Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | 'Thora Cafe & Resto'


__ADS_3

Petikan gitar diatas panggung, membuat netra semua orang menatap pada sepasang anak kembar yang sedang menyanyikan sebuah lagu berjudul 'Tentang Rasa'.


Aku tersesat menuju hatimu..


Beri aku jalan yang indah..


Izinkan kulepas penatku..


Tuk sejenak lelap di bahumu..


Dapatkah selamanya kita bersama..


Menyatukan perasaan kau dan aku..


Semoga cinta kita kekal abadi..


Sesampainya akhir nanti, selamanya..


Tentang cinta yang datang perlahan..


Membuatku takut kehilangan..


Kutitipkan cahaya terang..


Tak padam didera goda dan masa..


Dapatkah selamanya kita bersama..


Menyatukan perasaan kau dan aku..


Semoga cinta kita kekal abadi..


Sesampainya akhir nanti, selamanya..


Dapatkah selamanya kekal abadi..


Sesampainya akhir nanti..


Selamanya..


Alan dan Alana menyanyikan sebuah lagu dalam acara pembukaan Cafe dan Resto milim Cyra dan juga Thoriq. Akhirnya keduanya bisa bekerja sama dengan baik setelah sekian lama, dan mereka memutuskan untuk membuka tempat ini dengan nama 'Thora Cafe & Resto'. Keduanya menyiapkan konsep Cafe yang terkini untuk anak-anak muda dan Resto yang nyaman untuk didatangi sebuah keluarga. Semuanya dibuat senyaman mungkin.


Untuk pertama kalinya, mereka semua bisa berkumpul bersama-sama. Cyra dan Thoriq tampak serasi menggunakan baju couple rancangan Alana, sang sahabat.


"Selamat yaa atas pembukaan Cafe & Resto kalian, semoga semuanya dilancarkan oleh Allah," ucap Elmira sambil memeluk Cyra dan menjabat tangan Thoriq.


"Aaahh, makasih Kak. Makasih banyak udah nyempetin dateng, padahal aku tau kalo Kakak pasti sibuk ngurusin baby Sweta," ucap Cyra sambil mencuil pipi gembil bayi itu.


"Gak dong, liat Sweta aja seneng ya datang kesini!" jawab Elmira.


(Pasti kalian bertanya-tanya siapa baby Sweta? Hahahahaha 😎 *tawajahat*)


Jika Elmira, Cyra dan juga Thoriq asik bermain dan berbincang bersama baby Sweta. Lain halnya dengan kedua insan yang baru dipertemukan kembali dihari ini. Siapa lagi jika bukan Husain dan Alana. Mereka tampak malu-malu untuk bertegur sapa.


"Hadeuh! Berasa liat bocah! Malu-malu, meong meong," celetuk Alan saat berada diantara keduanya. Alana memukul pelan bahu sang kembaran yang membuatnya makin gugup.


"Sakit markonah! Dah ah mau cari gandengan! Daripada jadi setan disini," ucap Alan meninggalkan Alana dan Husain berdua.


Suasana semakin canggung, Alana dan Husain sama-sama gugup.


"Abang," ucap Alana.


"Alana," ucap Husain.


"Abang duluan aja," sahut Alana mempersilahkan Husain bicara.


"Kamu duluan aja, ladies first," ucap Husain sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Abang apa kabar?" tanya Alana memulai pertanyaan.


"Gak ada kabar yang lebih baik dari hari ini, akhirnya setelah sekian lama Abang bisa ketemu lagi sama kamu, Alana," ucap Husain membuat Alana tersipu malu.


"Dasar! Iseng banget sih Abang! Orang aku cuman tanya kabar doang," gugup Alana sambil menepuk lengan Husain pelan.


Sejenak mereka terdiam saling memandang, sungguh keduanya sangat rindu.


"Kamu cantik pakai jilbab itu, kayaknya Abang pernah liat deh!" goda Husain.

__ADS_1


"Mm, mulai kan! Ini kan jilbab yang Abang kasih ke aku," ucap Alana.


"Sejak kapan pakai jilbab ini?" tanya Husain yang penasaran.


"Abang Kepooooo! wlee!" ucap Alana sambil menjulurkan lidahnya.


"Jadi gak mau kasih tau Abang, nih?" tanya Husain sambil mengacak kepala Alana.


"Abang! Jilbabnya jadi nyengsol ih!" kesal Alana.


"Hahahahaha lama di Turki ternyata gak bikin bahasa Sunda kamu ngilang ya, Dek!" ucap Husain membuat jantung Alana berdegup dengan panggilan itu.


Pemandangan indah itu, tak luput dari pandangan kedua orangtua mereka.


"Ahiy! Besanan sama Jenderal euy!" celetuk Baba Jafran.


