
Jangan pernah berharap akan ada orang yang rela menyebrangi samudera untukmu, manakala dirimu saja tidak mau melewati kubangan air untuk dirinya. Karena pada akhirnya keegoisanmu akan disadarkan oleh kehilangan. Belajarlah mengalah sampai tak seorangpun yang bisa mengalahkanmu. Belajarlah merendah sampai tak seorangpun yang bisa merendahkanmu.
Pagi ini sebelum pergi ke Malang, Indira dan Dirga menyempatkan diri untuk menjenguk keponakannya. Mereka sudah mengetahui masalah yang kini sedang dihadapi oleh rumah tangga sang Kakak. Lagi-lagi diawal pernikahan, mereka mendapat kejutan yang luar biasa.
Indira menghampiri Elmira yang terduduk lesu disamping putranya. Sedangkan Dirga pergi ke kamar rawat Mirda untuk melihat keadaannya.
"Kak sarapan dulu, ya. Dira masak sayur sop iga tadi pagi, Kakak cobain ya!" pinta Indira. Namun Elmira menggelengkan kepalanya, "Kakak gak laper, Dek. Nanti aja Kakak makan, ditaro aja dimeja," ucap Elmira tanpa mengalihkan pandangannya dari sang anak.
Indira menghela nafasnya, "Kak, kalo semuanya sakit siapa yang akan menjaga Ibam? Setidaknya kalo Kakak gak mikirin diri sendiri, pikirin Ibam! Dira tau Kakak cape, Kakak lelah! Begitupun semua orang, kami semua juga merasakan apa yang Kakak rasakan!"
Elmira kembali menangis saat mendengar ucapan adiknya itu. "Kakak egois ya, Dek? Atau kalian yang gak paham sama perasaan Kakak. Apa salah kalo Kakak gak mau menggunakan harta haram itu? Kakak gak mau, Dek!" lirih Elmira.
"Jujur, Kakak itu terlalu egois. Semua orang harus berkorban untuk Kakak, tapi Kakak gak mau berkorban sedikitpun untuk mereka. Jangan pernah merasa kalo Kakak yang paling tersakiti! Bang Mirda lebih sakit, Kak! Kalo emang Kakak gak mau pake harta itu buat ngobatin Ibam, apa Kakak punya cara lain?" tanya Indira dan Elmira menggelengkan kepalanya.
"Kalo Kakak kekeh gak mau pake harta itu, maka bersiaplah menangis bersimpuh diatas pusara Ibam! Aku pamit, takut ketinggalan pesawat. Sekarang terserah Kakak mau apa, Dira gak akan pernah ikut campur! Assalamu'alaikum!" pamit Indira yang memang mulai kesal dengan sikap Elmira.
Mendengar ucapan sang adik, Elmira semakin menangis tersedu-sedu. Dia menatap putranya yang kini belum juga sadarkan diri. Dia merasa sendiri, dia merasa tak ada yang mengerti perasaannya.
Sedangkan di ruang rawat Mirda, kini Dirga mencoba membujuk sang Kakak ipar untuk makan juga. Namun jawaban yang mereka dapatkan itu sama, "Nanti aja, Abang belum laper. Taro aja di meja, kalo udah laper juga Abang pasti makan!" ucapnya dengan tatapan kosong.
"Huft! Kalian ini bener-bener orangtua yang kompak ya, Bang! Sama-sama egois! Kalo kalian berdua sakit, lalu siapa yang akan jagain Ibam? Ah, udahlah terserah kalian aja, Bang! Aku pamit, istriku udah nunggu didepan! Assalamu'alaikum!" pamit Dirga.
Ucapan Dirga sedikit membuka hati Mirda, dia mencoba memakan sayur sop iga yang dibawa oleh sang adik. Meskipun baginya, semua itu terasa hambar. Mirda menangis dengan deraian airmata dipipinya, dia ingat betul bagaimana sang anak menyukai sayur sop. "Baba kangen Ibam, Nak. Bertahan ya, jangan biarkan Baba hidup dalam penyesalan karena gagal menyelamatkanmu," batin Mirda.
