabila ada kesalahan yaa Readeerr πŸ™


Dukung terus Author ya!


Salam Rindu, Author ❀

__ADS_1


__ADS_2