"Hooh, Ba! Akhirnya bakal punya mantuuuu! Mana calon Bupati deuih Baba! Ah Yaa Alloh hatur nuhuuuunn, Gustiiiii," ucap Ummi Ulil sambil memeluk Bunda Gisya.


"Allohuakbar Ulil! Udah kolot kita teh, jojorowokan keneh wae! Budeg ini kuping!" kesal Bunda Gisya, pasalnya Ummi berbicara dengan nada keras ditelinganya.


"Ih! Tapi kamu setuju kan Ca kalo si Ain kawin sama si Mail?" tanya Baba Jafran.


"Kawin! Kawin! Nikah Baba!" kesal Ayah Fahri memukul lengan sahabatnya itu.


"Iya atuh nikah! Ente mah kitu wae mukul! Alhamdulillah Yaa Alloh, udah lampu ijo! Mudah-mudahan si Ain peka, biar cepet nikahin si Mail. Siapa tau bisa menghasilkan Gin, Fa, Kof, Kaf, Lam, Mim dan Nun! Kembar 7 atau sebelas gitu cucu kita!" antusias Baba.


"Heh! Dipikir anak kita kucing sekali brojol 7! Cik atuh mikirrrrrr Babaaaaa!" gemas Ummi Ulil pada suaminya itu.


Alan yang tak jauh dari sana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua orangtuanya. Alan memilih menuju luar, menyendiri ditengah keramaian.


"Hufff! Gini rasanya jomblo mah euy!" gumam Alan sambil menyeruput kopinya.


Pluk!


Lagi-lagi Alan dikerjai oleh binatang, kali ini cicak yang menjatuhkan dirinya diatas kemeja Alan. Dan hal itu sontak membuat Alan memekik kaget sekaligus kesal.


"Aahhhh!! Cicak kurang ajaaaarrr!!" kesal Alan sambil menyibakkan cicak itu dan....


"Aaaaaahhhhhhhh...!! Cicaaaakkk.....!! Jijiiikkk....!!" teriak seorang gadis lalu berhambur memeluk Alan yang juga ketakutan melihat cicak.


"Hush! Hush! Iiihhh geliiiiiiiiiii," rengek gadis itu.


"Alaaaannnnn!! Bukan mahrom!" teriak Ummi Ulil saat melihat Alan memeluk gadis itu.


"Astaghfirulloh!" ucap Alan dan gadis itu bersamaan melepaskan pelukan mereka.


"Ummi jangan salah paham! Itu tuh gara-gara cakcak negro!" tunjuk Alan pada cicak itu.


"Heleh! Laki kok takut cicak!" ledek gadis itu.


"Heh ijem! Situ juga takut! Lagian siapa coba yang ujug-ujug meluk! Kamu aja yang ngebet pengen dipeluk sama cowo ganteng!" sahut Alan sombong.


"Wajarlah cewek! Situ kan cowok! Lemah!" remeh gadis itu.


"Theresia! Udah cukup!" pinta Thoriq pada adiknya itu.


Theresia masih merasa kesal dengan Alan, dia menginjak kaki Alan sebelum pergi.


"Awww! Sakit ijem!!" pekik Alan lalu menahan tangan Theresia.


Cup


"Aaaaaaaaaa!! My first kisss!!" pekik Theresia saat tak sengaja bibir mereka bertemu.


"Yaa Alloh Mauuuuuulll!!! Kalian harus Ummi kawinin!" ucap Ummi Ulil.


"Ummii! Gak sengaja itu sumpah, Ummi," elak Alan memohon pada Umminya, sedangkan Theresia sudah bersembunyi dibalik Cyra karena malu.


"Dasar budak bedegong! Coba tadi gak usah ngeyel, Ummi gak mau tau besok kita kerumah Thoriq buat lamar Rere," ketus Ummi Ulil lalu pergi meninggalkan Alan.


"Mas Thoriq, sumpah itu gak sengaja! Mas liat sendiri, kan?" ucap Alan.


"Hm, bener kata Ummi, kalian memang harus dinikahkan," ucap Thoriq lalu membawa Cyra untuk masuk kedalam.


"Gara-gara elu sih! Malu! Muka gua mau ditaro dimana!" kesal Theresia.


"Sini gua sakuin! Gua juga malu ijem!" kesal Alan lalu duduk dengan frustasi.

__ADS_1


Setelah keributan yang terjadi, suasana kembali tenang. Kini Acara sudah dimulai, setelah melakukan do'a bersama kini giliran mereka menggunting pita untuk pembukaan 'Thora Cafe & Resto'. Cyra dan Thoriq memegang gunting bersamaan.


"Bismillahirahmanirahim, Robbanaa aa-tinaa milladunka rohmataw wa hayyi’ lanaa min amrinaa rosyadaa. Robbisyrohlii shodrii wa yassirlii amrii," ucap Cyra dan Thoriq.