Siang hari, Elmira masih belum juga beranjak dari duduknya. Wajahnya sudah sangat pucat, ditambah kantung mata yang terlihat menghitam. Betrysda sengaja mengunjungi sahabatnya itu, setelah sang suami mengatakan jika mereka terlibat pertengkaran.
__ADS_1
Ceklek
Elmira menoleh, dia sedikit memaksakan senyumnya saat melihat Betrysda masuk. "Astaga, Tuhan! Kenapa kau ini senang sekali menyiksa diri? Sa tidak mengerti apa yang ada di otak kau itu!" kesal Betrysda. Dia langsung membuka kotak makan yang dibawanya dari rumah, dengan sedikit paksaan Elmira mau membuka mulutnya untuk makan.
"Bagaimana kondisi Bang Mirda? Apa kamu udah lihat dia?" lirih Elmira bertanya. Betrysda tersenyum sinis, "Mirda itu kau punya suami, untuk apa sa memperdulikan dia. Kau saja sebagai istrinya tak peduli, apalagi sa yang hanya orang lain."
Lagi dan lagi Elmira hanya bisa menangis mendengar ucapan sahabatnya itu. Betrysda sungguh sangat iba melihat Elmira, dia mengerti jika Elmira butuh teman dan bahu untuk bersandar. Dia memeluk erat tubuh Elmira yang kini semakin menangis tersedu-sedu.
"Dengar El, sikap kau seperti itu tak bisa dibenarkan. Apa kau sadar jika sudah melukai harga diri kau punya suami? Dia kecewa El, Mirda tak melakukan kejahatan. Dia hanya memakai harta peninggalan kau punya Papa. Semuanya juga demi anak, bukan untuk foya-foya. Apa pernah kau pikir, mungkin kau punya Papa itu sudah bisa memprediksi masa depan kau. Sampai dia meninggalkan harta yang begitu banyak, berdamailah dengan masalalu El. Demi kau punya anak," ucap Betrysda mencoba menasehati Elmira.
Sore hari, kondisi Ibam semakin menurun. Jika saja Elmira tidak egois, maka Ibam akan diterbangkan malam ini juga ke Singapore. Mirda yang mengetahui kondisi putranya yang kembali drop segera pergi ke ruangan putranya itu. Dia melihat jika istri dan mertuanya juga Betrysda sedang menangis saling memeluk.
Mirda menghampiri ranjang sang anak, dia mengecup lembut keningnya. "Ibam anak Baba, Ibam anak yang kuat. Bertahan ya, sayang! Baba sayang Ibam, kamu adalah dunia Baba. Bagaimana jadinya kalo kamu pergi, Nak? Dunia Baba gelap," lirih Mirda yang tak sanggup lagi menahan airmatanya.
"Aku setuju Ibam dibawa ke Singapore," ucap Elmira membuat mereka menoleh seketika. "Apa bisa kita bawa Ibam sekarang? Aku gak mau kehilangan Ibam," lirihnya sambil menangis.
Elmira mencoba mendekati Mirda, dia sangat membutuhkan pelukan suaminya itu. "Terimakasih sudah mengizinkan anakku untuk memakai uangmu, aku berjanji akan mengganti semuanya. Usaha konveksiku sudah cukup berkembang, jadi tidak perlu khawatir jika aku tidak bisa mengembalikannya," ucap Mirda dengan wajah datar dan dinginnya.
Seketika Elmira merasa jantungnya bagai dihujam beribu anak panah. "Sampai segitukah pemikiranmu padaku, Bang? Maaf jika aku terlalu egois, tapi kamu juga tidak memberiku kesempatan untuk berpikir. Kalo aja kamu bilang......."
"Kalo aku bilang apa kamu akan langsung setuju? Apa harus menunggu anakku sekarat baru kamu mengerti?! Aku ini memang hanya orang yang tidak mampu Elmira. Maka dari itu aku memakai harta yang diberikan oleh Papamu, kamu terlalu banyak berpikiran negatif pada orangtua kandungmu. Sampai itu menutup mata hatimu! Jika sesuatu terjadi pada anakku, akan aku kembalikan kamu pada orangtua angkatmu," ucap Mirda.
