
Fahri mengusap kasar wajahnya, dia sungguh tidak habis pikir dengan sikap Gisya. Padahal dia sedang mencari jalan keluar untuk permasalahan yang saat ini sedang mereka hadapi. Fahri sengaja mematikan ponselnya, agar Gisya bisa berpikir dengan jernih. Bahkan dia tidak memberitahu Gisya, jika dia sudah menjelaskan masalah mereka.
Flashback On
Setelah urusan di KUA selesai, Fahri mengantarkan Gisya ke Toko. Lalu dia menjemput Bunda Syifa dirumah Umma. Mereka sedang mendiskusikan untuk mengadakan Acara Tahlilan untuk kepergian Andi. Saat sampai, Fahri melihat semuanya sedang berkumpul. Dia berniat untuk meluruskan urusan Almarhum sahabatnya. Meskipun gugup, Fahri memberanikan dirinya untuk berbicara.
"Em, mumpung semuanya ada disini. Fahri ingin membicarakan sesuatu yang penting, baik untuk Fahri, Gisya dan untuk kita semua." Ucap Fahri.
"Ada apa Nak? Apa ada masalah?" tanya Bunda Syifa.
"Sebenarnya, setelah Acara Lamaran Andi dan Febri mereka sudah melangsungkan Akad Nikah. Dan saat ini Febri sedang mengandung anak Andi." tutur Fahri yang membuat mereka semua terkaget.
Fahri mengambil amplop dari mobilnya, dia memperlihatkan Foto dan sampel rambut yang Andi berikan. Semua orang benar-benar diam terpaku, sementara Mama Rini sudah menangis dipelukan Umma.
"Yaa Allah, kenapa mereka nekat seperti itu. Padahal kalo saat itu mereka bilang juga pasti akan Mama langsung nikahkan." Isak Mama Rini.
"Mereka saat itu hampir melakukan dosa besar, Ma. Karena tidak ingin melakukan dosa, mereka memutuskan untuk menikah dan melakukannya dalam ikatan halal. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca surat ini. Andi menuliskan surat ini untuk Fahri, bahkan dia juga sempat menitipkan Febri pada Caca. Ini yang memberatkan Fahri dan Caca untuk melangkah." ucap Fahri menjelaskan.
Bunda Syifa mengelus punggung Fahri, dia tau jika saat ini Calon Menantunya itu sedang menanggung beban yang berat.
"Ternyata Andi sudah memiliki firasat, makanya mereka nekat melakukan itu. Sekarang, kita harus benar-benar menjaga Febri. Kita butuh jalan keluar dari semua ini, Febri bisa saja menjadi bahan pembicaraan orang-orang. Dia sangat membutuhkan dukungan kita saat ini." Ucap Umma Nadia.
"Fahri ingin pernikahan kami segera terlaksana. Setelah Fahri pergi bertugas, Febri bisa tinggal di Rumah Dinas untuk menemani Caca." ucap Fahri.
"MashaAllah terimakasih Fahri." ucap Mama Rini.
Flashback Off
Bunda Syifa pulang kerumah dengan perasaan kecewa. Kecewa karena putrinya tidak memikirkan kebahagiaannya sendiri. Dia masuk kedalam kamarnya, membawa foto suaminya dan memeluknya erat. Sungguh hanya kebahagiaan putrinya yang selalu dia perjuangkan. Penundaan pernikahan yang dulu terjadi, menjadi luka tersendiri baginya.
"A Wahyu, Neng bangga sama Caca. Dia selalu memikirkan kebahagiaan orang lain. Tapi dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Maafkan Neng, sampai saat ini Neng belum bisa membahagiakan anak-anak. Neng hanya ingin mereka menemukan kebahagiaannya sendiri." Lirih Bunda Syifa.
Gisya menyusul Bundanya pulang, dia ingin meminta maaf atas sikapnya. Gisya melihat dan mendengar apa yang diucapkan oleh Bunda Syifa. Hatinya begitu teriris, rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya. Gisya menghampiri Sang Ibu dan memeluknya.