Suara tepuk tangan sangat meriah, tak lama kemudian terdengar suara dentingan piano dengan nada Lagu 'Melamarmu'. Cyra tersentak kaget ketika melihat Thoriq sudah berlutut dihadapannya. Begitu juga dengan Mama Febri dan semua yang berada disana. Sambil tersenyum, Thoriq mengeluarkan sebuah kotak cincin.


"Maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku? Jadilah pasangan hidupku, jadi orang yang pertama kulihat ketika aku membuka mata," ucap Thoriq.


Cyra menggeleng tak percaya, hingga saat ini dia masih trauma dengan kejadian dimasa lalu. Cyra mulai panik, dan menundukkan dirinya. Tubuhnya seakan melemas, dengan segera Thoriq membawa Cyra dalam pelukkannya.


"Tenanglah Cyra, Mas gak akan pernah memaksamu. Mas akan tetap menunggu sampai kamu siap dan menerima cintaku," ucap Thoriq memeluk erat Cyra.


"Maaf, Mas. Maafkan aku," lirih Cyra, meskipun sakit tapi Thoriq mengerti keadaannya.


Saat semuanya sedang mengkhawatirkan Cyra, Elmira justru panik mencari Sweta. Tadi Elmira menitipkan Sweta pada Bundanya karena dia ingin ke toilet. Tapi Bunda Gisya kaget ketika melihat Cyra tertunduk lesu hingga melupakan Sweta yang sedang lincah merangkak. Elmira segera menghampiri Bundanya.


"Bunda, dimana Sweta?" panik Elmira saat melihat sang Bunda tidak bersama Sweta.


"Yaa Allah! Bunda lupa sama Sweta!" panik Bunda Gisya.


"Astaghfirulloh Bunda! Gimana bisa Bunda lupa sama Sweta!" kesal Ayah Fahri lalu mereka berpencar mencari Sweta.


Elmira berjalan keluar, karena dia melihat pintu Cafe terbuka sangat lebar.


"Pak! Liat bayi sekitar umur setahun ngerangkak keluar gak?" tanya Elmira pada tukang parkir yang ada disana.


"Enggak, Neng! Bapak daritadi sibuk markirin mobil," jawab sang tukang parkir.


"Yaa Allah, makasih ya pak!" ucap Elmira lalu pergi mencari Sweta kembali.


Deg!


Elmira tersentak kaget, ketika melihat Sweta sedang berada dalam gendongan seseorang yang sangat dia rindukan selama ini. Hingga dia menutup hatinya untuk semua laki-laki.


"Swetaaaa! Yaa Allah, darimana aja sih sayang," panik Bunda Gisya saat melihat Sweta.


Sejenak tatapan mereka bertemu, Elmira masih terdiam ditempatnya. Sedangkan Bunda Gisya berhambur memeluk Sweta.


"Yaa Allah, Mirda! Untung kamu yang nemuin Sweta," ucap Bunda Gisya merangkul Mirda.


"Ibu apa kabar?" tanya Mirda lalu mencium tangan Bunda Gisya.


"Ibu mah baik, udah yuk masuk kedalam!" ajak Bunda Gisya dan Mirda mengangguk.


Saat sudah dekat, Sweta merentangkan kedua tangannya pada Elmira.


"Bub bub bub," rengek Sweta.


"Jangan nakal lagi yaa Sweta, Bubu khawatir," ucap Elmira memeluk erat Sweta.


"Pantas saja mirip Ayah, ternyata Sweta anak mereka," batin Mirda meringis.


Mirda mengulurkan tangannya kehadapan Elmira.


"Apa kabar, Elmira?" tanya Mirda menatap manik mata Elmira.


"Ba-baik, Bang Mirda apa kabar?" tanya Elmira kembali.


"Saya baik, ini baru ditempatkan lagi di Bandung. Kebetulan Bapak mengundang saya kemari," ucap Mirda yang masih terus menatap Elmira.


Pancaran kerinduan terlihat dimata keduanya, tapi baik Mirda ataupun Elmira tidak ada yang mengungkapkan. Hal itu membuat Bunda Gisya semakin gemas.


"Ngobrolnya didalem, yuk!" ajak Bunda Gisya pada keduanya.


"Bab bab baba," oceh Sweta merentangkan tangannya pada Mirda.


"Anak manis mau digendong, Om? Boleh siniii Om gendong!" ucap Mirda mengambil Sweta dari gendongan Elmira.


Acara berjalan lancar, meskipun ada sedikit hambatan tadi. Cyra bersyukur bisa dicintai oleh laki-laki sebaik Thoriq, hanya saja kejadian dimasa lalu masih membuat Cyra enggan membuka hatinya. Dia masih merasa jika dirinya tak pantas untuk Thoriq. Sedangkan Alana dan Husain kini sudah saling terbuka dengan perasaan mereka masing-masing.


Karena cinta akan bertemu dengan orang yang tepat dan diwaktu yang tepat.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2