Deg!
Rasa sakit semakin sakit, Elmira kembali merutuki kebodohannya sendiri. "Sudah cukup! Sekarang bisakah kalian berdamai sementara untuk anak kalian? Orangtua macam apa kalian ini?! Anak sekarat tapi memikirkan perasaan sendiri-sendirii! Bukan waktunya untuk itu! Kalian harus saling menguatkan, bukan mematahkan!" bentak Bunda Gisya.
__ADS_1
Ibam sudah siap untuk diterbangkan, Baba Jafran dan Ummi Ulil akan menemani mereka. Begitupun dengan Alan yang memang semuanya akan diurus olehnya. Suasana di pesawat terasa mencekam, mereka semua hanya diam tanpa ada yang berbicara apapun. "Gatel banget mulut gue, Ca! Gak enak banget perang dingin begini. Mati pun kaga masuk syahid, mending kalo perang dalam memperjuangkan agama," bisik Ummi Ulil.
"Mau gimana lagi, Lil! Anakmu yang biasa petakilan itu juga mendadak gak mau bersuara," ucap Bunda Gisya menunjuk Alan dengan dagunya.
Kali ini Alan benar-benar kecewa, dia hanya akan berbicara pada Mirda dan Ayah Fahri saja. "Bang nanti lu langsung ke Rumah Sakit aja, gue mau siapin keperluan kalian di Apartement. Tenang aja, ini pake duit dari usaha kita," ucap Alan.
Hati Elmira semakin sakit, dia tak berani bersuara. Begitupun Mirda, dia hanya mengangguk. Tubuh dan pikiran mereka sedang benar-benar lelah, Elmira yang memang sudah lelah tiba-tiba tak sadarkan diri. "Bu! Bangun, Bu! Pak! Ini bu Elmira pingsan!" panik suster.
Dengan sigap, Mirda membawa Elmira untuk ditidurkan disalahsatu ruangan yang ada di pesawat ini. Suster sudah memeriksa kondisinya, Elmira mengalami dehidrasi karena kelelahan. "Kalian berdua istirahat disini, setidaknya sampai infus kalian habis! Ayah tidak mau dibantah!" tegas Ayah Fahri.
Akhirnya mereka dibiarkan beristirahat disana, tanpa sadar Mirda tidur memeluk tubuh sang istri. Bagaimanapun, cintanya terhadap Elmira sangatlah besar. Mereka tertidur cukup lama, Ibam sudah dibawa ke Rumah Sakit. Sedangkan Elmira dan Mirda ditinggalkan bersama Baba Jafran di pesawat.
Elmira mengerjapkan matanya, dia merasa nyaman dalam pelukan suaminya. Tak terasa airmatanya jatuh, dia menangis tersedu-sedu dipelukan sang suami. "Maafin aku, Bang! Aku terlalu egois dan mementingkan perasaanku sendiri, maafin aku Bang! Jangan pernah tinggalin aku!" isak Elmira.
Mirda pun memeluk erat sang istri, "Aku hanya kecewa, El. Aku memang bukan orang yang mampu, aku melakukan segala hal untuk kalian. Termasuk mangkir dalam tugasku sebagai abdi negara. Pernahkah kamu mikirin perasaan aku, El?" lirih Mirda.
"Maaf Bang, maafin aku," isak tangis Elmira semakin menjadi. "Udahlah, soal perasaan kita belakangan. Yang terpenting sekarang adalah kondisi Ibam. Sepertinya pesawat kita sudah sampai," ucap Mirda sambil melepaskan pelukannya.
Setelah melepas infusan, mereka segera menyusul Ibam ke Rumah Sakit. Setidaknya saat itu, mereka melepaskan ego masing-masing dan mengutamakan buah cinta mereka. Kondisi Ibam yang sempat memburuk, kini mulai membaik. Mereka sedikit bersyukur, setidaknya Elmira mengambil keputusan yang tepat.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