"Maafin Caca, Bun. Caca sudah buat Bunda dan Abang kecewa. Caca cuman takut sesuatu terjadi sama Ebi dan anak yang dikandungnya, Bun. Mas Andi udah nitipin Ebi ke Caca, Maafin Caca, Bunda." Ucap Gisya terisak.
__ADS_1
Bunda Syifa mengelus lembut kepala putrinya, dia mengerti sifat putrinya itu. Tapi kesalahan ketika menjodohkan Gisya dengan Zayn membuatnya ingin lebih mementingkan kebahagiaan putrinya.
"Bunda ngerti, Caca ingin membahagiakan kami semua. Caca lebih mementingkan oranglain. Tapi kami tidak bisa bahagia, jika Caca sendiri belum bahagia. Apa menurut Caca, jika Caca pergi ke Magelang sekarang Ebi akan bahagia? Apa Ebi akan lebih baik? Nggak Ca, Ebi akan lebih merasa bersalah dan tersakiti. Fahri tidak egois, dia hanya tidak ingin kamu melupakan dirimu sendiri." tutur Bunda Syifa menasehati putrinya.
Gisya hanya bisa menangis dipelukan Bundanya. Sungguh dia tidak menyadari, jika sikapnya akan melukai banyak orang yang dia sayangi. Kali ini Gisya memang merasa bahwa dirinyalah yang Egois.
"Ca, dengerin Bunda. Ketika kita akan melaksanakan niat baik, akan selalu ada godaan dan cobaannya. Meninggalnya Andi bisa jadi cobaan untuk kalian, karena Andi menitipkan Febri pada kalian. Saat ini Fahri sedang memperjuangkan agar semuanya dapat terlaksana dengan baik. Dan sifatmu yang seperti ini menjadi godaan, agar pernikahan kalian tertunda. Bahkan bisa jadi pernikahan kalian tidak akan pernah terjadi."
Ucapan Bundanya membuat Gisya menggeleng-gelengkan kepalanya. Bukan itu yang dia inginkan, sungguh rasa bersalah dalam dirinya menyeruak ke dalam dada. Gisya terus menangis tersedu-sedu, hingga dia tertidur dipelukan Bundanya.
Syauqi yang baru saja pulang merasa heran, melihat Bunda dan Kakaknya dengan mata yang sembab. Syauqi menghampiri keduanya, dilihatnya Sang kakak sudah tertidur lelap.
"Bunda sama Teteh kenapa?" tanya Syauqi yang khawatir.
"Pindahin dulu Teteh ke kamarnya, baru nanti Bunda jelasin sama kamu."
Syauqi mengangkat tubuh Sang Kakak yang masih memakai baju Persit, dia membaringkan tubunnya diatas kasur dan mengelap sudut mata kakaknya yang masih terdapat sisa-sisa airmata.
"Uqi harap gak terjadi hal yang buruk sama Teteh. Semoga kali ini, Teteh akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Uqi janji akan hal itu teh."
Suara adzan Subuh sudah terdengar, Gisya bangun dari tidurnya. Dia menyadari jika semalam dia tidur dipangkuan Bundanya. Baju Persit yang sejak kemarin dipakainya, masih melekat di tubuhnya. Gisya teringat pada Fahri, dia mulai menelepon Calon Suaminya itu. Tapi hingga saat ini ponselnya belum juga aktif. Gisya segera membersihkan diri, setelah itu melaksanakan sholat Subuh. Gisya menangis dalam do'anya, dia sungguh ingin yang terbaik bagi semuanya.
"Yaa Allah, ampuni hamba-Mu yang penuh dosa ini. Berikanlah petunjuk bagi hamba, apakah hamba bisa menikah jika saat ini sahabat hamba sedang dalam masa berduka. Berikan jalan yang terbaik bagi hamba, Yaa Rabb. Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba."
Begitupun dengan Fahri. Dalam sholatnya, dia memanjatkan do'a agar diberikan jalan yang terbaik. Dia meminta agar Gisya dapat memantapkan hatinya. Gilang sang Komandan Kompi, melihat kegelisahan hati Fahri. Dia menghampiri Fahri, dia memberikan petuah untuk prajuritnya itu.
"Ri, sepertinya baru kemarin saya melihat kebahagiaanmu. Kenapa sekarang kamu terlihat murung seperti itu?" tanya Gilang.
"Siap Danki! Calon istri saya masih ragu untuk melaksanakan Akad Nikah secepatnya. Saat ini kami memang masih berduka atas kepergiaan Andi. Saat ini sahabatnya sekaligus calon istri Andi tengah mengandung. Gisya dalam keadaan bimbang, bagaimana akan kelanjutan pernikahan ini." lirih Fahri.
Gilang mulai mengerti, kondisi yang dihadapi Fahri saat ini.
"Biarkan dia berpikir baik-baik, mungkin saat ini dia sedang mengalami kegelisahan yang sama. Ini adalah cobaan untuk kalian menjelang pernikahan. Kuatkan hatimu dan terus yakinkan hatinya. Saya yakin semuanya akan baik-baik saja." Tutur Gilang menasehati.
"Siap Danki! Terimakasih banyak. Saya mohon do'anya." ucap Fahri.
__ADS_1
"Saya menasehati kamu sebagai Abang pada Adiknya. Teruslah berjuang!"
Fahri sudah mulai merasa sedikit lega, saat dia akan kembali ke Rumah Dinas. Dia sudah melihat Syauqi yang sedang duduk didepan teras Rumahnya.
"Loh, Uqi udah disini aja pagi-pagi. Ada apa Qi?" tanya Fahri.
"Emang gak boleh ya Uqi kesini?" kesal Syauqi.
"Yee, Polisi kok ambekan! Bukan gitu, Abang cuman heran aja. Ada apa?"
"Uqi cuman mau numpang sarapan pagi! Abis terjadi drama hujan airmata semalem. Jadi gadis-gadis dirumah belum pada keluar kandang." jelas Syauqi.
Fahri melihat jam, saat ini sudah jam 6 pagi. Gisya tidak pernah telat untuk membuatkan sarapan untuk keluarganya. Fahri teringat, dia belum mengaktifkan ponselnya. Dia tau, mungkin yang membuat Gisya menangis adalah rasa khawatir. Fahri bergegas untuk memgambil ponselnya, tapi Syauqi menahannya.
"Eitssss, tunggu dulu! Abang mau kemana?" Tanya Syauqi.
"Mau ngambil hp, Abang takut Caca khawatir! Nanti Abang traktir sarapan." ucap Fahri.
Fahri masuk kedalam dan mengambil ponsel serta kunci motornya. Saat akan mengaktifkan ponselnya, Syauqi kembali menahannya.
"Ish! Siniin hp Abang, Uqiii." kesal Fahri.
"Jangan dihubungin dulu Teh Cacanya! Abang mau Teh Caca nunda acara pernikahan kalian?" tanya Syauqi dan Fahri menggelengkan kepalanya.
"Makanya jangan dulu dihubungin! Uqi punya rencana yang bagus!" ucap Syauqi lalu membisikkan sesuatu pada Fahri.
Fahri terdiam sejenak, apakah dia akan mengikuti cara Syauqi?
* * * * *
Sekali lagi Author mohon maaf jika ada kesalahan 🙏🙏
Dukung terus karya Author, jangan Lupa tambahkan cerita ini ke Favorite kalian. Jangan lupa berikan Vote serta Like yang banyak buat Author. Biar Author semakin semangat nulisnya 🤗 Terimakasih banyak Reader 🥰
Salam Rindu, Author❤
__ADS_1